assunnah  

[assunnah] >>Buku : Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak<<

Abu Harits
Tue, 19 Jun 2007 23:08:48 -0700

BUKU DAKWAH SALAFIYAH DAKWAH BIJAK

Oleh
Ustadz Abu Ahmad As-Salafi
http://www.almanhaj.or.id/content/2121/slash/0

Telah masuk kepada kami dari sebagian pembaca Al-Furqon perihal buku Dakwah 
Salafiyyah Dakwah Bijak, Meluruskan Sikap Keras Da’i Salafi oleh Abu 
Abdurrahman Ath-Thalibi yang beredar baru-baru ini.

Melihat judul buku ini seakan-akan kita melihat sosok seorang yang peduli 
dengan Dakwah Salafiyyah sehingga berusaha membenahi kekurangan yang terjadi 
dari-da’i-da’i salafi yang bersikap keras tidak pada tempatnya di dalam 
berdakwah. Tetapi setelah kami cermati isi buku ini, ternyata di dalamnya 
penuh dengan syubhat-syubhat yang sangat berbahaya dibalik nasehat-nasehat 
yang dia sampaikan.

Karena itulah, dalam pembahasan kali ini kami berusaha menyingkap 
syubhat-syubhat tersebut sebagai nasehat kepada kaum muslimin dan pembelaan 
kepada manhaj yang haq.

PENULIS DAN PENERBIT BUKU INI
Buku ini ditulis oleh Abu Abdirrahman Ath-Thalibi dan diterbitkab oleh 
HUJJAH PRESS Cibubur Jakarta Timur, cetakan pertama, Februari 2006M

KEDUSTAAN ATAS SYAIKH ROBI BIN HADI AL-MADKHOLI HAFIZHAHULLOH
Dalam Pengantar penerbit tertera :
“Dalam salah satu artikelnya di sebuah situs salafi di Timur Tengah 
(www.sahab.net) , Dr Rabi Al-Madkhali menulis tentang bid’ah dan menyerang 
siapapun yang dianggap sebagai ahlu bid’ah secara membabi buta. Mengutip 
perkataan Yahya bin Yahya yang diriwayatkan Ibnu Taimiyyah dalam Majmu 
Fatawanya, Al-Madkhali mengatakan bahwa memerangi ahlu bid’ah lebih utama 
daripada berjihad fi sabilillah. Lalu dibelakang namanya, Al-Madkhali ini 
menuliskan gelar untuk dirinya sendiri, “Pemberantas Bid’ah dan Para 
Pelakunya, Penolong Sunnah dan Pengikutnya, dan Pembela Akidah”. Demikianlah 
sebagai contoh akhlak seorang tokoh kaum salaf masa kini yang mengaku 
sebagai penolong Sunnah, dengan bangganya dia labelkan pada dirinya sendiri 
dengan gelar-gelar yang tidak ada contohnya dari Alloh, Rasul-Nya, dan para 
ulama salaf”

Kami katakan : Ini adalah kedustaan yang ditimpakan atas Syaikh Rabi bin 
Hadi Al-Madkhali hafizhahulloh. Sepanjang penelitian dan pengetahuan kami, 
beliau tidak pernah menuliskan gelar untuk diri beliau sendiri “Pemberantas 
Bid’ah dan Para Pelakunya, Penolong Sunnah dan Pengikutnya, dan Pembela 
Akidah”, meskipun kita semua yakin bahwa beliau adalah pembela Sunnah dan 
duri bagi ahli bid’ah. Para ulama telah memberikan pujian dan rekomendasi 
kepada beliau di dalam dakwah dan tulisan-tulisan beliau. Di antara para 
ulama yang memberikan rekomendasi kepada beliau adalah tiga imam Dakwah 
Salafiyyah zaman ini : Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Al-Albani, dan 
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. [1]

Beliau menukil perkataan Al-Imam Yahya bin Yahya di atas di dalam kitab 
beliau yang berjudul Manhaj Ahli Sunnah Fi Naqdi Rijal wa Kutub wa Thowa’if 
hal. 83 dan penutup, demikian juga dalam kitab beliau yang berjudul Jama’ah 
Wahidah hal. 83, dalam ketiga nukilan tersebut beliau tidak menyebutkan 
“gelar” di atas bagi dirinya sendiri. (Untuk mengenal lebih lanjut tentang 
tulisan-tulisan beliau –yang dimuat oleh www.sahab.net dan yang lainnya- 
silahkan melihat program Maktabah Syaikh Robi bin Hadi Al-Madkhali oleh 
www.islamspirit.com)

Demikian juga, sepanjang kehadiran kami dalam majelis-majelis beliau baik di 
masjid-masjid, di ruang kuliah di Jami’ah Islamiyyah Madinah, dan di 
kediaman beliau, kami tidak pernah mendengar beliau melabelkan “gelar-gelar” 
tersebut bagi diri beliau. Bahkan ketika ada sebagian hadirin menyebut 
beliau dengan “Samahatusy Syaikh”, beliau menolak seraya mengatakan : “lastu 
bi shohibi Samahah” (Aku tidak layak disebut Samahah).

Yang kami lihat dari akhlak dari sifat beliau adalah seperti yang ditulis 
oleh penulis biografi beliau : “Beliau memiliki sifat tawadhu’ (rendah hati) 
terhadap para saudaranya, para muridnya, para tamu, dan para pengunjungnya. 
Beliau sederhana dalam tempat tinggal, pakaian, dan kendaraannya, tidak 
menyukai kemewahan dalam semua hal itu. Beliau selalu ramah dan terbuka, 
tidak membuat bosan teman duduknya dari pembicaraan beliau, mejelis-mejelis 
beliau penuh dengna bacaan hadits dan sunnah …” (Dari Tarjamah Syaikh Robi 
bin Hadi Al-Madkholi dalam www.rabee.net)

Kedustaan atas seorang ulama Sunnah seperti yang dilakukan oleh pemilik buku 
ini [2] bukanlah sikap Ahli Sunnah, tetapi salah satu tanda-tanda ahli 
bid’ah. Al-Imam Ali bin Harb Al-Maushili rahimahullah berkata : “Setiap 
pengekor hawa nafsu selalu berdusta dan tidak mempedulikan kedustaannya!” 
(Diriwayatkan oleh Al-Khothib Al-Baghdadi dalam Al-Kifayah hal. 123)

Kedustaan-kedutaan seperti ini dilakukan oleh ahli bid’ah sebagai tangga 
untuk menjatuhkan Manhaj Salaf dengan menjatuhkan para ulama Salafiyyin 
lebih dahulu, dengan menjiplak metode orang-oran Yahudi : “Jika engkau 
hendak menjatuhkan suatu pemikiran, maka jatuhkanlah para pemikir dan 
tokoh-tokohnya” (!)

TALBIS SALAFI HAROKI
Penulis berkata (dalam hal.20 dari bukunya ini) :
“Salafi Haroki adalah gerakan dakwah Salafiyyah yang menerapkan metode 
pergerakan (harakiyyah). Metode tersebut meskipun tidak sama persis, serupa 
dengan metode yang ditempuh oleh jama’ah-jama’ah dakwah Islam, seperti 
Ikhwanul Muslimin (IM), Hizbut Tahrir (HT), Jama’ah Tabligh (JT), Jama’at 
Islam (JI), Negara Islam Indonesia (NII), dll”

Kami katakan : Sebutan “Salafi Haroki’ adalah bentuk talbis 
(pencampuradukkan antara haq dan bathil) antara manhaj Salaf dengan manhaj 
Harokah yang bid’ah. Dengan talbis ini mereka hendak memalingkan Salafiyyin 
–para pengikut salafush sholih- dari manhaj salaf dan menganut manhaj haroki 
yang bid’ah!.

Syaikh Al-Allamah Sholih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahulloh berkata : 
“Menamakan diri dengan Salafiyyah tidak apa-apa jika benar-benar demikian 
keadannya. Adapun jika penamaan tersebut hanya sekedar klaim tanpa bukti, 
maka tidak boleh menamakan diri dengan Salafiyyah dalam keadaan dia tidak 
berada di atas manhaj salaf….” Maka tidak akan berkumpul antara Ahli Sunnah 
wal Jama’ah bersama madzhab orang-orang yang menyelisihi mereka seperti 
Khowarij, Mu’tazilah, dan hizbiyyin seperti orang yang mereka namakan 
sebagai Muslim Modern, yaitu orang yang hendak menggabungkan antara 
kesesatan-kesesatan modern dengan manhaj salaf” (Ajwibah Mufidah hal. 18-19)

Syaikh Al-Allamah Robi bin Hadi Al-Madkhaoli hafizhahulloh berkata : “ Saya 
menasehati orang yang mengatakan perkataan ini dan yang semisalnya agar 
bertaqwa kepada Alloh dan menjelaskan kepada kaum muslimin tentang manhaj 
Salafi yang shohih, janganlah mencampuradukan agama ini dengan manhaj Sayyid 
Quthub dan yang semisalnya, karena manhaj Salafi dan Manhaj Sayyid Quthub 
tidaklah keduanya melainkan dua hal yang kontradiktif (bertolak belakang) 
yang tidak akan bisa bertemu di dalam manhaj dan tidak pula dalam aqidah” 
(Dari kaset Ajwibah ‘Ala As’ilah Manhajiyyah tanggal 7 Syawwal 1419H) [3]

MENGKOAK-KOTAK SALAFIYYIN
Penulis berkata (dalam hal.10 dari bukunya ini) :
“Tiga Madrasah yang sangat dominan saat ini ialah : Salafiyah di Arab Saudi, 
Salafiyyah di Yaman dan Salafiyyah di Yordania-Syria (Syam). Masing-masing 
madrasah memiliki ulama-ulama, majlis-majlis, lembaga pendidikan, media, 
serta karya-karya buku”

Penulis berkata (dalam hal.10 dari bukunya ini) dengan judul pembahasan 
Komunitas Salafi Yamani:
“Madrasah Salafiyyah ada di berbagai negara Muslim, bukan hanya di Yaman. 
Bahkan diYaman sendiri, saya yakin garis Salafiyyah itu tidak satu warna, 
tetapi beragam. Hanya saja, dibandingkan dengan madrasah-madrasah 
Salafiyyah, maka madrasah Salafiyyah di Yaman terkenal paling keras sikapnya 
terhadap ahli bid’ah dan kelompok-kelompok yang menyimpang”.

Kami katakan : Salafiyyah bukanlah Hizbiyyah, sebagaimana dikatakan oleh 
Syaikh Sholih Al-Fuzan hafizhahulloh ; “Salafiyyah adalah firqotun najiyah 
(kelompok yang selamat). Mereka adalah Ahli Sunnah wal Jama’ah, bukan suatu 
hizb yang dinamakan sekarang sebagai kelompok-kelompok atau partai-partai. 
Sesungguhnya ia adalah suatu jama’ah, jama’ah yang berjalan diatas sunnah….. 
maka Salafiyyah adalah jama’ah yang berjalan di atas madzhab salaf dan di 
atas jalan Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya 
Radhiyallahu ‘anhum dan dia bukanlah salah satu kelompok dari 
kelompok-kelompok yang muncul sekarang ini, karena dia adalah jama’ah yang 
terdahulu dari zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berlanjut 
terus menerus di atas kebenaran, dan nampak hingga hari kiamat sebagaimana 
diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihgi wa sallam” (Dari kaset yang 
berjudul At-Tahdzir Minal Bida) [4]

Penulis mengatakan bahwa dirinya bukan dari kalangan Salafiyyin dengan 
mengatakan (dalm hal. 23):
“Saya tidak berdiri di salah satu kelompok. Saya bukan dari kalangan Salafi 
Yamani maupun Haroki”.

Kemudian penulis berkata (dalam hal. 112 dari bukunya ini):
“Persilangan pendapat antara ulama-ulama Salafiyyah di Arab Saudi, Yordania, 
Syria, dan yang lainnya sudah bukan rahasia lagi. Contohnya, persilangan 
pendapat antara Syaikh Nashiruddin Al-Albani dengan Syaikh Hamud bin 
Abdillah At-Tuwajiri. Persilangan itu begitu tajamnya ….”

Kami katakan : Setelah penulis menyatakan bahwa dirinya bukan dari kalangan 
Salafiyyin, maka merupakan suatu kewajaran jika dia sulit untuk menjaga 
lisannya dari perkataan yang tidak sopan kepada para ulama Salafiyyin, 
seperti terhadap dua imam dakwah Salafiyyah Syaikh Al-Albani dan Syaikh 
Hamud At-Tuwaijiri rahimahumalloh. Untuk menjelaskan hal ini, kami nukilkan 
perkataan Syaikh Abdullah bin Abdurrahman hafizhahulloh penulis biografi 
Syaikh Hamud At-Tuwajiri rahimahullah.

“Beliau memiliki beberapa bantahan terhadap tulisan-tulisan Syaikh Al-Albani 
dan terjadi beberapa pebedaan pendapat antara beliau dengan Syaikh 
Al-Albani. Kendati demikian, tetapi terjalin ukhuwwah salafiyyah antara 
beliau dengan Syaikh Al-Albani. Bukti konkrit hubungan-hubungan yang baik 
antara keduanya, di antaranya.

[a]. Syaikh Hamud, di dalam bantahannya kepada Syaikh Al-Albani, tetap 
berusaha menjaga kedudukan Syaikh Al-Albani. Suatu misal, ketika beliau 
sudah hampir mencetak bantahan beliau, tiba-tiba ada seorang yang bersimpati 
kepada Syaikh Al-Albani datang kepada beliau memprotes beberapa kalimat 
dalam bantahan tersebut, maka seketika itu juga beliau menghapus 
kalimat-kalimat tersebut.

[b]. Ketika Syaikh Al-Albani mengunjungi tempat beliau di Riyadh pada tahun 
1410H, beliau sangat bersungguh-sungguh dalam berusaha menjamu dan 
menghormati Syaikh Al-Albani.
[c]. Di dalam batahan-bantahan kepada Syaikh Al-Albani, beliau banyak 
menyertakan pujian kepada Syaikh Al-Albani dalam kegigihannya membela sunnah 
dan melawan bid’ah seperti perkataan beliau : “Syaikh Al-Albani sekarang 
adalah lambang dari sunnah, mencela beliau akan memudahkan pencelaan kepada 
sunnah”. Pujian ini jelas hanya berlaku bagi para imam ahli sunnah, bukan 
kepada para gembong ahli bid’ah, sebagaimana yang dikehendaki oleh para 
pencetus manhaj muwazanah!” (Siroh Al-Allamah Hamud bin Abdullah 
At-Tuwaijiri hal. 19-20)

PANDANGAN PENULIS TERHADAP SYAIKH MUQBIL BIN HADI AL-WADI’I RAHIMAHULLAH
Penulis berkata (dalam hal. 109 dari bukunya ini):
“Orang-orang yang mau melihat secara jujur dan obyektif pasti setuju bahwa 
Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah adalah seorang ulama Salafi. Ini adalah 
kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Beliau mendirkan Markaz Ilmiyyah Darul 
Hadits di Dammaj Yaman, beliau jug menulis karya-karya penting dalam hadits, 
beliau mendidik da’i-da’i Salafi, beliau juga berjuang keras menentang 
siapapun yang tidak sependapat dengan manhaj Salafiyyah. Bila perlu, Syaikh 
Muqbil bin Hadi akan bersikap keras terhadap musuh-musuhnya yang dianggap 
menyimpang. Dalam hal terkahir ini Syaikh Muqbil bin Hadi sangat menonjol”

Penulis juga berkata (dalam hal. 111 dari bukunya ini):
“Menurut saya, sebagaimana yang saya ketahui dari berita-berita yang ada, 
baik lisan atau tulisan, paling tidak ada tiga alasan yang bisa dianggap 
sebagai latar belakang sikap keras Syaikh Muqbil bin Hadi, yaitu : 1. 
Tradisi sosial masyarakat Yaman sendiri memang keras… 2. Konflik antar 
aliran-aliran agama di tengah masyarakat berlangsung keras… 3. Proses 
pribadi yang dialami Syaikh Muqbil bin Hadi sendiri. Syaikh Muqbil memiliki 
kebencian besar terhadap Syi’ah, sebab dalam salah satu proses hidupnya, 
beliau pernah mengalami konflik dengan komunitas Syi’ah di tingkat 
masyarakat maupun pemerintahan”

Kami katakan : Inilah pandangan penulis terhadap Syaikh Muqbil bin Hadi 
rahimahullah, dan dibawah ini kami nukilkan pandangan Syaikh Al-Allamah 
Al-Muhadits Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah terhadap Syaikh 
Muqbil bin Hadi rahimahullah ketika sebuah pertanyaan dilontarkan kepada 
Syaikh Al-Albani ; pertanyaan itu berbunyi : “Meskipun jelas sekali sikap 
Syaikh Robi bin Hadi Al-Madkholi dan Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i di 
dalam berjihad melawan kebid’ahan dan perkataan-perkataan yang menyeleweng, 
ternyata ada sebagian orang yang meragukan kalau keduanya berada di atas 
garis Salafi?”

Syaikh Al-Albani rahimahullah menjawab
“Kami –tanpa ada keraguan- bersyukur kepada Alloh Azza wa Jalla yang telah 
menganugrahkan kepada dakwah yang sholihah ini –yang tegak di atas Kitab dan 
Sunnah dengan manhaj Salafush Shalih- para da’i berbagai penjuru dunia Islam 
menegakkan tugas fardu kifayah ini yang jarang sekali menunaikannya pada 
hari ini. Maka merendahkan dua syaikh ini, Syaikh Robi dan Syaikh Muqbil, 
yang keduanya menyeru kepada Kitab dan Sunnah serta jalan yang ditempuh oleh 
salafush shalih, serta memerangi orang-orang yang menyelisihi manhaj yang 
shohih ini, maka ini –sebagaimana bukan hal yang tersembunyi atas semuanya- 
muncul dari salah satu di antara dua orang : bisa jadi dia jahil (bodoh) 
atau pengekor hawa nafsu” (Dari kaset Silsilatul Huda wan Nur no. 851)

Ketika kami menghadiri dars Sunan Nasa’i yang disampaikan oleh Syaikhuna 
al-Allamah Abdul Muhsin bin Hamd Al-Abbad hafizhahulloh di Masjid Nabawi, 
ada sebuah pertanyaan yang disampaikan kepada beliau yaitu bagaimana 
pandangan beliau tentang Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i, maka beliau 
memuji Syaikh Muqbil rahimahullah di dalam menuntut ilmu, menyampaikan ilmu, 
dan di dalam berdakwah.[5]

Tentang sikap keras Syaikh Muqbil rahimahullah kepada ahli bid’ah, memang 
hal ini tidak mengenakkan hati para hizbiyyin sehingga mereka menjadikan hal 
ini sebagai sasaran celaan mereka kepada beliau. Syaikh Abu Muhammad bin Ali 
Ash-Shouma’i hafizhahulloh telah menjawab hal ini dengan mengatakan.

“Sikap keras kepada ahli bid’ah merupakan keutamaan dan bukanlah merupakan 
kekurangan wahai Ibnu Gholib [6]. Sesungguhnya yang membuat kalian memiliki 
pemahaman terbalik ini adalah manhaj kalian yang jelek dan (akibat) kalian 
duduk-duduk dengan ahli bid’ah, kalian menghendaki muwazanah dan kelembutan 
bagi para ahli kebathilan. Dan inilah sebagian atsar dari salafuna tentang 
kerasnya mereka terhadap ahli bid’ah, barangkali kalian bisa mendapatkan 
manfaat darinya…

[1]. Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata : “Jika engkau melihat 
seseorang mencela Hammad bin Salamah maka ragukanlah keislamannya, karena 
Hammad bin Salamah keras terhadap ahli bid’ah (Siyar A’lam Nubala 8/209)
[2]. Al-Imam Baihaqi rahimahullah berkata ; “Adalah Al-Imam Asy-Syafi’i 
rahimahullah keras terhadap ahli ilhad dan bid’ah, beliau terang-terangan 
membenci mereka dan menjauhi mereka. (Siyar A’lam Nubala 7/308)
[3]. Abul Hasan Al-Farro berkata tentang Abdurrohman bin Mandah : ‘Dia keras 
terhadap ahli bid’ah dan menjauhi mereka. (Thobaqoh Hanabilah 1/538).
(Lihat Nubdzah Yasiroh min Hayati Ahadi A’lamil Jaziroh hal. 74) [7]

PENUTUP
Penulis berkata dalam Kalimat Penutup (hal. 157):
“Tujuan penulisan buku ini ialah menyampaikan nasehat-nasehat kepada 
sebagian kalangan Salafi yang cenderung bersikap berlebihan di dalam 
dakwahnya. Nasehat itu disampaikan tentu demi kebaikan dakwah Salafiyah di 
Indonesia, bukan dalam rangka menyerang atau menjatuhkan nama baik 
pihak-pihak tertentu. Sebagai hujjah bagi nasehat-nasehat yang disampaikan, 
saya kemukakan dalil-dalil syar’iyyah, bukti-bukti yang saya ketahui, serta 
petunjuk-petunjuk referensi. Selain itu, dalam buku ini saya mencoba 
menghindari kata-kata yang bersifat menghina atau melecehkan. Hanya di 
beberapa tempat tertentu saya terpaksa mengutarakan ungkapan-ungkapan yang 
mungkin dianggap sinis”.

Kami katakan : Jika buku ini benar-benar ditulis untuk kebaikan dakwah 
Salafiyyah, pastilah akan membela para ulama dakwah Salafiyyah dari 
tuduhan-tuduhan dusta ahli bid’ah, tetapi kenyataannya buku ini justru 
berisi talbis terhadap manhaj salafi, celaan dan kedustaan tentang para 
ulama Salafiyyin yang ini semua merupakan cara-cara ahli bid’ah di dalam 
usaha mereka menjatuhkan Dakwah Salafiyyah

Terakhir, kami sampaikan nasehat kepada penulis agar bertaubat dari talbis, 
kedustaan dan ungkapan-ungkapan sinis terhadap para ulama Salafiyyin. 
Hendaklah penulis berusaha mengikuti manhaj yang shahih yaitu manhaj salafi, 
karena keshohihan manhaj menentukan tempat seseorang di surga atau neraka 
sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al-Allamah Shalih Al-Fauzan hafizhahulloh.

“Keshahihan manhaj menentukan tempat seseorang di surga atau di neraka. Jika 
manhaj seseorang shahih maka dia akan mauk surga. Jika dia mengikuti manhaj 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan manhaj salafush shalih maka dia 
akan menjadi penghuni surga –dengan izin Allaoh-, dan jika dia berada pada 
manhaj yang sesat maka dia diancam dengan neraka” (Ajwibah Mufidah hal. 77)

Kepada para pembaca, kami nasehatkan agar tidak menjadikan buku Dakwah 
Salafiyyah Dakwah Bijak ini sebagai rujkan, berhubung banyaknya syubhat yang 
ada di dalamnya yang di antaranya telah kami sebutkan di atas. Masih banyak 
kitab-kitab para ulama yang lebih layak dijadikan sebagai rujukan di dalam 
manhaj dakwah. Di antara kitab-kitab yang kami anjurkan untuk dijadikan 
rujukan dalam hal ini ialah : Min Aqwali Syaikh Abdul Aziz bin Baz Fi 
Da’wah, Ajwibah Mufidah oleh Syaikh Shalih Al-Fauzan, Da’wah ila Alloh dan 
Ru’yah Waqi’iyyah lil Manahij Da’awiyah keduanya oleh Syaikh Ali bin Hasan 
Al-Halabi Al-Atsari, serta Manhajul Anbiya fi Da’wah ila Alloh dan 
Al-Hatstsu ‘alal Mawaddah wal I’tilaf wa Tahdzir minal Furqoh wa Ikhtilaf 
[8] keduanya oleh Syaikhuna Al-Allamah Robi bin Hadi Al-Madkholi.

Semoga Alloh selalu menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengarkan 
nasehat dan mengikutinya.

[Disalin dari Majalah Al-Furqon Edisi 08 Tahun VI/Robi’ul Awwal 1428H [April 
2007], Diterbitkan Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon, Alamat Maktabah Ma’had 
Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jatim 61153]
__________
Foote Note
[1]. Lihat kitab Tsana’ Al-badi minal Ulama ala Syaikh Robi oleh Kholid bin 
Dhohwa Adh-hufairi
[2]. Di akhir Pengantar Penerbit tertera nama Abu Abdillah Al-Mishri, kami 
tidak tahu ini adalah nama samaran lain dari penulis atau orang lain.
[3]. Untuk membentengi diri kita dari fitnah talbis ini, lihat pembahasan 
Talbis Salafi Haroki dalam Majalah Al-Furqon Tahun 6 Edisi 6 Rubrik Manhaj
[4]. Lihat pembahasan Salafiyyah Bukan Hizbiyyah dalam Majalah Al-Furqon 
Tahun 5 Edisi 8 Rubrik Manhaj
[5]. Ucapan beliau ini saya sampaikan maknanya, dan jika ada yang ingin 
lafazhnya bisa menyimak rekamannya di Tasjilat Masjid Nabawi
[6]. Dia adalah Abdulloh bin Gholib, penulis bait-bait syair yang penuh 
celaan kepada Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i.
[7]. Untuk mengenal lebih lanjut tentang Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i, 
lihat kemabali Majalah Al-Furqon Tahun 5 edisi 1 Rubrik Tojoh
[8]. Untuk melihat sebagian kandungan kitab ini, silahkan melihat rubrik 
Manhaj ada edisi ini

_________________________________________________________________
Windows Live Spaces is here! http://get.live.com/spaces/overview It’s easy 
to create your own personal Web site.



Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://www.assunnah.or.id/ragam/aturanmilis.php 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [EMAIL PROTECTED] 
    [EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 
  • [assunnah] >>Buku : Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak<< Abu Harits