Mas Basoeki, Mas Agung dan mbak Ana,

Terima kasih atas tanggapannya. Gembira rasanya, karena akhirnya ada yang
bersedia menanggapi tentang perlunya kita *menyamakan persepsi tentang
budaya* atau keragaman budaya (*yang tetap menghargai perbedaan, kalau
memang tidak bisa disamakan*), dan *perlunya kita 'duduk bersama'* (kan
sekarang ini kita dapat duduk 'bersama' di depan komputer dan berkomunikasi
jarak jauh) untuk membicarakan langkah-langkah apa yang seharusnya kita
(para pemangku kepentingan budaya, atau seluruh masyarakat Indonesia)
lakukan untuk mencapai *Tujuan Nasional Bangsa kita*, yaitu *Merdeka,
Bersatu, Berdaulat, Adil dan Makmur* (yang secara *eksplisit *tertera dalam
Pembukaan  Undang-undang Dasar 1945).

Karena saya yang mengusulkan tentang 'Tahun 2009 sebagai Tahun Budaya', maka
biarlah saya yang menanggapi :

1. Usulan Tahun 2009 sebagai Tahun Budaya tidak muncul dalam pembahasan
maupun kesimpulan Kongres Budaya, tetapi justru setelah Kongres Budaya.

2. Alasannya adalah, agar *kita* (bukan Pemerintah saja) menyadari tentang
perlunya secara bersama menyusun 'Agenda Budaya Bersama" yang akan dipakai
sebagai road-map kita sekian tahun ke depan. Saya diundang sebagai Pembicara
(tapi tidak masuk dalam Tim-Perumus), menyampaikan Pokok-Pokok Pikiran
tentang Pembangunan Bangsa berbasis Nilai-nilai Budaya, dan menanyakan
kepada Kongres "Perlukah membuat Agenda Budaya".
      Konsepnya antara lain : Kita mempunyai *Sumber Daya Nasional* (Sumber
Daya Alam, Sumber Daya Manusia dan Sumber Daya Buatan/Teknologi) *sebagai
Modal membangun bangsa*, tetapi *'Nilai-Nilai Budaya" harus ditempatkan di
atas segalanya*. Para Pelaku Pembangunan adalah SDM Indonesia, baik yang di
birokrasi, akademisi, industri maupun masyarakat. Kami usulkan (Draft)
Sepuluh Agenda Budaya, yang tentunya dapat dilengkapi dan disempurnakan oleh
Kongres (karena dalam Kongres ini berkumpul kumpul para pemangku kepentingan
budaya dengan berbagai latar belakang) untuk nantinya dipakai sebagai
pedoman kita bersama. Mengingat adanya sebagian teman kita yang mengganggap
Kongres ini sebagai "Kongres Pelat Merah", saya menghargai pendapat tersebut
(sah-sah saja). Dikatakan apapun, atau dibiayai siapapun kongres ini,
alangkah baiknya kalau bisa kita pakai untuk berkomunikasi membahas berbagai
permasalahan budaya dan menyusun agenda ke depan.

3. Kelihatannya (Kesimpulan) Kongres Budaya tidak menghasilkan suatu Agenda
Budaya (atau setidak-tidaknya mengamanatkan dibuatnya suatu Agenda Budaya
Bersama) agar langkah-langkah untuk mencapai Tujuan Nasional (seperti
tersebut di atas) menjadi jelas dan mudah diukur. Dengan uraian rumusan
seperti yang sama-sama kita baca, tanpa jelas "*who is doing what"* nya
(Siapa Melakukan Apa), maka akan menambah panjang daftar rekomendasi
kongres-kongres Budaya tahun sebelumnya yang belum dilaksanakan. Baca Nunus
Supardi (2007), 'Kongres Kebudayaan (1918 - 2003').

4. Tentang mengapa UU Pornografi tidak dibahas dalam Kongres tersebut, tentu
bukan kompetenssi saya untuk menjawab. Yang saya kemukakan adalah ajakan
untuk mulai secara bersama membahas agenda budaya ke depan. Kalau ada
perbedaan, tentu selalu ada ruang untuk mendiskusikan bersama. Bagaimana
kita bisa mendiskusikan, kalau sarananya saja tidak ada. untuk itulah kami
(bersama para tokoh/penggiat budaya) membentuk Forum Kebudayaan Indonesia.
Saya mengundang mas Agung, mbak Ana dan juga yang lain untuk bergabung
dengan kami, membahas berbagai permasalahan budaya, dan mengusulkan langkah
konkrit. Mas Basoeki malaha sudah ketemu, dan kami minta beliau untuk
mebentuk Forum Keduyaan Bandung. Juga tempat-teman di kota lain, silahkan
bentuk, dan marilah kita bersinergi. Kalau tidak bersedia bergabung di
darat, ya lewat sarana digital www.forumbudaya.org atau milis. Keputusannya
tentu merupakan kewenangan Otoritas Budaya, yaitu Pemerintah.

5. Kalau toh belum ada Agenda Budaya, dengan menetapkan Tahiun 2009 sebagai
Tahun Budaya, kita menjadi lebih peduli lagi tentang  berbagai permasalahan
budaya yang kita hadapi. Syukur-syukur kalau mau duduk bersama.

6. Secara konkrit, Pendekatan Budaya dalam Pembangunan Bangsa yang kami
usulkan adalah sebagai berikut :

   Kita harus melihat ke depan, tapi jangan meninggalkan sejarah, sehingga
sekali-sekali perlu mengengok ke belakang, karena kita (Majapahit,
Sriwijaya) pernah menjadi bangsa yang besar, merdeka, bersatu, berdaulat,
adil dan dan makmur (waktu itu namanya *loh jinawi kerto raharjo*), dan
disegani bangsa lain. ====> www.forummajapahit.org

   *Tujuan Nasional:* Menjadi bangsa yang  *Merdeka,  Bersatu, Berdaulat,
Adil dan Makmur*
   *Basis   :* Nilai-nilai Budaya Bangsa (Mutlak diperlukan untuk
pembentukan karakter bangsa sebagai Pelaku Pembangunan)  ===>
www.forumbudaya.org
   *Modal* : Sumber Daya Nasional, yang terdiri dari :
                 - Sumber Daya Alam =============>  www.forum-sda.org
                 - Sumber Daya Manusia ==========>   www.forumsdm.org
                 - Sumber Daya Buatan/Teknonoogi ==>
www.forumteknologi.org
   *Sebagai Pelaku Pembangunan* adalah SDM yang bekerja pada :
                 - Birokrasi ====================>  www.forumbirokrasi.org
                 - Akademisi
                 - Industri
                 - Masyarakat

    Untuk itu, perlu disusun Agenda Budaya Bersama. (konsep dapat diunduh di
www.forumbudaya.org ==>DOWNLOAD)
Sebagai sarana komunikasi, kami buatkan berbagai situs yang terintegrasi,
masing-masing seperti tersebut di atasa. Beberapa situs tersebut telah mulai
berfungsi, mohon dicoba dibuka. walaupun masih dalam taraf pengembangan.
Mohon saran dan tanggapan untuk kemanfaatan bersama.

7. Dengan cara ini,* apakah akan ada jaminan* bahwa berbagai permasalahan
budaya dapat diatasi? Memang tidak ada jaminan, tapi *paling tidak, ADA
HARAPAN.* Atau setidak-tidaknya*, dalam Forum Kebudayaan, kita dapat
bersikap !*
**
Salam,
Luluk
Forum Kebudyaan
(Marilah Bersinergi)
                 -








2008/12/18 mangoenpoerojo roch basoeki <elrob...@yahoo.com>

>    Saya setuju dengan seluruh pemikiran mas Agung maupun mbak Anna. Tapi
> yang punya otoritas untuk menjawab adalah mas Luluk Sumiarso. Silakan mas
> Luluk.
> salam, robama.
>
>  ------------------------------
> *From:* agung kurniawan <agungleak2...@yahoo.com>
> *To:* artculture-indonesia@yahoogroups.com
> *Sent:* Thursday, December 18, 2008 5:56:16 PM
> *Subject:* [ac-i] Re: [ac-ikongres kebudayaan tak pernah mau bersikap
>
>    saya kiri pernyataan saya tentang kanan dan kiri adalh sebuah contoh
> bagaimana selama ini para intelektual dan "budayawan" telah terjebak dalam
> iklim parokhial yang sangat parah. Ketika membicarakan sebuah kongres
> kebudayaan persoalan terpenting yang menggangu "kepentingan nasional" yaitu
> homogenisasi pola pikir tidak diangkat. Bahkan dianggap semata-mata
> persoalan kesenian.
> Lepas dari apakah persoalan kebudayaan akan bicara tentang banyak hal, akan
> tetapi keheningan para pelaku dan penggiat kongres kebudayaan tentang UU
> pornografi dan hadirnya hukum berdasar salah satu agama tertentu, dan
> jelas-jelas tidak sejalan dengan "kepentingan nasional" (negara indonesia
> berdasarkan atas keberagaman) menyisakan pertanyaan besar.
>
> Mengapa ketika kepentingan akan indonesia yang beragam diusik tidak ada
> satu rekomendasipun mengenai hal itu? Mengapa justru yang muncul rekomendasi
> tentang tahun kebudayaan? Apakah panitia dan peserta tidak bisa memilih mana
> yang urgent dan mana yang tidak?
>
> Kalau itu tak terjawab jangan-jangan kita para budayawan dan intelektual
> kampus tak lebih dari budak-budak kepentingan orang lain (pemilik modal,
> teknokrat pemerintah, politisi busuk dan lain sebagainya).
>
> Tolong pertanyaan yang terus saya persoalankan dijawab; bagaimana respon
> resmi dari kongres kebudayaan tentang homogenisasi indonesia melalui
> cara-cara pemberlakuan hukum yang bertentangan dengan tujuan dan kepentinga
> nasional?
>
> kalau itu tidak terjawab mengapa kita harus mendukung tahun kebudayaan
> 2009?
>
> agung kurniawan
>
> --- On *Wed, 12/17/08, mangoenpoerojo roch basoeki <elrob...@yahoo. 
> com>*wrote:
>
> From: mangoenpoerojo roch basoeki <elrob...@yahoo. com>
> Subject: [ac-i] BUDAYA SALAH KAPRAH
> To: "budaya art" <artculture-indonesi a...@yahoogroups. com>
> Cc: "artculture- indonesia moderator" <artculture-indonesi a-ow...@yahoogro
> ups.com>
> Date: Wednesday, December 17, 2008, 12:15 AM
>
>   Sekaligus menanggapi seluruh komentar tentang "perlunya tahun
> kebudayaan" yang dilempar oleh mas Luluk Suniarso.
>
> 1. mari kita akhiri budaya saling menyalahkan dengan menyadari bahwa semua
> kesalahan yang sedang berjalan (berkenaan dengan penyelenggaraan negara)
> adalah SALAH KAPRAH yang membudaya. Siapapun yang memimpin negeri ini akan
> terjebak oleh kesalah-kaprahan itu. Kita ingin perubahan tanpa tahu apa yang
> mau diubah, diubah menjadi seperti apa, dan dimulai dari mana.
>
> 2. menurut saya, dari segi pola pikir, harus dimulai dari pola "penggunaan
> ilmu pengetahuan" (lihat saran mas profesor bambang hidayat). Ilmu
> pengetahuan yang semakin spesialissasi, hendaknya tidak digunakan untuk
> memaksakan perilaku masyarakat agar melakukan sesuatu sesuai tuntutan
> spesialis.  IP hendaknya digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,
> dalam arti kemampuan dan tuntutan dari masyarakat yang senyata-nyatanya. So,
> dengan IP itu kita harus berupaya dulu untuk tahu sebenar-benarnya kemampuan
> masyarakat kita yang tidak banyak tuntutan itu. Ilmu manakah yang harus kita
> gunakan..... (menurut pengembaraan saya, antropologi adalah ilmu utama untuk
> masyarakat kita).
>
> 3. Dari segi politik (agar tidak terjebak akan issue KIRI VS KANAN, mas
> Agung), kita harus bersepakat tentang TUJUAN NASIONAL. Untuk kita sadari
> bahwa kita sebagai sebuah bangsa yang katanya besar, ternyata tidak punya
> tujuan (makanya sering kita dengar "mau kemana negara ini"). Mari kita baca
> baik-baik apa kata pendiri negara "kenapa kita harus merdeka" di dalam
> Pembukaan UUD.
>
> 4. Akibat dari tidak punya tujuan nasional adlah TIDAK PUNYA "KEPENTINGAN
> NASIONAL". Dalam segala kasus, kita dihadapkan pada tarik-menarik kekuatan
> antar sesama. Contohnya, demokrasi dan HAM apakah benar-benar merupakan
> kepentingan nasional. Pemihakan pada pemilik modal dalam kasus krisi global,
> apakah kepentingan nasional? OK, contoh yang tidak berkonotasi politik yaitu
> soal ROKOK. Asap rokok adalah racun kehidupan manusia perokok maupun
> non-perokok ; tetapi industri rokok juga menghidupi jutaan keluarga manusia
> dan negara (pajak). Bagaimanakah negara ini bersikap terhadap rokok, manakah
> yang disebut KEPENTINGAN NASIONAL?
>
> Begitulah sekedar masukan.
> salam, robama.
>
>
>
> 
>

Kirim email ke