airputih  

[airputih] Gelar Tidak Terlalu Penting

syamsi kusyanti
Tue, 28 Nov 2006 03:31:45 -0800

*Gelar Tidak Terlalu Penting*

*Pendidikan telah melenceng dari makna hakiki. Dari sesuatu yang
menyenangkan menjadi beban yang memuakkan. Celakanya masyarakat sudah
terkontaminasi sedemikian dalam --bahkan rela saja diperas habis-habisan oleh 
para pebisnis pendidikan-- sehingga menuhankan sekolah sebagai satu-satunya 
syarat mutlak bagi kesuksesan, padahal banyak sekali contoh yang membuktikan 
bahwa gelar akademik tidak terlalu penting untuk mencapai kesuksesan.  Kalau 
misalnya cuma diukur dari kekayaan, 10 orang terkaya di dunia itu drop-out 
perguruan tinggi, tidak terkecuali Bill Gates, bosnya Microsoft. *

Tim penulis buku *Sukses Setelah PHK* menuturkan kisah menarik tentang
Paijo. Berbekal ijazah SD ia jadi satpam sebuah perusahaan. Sayang ketika 
perusahaan berkembang, syarat jabatan satpam meningkat, minimum lulus SLTP.
Paijo ikut ujian persamaan dan tidak lulus. Ia di PHK.

Setelah sempat terpukul, Paijo memilih dagang. Usahanya berkembang. Paijo jadi 
konglomerat mini. Wartawan pun mulai nyinyir menanyakan kiat suksesnya.

"Di mana Bapak menimba ilmu?"

"Tidak di mana-mana. Saya cuma tamat SD. Prinsip saya hanya berdagang, cari 
untung. Bukan cari ilmu. Bukan pula cari pengalaman."

"Tamat SD saja bisa sukses mempunyai banyak perusahaan. Bagaimana kalau tamat 
SMP?"

"Kalau tamat SMP, sekarang saya pensiunan satpam!"

Terlihat di sini sekolah --termasuk universitas-- bukanlah faktor penentu 
keberhasilan hidup satu-satunya. Apalagi bila sekolah itu diselenggarakan 
secara militeristik, sarat baris-berbaris, upacara, amanat inspektur upacara, 
laporan komandan upacara, penataran, dan seterusnya.

Yang terjadi --seperti sering disentil Romo Mangun-- bukanlah proses
pendidikan ataupun pengajaran, tapi indoktrinasi dan pembodohan sistematis.
Imajinasi, kreativitas, keberanian menyatakan perbedaan pendapat dipasung 
selama lebih dari tiga dekade. Kasus Angket Seks Remaja yang "mengkafirkan" Eko 
Sulistyo, siswa sebuah SMA di Yogyakarta, di tahun 80-an, menjadi bukti sejarah 
bagaimana anak-anak berbakat dan kreatif justru tidak mendapatkan tempat yang 
seharusnya di sekolah-sekolah kita. Untung masih ada Prof. Dr. Andi Hakim 
Nasution, yang memutuskan untuk menerima Eko tanpa tes di IPB.

Sekolah dan universitas tanpa pendidikan dan pengajaran telah terbukti
"berhasil" melestarikan budaya korupsi-kolusi-nepotisme oleh orang-orang 
berdasi dan bertitel tinggi, yaninggu, sekolah Gelandangan (Sesame Street 
School), sekolah Terbuka dan Jarak Jauh, Taman Kakek-Nenek, Ak sekedar makelar 
penerbitan buku dan kursus-kursus serta les privat, atau komandan yang tak 
boleh dibantah. Mereka gagal jadi pengganti ayah, ibu, kakak, dan sahabat 
peserta didik. Sampai akhirnya, meminjam lagu Ebiet G. Ade, "Tuhan mulai 
bosan/melihat tingkah kita/yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa..." 
dan menggerakkan mahasiswa untuk mempelopori perubahan sejak Mei 1998.

*Berguru pada Ajip Rosidi*

Ajip Rosidi, sastrawan Sunda kelahiran Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, 31 
Januari 1938, tidak tamat SMA. Namun kini ia menjadi dosen luar biasa di 
Fakultas Sastra Universitas Pajajaran, Bandung. Tahun 1981 ia bahkan diundang 
menjadi pengajar tamu di Osaka, Jepang, sampai saat ini. Sebel Asing Di 
Asia,diangkat menjadi guru besar luar biasa di Tenri Daigaku (1983-1994) dan 
Kyoto Sangyo Daigaku (1983-1996). Ajip memang seorang maestro tanpa gelar 
formal. Semua kehormatan yang diperolehnya dimulai dengan rasa cintanya yang 
besar pada dunia sastra, khususnya Sastra Sunda.

Rasa cintanya dipadu dengan keteguhan hati yang dimilikinya sejak muda. Ia, 
misalnya tidak bersedia mengikuti ujian SMA karena dipaksa menyogok guru. Ia 
berpendapat, hidup sukses tidak mesti pakai ijasah. Dan kehormatan lebih
penting dari predikat.

Kompas 6 September 1998, memuat kisah sastrawan ini. Ia mulai bekerja di bidang 
tulis-menulis untuk mencari nafkah, baik sebagai penulis karya kreatif, 
redaktur, pemimpin majalah, maupun penerbit buku. Kesungguhannya menekuni 
bidang pilihannya itu membuat Ajip bertumbuh menjadi sastrawan yang mumpuni. 
Obsesinya untuk mengangkat derajat sastra Sunda ditunjukkan dengan menyediakan 
Penghargaan Rancage sejak tahun 1989 hingga sekarang. Rancage adalah sebuah 
kata dalam bahsa Sunda kuno yang berarti: aktif kreatif.

Penghargaan ini awalnya diberikan kepada yang dianggap berhak bersama uang 
sebesar Rp1 juta. Uang itu dirogoh dari koceknya sendiri, disisihkan dari 
penghasilan selama mengajar di Jepang. Jumlah tersebut kini mencapai Rp5 juta, 
dan pernah diberikan kepada penulis, seniman, dan sastrawan Sunda, Jawa, dan 
Bali.

*Orang-orang Sukses Tanpa Pendidikan Tinggi*

John Major, drop out SMA, tapi menjabat Perdana Menteri Inggris menggantikan 
Wanita Besi, Margaret Thatcher. Billy Joel menjadi penyanyi terkenal dengan 
modal ijazah SMP, sama seperti Tracey Ullman yang menjadi aktris kondang.

Pernah mendengar Bank of America? Pendirinya, Amadeo Peter Giannini tak pernah 
menyelesaikan SMA-nya. Dale Carnegie, pelopor di bidang pelatihan dan 
pengembangan manusia di awal abad 20, tak menyelesaikan sekolah gurunya di 
Missouri, Amerika Serikat. Thomas Alfa Edison hanya 3 bulan sekolah seumur 
hidupnya, namun lebih dari 3.000 penemuan dicatat atas namanya atau atas nama 
orang-orang yang bekerja dengannya. Sementara Kenji Eno drop out dari SMA, 
namun disebut-sebut sebagai Bintang versi Asia Week dan dianggap sebagai dewa 
industri game.

Anthony Robbins hanya tamat SMA dan memulai kariernya sebagai jongos kantor 
(janitor). Namun dalam waktu satu dekade ia berhasil menjadi praktisi konsep 
Neuro-Linguistic Programming (NLP), bahkan merevisinya menjadi 
Neuro-Associative Conditioning (NAC). Dari pemuda miskin dan sakit-sakitan, 
Robins berhasil menjadi penulis buku laris *Unlimited Power* dan *Awaken The 
Giant Within*. Ia dipuji para profesor psikologi sebagai motivator yang handal 
dan menjadi salah seorang penasihat Presiden Bill Clinton. Honor bicaranya 
--US$ 75.000 sekali tampil (kurang lebih 3 jam)-- melampaui Dr. Stephen R. 
Covey, John Gray, dan Michael Hansen.

Susi Pudjiastuti drop out SMAN I Yogyakarta, tapi mampu menjadi eksportir
ikan, udang, lobter, dan hewan laut lainnya ke Singapura, Hong Kong, dan
Jepang, yang tak goyah diterpa badai krisis. Kusnadi hanya tamat SMA di
Semarang, namun menjadi eksportir tenun ikat Bali yang memasok pakaian ke
1.650 butik terkemuka di Amerika dan Kanada. Hartono Setyo hanya sampai SMP,
tapi mampu melanjutkan kepemimpinan Bambang Setijo, kakaknya, di beberapa
perusahaan kelompok PT Sari Warna Asli Group --calon konglomerat baru di
awal milenium ketiga.

Adam Malik, pernah Menteri Luar Negeri dan Wakil Presiden Indonesia cuma
mengecap sekolah sampai kelas 5 SD. Andrie Wongso tidak tamat SD, arek
Malang ini pernah melata sebagai kuli toko, guru kungfu, dan bintang film
kungfu di Taiwan sebelum jadi juragan kata-kata mutiara (kartu-kartu merek
Harvest) dan mendirikan perusahaan MLM Forever Young, serta menyunting
seorang Sarjana Hukum. Alim Markus, meninggalkan bangku SMP dan mampu
mengembangkan Grup Maspion menjadi salah satu usaha yang terkemuka di Jawa
Timur. Dalam kelompok bisnisnya tercatat lebih dari 40 pabrik yang menyerap
sekitar 20.000 tenaga kerja.

Markus F. Parmadi, berhasil mencapai posisi tertinggi sebagai Presiden
Direktur Bank Lippo. Padahal pendidikannya putus di tengah jalan, ia drop
out tingkat dua dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

Bob Sadino tak pernah kuliah di perguruan tinggi, tapi sering diundang untuk
mengkuliahi mahasiswa di banyak kota, termasuk para calon dan
sarjana-sarjana pertanian. Dan tanyakan pada Sukyatno Nugroho, sekolah mana
yang membuatnya mampu mengembangkan Es Teller 77 Juara Indonesia dengan
sistem franchise? atau apa gelar Willy Sidharta yang membuatnya bertahan
memimpin PT Aqua Golden Mississippi? Lalu, Abrian Natan, Direktur Eksekutif
CNI yang fasih berbicara di muka publik itu, mengapa tak merasa perlu
menyelesaikan pendidikan tinggi?

Masih banyak contoh, tapi cukuplah.

Di jaman sulit seperti yang kita hadapi sejak pertengahan 1997 ini --dan
entah masih berapa lama lagi-- sangat penting memperlihatkan fakta sejarah
bahwa orang tidak harus berpendidikan tinggi untuk memperbaiki taraf hidup.
Tanpa harus terjebak menghina para penganggur terdidik, kita ingin
mengingatkan masyarakat bahwa pendidikan tinggi bukanlah faktor penentu
absolut untuk meraih keberhasilan. Tak perlu putus asa bila putus sekolah.
Tak perlu bermurung durja bila tak mampu menyekolahkan anak-anak ke tingkat
yang lebih tinggi. Dunia tidak selebar daun kelor, kata orang bijak.
Kalaupun Anda tak kenyang sekolahan, atau anak, adik, dan kerabat melulu
putus sekolah, jalan menuju cita-cita masih membentang lebar. Belajar ada
kalanya jauh lebih efektif dari pengalaman, pribadi atau orang lain.
"Sekolah" yang paling baik acap kali bukan di tempat-tempat tertutup, jauh
dari kenyataan hidup sehari-hari, tetapi justru di lingkungan sekitar
(pasar, stasiun, mesjid/gereja, kantor, jalan raya, dan seterusnya). Sekolah
tanpa ijazah dan universitas kehidupan, itulah namanya.

*Sekolah Tanpa Ijazah dan Universitas Kehidupan*

*Sekolah itu candu*, demikian judul kumpulan tulisan Roem Topatisamang
sekitar tahun 70-an, yang merupakan pengantar diskusi dan tugas kuliah
Seminar Sistem Pendidikan Perbandingan di kampusnya IKIP Bandung. Lewat
pamflet "Robohnya Sekolah Kami", Roem bergabung dengan orang-orang seperti
Everett Reimer, penulis buku *School** is Dead*.

Roem tidak anti sekolah. Ia hanya ingin mengembalikan pengertian sekolah "ke
jalan yang benar". Kata "sekolah" yang diambil dari kata Yunani skhole,
scola, scolae atau schola, berarti "waktu luang yang digunakan secara khusus
untuk belajar" (leisure devoted to learning). Lewat proses alih fungsi dari
scola matterna (pengasuhan ibu sampai usia tertentu), menjadi scola in loco
parentis (lembaga pengasuhan anak pada waktu senggang di luar rumah sebagai
pengganti peran ayah dan ibu), kita mengenal "lembaga ibu asuh" atau "ibu
yang memberikan ilmu" alias alma mater. Makna sekolah yang luas, mencakup
berbagai bidang kehidupan, disunat jadi sekedar gedung di lokasi tertentu.
Mudah menunjuk kampus Universitas Indonesia, tapi dimanakah gerangan Akademi
Jakarta dan Akademi Leimena? Orang kenal Universitas Harvard, Yale,
Cambridge, MIT, Princenton, Berkeley, dan Stanford, tapi dimanakah
Universitas Rockefeller yang 2 mahasiswa dan 16 pengajarnya menerima hadiah
Nobel? Universitas Tokyo, Tsukuba, Washeda, dan Sophia mudah dicari, tapi
bagaimana dengan Universitas Perserikatan Bangsa-bangsa (Soedjatmoko, salah
seorang putra terbaik Indonesia pernah diangkat menjadi rektornya tahun
1980-an) ? Lalu Sekolah Frankfurt, Sekolah Wina, dan Sekolah Durkheim, di
manakah gedungnya? Sampai mati Anda tak akan menjumpainya.

Penyunatan makna sekolah dari wilayah kehidupan menjadi sekedar gedung
terlokalisir yang mengajarkan hal-hal jauh dari kenyataan hidup sehari-hari,
menurut Roem, telah mengakibatkan terjadinya involusi kelembagaan, involusi
sikap, dan bahkan involusi pemikiran. Kegiatan belajar kemudian
"dilokalisir" sedemikian rupa sehingga hanya dilakukan di sebuah ruang
tertutup. Sekolah Minggu, sekolah Gelandangan (Sesame Street School),
sekolah Terbuka dan Jarak Jauh, Taman Kakek-Nenek, Akademi Kanak-kanak, dan
berbagai kegiatan belajar tanpa ijazah menjadi asing. Kita lupa bahwa
panggilan kemanusiaan yang pertama adalah menjadi manusia pembelajar, yang
belajar di mana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja.

Keberhasilan orang-orang yang tak sempat masuk (gedung) sekolah sesungguhnya
menjadi semacam peringatan dan gugatan terhadap ketersesatan makna sekolah
yang selama ini menjajah wilayah pemikiran dan sikap kita. Penghargaan yang
berlebihan terhadap gelar kesarjanaan (akademis) dapat meracuni pikiran
masyarakat banyak. Anda tidak harus memiliki pendidikan tinggi untuk
berhasil. Banyak fakta sejarah yang menunjukkan bahwa sekolah (termasuk
universitas) justru dapat membuat kita terasing dari persoalan kehidupan
nyata, enggan bekerja keras dari bawah (karena dipasung ijazan tanpa makna),
dan menjadi tidak kreatif menghadapi masa-masa sulit, sehingga gagal dalam
karier dan kehidupan.




-- 

Best Regards,


Syamsi Kusyanti,

Consumer Loan Group
PT. Bank Mandiri, tbk
Jl. Jend. Gatot Subroto Kav 36-38
Jakarta 12190

my profile :
http://syamsikusyanti.multiply.com/journal
http://www.friendster.com/syamsiku

  • [airputih] Gelar Tidak Terlalu Penting syamsi kusyanti