pustakaumum
Mon, 19 Mar 2007 23:58:12 -0800
Seputar Budidaya Burung Puyuh (Coturnix-coturnix Japonica )
1. SEJARAH SINGKAT
Puuh merupakan jenis burung yang tidak dapat terbang, ukuran tubuh
relatif
kecil, berkaki pendek dan dapat diadu. Burung puyuh disebut juga
Gemak (Bhs.
Jawa-Indonesia). Bahasa asingnya disebut "Quail", merupakan bangsa
burung
(liar) yang pertama kali diternakan di Amerika Serikat, tahun 1870.
Dan terus
dikembangkan ke penjuru dunia. Sedangkan di Indonesia puyuh mulai
dikenal,
dan diternak semenjak akhir tahun 1979. Kini mulai bermunculan di
kandang-
kandang ternak yang ada di Indonesia.
2. SENTRA PERIKANAN
Sentra Peternakan burung puyuh banyak terdapat di Sumatera, Jawa
Barat,
Jawa Timur dan Jawa Tengah
3. JENIS
Kelas : Aves (Bangsa Burung)
Ordo : Galiformes
Sub Ordo : Phasianoidae
Famili : Phasianidae
Sub Famili : Phasianinae
Genus : Coturnix
Species : Coturnix-coturnix Japonica
4. MANFAAT
1) Telur dan dagingnya mempunyai nilai gizi dan rasa yang lezat
2) Bulunya sebagai bahan aneka kerajinan atau perabot rumah tangga
lainnya
3) Kotorannya sebagai pupuk kandang ataupun kompos yang baik dapat
digunakan sebagai pupuk tanaman
5. PERSYARATAN LOKASI
1) Lokasi jauh dari keramaian dan pemukiman penduduk
2) Lokasi mempunyai strategi transportasi, terutama jalur sapronak
dan jalur-
jalur pemasaran
3) Lokasi terpilih bebas dari wabah penyakit
4) Bukan merupakan daerah sering banjir
4) Merupakan daerah yang selalu mendapatkan sirkulasi udara yang
baik.
6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
1) Perkandangan
Dalam sistem perkandangan yang perlu diperhatikan adalah
temperatur
kandang yang ideal atau normal berkisar 20-25 derajat C;
kelembaban
kandang berkisar 30-80%; penerangan kandang pada siang hari
cukup 25-
40 watt, sedangkan malam hari 40-60 watt (hal ini berlaku untuk
cuaca
mendung/musim hujan). Tata letak kandang sebaiknya diatur agar
sinar
matahari pagi dapat masuk kedalam kandang.
Model kandang puyuh ada 2 (dua) macam yang biasa diterapkan
yaitu
sistem litter (lantai sekam) dan sistem sangkar (batere). Ukuran
kandang
untuk 1 m2 dapat diisi 90-100 ekor anak puyuh, selanjuntnya
menjadi 60 ekor
untuk umur 10 hari sampai lepas masa anakan. Terakhir menjadi 40
ekor/m2
sampai masa bertelur.
Adapun kandang yang biasa digunakan dalam budidaya burung puyuh
adalah:
a. Kandang untuk induk pembibitan
Kandang ini berpegaruh langsung terhadap produktifitas dan
kemampuan
mneghasilkan telur yang berkualitas. Besar atau ukuran
kandang yang
akan digunakan harus sesuai dengan jumlah puyuh yang akan
dipelihara.
Idealnya satu ekor puyuh dewasamembutuhkan luas kandang 200
m2.
b. Kandang untuk induk petelur
Kandang ini berfungsi sebagai kandang untuk induk pembibit.
Kandang ini
mempunyai bentuk, ukuran, dan keperluan peralatan yang sama.
Kepadatan kandang lebih besar tetapi bisa juga sama.
c. Kandang untuk anak puyuh/umur stater(kandang indukan)
Kandang ini merupakan kandang bagi anak puyuh pada umur
starter,
yaitu mulai umur satu hari sampai dengan dua sampai tiga
minggu.
Kandang ini berfungsi untuk menjaga agar anak puyuh yang
masih
memerlukan pemanasan itu tetap terlindung dan mendapat panas
yang
sesuai dengan kebutuhan. Kandang ini perlu dilengkapi alat
pemanas.
Biasanya ukuran yang sering digunakan adalah lebar 100 cm,
panjang
100 cm, tinggi 40 cm, dan tinggi kaki 50 cm. (cukup memuat
90-100 ekor
anak puyuh).
d. Kandang untuk puyuh umur grower (3-6 minggu) dan layer (lebih
dari 6
minggu)
Bentuk, ukuran maupun peralatannya sama dengan kandang untuk
induk
petelur. Alas kandang biasanya berupa kawat ram.
2) Peralatan
Perlengkapan kandang berupa tempat makan, tempat minum, tempat
bertelur dan tempat obat-obatan.
6.2. Penyiapan Bibit
Yang perlu diperhatikan oleh peternak sebelum memulai usahanya,
adalah
memahami 3 (tiga) unsur produksi usaha perternakan yaitu
bibit/pembibitan,
pakan (ransum) dan pengelolaan usaha peternakan.
Pemilihan bibit burung puyuh disesuaikan dengan tujuan
pemeliharaan, ada 3
(tiga) macam tujuan pemeliharaan burung puyuh, yaitu:
a. Untuk produksi telur konsumsi, dipilih bibit puyuh jenis ketam
betina yang
sehat atau bebas dari kerier penyakit.
b. Untuk produksi daging puyuh, dipilih bibit puyuh jantan dan
puyuh petelur
afkiran.
c. Untuk pembibitan atau produksi telur tetas, dipilih bibit puyuh
betina yang
baik produksi telurnya dan puyuh jantan yang sehat yang siap
membuahi
puyuh betina agar dapat menjamin telur tetas yang baik.
6.3. Pemeliharaan
1) Sanitasi dan Tindakan Preventif
Untuk menjaga timbulnya penyakit pada pemeliharaan puyuh
kebersihan
lingkungan kandang dan vaksinasi terhadap puyuh perlu dilakukan
sedini
mungkin.
2) Pengontrolan Penyakit
Pengontrolan penyakit dilakukan setiap saat dan apabila ada
tanda-tanda
yang kurang sehat terhadap puyuh harus segera dilakukan
pengobatan
sesuai dengan petunjuk dokter hewan atau dinas peternakan
setempat atau
petunjuk dari Poultry Shoup.
3) Pemberian Pakan
Ransum (pakan) yang dapat diberikan untuk puyuh terdiri dari
beberapa
bentuk, yaitu: bentuk pallet, remah-remah dan tepung. Karena
puyuh yang
suka usil memtuk temannya akan mempunyai kesibukan dengan
mematuk-
matuk pakannya. Pemberian ransum puyuh anakan diberikan 2 (dua)
kali
sehari pagi dan siang. Sedangkan puyuh remaja/dewasa diberikan
ransum
hanya satu kali sehari yaitu di pagi hari. Untuk pemberian minum
pada anak
puyuh pada bibitan terus-menerus.
4) Pemberian Vaksinasi dan Obat
Pada umur 4-7 hari puyuh di vaksinasi dengan dosis separo dari
dosis untuk
ayam. Vaksin dapat diberikan melalui tetes mata (intra okuler)
atau air
minum (peroral). Pemberian obat segera dilakukan apabila puyuh
terlihat
gejala-gejala sakit dengan meminta bantuan petunjuk dari PPL
setempat
ataupun dari toko peternakan (Poultry Shoup), yang ada di dekat
Anda
beternak puyuh.
7. HAMA DAN PENYAKIT
1) Radang usus (Quail enteritis)
Penyebab: bakteri anerobik yang membentuk spora dan menyerang
usus,
sehingga timbul pearadangan pada usus. Gejala: puyuh tampak
lesu, mata
tertutup, bulu kelihatan kusam, kotoran berair dan mengandung
asam urat.
Pengendalian: memperbaiki tata laksana pemeliharaan, serta
memisashkan
burung puyuh yang sehat dari yang telah terinfeksi.
2) Tetelo (NCD/New Casstle Diseae)
Gejala: puyuh sulit bernafas, batuk-batuk, bersin, timbul bunyi
ngorok, lesu,
mata ngantuk, sayap terkulasi, kadang berdarah, tinja encer kehijauan
yang
spesifik adanya gejala "tortikolis"yaitu kepala memutar-mutar tidak
menentu
dan lumpuh. Pengendalian: (1) menjaga kebersihan lingkungan dan
peralatan yang tercemar virus, binatang vektor penyakit tetelo, ayam
yang
mati segera dibakar/dibuang; (2) pisahkan ayam yang sakit, mencegah
tamu
masuk areal peternakan tanpa baju yang mensucihamakan/ steril serta
melakukan vaksinasi NCD. Sampai sekarang belum ada obatnya.
3) Berak putih (Pullorum)
Penyebab: Kuman Salmonella pullorum dan merupakan penyakit menular.
Gejala: kotoran berwarna putih, nafsu makan hilang, sesak nafas,
bulu-bulu
mengerut dan sayap lemah menggantung. Pengendalian: sama dengan
pengendalian penyakit tetelo.
4) Berak darah (Coccidiosis)
Gejala: tinja berdarah dan mencret, nafsu makan kurang, sayap
terkulasi,
bulu kusam menggigil kedinginan. Pengendalian: (1) menjaga kebersihan
lingkungaan, menjaga litter tetap kering; (2) dengan Tetra Chloine
Capsule
diberikan melalui mulut; Noxal, Trisula Zuco tablet dilarutkan dalam
air
minum atau sulfaqui moxaline, amprolium, cxaldayocox
5) Cacar Unggas (Fowl Pox)
Penyebab: Poxvirus, menyerang bangsa unggas dari semua umur dan jenis
kelamin. Gejala: imbulnya keropeng-keropeng pada kulit yang tidak
berbulu,
seperti pial, kaki, mulut dan farink yang apabila dilepaskan akan
mengeluarkan darah. Pengendalian: vaksin dipteria dan mengisolasi
kandang atau puyuh yang terinfksi.
6) Quail Bronchitis
Penyebab: Quail bronchitis virus (adenovirus) yang bersifat sangat
menular.
Gejala: puyuh kelihatan lesu, bulu kusam, gemetar, sulit bernafas,
batuk dan
bersi, mata dan hidung kadang-kadang mengeluarkan lendir serta
kadangkala kepala dan leher agak terpuntir. Pengendalian: pemberian
pakan yang bergizi dengan sanitasi yang memadai.
7) Aspergillosis
Penyebab: cendawan Aspergillus fumigatus. Gejala: Puyuh mengalami
gangguan pernafasan, mata terbentuk lapisan putih menyerupai keju,
mengantuk, nafsu makan berkurang. Pengendalian: memperbaiki sanitasi
kandang dan lingkungan sekitarnya.
8) Cacingan
Penyebab: sanitasi yang buruk. Gejala: puyuh tampak kurus, lesu dan
lemah. Pengendalian: menjaga kebersihan kandang dan pemberian pakan
yang terjaga kebersihannya.
8. PANEN
8.1. Hasil Utama
Pada usaha pemeliharaan puyuh petelur, yang menjadi hasil utamanya
adalah
produksi telurnya yang dipanen setiap hari selama masa produksi
berlangsung.
8.2. Hasil Tambahan
Sedangkan yang merupakan hasil tambahan antara lain berupa daging
afkiran,
tinja dan bulu puyuh.
9. PASCAPANEN
...
10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
10.1.Analisis Usaha Budidaya
1) Investasi
a. kandang ukuran 9 x 0,6 x 1,9 m
(1 jalur + tempat makan dan minum)
Rp. 2.320.000,-
b. kandang besar
Rp. 1.450.000,-
2) Biaya pemeliharaan (untuk umur 0-2 bulan)
a. ay Old Quail (DOQ) x Rp 798 (Harga DOQ)
Rp. 1.596.000,-
b. Obat (Vitamin + Vaksin)
Rp. 145.000,-
c. Pakan (selama 60 hari)
Rp. 2.981.200,-
Jumlah biaya produksi
Rp. 4.722.200,-
Keadaan puyuh:
- Jumlah anak 2000 ekor (jantan dan betina)
- Resiko mati 5%, sisa 1900
- Resiko kelamin 15% jantan, 85% betina (285 jantan, 1615
betina)
- Setelah 2 bulan harga puyuh bibit Rp 3.625,- betina dan Rp 725
jantan
- Penjualan puyuh bibit umur 2 bulan
Rp. 4.408.000,-
Minus
Rp. -314.200,-
3) Biaya pemeliharaan (0-4 bulan)
- 200 DOQ x Rp 798,-
Rp. 159.600,-
- Obat (vitamin dan Vaksinasi)
Rp. 290.000,-
- Pakan (sampai dengan umur 3 minggu)
Rp. 2.459.925,-
Pakan (s/d minggu ke 4) betina
1615 ekor dan 71 ekor jantan (25% jantan layak bibit)
Rp. 5.264.051,-
Jumlah biaya produksi
Rp. 8.173.576,-
Keadaan puyuh:
- Mulai umur 1,5 bulan puyuh bertelur setiap hari rata-rata 85%,
jumlah telur
1373 butir
- Hasil telur 75 hari x 1373 x Rp 75,-
Rp. 7.723.125,-
- Puyuh betina bibit 1615 ekor @ Rp 3.625,-
Rp. 5.854.375,-
- Puyuh jantan bibit 75 ekor @ Rp 798,-
Rp. 59.850,-
- Puyuh jantan afkiran 214 ekor @ Rp 725,-
Rp. 155.150,-
4) Keuntungan dari hasil penjualan
Rp. 5.618.924,-
5) Biaya pemeliharaan (sampai umur 8 bulan)
a. Biaya untuk umur 4-8 bulan
Rp. 1.625.137,-
6) Pendapatan
a. Hasil telur (0,5 bulan) 195 x 1373 x Rp 75,-
Rp. 20.080.125,-
b. Hasil puyuh afkir 1615 ekor @ Rp 798,-
Rp. 1.288.770,-
c. Hasil jantan afkir 71 ekor @ Rp 725,-
Rp. 51.475,-
d. Hasil jantan afkir (2 bln) 214 ekor @ Rp 725,-
Rp. 155.150,-
7) Keuntungan beternak puyuh petelur dan afkiran jual
Rp. 10.950.113,-
Jadi peternak lebih banyak menjumlah keuntungan bila beternak puyuh
petelur,
baru kemudian puyuh afkirannya di jual daripada menjual puyuh
bibit. Analisa
usaha dihitung berdasarkan harga-harga yang berlaku pada tahun
1999.
10.2.Gambaran Peluang Agribisnis
...
11. DAFTAR PUSTAKA
1) Beternak burung puyuh, 1981. Nugroho, Drh. Mayen 1 bk. Dosen
umum
Ternak Unggas Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan,
Universitas
Udayana.
2) Puyuh, Tatalaksana Budidaya secara komersil, 1992. Elly
Listyowati, Ir.
Kinanti Rospitasari, Penebar Swadaya, Jakarta.
3) Memelihara burung puyuh, 1985. Muhammad Rasyaf, Ir. Penerbit
Kanisius
(Anggota KAPPI), Yogyakarta.
4) Beternak burung puyuh dan Pemeliharaan secara komersil, tahun
1985.
Wahyuning Dyah Evitadewi dkk. Penerbit Aneka Ilmu Semarang
12. KONTAK HUBUNGAN
1) Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan BAPPENAS
Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390
9829
2) Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Deputi Bidang
Pendayagunaan
dan Pemasyarakatan Iptek, Gedung II BPPT Lantai 6, Jl.
M.H.Thamrin No. 8,
Jakarta 10340, Indonesia, Tel. +62 21 316 9166~69, Fax. +62 21
310 1952,
Situs Web: http://www.ristek.go.id <http://www.ristek.go.id>
Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas
[Non-text portions of this message have been removed]