balita-anda  

[balita-anda] Pil Kontrasebsi

Angelina Widayati
Tue, 18 Nov 2008 22:39:45 -0800

Dear Member BA,

Mohon maaf setelah lama absen dari milis ini, tadi saya sempat baca artikel
di Tempo tentang PIL Kontrasebsi yang bikin langsing dan cantik, apa benar
ada PIl KB yang demikian klu boleh tahu apa merk dagangnya ya?, apa selama
ini saya dah termakan Mitos bahwa Pil KB bisa buat kita gemuk, pusing, mual
dan masih banyak lagi efek samping lainnya.
Selama ini saya pakai KB Alami, tapi masih was-was takut kebobolan

Salam
Mom.Anjeli

Langsing dan Cantik Berkat Kontrasepsi

Selasa, 18 November 2008 | 15:39 WIB

*TEMPO Interaktif*, *Jakarta*: Sejak remaja, Nuning—sebut saja
begitu—kelabakan mengurusi jerawatnya. Berbagai cara perawatan kulit
ditempuh: dari kosmetik mahal,* facial,* hingga obat tradisional. Hasilnya
nihil. Perempuan 33 tahun ini nyaris putus asa. Sampai tahun lalu, dokter
kulitnya meresepkan salah satu merek pil kontrasepsi. Karyawati sebuah
perusahaan swasta di Kebayoran Lama ini sempat kaget. "Belum menikah kok
minum pil KB?" katanya.

Akhirnya, setelah bertanya kepada beberapa dokter lain dan melakukan riset
di Internet, ia pun menenggak pil itu. Hasilnya langsung terlihat. Kulit
mukanya yang semula bak rembulan alias bolong-bolongjadi mulus dalam dua
pekan saja. Teman-teman sekantornya memuji perubahan wajahnya yang drastis.
Kini ia sudah menikah dan telah berhenti meminum pil Keluarga Berencana itu
karena tak mau menunda kehamilan.

Ada pula Riana—bukan nama sebenarnya. Alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Universitas Indonesia ini sudah lama menjadi konsumen pil
kontrasepsi. Pasalnya, sejak masih mahasiswa, siklus menstruasi wanita 31
tahun ini tak teratur. Selain itu, setiap datang bulan, sakitnya tak
tertahankan. Bahkan beberapa kali ia pingsan. Ginekolognya pun memberikan
pil kontrasepsi. Segala keluhan haidnya sirna. Kini Riana telah berkeluarga
dan memiliki dua orang anak.

Di masa lalu, pil KB identik dengan pencegah kehamilan. Kini, seiring dengan
kemajuan riset dan kebutuhan wanita, alat kontrasepsi itu juga berperan
ganda, antara lain menjaga kestabilan berat badan, mencegah jerawat, dan
memuluskan siklus haid. Biran Affandi, profesor obstetri dan ginekologi
Universitas Indonesia, mengutarakan hal ini pada peringatan Hari Kontrasepsi
Sedunia di Hotel Mulia, Jakarta, akhir bulan lalu.

Sejatinya, pil kontrasepsi generasi terbaru dibuat dari komponen hormon
estrogen dan progesteron yang berfungsi mencegah ovulasi. Hormon-hormon
progesteron itu—antara lain ciproteron asetat dan drospirenon—bermanfaat
sebagai antiandrogen. Hormon androgen juga dikenal dengan hormon
kelaki-lakian. Wanita yang kelebihan androgen umumnya banyak jerawat dan
ditumbuhi bulu-bulu halus berlebih (hirsutisme) di tubuhnya. Nah, kandungan
progesteron dalam pil KB inilah yang berfungsi mengurangi kelebihan hormon
androgen.

Obat ini efektif melenyapkan jerawat lantaran masuk sampai ke sumber
masalah: kelenjar kulit yang memproduksi minyak berlebih. Adapun obat
jerawat pada umumnya hanya bekerja di permukaan kulit yang meradang.
Artinya, jika ditilik dari kandungannya, bukan berarti pil ini identik
dengan obat jerawat. "Hanya untuk masalah kulit yang disebabkan kelebihan
hormon androgen," kata Boy Abidin, spesialis kandungan dari Rumah Sakit
Mitra Internasional Kelapa Gading, Jakarta.

Dosisnya pun disesuaikan dengan tiap-tiap kasus. Misalnya, untuk kulit
berjerawat, bisa diberikan hingga tiga bulan, dan untuk mengurangi
rambut-rambut halus, bisa sampai satu tahun. Jika memang disebabkan oleh
kelebihan hormon androgen, jerawat dan bulu-bulu bisa berkurang secara
drastis setelah pasien rutin menenggak pil ini, seperti halnya kisah Nuning
di awal tulisan ini, yang jerawatnya rontok hanya dalam dua minggu.

Boy mengingatkan pil KB sebenarnya adalah obat yang harus diresepkan. Yang
mau mengkonsumsinya harus berkonsultasi dengan dokter. Jangan karena
berhasil membuat kulit orang lain mulus, lalu kita ikut-ikutan membeli. Lain
orang lain kasus. "Kalau bukan karena kelebihan hormon androgen, ya, tidak
efektif," kata Boy.

Seperti penggunaan obat lainnya, jika sembarangan mengkonsumsi pil KB,
akibat buruk pun menanti, seperti siklus haid pendek dan darah yang keluar
hanya sedikit, perdarahan sedikit-sedikit di luar masa haid, mual-mual, dan
sakit kepala.

Pil KB yang mengandung estrogen dan progesteron ini juga tak boleh
dikonsumsi jika si wanita sebelumnya sudah mengidap tuberkulosis, kejang,
kanker payudara, atau hepatitis. Hindari juga jika Anda menunjukkan
gejala-gejala stroke, kelumpuhan, atau penyakit jantung. Selain itu, pil
jenis ini dikhawatirkan bisa memicu stroke atau serangan jantung jika
penggunanya adalah perokok dan berusia di atas 35 tahun, memiliki tekanan
darah tinggi (lebih dari 140/90), serta mengidap diabetes atau epilepsi.

Selain urusan jerawat dan bulu-bulu itu, para perempuan yang kelebihan
androgen ini kerap bermasalah dengan kesuburan. Soalnya, umumnya ovarium
mereka tak berfungsi dengan baik. Karena itulah, kata Boy, pil KB juga
efektif meningkatkan kesuburan penggunanya. Ini menampik mitos bahwa mereka
yang memakai pil kontrasepsi akan sulit hamil di masa mendatang.

Di samping menghapus jerawat dan bulu halus, pil KB memiliki sejumlah
keuntungan "sampingan". Profesor Biran menyebutkan alat kontrasepsi ini
berfungsi mengatur siklus serta mengurangi nyeri haid. Pil juga bisa
melindungi wanita dari kemungkinan terkena kanker rahim, kanker indung
telur, dan infeksi radang panggul yang sering kali berkaitan dengan rasa
sakit saat haid. Pil KB juga dianggap mampu meredam tumor jinak payudara.

Keuntungan-keuntungan ini menambah alasan mengapa orang banyak beralih ke
pil. Padahal, di samping kontrasepsi "tradisional", seperti IUD, spiral, dan
suntik, kini makin banyak diperkenalkan produk baru untuk wanita, misalnya
kondom wanita, koyo yang berfungsi "membunuh" sperma, dan cincin vagina.
Namun jenis-jenis kontrasepsi baru ini tak sukses di Indonesia.

Kontrasepsi ideal, kata dokter Biran, adalah yang efektif mencegah
kehamilan, minim efek samping, nyaman dan tak menyakitkan dipakai, bisa
segera "pulih" jika ingin hamil lagi, dan—dengan perkembangan
terbaru—memiliki keuntungan ekstra semisal bebas jerawat itu tadi.

Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Sugiri Sjarief
menyatakan, hingga tahun lalu, alat kontrasepsi yang terbanyak dipakai di
sini adalah suntik (35,2 persen), sedangkan pil di posisi kedua (28,1
persen) dari total peserta program KB di Indonesia. Kebanyakan orang memilih
suntik lantaran jangka waktu pemakaiannya yang lama—bisa bertahan hingga
beberapa tahun—dan tak membutuhkan kedisiplinan. Namun, di perkotaan, pil
adalah favorit. Bisa jadi ini terkait dengan fungsi-fungsi nonkontraseptif
pil KB seperti sudah dipaparkan di atas.

Lantas bagaimana dengan "mitos" pil KB yang selama ini dikhawatirkan
penggunanya? Ibu-ibu khawatir gemuk bila menenggak obat ini. Jangan
khawatir, pil KB generasi terbaru—berbeda dengan pendahulunya—justru
membantu menghindari penimbunan cairan dalam tubuh. Tak perlu takut menjadi
"gembung" karena pil KB.

Selain itu, ada yang menuduh pil KB membuat wanita tidak subur dan sulit
ketika nantinya ingin hamil. Boy Abidin menyatakan kecemasan ini sebetulnya
salah. Peminum pil KB tinggal menghentikan pemakaian, mereka pun bisa hamil
tanpa perlu jeda waktu tertentu. Berbeda dengan pengguna KB suntik, yang
baru bisa hamil sekitar tiga sampai enam bulan setelah kontrasepsi
dihentikan. Para pemakai pil juga tak perlu cemas susah hamil. Pil KB adalah
kontrasepsi yang paling mudah dihentikan. "Kalau sekali lupa minum saja bisa
'kebobolan', apalagi jika distop," kata Boy.

Selain itu, ungkap Boy, bagi wanita yang punya problem kelebihan hormon
androgen, pil KB justru membantu indung telurnya berfungsi dengan baik
sehingga mengatasi problem kesuburan. Memang, akibatnya ada beberapa pil
kontrasepsi yang harganya jadi mahal lantaran fungsi-fungsi tambahan itu.
Namun yang harganya murah meriah—bahkan gratis untuk peserta program
KB—tetap tersedia.

*Andari Karina Anom*