mediacare
Thu, 24 Jan 2008 16:32:20 -0800
Edisi. 46/XXXVI/07 - 13 Januari 2008
Musik
Ku. Ku. Ku... untuk Sapardi
Pianis Ananda Sukarlan menafsir puisi Sapardi Djoko Damono dan
memainkan komposisi Amir Pasaribu.
Ku. ku. ku. ku..
Suara burung itu ditirukan ole paduan suara anak-anak Seven Chorale
dengan tempo yang tetap seperti detak jam. Kata-kata itu tak ada dalam puisi
Sapardi. Itulah tafsir Ananda Sukarlan atas puisi Cara Membunuh Burung. Ia
kemudian menekan tuts, lantas hadirlah suasana tegang.
Soprano Fitri Muliati lalu seperti mengeja: Bagaimana cara membunuh
burung yang suka berkukuk bersama teng-teng jam dinding yang tergantung sejak
kita belum dilahirkan itu? Lalu masuk penari Chendra Panatan dan Siti Ajeng
Soelaeman menyajikan ilustrasi gerak. Suara Fitri di akhir lagu, seperti
terkejut, menjerit: arkhhhhh..
Di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki, mengawali awal tahun ini,
Ananda menampilkan dua sesi. Mula-mula piano solo, memainkan karya-karya
komponis Amir Pasaribu. Amir kini umurnya 92 tahun dan tinggal di Medan. Pada
masanya ia kritikus yang tajam dan komponis pionir.
"Ia maestro yang dilupakan," kata Ananda. Pada masanya Amir memelopori
teknik baru seperti teknik Debussy, Ravel, dan mengaplikasikannya ke dalam
lagu-lagu tradisi. Teknik kontemporer Barat dapat digunakan untuk mencipta lagu
bernuansa Indonesia.
Manuskrip dan partitur Amir diperoleh Ananda lewat Nurman, anak Amir yang
tinggal di Belanda. "Partitur kakek saya yang dipublikasikan di majalah Zenith
banyak saya dapat dari perpustakaan H.B. Jassin," kata Gonny Pasaribu, cucu
Amir yang sengaja datang dari Belanda.
Ananda tahun lalu bertemu dengan Amir di Medan. Sang maestro
pendengarannya telah lemah. Ananda membuat album yang rekamannya dikerjakan di
Hall of Conservatorio de Amaniel, Madrid, Spanyol. Album yang diproduseri
Chendra Panatan itu menampilkan 14 lagu Amir. Dari judul-judulnya saja terlihat
bahwa Amir orangya cukup kocak. Misalnya ada judul: Tante-tante Mau Ngebut. Dan
sore itu tiga karya pendek disuguhkan: Ole Ole Melojo Lolo, Sampaniara No. 1
dan Bongkok's Bamboo Flute. Disusul nomor panjang Variasi Sriwidjaja.
Kita mendengar sesuatu yang lokal tapi bernapas Barat. Dan terakhir
Petruk, Gareng & Bagong, sebuah nomor yang riang. Mendengarnya seperti dapat
membayangkan ketiga punakawan itu berkejar-kejaran, berjailan, bergulingan,
tertawa-tawa bersama.
Bagian kedua pertunjukan adalah musikalisasi puisi Sapardi Djoko Damono.
Ananda selama ini pernah membuat komposisi berdasar puisi penyair Walt Whitman.
Dan kini perhatiannya terserap pada puisi Sapardi. Sore itu, ada 9 puisi
Sapardi yang dijadikannya suatu narasi utuh.
"Saya cukup kaget dengan tafsir Ananda," kata Sapardi ketika mendengar
Cara Membunuh Burung. Tidak cengeng, ada ironinya. Puisi-puisi dilantunkan
soprano Fitri Muliati dan bariton Rainier Revireino. Duet mereka jernih
artikulasinya. Juga saat dilanskapi kelompok paduan suara Cavallero dan paduan
suara anak-anak Seven Chorale. Dentingan piano Ananda dibalut tiupan flute
Elizabeth Ashford dan english horn Juhal Ansyari.
Sapardi sendiri mulanya heran atas pilihan Ananda terhadap puisinya.
"Ananda, misalnya, memilih puisi saya Selamat Pagi Indonesia, sempat terjadi
perdebatan, mengapa ia memilih itu." Menurut Sapardi, puisi itu kurang tepat
untuk dimusikalisasi, tapi ia kemudian membebaskannya.
Selama ini publik mengenal, bila puisi Sapardi dinyanyikan, rata-rata
romantis. Misalnya puisi cinta Aku Ingin, ketika digubah oleh dramawan Ags.
Arya Dipayana dan dinyanyikan dengan gitar secara duet oleh Ary dan Redha
begitu menyentuh, mengharukan. Namun di tangan Ananda menjadi terasa sangat
lain. Cinta menjadi sesuatu yang tak liris atau melankolis.
Proses Ananda menafsirkan puisi Sapardi bukan dengan memelodikan kata.
Ananda terpukau atas kalimat-kalimat Sapardi yang sederhana.. "Seperti musik,
yang not-notnya biasa, tapi di antara not-not itu yang dahsyat."
Memang Ananda menemui kesulitan, terutama ketika berhadapan dengan puisi
Sapardi yang banyak terdapat kalimat dalam kurung. Misalnya puisi Lirik untuk
Lagu Pop yang dalam teksnya ada kalimat: Swaramu adalah kertap bulu burung yang
gugur (begitu hening!), nafasmu adalah goyang anggrek hutan yang mengelopak
(begitu tajam!) "Yang ada dalam kurung itu saya hilangkan atas izin Sapardi."
Dihilangkan, tapi memang tetap enak didengar. Tepuk tangan riuh
menandakan penonton merasakan keindahan. "Membuat komposisi yang sederhana tapi
dalam itu lebih sulit daripada membuat musik kontemporer serius," kata Ananda.
Dan, ku. ku. ku. ku..
Seno Joko Suyono
www.chendrapanatan.com
http://chendrapanatan.blogspot.com
http://chendraefblogger.blogspot.com
mediacare
http://www.mediacare.biz