Setuju usul Aa' Chandraleka !!!
Tambahan panjang dari saya:
Prolog: Jujur saja dan terus terang saja da'wah salafiyah di Indonesia (dan beberapa negara) sekarang sudah rusak dan imagenya sudah buruk karena oleh orang-orang termasuk orang-orang yang diustadkan namun pemahannya masih buruk (untuk level ustad),sehingga mereka salah tathbiq (salah terap) manhaj). Ironisnya orang-orang ini lebih suka mengambil sikap dan perkataan ulama-ulama yang bersikap keras pada suatu harokah atau muasasah (yayasan).Namun lagi-lagi mereka menganggap mewakili sikap dan ucapan ulama.Sedihnya, sikap ini diikuti oleh para madh'unya sehingga baru kenal pengajian aja udah berani ngomong sesat, bahkan pada seorang ustadz-ustadz yang jelas-jelas puluhan tahun berda'wah dan menda'wahkan manhaj salaf. Karena itu sekarang salafi identik dengan keras, kaku mudah mengkritik, mudah membid'ah-bid'ahkan. Hal ini tidak terlepas dari beberapa orang yang mengaku
"ustad" tetapi isti'jal dan tergesa-gesa mengkritik dan materi pengajiannya seringkali berisi tahzir mentahzir dan bersikap keras pada pada suatu harokah. budaya menghajr (meboikot) terlanjur tertanam pada beberapa pemuda.Lihatlah dan obyektiflah: akibatnya da'wah salafiyah dipandang da'wah aneh, dan orang-orangnya dianggap aliran lain !!!!. Berbahaya bukan ??
Padahal sikap keras itu tidak selamanya betul dan tidak selamanya perlu. Bisa jadi dengan sikap lembut jauh lebih menguntungkan, dan justeru membuka pintu hidayah. Lihatlah sifat dasar dan kaidah dasar da'wah Rosulillah SAW adalah rifq dan qoulan layyinan. Kalaulah Rosul bersikap keras maka berakibat orang yang dida'wahinya akan lari.Lihatlah nasehat Syaikh Abdul Malik Romadhoni mengatakan:Ulama-ulama besar saat ini sepakat tidak mentahzir IM kecuali pada kondisi-kondisi tertentu (Lerai pertikaian ...Firanda, 2006), dan lihatlah ketika sekelompok mahasiswa
salafi di madinah di tahun 2004 ingin menghajr mahasiswa ikhwani yang jelas-jelas mengadakan rapat rahasia memusuhi dakwah salafiyah dan mencela ulama justeru dicegah dan dinasehati Oleh beliau. Jikalau sikap keras selalu diterapkan maka semakin yakinlah persepsi mereka bahwa salafi itu dakwah yang nyleneh dan menyeramkan, padahal mereka itu simpatisan dan awam yang sukanya baru baca-baca buku karangannya ustad Hasan Albana dkk atau kalau yang HT sukanya masih berangan-angan kapan khilafah itu berdiri, yaa ? yang kemungkinan mereka berubah lebih besar, kalau kita sikapi lembut.
Solusi saya, Anda tetap tinggal di situ kalau memang tidak ada alternatif pindah, atau memang udah terlanjur bayar kos. Kita harus memahami manhaj salaf secara fundamental dan berusaha menasehati orang-orang yang kemungkinan bisa diberi nasehat dan simpati pada kita, adik maba, kan biasanya
masih mencari jati diri dan pegangan. Tunjukkanlah bahwa mahsiswa salafi itu tidak hanya berpenampilan "berjilbab besar dan gelap atau berjenggot dan bercelana congklang " saja tapi ada ilmunya. Misal anda punya kemampuan bahasa arab(ikut daurah bahasa arab), banyak hafalan qur'anya, akhlagnya bagus tidak suka menggibah, mengingatkan adik-adik maba tidak to the point atau suka melarang.....itu semua menimbulkan respek. Setahu saya belajaar bahasa arab, menghafal ayat qur'an itu tradisi mahasiswa-mahasiswa salafi...jadi mulai aja dijalanin.Masalahnya, kalau adik maba ini sudah 1 tahun nanti ekornya susah dipegang karena masing-masing udah punya orientasi. Justru adik-adik maba ini lebih getol kita pegang dan kita tarbiyah (semampunya saja jangan semua nanti stress !), tapi mereka yang memang kemungkinan dia mendengar kata-kata kita. Katakanlah pentingnya beragama secara fundamental dan beragama dengan ilmu, berilah contoh aktivis yang
mengaji ke sana kemari, rajin demonstrasi, akhirnya futur dan jadi orang biasa lagi karena dia tidak punya isi. Kalau jelas-jelas teman kos ini "merasa" lebih pintar dari kita mending dihindari. Yang terakhir belajarlah berbicara,artinya jangan takut bicara !!
Untuk solusi roling (gantian) pengisi pengajian ada benarnya namun sebaiknya diisi oleh ustadz salafi yang jelas-jelas kafaah ilmunya namun ditambah yang " trampil berkomunikasi" (pintar berbicara) dan kalau memberi materi vocabulary-vocabulary biasa aja dan tidak terlalu tinggi sehingga mudah ditangkap oleh pemula. Katakan pada ustad tentang kondisi peserta pengajian, insyaallah ustad akan punya strategi dakwah..hee..hee. Saya tidak bermaksud membeda-bedakan ustad namun jujur saja murid lebih mudah menangkap materi kalau frequensi dan resonansi
guru sama dengan pendengar. Biasanya materi HT berkutat masalah politik, mengkritik pemerintah tanpa bisa berbuat apa-apa, pentingnya membuat khilafah dan jarang menjawab urgensi kepentingan individu secara mendasar, ustadnya aja qiro'ahnya tidak betul lama-lama bosan kog 1 tahun (ikut pengajian kalau pesertanya cerdas).
Yang terakhir sekali, berdoallah pada Allah SWT agar meneguhkan hati Anda mengarungi Islam dan hidup di dalam Islam. Doa adalah power dan menimbulan egergi positif. Doa menimbulkan optimisme serta merasakan kedekatan dengan Allah jika kita lakukan dengan ikhlas dan lepas. Doa menimbulkan keberanian untuk bertindak.
Afwan jika terlalu bertele-tele !!
Abu Abdissalaam.
Chandraleka <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Wa'alaikum salam ...
Jadi ingat waktu kost dulu pas kuliah. Kondisinya hampir mirip.
Kalau saran saya,
- Jauhi berdebat dengan mereka. Karena kontra produktif. Dikhawatirkan
mereka malah semakin menjauh dan membenci pemahaman Ahlus Sunnah tanpa
mereka sadari. Misalnya keluar cacian kepada para ulama Salaf. Kebanyakan
mereka sendiri juga awam tentang HT dan IM. Mereka hanya sekedar simpatisan
biasa.
- Kalau ada kajian Salaf di kampus Anda, coba mereka diajak untuk
menghadirinya. Ini lebih baik. Juga yang masih awam. Agar mereka mengenal
Islam menurut pemahaman Shahabat. Pasang pengumumannya di mading kost.
Katakan juga bahwa kajian Salaf
itu terbuka untuk umum, tidak eksklusif.
- Pinjami mereka dengan buku buku atau majalah agama yang bermanfaat.
Misalnya tentang Aqidah, Shalat, Puasa, dll. Tahan dulu dari topik topik
yang membuat mereka tidak suka dengan Manhaj Salaf. Meminjamkan buku /
majalah insya Allah jauh lebih baik ketimbang Anda banyak berkata kata
tetapi tanpa ilmu.
- Untuk kajian / ta'lim kost, Anda bisa rembukan / musyawarah dengan para
penghuni kost. Coba usulkan dulu bagaimana kalau yang ngisi dari ustadz
ustadz Ahlus Sunnah. Saya kira, mereka yang simpatisan HT atau IM tentu
keberatan. Maka solusi terakhir adalah di 'rolling'. Jadi minggu 1 dari HT,
minggu ke 2 dari IM dan minggu ke 3 dari Ahlus Sunnah. Agak sedih memang
dengan solusi yang satu ini...
Wassalamu'alaikum
Chandraleka
Independent IT Writer
----- Original Message -----
2a. Tanya : Teman Kos Harokah
Posted by: "sweetypurple_
ney" sweetypurple_[EMAIL PROTECTED]co.id
sweetypurple_ney
Thu Sep 7, 2006 8:03 am (PST)
Assalamu'alaikum
saya baru tinggal di lingkungan Salaf satu tahun. saya mau tanya
bagaimana kiat menghadapi teman kos yang ikut harokah. kebetulan teman
yang satu di HT dan satunya lagi di Tarbiyah. di kos juga ada adik2
maba yang masih belum paham betul mengenai pemahaman salafussholeh.
untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, apakah yang
seharusnya saya lakukan???
di kos juga sempat diwajibkan menghadiri ta'lim tapi yang ngisi dari
anak-anak HT. ini membuat saya bingung karena perbedaan pemahaman.
minta penjelasan bagaimana saya menghadapi masalah ini. saya juga
sempat bertanya kepada ustadz tapi sampai sekarang masih belum
dijawab. harap segera dijawab mengingat masalah ini bisa menggoyahkan
pemahaman saya yang masih belum bisa memahami Islam secara
kaffah.
How low will we go? Check out Yahoo! Messengers low
PC-to-Phone call rates.
__._,_.___
Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
__,_._,___