radityo djadjoeri
Wed, 11 Jul 2007 09:48:42 -0700
From: R. Andi Suprianto
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Beberapa ibu rumah tangga, mungkin anggota arisan gitu, makan siang di AHYAT
RESTO yang mempromosikan restorannya dengan penawaran diskon 50% pakai Kartu
Kredit HSBC. Kaum ibu tentu gampang tertarik kalau ada penawaran pake diskon
segala. Singkat cerita, begitu selesai makan dan urusan esek-esek kartu, karena
masih ada beberapa jenis makanan berlebih (bukan sisa) yang belum sempat
dimakan, mungkin kekenyangan, mau dibawa pulang, eh, mendadak pelayan menegur.
Katanya, kalau mau dibawa pulang, mesti bayar lagi tapi tidak pakai diskon.
Lho, kepriye sih? Wong sudah lunas dibayar, lagi pula lebihan makanan itu kan
nggak boleh dimakan oleh pelayan, mesti dibuang. Apa mau dijual lagi, seorang
ibu bertanya ketus. Apa bedanya sih dibuang oleh pelayan dan dibawa pulang oleh
pelanggan yg sudah bayar? Tetap aja si pelayan, dibantu supervisornya yang
orang Singapura atau Malaysia gitu, ngotot tetap melarang. Katanya, itu sudah
aturan. Dimana logikanya ya?
Teman si ibu tadi berkata dengan sewot, "Saya muat di koran, tau? Restoran
AHYAT ini menipu. Tadi tidak memberitahu kalau makanan yang boleh diskon cuma
jenis tertentu aja. Sekarang mau dibawa pulang lebihannya, nggak boleh, mesti
bayar lagi. Saya kasih tahu teman-teman saya, jangan makan di sini!"
Kalau kita renungkan sejenak, ini macam mana pula. Apa budaya dari luar dibawa
ke Indonesia? Kok nggak mikir akibatnya, apa cocok atau tidak kalau diterapkan
di sini. Penipuan secara halus. Eh, setengah kasar. Kalau memang betul ini
budaya luar, harusnya menyesuaikan diri dengan kebiasaan kita, bukan kita yg
harus menyesuaikan diri dengan budaya mereka. Kan kita pelanggan? Pelanggan itu
raja?
Itu tadi kisah nyata. Ada lagi cerita orang. Di resto yg serupa (bisa sama bisa
juga lain), ada modus yg sama malah lebih nggak masuk akal. Sekeluarga terdiri
dari suami, isteri dan seorang anak pesan nasi goreng, bihun gioreng dan ayam
goreng dengan nasi putih, untuk masing-masing. Baru makan setengah, sang isteri
memindahkan sebagian bihunnya ke piring si suami. Biar dia juga merasakan
enaknya bihun goreng. Eh, seorang pelayan mendekat, melarang, katanya aturannya
nggak mengijinkan tukar menukar makanan. Kalau suami pesan nasi goreng, ya
makan nasi goreng aja, nggak boleh mencicipi bihun. Begitu juga si isteri,
sudah pesan bihun ya jangan mencicipi nasi goreng. Lho, cem mana ini? Sang
suami ngambek, semua sisa makanan ditumpahkan di meja, membayar lalu ngeloyor.
Ini cerita orang, bisa benar bisa kurang benar, tapi intinya sama seperti kisah
nyata di atas.
Wahai pembaca. Pesan yg ditarik: Jangan gampang tergiur dengan tawaran diskon
segini diskon segitu, apalagi sampai 50% segala. Sekarang lagi jaman orang
menarik pelanggan dengan cara kurang masuk akal. Setengahnya menipu. Kalau bisa
100% menipu gitu.
---------------------------------
Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out.