assunnah  

[assunnah] Bahaya menggunjing

Bani Murro
Fri, 05 Jan 2007 05:32:11 -0800

Artikel Khutbah Jum'at : Bahaya Menggunjing


إِنّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِئَاتِ
أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِ الله فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ
هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أََنْ لاَ إِلهَ إِلاّ الله وَحْدَهُ لاَ
شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ
تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ
نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً
كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ
وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً
سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ
ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا
عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ
الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ
الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Jama'ah shalat Jum'at rahimani wa rahimakumullahu,

Kami berwasiat kepada diri saya sendiri, dan juga kepada kaum
Muslimin, bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Barangsiapa
yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya. Dan
barangsiapa yang takut kepada manusia, maka sesungguhnya, manusia
tidak bisa memberikan manfaat sedikitpun di hadapan Allah Subhanahu wa
Ta'ala. Kita juga harus menyadari, bahwa tidak ada yang bisa
mendapatkan rahmat kecuali orang-orang yang berada di atas ketakwaan.

Nasihat untuk bertakwa ini sangatlah banyak. Akan tetapi, betapa
disesalkan, karena yang melaksanakannya ternyata sangat sedikit.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang bertakwa.

Jama'ah shalat Jum'at rahimani wa rahimakumullah.

Sebagai agama yang sempurna, Islam mengajak bicara akal, hati,
perasaan dan jiwa, akhlak dan pendidikan. Agama yang mulia ini
menggariskan adanya peraturan-peraturan agar seorang muslim dapat
memiliki hati yang selamat, perasaan yang bersih, menjaga kehormatan
lisan, dan menjaga rahasia pribadinya, serta dapat berakhlak mulia
terhadap Rabb-nya, dirinya dan seluruh manusia. Allah Subhanahu wa
Ta'ala berfirman:

Hari orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka,
sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu
mencari-cari kesalahan orang lain. (QS. Al-Hujurat: 12).

Pesan Al-Qur'an ini, merupakan jawaban atas fenomena yang kita lihat
saat ini. Yakni, agar kita terhindar dari perbuatan ghibah
(menggunjing), mencari-cari kesalahan orang lain. Karena menggunjing
ini dapat menyebabkan terlanggarnya kehormatan, keselamatan hati dan
ketenangan di masyarakat. Perbuatan menggunjing, merupakan salah satu
dosa besar yang membinasakan, merusak agama para pelakunya, baik
sebagai pelaku ataupun orang yang rela ketika mendengarkannya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman di dalam al-Qur'an:

Dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagiaan yang lain.
Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudarannya yang
sudah mat? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah
kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha
Penyayang. (QS. Al-Hujurat : 12)

Kaum muslimin, rahimani wa rahimakumullah.

Menggunjing orang lain, tidak lepas dari salah satu dari tiga istilah,
yang semuanya disebutkan al Qur'an, yaitu : ghibah, ifku dan buhtan.

Apabila yang Anda sebutkan tentang saudara Anda itu ada padanya, maka
inilah ghibah. Apabila Anda menyampaikan semua yang Anda dengar, maka
ini adalah ifku. Dan apabila yang Anda sebutkan tidak ada pada diri
saudaramu, maka ini adalah buhtan.

Ghibah (menggunjing) adalah, setiap yang dapat dipahami dengan maksud
penghinaan, baik berupa perkataan, isyarat atau tulisan. Ghibah ini,
juga bisa berupa penghinaan seseorang tentang agama, kondisi fisik,
akhlak, harta dan keturunannya. Barangsiapa yang mencela ciptaan
Allah, berarti ia telah mencela penciptanya.

Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam telah menyeru pelaku perbuatan ini
dengan sabdanya:
يَا مََعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ اْلإِيْمَانُ
قَلْبَهُ لاَ تَغْْتَابُوا الْمُسْلِمِْينَ وَلاَ تَتّبِعُوا
عَوْرَاتَهُمْ فَإِنّهُ مَنْ اتّبَعَ عَوْرَاتَهُمْ يَتّبِعُ اللهُ
عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتّبِعُ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ

Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya, namun keimanan itu
belum masuk ke dalam hatinya! Janganlah kalian mengghibah
(menggunjing) kaum Muslimin. Jangan pula mencari-cari aib mereka.
Barangsiapa yang mencari-cari aib mereka, (maka Allah akan
mencari-cari aibnya, niscaya Allah akan membeberkan aibnya, meskipun
dia di dalam rumahnya.

Tentang bahaya menggunjing ini, al Hasan berkata: "Ghibah, demi Allah,
lebih cepat merusakkan agama seseoranga daripada ulat yang memakan
tubuh mayit".

Maka sungguh aneh, jika ada orang yang mengaku sebagai ahlul haq dan
ahlul iman, ternyata ia melakukan perbuatan ghibah (menggunjing),
sedangkan dia mengetahui akibat buruk perbuatan tersebut. Firman Allah
Ta'ala mengingatkan:

Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?
(QS. Al-hujurat: 12).

Jama'ah shalat jum'at rahimani wa rahimakumullah.

Seburuk-buruk ghibah, yaitu menggunjing para pemimpin, para ulama,
orang-orang berkedudukan, orang-orang shalihm dan orang yang mengajak
berbuat adil. Pelaku ghibah ini telah mencabik-cabik kehormatan
orang-orang yang terpandang yang memiliki kedudukan. Pelaku ghibah ini
juga merendahkan kedudukan mereka, menghilangkan kewibawaan mereka,
menghilangkan kepercayaan terhadap mereka, mencela perbuatan dan usaha
mereka, dan meragukan kemampuan mereka.

Bayangkan, tidak disebut orang yang mulia di hadapannya, kecuali
direndahkannya. Tidaklah muncul seorang yang mulia, kecuali dicelanya.
Tidak pula orang shalih, kecuali dia akan menuduhnya. Pelaku ghibah
ini, senang menuduh orang-orang terpercaya, menggunjing orang-orang
shalih. Pelaku ghibah menanamkan permusuhan dan membingungkan
orang-orang kebanyakan, memutuskan silaturrahmi dan memecah persatuan.

Allahu Akbar! Apakah seorang muslim layak bersikap demikian kepada saudaranya?

Wahai pelaku ghibah! Setiap orang pasti dicintai dan dibenci, diridhai
dan dimarahi, disukai dan dimusuhi.

Orang yang berakal, dalam mencintai kekasihnya, ia tidak akan berbuat
secara berlebihan; sebab mungkin suatu hari orang yang dikasihinya
tersebut akan dibencinya. Sebaliknya, manakala seorang muslim harus
membenci, maka dia pun bersikap sewajarnya; sebab, mungkin suatu hari
orang yang dibencinya aka menjadi kekasihnya. Oleh karena itu, jadilah
orang yang selalu menegakkan kebenaran dan bersikap adil. Jangan
sampai ketidak-sukaan membuatmu bersikap zhalim. Allah berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang
selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil.
Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong
kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih
dekat kepada takwa.(QS. Al Maidah : 8).

Wahai saudara-saudaraku seiman, jama'ah shalat Jum'at rahimani wa
rahimakumullah.

Jika dikatakan keapda Anda : "Fulan telah menggunjingmu, sampai kami
merasa kasihan kepadamu ". Maka jawablah dengan perkataan :
"Seharusnya, dialah yang patut engkau kasihan".

Bertakwalah kita kepada Allah.Sungguh beruntung orang yang bisa
menahan diri, tidak berlebihan dalam berbicara. Sungguh beruntung
orang yang bisa menguasai lisannya. Sungguh beruntung orang yang
terhindar dari menggunjing orang lain, karena ia mengetahui yang ada
pada dirinya. Sungguh beruntung orang yang berpegang dengan petunjuk
al Qur'an, kemudian menghadap Allah dengan hati yang kusyu', lisan
yang jujur, dan ikhlas mencintai saudaranya.

Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah
beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan
kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb
kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. (QS. Al
Hasyr: 10).

KHUTBAH KEDUA
اََْلْحَمْدُ لله ذِي اْلعَرْشِ الْمَجِيْدِ، الَفَعّالُ لِمَا يُرِيْدُ،
أَحَاطَ بِكُلّ شَيْئٍ عِلْمًا، وَهُوَ عَلَى كُلّ شَيْئٍ شَهِيْدٌ،
وَمَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلاّ لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ،
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، هُوَ
أَقْرَبُ إِلى عَبْدِهِ مِنْ حَبْلِ اْلوَرِيْدِ. وَأَشْهَدُ أَنّ سَيّدَ
نَا وَنَبَيّنَا مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ نَاشِرُ أَعْلاَمِ
التّوْحَيْدِ، صَلّى الله وَسَلّمَ وَبَارَِكَ عَلَيْهِ وَعَلى آلِهِ
وَأَصْحَابِهِ وَالتّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ مِنْ
صَالِحِ اْلعَبِيْدِ، وَسَلّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمّا بَعْدُ:

Jama'ah shalat Jum'at rahimani wa rahimakumullah.

Kami mengingatkan kembali, hendaklah kita jauhi perbuatan ghibah atau
menggunjing orang lain. Ketahuilah, orang yang mendengarkan ghibah, ia
mendapatkan dosa yang sama seperti pelakunya. Sehingga orang yang
mendengarkan ghibah tidak selamat dari dosa, kecuali jika ia
mengingkari dengan lisannya, atau dengan hatinya. Apabila bisa,
hendaklah ia tinggalkan majelis atau tempat tersebut, atau memutusnya
dengan mengalihkan kepada pembicaraan yang lain. Karena, orang yang
diam ketika mendengar ghibah, maka ia termasuk bergabung dengan
pelakunya. Ibnu Mubarak mengingatkan: "Pergilah dari orang yang
menggunjing, sebagaimana engkau lari dari kejaran singa".

Jama'ah shalat Jum'at rahimani wa rahimakumullah.

Setiap orang memiliki cacat dan aib, kesalahan dan kekeliruan. Oleh
karena itu, kita jangan merasa mengetahui apa yang tidak diketahui
orang lain. Daripada mengurusi aib orang lain, mengapa kita tidak
menyibukkan diri dengan aibsendiri? Jagalah hak dan kehormatan
saudaramu! Dalam sebuah hadits dinyatakan :

Barangsiapa yang membela daging (kehormatan) saudaranya dari ghibah,
maka menjadi hak Allah untuk membebaskannya dari api Neraka.

Barangsiapa yang berkata tentang seorang mu'min yang tidak ada
padanya, (maka) Allah akan menempatkannya pada lumpur ahli Neraka,
sampai dia keluar dari apa yang dia ucapkan.

Barangsiapa berbuat kezhaliman terhadap saudaranya (orang lain),
hendaklah dia meminta maaf atas kezhalimannya. Karena (pada hari
Kiamat), di sana tidak ada dinar (dan) tidak pula dirham sebagai
penebusnya, sebelum diambil kebaikan dari dirinya untuk saudaranya
tersebut. Apabila dia tidak memiliki kebaikan, maka diambillah
kejelekan saudaranya tersebut dan dilimpahkan kepadanya.

Sumber: Majalah Assunnah Edisi 04/TahunX/1427H/2006M
Diangkat dari Khutbah Jum'at Syaikh Shalih bin 'Abdullah bin Humaid,
di Masjid al Haram, Makkah al Mukarramah.


Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://www.assunnah.or.id/ragam/aturanmilis.php
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [EMAIL PROTECTED] 
    [EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 
  • [assunnah] Bahaya menggunjing Bani Murro