balita-anda  

[balita-anda] Artikel - Pemberian Makan Pertama Pada Batita, Kenali Problemnya

Neneng Purwanti
Tue, 30 Sep 2003 21:19:36 -0700

Ini ada artikel yg bagus ..tentang pemberian makan pertama pada balita
..salah satu intinya ..jangan sampai terjadi pemaksaan saat memberi makan
anak ..
Semoga bermanfaat

Salam
Ummi-nya Habibie

=================================================

Pemberian Makan Pertama Pada Batita, Kenali Problemnya 
 
  
  
Pemberian Makan Pertama Pada Batita, Kenali Problemnya

APLNews Edisi 18

Masa pemberian makan pertama pada anak batita (bayi di bawah tiga tahun-red)
yaitu biasanya ketika memasuki usia 6 bulan terkadang menimbulkan reaksi
penolakan. Salah satu reaksi penolakan seperti fenomena gumoh hingga muntah.
Alhasil, Ibu pun dibuat bingung menghadapi prilaku anak di bawah setahun
yang kerap kali memuntahkan makanan yang baru saja disuapkan. Bila si ibu
kurang sabar dan tidak telaten, peristiwa yang dalam istilah jawa disebut
gumoh ini, terkadang membuat si ibu jengkel. Padahal terdapat perbedaan
antara gumoh dan memuntahkan makanan. Karena terjadi pada usia yang masih
kecil, hingga perbedaan ini tidak begitu terlihat, untuk itu orang tua perlu
mengetahui perbedaan antara gumoh dan muntah. 

Menurut Dr. Kishore R.J, dari – Poliklinik Anak RSPAD Gatot Soebroto,
Jakarta, fenomena gumoh terjadi pada semua bayi usia di bawah setahun,
begitu setahun lewat kejadian ini berhenti. Namun terkadang, menurutnya ada
pula diusia di atas 6 bulan pun gumoh sudah mulai berkurang. Kecuali
bayi-bayi di bawah 6 bulan, terutama bayi yang baru lahir. ”Sebenarnya, soal
gumoh ini tak perlu terlalu dikhawatirkan. Hanya saja orang tua harus tahu
apa penyebabnya dan kemudian segera mengatasinya,”ujar Dr. Kishore.

Beda Gumoh dan Muntah 
Apa sebenarnya yang menyebabkan bayi anda mengalami gumoh ? Masih menurut
Dr. Kishore, gumoh terjadi karena ada satu organ, yang berfungsi untuk
menyalurkan makanan ke lambung, berbentuk seperti cincin yang fungsinya
seperti klep, belum sepenuhnya berfungsi sempurna. “Sehingga bila si bayi
minum, terus ditidurkan, lalu ngulet…nah kemudian ada cairan yang keluar.
Pada saat makanan keluar, bayi refleks untuk memuntahkan yang kita kenal
dengan istilah gumoh,”terangnya. Menurutnya beda antara muntah dengan gumoh
yang keluar sedikit-sedikit, muntah keluar dengan sekuat tenaga dan disertai
mual-mual.

Adakalanya gumoh terjadi bila bayi merasa kesal karena tak bisa menelannya
hingga ia pun menangis. “Seringkali bila hal ini terjadi, pengasuh atau
orang tua malah memaksakan pemberiannya. Misal, dengan menaruh si bayi di
posisi mendatar, lalu mencekoki makanannya. Otomatis bayi akan
membatukkannya hingga terjadi muntah.
Peristiwa ini berbahaya sekali, karena saat itu makanan bisa masuk ke
saluran napas dan menyumbatnya hingga berakibat fatal,”ujar Kishore
memperingatkan.
Mengomentari terjadinya gumoh ini, dr. Kishore berpesan, bahwa gumoh adalah
gejala alami sangat natural dan terjadi pada setiap bayi, sehingga kita
tidak bisa mencegahnya. “Yang bisa kita cegah adalah komplikasinya,”demikian
terang Dr. Kishore. Yang berbahaya dari gumoh itu menurutnya seandainya,
bila ada air susu yang masuk ke lambung. Di lambung itu ada asam lambung,
sehingga susu itu bercampur dengan asam lambung. Kalau itu keluar, dari
mulut atau dari hidung, posisi bayi segera dimiringkan atau ditengkurapkan
biar tidak tertelan masuk ke paru-paru. Kalau masuk ke paru-paru itu yang
bahaya ! 

Untuk meminimalkan gumoh, Dr. Kishore menyarankan, pada saat pertengahan
pemberian minum, kalau perlu disendawakan supaya udaranya keluar baru si
(bayi) minum. Tapi itu tidak menjamin tidak akan terjadi gumoh Gumoh tidak
disebabkan oleh minuman/makanan tertentu, namun untuk muntah mungkin saja
dipicu oleh makanan, misalnya ada makanan yang terlalu asam, ada yang
terkontaminasi bakteri, ada yang keracunan, semua itu bisa menyebabkan
muntah, tapi tidak gumoh.


Makan Dipaksa, Picu Trauma 
Bila anak kerap muntah saat diberi makan, kemungkinan ada beberapa faktor,
yang menyebabkannya. Yang sering terjadi adalah feeding problem atau problem
pemberian makan. Khusus menyoroti feeding problem ini, biasanya terjadi
dalam keluarga yang kedua orang tuanya bekerja sehingga anak diasuh oleh
baby sister-nya. Saat ke dokter dan diketahui bobot anak berkurang akhirnya
si baby sister di beri tugas memperbaiki bobot anak. 

Biasanya yang terjadi kemudian, adalah menempuh cara paksa, peristiwa
tersebut malah membuat anak trauma,”Melihat makanan aja sudah membuat anak
ingin muntah. Wah, dijejelin lagi nih, begitu pikir anak, jadi itu salah
satu penyebabnya,”tambah Kishore.

Selain trauma, penyebab kedua anak susah makan adalah penyakit. Untuk yang
satu ini memang harus ditangani oleh dokter. Kemudian yang ketiga adalah
faktor psikologi, yaitu si kecil merasa makan itu bukan urusannya. Kondisi
ini terjadi ketika seluruh anggota keluarga menyuruh si kecil untuk makan,
bapak, ibu, kakek, nenek, om, tante semua menyuruh makan, hingga si kecil
berpikir makan bukanlah urusannya. Hal ini juga bisa membuat anak
muntah-muntah, karena punya riwayat waktu kecil sering dipaksa.

Seharusnya orang tua membiasakan mengajak anak duduk bersama sewaktu bapak
dan ibunya makan. Mungkin selama acara makan berlangsung, mejanya makan akan
berantakan dengan ulahnya. Kebanyakan yang terjadi adalah, orang tua
memarahi anak. Ini bisa membuat anak trauma. 

Asalkan anak tidak mencoba meraih sambal, lebih baik orang tua membiarkan
saja anak mengambil makanan yang mau dicobanya. Dengan mengajaknya makan
bersama justru mengajarnya mandiri. Cara makan bersama keluarga atau makan
bersama teman sebaya akan lebih efektif merangsang anak untuk makan
dibanding dengan cara paksa / menjejelin yang malah membuatnya trauma,
karena anak akan berpikir makan bukanlah urusannya. 

Beri makan secara bertahap 
Dr. Kishore menyarankan untuk usia 4-6 bulan pertama, bila mungkin cukup
diberi ASI eksklusif saja tanpa pemberian makanan tambahan atau susu
formula. Tapi kalau satu dan lain hal ASI tidak bisa diberikan, maka selama
4 bulan pertama bayi diberikan susu formula, tanpa makanan padat !

Setelah 4 bulan, baru mulai diperkenalkan makanan di luar susu, yang lebih
dikenal dengan makanan pendamping, karena memang belum menjadi makanan
pokok. Hingga bayi berusia setahun, susu -baik ASI maupun bubuk- tetap
menjadi makanan pokok. Buah dikategorikan sebagai makanan pendamping jadi
porsinya hanya untuk memperkenalkan saja. 

Setelah 6 bulan, baru kita bisa mulai dengan bubur tim yang dapat dicampur
dengan ayam, hati ayam dan sayur. Kemudian kita juga dapat memodifikasi rasa
di luar manis. Kalau selama 6 bulan ia hanya kenal yang manis kecuali buah,
kita kenalkan dengan yang tidak manis.

Setelah setahun, baru kita harapkan balita boleh memakan bubur lembek,
makanan tidak perlu diblender lagi. Nah, setelah setahun makanan pokok bayi
bukan susu lagi, susu diberikan maksimal 3 kali.



Faktor Penyebab Gumoh dan Muntah pada Bayi:

Refleks Menelan Belum Bagus 
Bila karena refleks menelannya memang belum bagus, terang Kishore lebih
lanjut, ketika makanan ditaruh di bagian depan lidahnya, si bayi berusaha
menelannya dengan menjulurkan lidahnya. Namun bukannya bisa masuk, malah
makanannya jadi keluar lagi. Seperti halnya bayi mau belajar merangkak,
kadang jalannya bukannya maju malah mundur karena koordinasi motoriknya
belum bagus. Sementara kalau dia mengisap ASI, tak jadi masalah, karena
puting ada di belakang lidahnya. “Tentunya tak mungkin kita taruh makanan di
belakang lidahnya, bukan?”

Refleks menelan ini, papar Kishore, akan membaik dengan sendirinya.
Tergantung kemampuan masing-masing bayi dalam menelan. Umumnya di atas usia
6 bulan.
Jika refleks menelannya belum baik dan bayi belum bisa menelan makanan
padat, kita bisa mengatasinya dengan mengencerkan lagi makanannya dengan
cara memblender hingga mudah baginya untuk menelan. 

Tak Kenal Dengan Makanannya
Jika bayi tak kenal atau tak suka dengan makanannya, baik yang semi padat
ataupun padat, tentu akan ditolaknya. “Selama ini makanan yang diterima bayi
selalu dalam bentuk cair. Sementara kini dia mulai mendapatkan makanan yang
agak kental, semisal bubur susu, atau makanan agak padat, semisal nasi tim.
Nah, karena tak kenal, pasti awalnya akan ditolaknya,” papar Kishore.

Bila demikian kejadiannya, pemberiannya harus dimundurkan dengan cara agak
diencerkan lagi. “Jangan memaksakan bayi dengan kemauan kita karena akan
membuatnya trauma. Bisa jadi setiap kali melihat mangkuk makanan, dia jadi
menangis karena takut dijejalkan.”

Rasanya Berbeda
Ada pula bayi yang menolak nasi tim karena rasanya yang berbeda. Jangan
lupa, selama 6 bulan pertama, bayi kenalnya hanya rasa manis. Nah, nasi tim
tak manis seperti halnya bubur susu, kan? Jadi, ada kemungkinan dia tak suka
karena rasanya tak manis.
Kalau bayi tak suka karena tak mengenal rasa nasi tim tersebut, bisa
diupayakan agar si bayi belajar mengenal rasa. Jadi, rasanya yang harus
diubah dan divariasikan. Misal, awalnya nasi tim tersebut diberi tambahan
glukosa atau yang paling mudah adalah kecap manis, hingga rasa nasi tim
tersebut masih ada manisnya. Semakin lama, kecapnya agak dikurangi hingga
bayi mengenal rasa nasi tim yang lain.

Muntah juga bisa terjadi, misal, karena bayi kekenyangan makan atau minum
ataupun karena bayinya mengulet hingga tekanan di perutnya tinggi, akibatnya
susunya keluar lagi.

Gangguan Sfingter
Sementara bila karena ada gangguan di saluran cernanya, kita tahu bahwa pada
saluran pencernaan itu ada saluran makan (esopnagus), yang berawal dari
tenggorokan sampai lambung. pada saluran yang menuju lambung ini ada semacam
klep atau katup yang dinamakan sfingter. Fungsinya untuk mencegah keluarnya
kembali makanan yang sudah masuk ke lambung.

Umumnya sfingter pada bayi belum bagus dan akan membaik dengan sendirinya
sejalan bertambahnya usia. Umumnya di atas usia 6 bulan. Namun, adakalanya
di usia itu pun si bayi masih mengalami gangguan. Jadi, sifatnya sangat
bervariasi.
Tentunya, kalau sfingter tak bagus, maka makanan yang masuk ke lambung bisa
keluar lagi. Gejalanya biasanya kalau pada bayi akan lebih sering gumoh,
terutama sehabis disusui. Apalagi bila ia ditidurkan dengan posisi
telentang. Ingat, cairan selalu mencari tempat yang paling rendah, bukan?
Begitupun bila setiap kali diberi makanan padat muntah, harus dicurigai
sfingter-nya tak bagus. Apalagi bila berat badan bayinya tak naik-naik,
misal selama 1-2 bulan.

Kadang ada juga sfingter dengan gangguan, yang disebut hipertropi pylorus
stenosis, yaitu adanya otot pylorus yang menebal hingga makanan akan susah
turun dari lambung ke usus, akhirnya keluar muntah. Gejalanya, tiap kali
diberikan makanan padat akan muntah. Tapi kalau makanan cair tidak. Selain
itu, berat badannya pun sulit naik. Jika gangguannya berat, makanan cair pun
biasanya tak bisa lewat, hingga menganggu pertumbuhan si bayi karena tak ada
penyerapan makanan. Biasanya kalau kejadiannya demikian, harus dilakukan
tindakan operasi secepatnya untuk memperbaiki klepnya hingga saluran makanan
dari lambung ke usus bisa jalan dengan lancar.
Namun kalau gangguannya ringan saja, misal, muntahnya jarang dan setelah
dilakukan pemeriksaan dengan rontgen atau USG ditemui hipertropi sfingter
ringan, berat badan anak tetap naik. Biasanya kalau kasusnya demikian,
tindakan operasi bisa ditunda. Diharapkan dengan bertambahnya usia, bayi
mulai berdiri tegak hingga makanan lebih mudah turun.


Tips Menghadapi Bayi Muntah

Jika bayi muntah, saran, cepat miringkan tubuhnya, atau diangkat ke belakang
seperti disendawakan atau ditengkurapkan agar muntahannya tak masuk ke
saluran napas yang dapat menyumbat dan berakibat fatal. 

Jika muntahnya keluar lewat hidung, orang tua tak perlu khawatir. “Ini
berarti muntahnya keluar. Bersihkan saja segera bekas muntahnya. Justru yang
bahaya bila dari hidung masuk lagi terisap ke saluran napas. Karena bisa
masuk ke paru- paru dan menyumbat jalan napas. Jika ada muntah masuk ke
paru-paru tak bisa dilakukan tindakan apa-apa, kecuali membawanya segera ke
dokter untuk ditangani lebih lanjut.”
 

-----Original Message-----
From: Frieza Diane Gabriel [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Wednesday, October 01, 2003 9:47 AM
To: Balita-Anda (E-mail)
Subject: [balita-anda] Q: Babysitter


Dear All,
Apakah ada yg dapat merekomendasikan babysitter yg baik dan sabar?
Tadinya aku pengen pake pembantu saja dan diawasi Omanya….tapi biarlah pake
babysitter dulu…soalnya anakku seharusnya khan sdh mulai makan 4 bln
ini…tapi dia susah bgt buka mulutnya jadi Omanya juga takut2 gitu buat kasih
makan dia. Jadinya sampai saat ini makan bubur/buahnya kurang teratur. 
Padahal menurut dokter, dia seharusnya sdh mulai dilatih untuk makan bubur
dan buah.
Terima kasih,


Frieza Diane Gabriel
PT Datascrip
Kawasan Niaga Selatan Blok B-15
Bandar Kemayoran - Jakarta 10610
I N D O N E S I A
Telp.: +62-21-6544515
Fax. : +62-21-6544811-13


---------------------------------------------------------------------

>> Mau kirim bunga hari ini ? Klik, http://www.indokado.com/

>> Info balita, http://www.balita-anda.com

>> Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]


---------------------------------------------------------------------
>> Mau kirim bunga hari ini ? Klik, http://www.indokado.com/
>> Info balita, http://www.balita-anda.com
>> Stop berlangganan, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]

  • [balita-anda] Artikel - Pemberian Makan Pertama Pada Batita, Kenali Problemnya Neneng Purwanti