balita-anda  

[balita-anda] Artikel, Waspadai Radikal Bebas

Kamaruddin
Fri, 22 Apr 2005 22:06:32 -0700

Waspadai Radikal Bebas 
BANDUNG, (PR).-
Persoalan kehidupan yang dihadapi masyarakat modern sangat rentan akan
timbulnya penyakit kronis. Kesibukan, polusi, kontaminasi, radiasi (matahari
dengan lapisan ozon tipis), kelelahan, kekenyangan, kesenangan, kelaparan,
stres, dan berbagai penyakit yang ditimbulkannya, akan berakibat tubuh
mengeluarkan oksigen radikal atau radikal bebas yang berlebihan.
Hal tersebut diungkapkan Prof. dr. Winsy F. Th. Warouw, Sp K.K.(K), Guru
Besar Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Sam
Ratulangi (Unsrat) Manado, juga Kepala Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan
Kelamin FK Unsrat dan RSUP Manado dalam acara seminar "Kedokteran
Komplementer dan Herbal Medicine Approach pada Pelayanan Kesehatan" yang
diselenggarakan Kangzen-Kenko (KK) Indonesia di Hotel Grand Preanger
Bandung, Minggu (15/8).
"Radikal bebas kini telah menjadi topik penelitian pada akhir abad ini
bersama super oxide dismutase (SOD) karena akibat radikal bebas ini
menimbulkan banyak masalah kesehatan. Radikal bebas itu sendiri adalah bahan
kimia yang secara alamiah terdapat pada tanaman, binatang, dan manusia.
Fungsinya mencegah terjadinya kerusakan yang diakibatkan oleh virus, bakteri
serta bahan-bahan lain (asing) yang menyerang sel tubuh. Produksi yang
berlebihan akan menyerang sel tubuh sendiri dengan cara yang sama seperti
menyerang bakteri dan benda asing," paparnya.
Dalam ilmu kedokteran atau ilmu kesehatan, lanjutnya, orang itu bukan hanya
bebas dari penyakit, tetapi bagaimana tetap sehat dan bugar. Munculnya
radikal bebas tampaknya belum diminati secara serius oleh kalangan dokter
karena dalam kurikulum kedokteran tidak ada. Lebih banyak menekankan pada
antiperadangan dan biasanya digunakan kelompok steroid, yang cenderung pada
obat-obatan, padahal obat-obatan itu selalu ada masalah efek sampingnya.
"Kita harus mengetahui perkembangan kedokteran, terutama pada kegiatan
klinik. Mulai berkembang bukan hanya pada evidence based medicine tetapi
bergeser pula secara holistik serta competence based medicine. Perkembangan
ini tidak semudah yang diduga, penuh kontroversi karena secara teoretis pada
kurikulum fakultas kedokteran belum diajarkan pendekatan-pendekatan holistik
secara sistematik. Terutama, karena kendala waktu dan background
understanding," jelasnya.
Namun demikian, menurutnya, negara-negara maju seperti AS, Jepang, Cina,
telah melakukan pengobatan berupa herbal atau suplemen. Di Indonesia seperti
jamu yang tidak memiliki efek samping, namun membuat dokter jadi alergi. 
"Namun herbal medicine atau fitofarmaka ini memiliki peluang untuk
berkembang. Apalagi pada saat ini perusahaan farmasi semakin banyak
mempromosikan pengobatan herbal," ujarnya.
Lebih jauh Winsy mengatakan, kemajuan teknologi dalam mempersiapkan
produk-produk kesehatan dari bahan-bahan alami menunjukkan manfaat bagi
dunia medis. Seperti nirwana SOD (antioksidan alamiah), natural tree extract
sheet (Natesh), serta super green food yang mengandung elemen-elemen gizi
utama, sangat bermanfaat menciptakan kebugaran serta dapat berfungsi sebagai
ajuvan atau imunostimulator alamiah dan detoksifikasi yang aman. (A-73)*

AYO GALANG SOLIDARITAS UNTUK MEMBANTU KORBAN MUSIBAH DI ACEH & DAN SUMATERA 
UTARA !!!
================
Kirim bunga, http://www.indokado.com
Info balita: http://www.balita-anda.com
Stop berlangganan/unsubscribe dari milis ini, e-mail ke: [EMAIL PROTECTED]
Peraturan milis, email ke: [EMAIL PROTECTED]

  • [balita-anda] Artikel, Waspadai Radikal Bebas Kamaruddin