Budi Rahardjo
Fri, 19 Jun 2009 17:03:01 -0700
---------- Forwarded message ---------- From: M Yusron <yus...@telkom.co.id> Date: 2009/6/19 Subject: [IA-ITB] Berita PR : Menggantung Asa "Silicon Valley" Indonesia To: ia-...@yahoogroups.com Bandung, Pikiran Rakyat, 19 Juni 2009 ---------------------------------------- DEMAM wirausaha di dunia perguruan tinggi sebenarnya berasal dari keinginan Indonesia meniru silicon valley-nya Amerika Serikat. Seorang tokoh bernama Iskandar Alisjahbana menjadi peletak ide ini. Di berbagai perguruan tinggi pelatihan, training, dan beasiswa menjadi wirausahawan dibuka. Misal, Institut Pertanian Bogor (IPB). Mengutip situs lembaga tersebut, sekitar 2.000 mahasiswa IPB mendaftar pada program pengembangan kewirausahawan pada Maret 2009. Konon, dana permodalan yang tersedia Rp 1,4 miliar. Sama halnya dengan IPB, pihak kemahasiswaan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung pun membagikan dana kewirausahaan kepada mahasiswanya. Sebanyak Rp 1 miliar akan diberikan kepada 108 mahasiswa. Besaran dana itu berasal dari bantuan Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Selain kampus yang membuka lebar-lebar pintu bagi mahasiswa yang ingin mengubah nasib melalui pelatihan wirausaha, banyak pula komunitas ekstrakampus yang membuka layanan pelatihan seperti ini. Meski pandangan wirausaha dalam pendidikan kadang dicibir sebagai praktik pragmatisme pendidikan, tapi di sisi lain ilmu wirausaha dianggap jalan keluar dari "musibah" menumpuknya pengangguran intelek di negeri ini. Banyaknya pelatihan seperti ini tentu bukan fenomena tanpa sebab. Terbersit nama seorang tokoh pendidikan dan disebut tokoh pendobrak menara gading perguruan tinggi, Iskandar Alisjahbana sebagai pelopor gerakan wirausaha di dalam perguruan tinggi di Indonesia. Tokoh yang meninggal dunia pada 16 Desember 2008 itu meninggalkan wacana berharga bagi dunia pendidikan Indonesia. Cemburu pribumi Pada 10 Mei 1963, seorang mahasiswa berbicara di depan ratusan mahasiswa lainnya. Dalam orasinya, ia menyinggung soal mahasiswa Cina di kampus tempatnya belajar. Kata-kata yang diucapkannya menyinggung kelebihan mahasiswa Cina. Yang dibicarakannya bukan ajakan untuk meniru prestasi mahasiswa Cina. Sang mahasiswa tersebut malah menyulut kebencian pribumi dan non-pribumi. "Bakar motor-motor mereka," kata orator bernama Siswono. Kejadian ini terjadi di Institut Teknologi Bandung. Untung kejadian itu tidak berlangsung lama. Seorang dosen datang dan menempeleng balik mahasiswa yang berkoar tersebut. Lalu ia berkata, "Sis, menampar orang secara fisik di kampus, itu haram hukumnya. Di kampus orang harus menampar dengan otak, berdebat!" Sang dosen, Iskandar Alisjahbana lantas membawa mahasiswanya itu ke tempat lain dan diajak berbicara. Tentu saja, Iskandar tidak ingin ITB yang disebut menyulut konflik rasial di Indonesia sehingga ia perlu mengamankan mahasiswanya tersebut. "Sis lalu membuat buku dan meminta maaf pada seluruh sivitas akademika. Itu dua bulan setelah kejadian itu," kata Iskandar pada suata sesi wawancara dengan Kampus dan budayawan Hawe Setiawan, 15 November 2008. Kenapa mahasiswa bisa bertingkah rasis seperti itu? Iskandar mengatakan mahasiswa-mahasiswa ITB yang berdarah pribumi cemburu dengan prestasi non-pribumi. Cemburu berawal dari sedikitnya mahasiswa pribumi naik kelas ketimbang non-pribumi. "Pada zaman saya masih mahasiswa, hanya ada dua pribumi yang lulus ujian lisan. Sampai zaman saya jadi dosen pun kejadiannya tidak beda jauh," ujarnya terkekeh. Kelemahan akademis seperti itu tidak dibiarkan lama oleh Iskandar. Ia menilai mahasiswa pribumi tidak 'bodoh' apa yang dibicarakan oleh kolonial sebagai inlander pemalas. Ia mengatakan, adanya sikap rendah diri karena perlakukan koloniallah yang membuat banyak generasi muda saat itu seperti lemah. Ditambah lagi karut-marut politik membuat runyam perhatian ke dunia pendidikan. Iskandar melepaskan beban politik pada dunia pendidikan dan mengalihkan perbaikan mutu mahasiswa pada program-program seperti need of achievement (NAch) training. Pelatihan ini bertujuan mendongkrak motivasi dan kreativitas mahasiswa di zaman itu. Maksudnya, agar mahasiswa Indonesia bisa mandiri dan tidak melulu disebut malas. "Ada orang yang need of achievement-nya tinggi. Ada juga orang yang punya need of affiliation yang tinggi, dan ada orang yang need of power-nya tinggi. Setiap manusia punya tiga need ini. Indonesia adalah masyarakat gotong royong. Saya datangkan seorang dosen dari Amerika," jelasnya. Pelatihan Need of Achievement sebenarnya landasan dari pelatihan wirausahawan. Iskandar membawa wacana ini pertama kali ke ITB dimana saat itu perguruan tinggi hanya menghasilkan mahasiswa berkemampuan teknis dan calon pekerja belaka. "Lembah silikon" Anak dari pujangga Indonesia Sutan Takdir Alisjahbana itu menyebut nama sekolah dari tanah Paman Sam, Stanford University yang sukses dengan ide wirausahanya. Ia mengatakan dua kampus itulah yang berhasil menerapkan konsep ilmu pengetahuan, industri, dan masyarakat ekonomi dalam perguruan tinggi. Stanford memang disebut-sebut sebagai dua lembaga pendidikan tinggi yang berhasil menikahkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan industri. Hasil pernikahan itu melahirkan pelbagai materi kebutuhan masyarakat dunia sekarang ini. Maket keberhasilan itu terletak di taman silicon valley, San Francisco Bay Area, California, Amerika Serikat. Disebut sebagai lembah silikon karena daerah ini memiliki banyak perusahaan di bidang komputer dan semikonduktor. Dan, dari para lulusan Stanford yang banyak mendirikan perusahan tersebut. Stanford pula yang memberi hasil-hasil risetnya. Mahasiswa Stanford bisa dengan mudah menyalurkan berbagai ide inovatifnya untuk diimplementasikan secara nyata. "Itulah keadaan yang harus dimiliki mahasiswa Indonesia. Hal itu bisa tercapai kalau mahasiswa selalu punya keinginan berinovasi. Inovasi adalah syarat seorang wirausahawan," tegas Iskandar. Cita-cita itu bukan isapan jempol Iskandar. Pada tahun 1963, Iskandar mendirikan stasiun relay di Gunung Tangkuban Perahu. Dari stasiun relay itu, masyarakat Kota Bandung bisa menikmati pertandingan Asian Games yang berlangsung di Jakarta. "Saya rakit sendiri dengan barang bekas dari Cikapundung dan Glodok," kisahnya. Sejurus dengan pendirian stasiun relay itu, Iskandar mendirikan PT Radio Frequency Communication (RFC) yang memproduksi alat-alat telekomunikasi satelit. Ia bawa serta dosen dan mahasiswa ITB ke dalam perusahaan itu. Niatnya hanya satu; mahasiswa magang di perusahaanya lalu mendirikan perusahaan lain di Indonesia. Tapi perusahaan ini berhenti tahun 1977 akibat persaingan. "Banyak perusahaan anak Soeharto yang bersaing tidak sehat," katanya. Pada periode Iskandar menjadi Rektor ITB (1976-1978), Iskandar membangun inkubator bisnis di ITB. Ia datangkan pula ahli wirausaha dari Amerika Serikat, membuat kerjasama dengan dengan universitas luar negeri dan menyinergikan akademik teknis dengan ilmu perusahaan. Iskandar berhenti dengan aktivitasnya sebagai rektor setelah rumahnya diberondong peluru tentara kala ITB diduduki tentara 1979. Meski kini Iskandar telah tiada, tapi catatan sejarah dan pemikirannya bergeming di ITB. Karena Pak Is, begitu ia akrab dipanggil, tidak ada lagi pertarungan rasial karena cemburu nilai. Siswono Yudohusodo sudah menjadi pejabat di negeri ini dan pengusaha pula. Anak didiknya yang lain seperti Arifin Panigoro pun sudah menjadi pembesar Grup Medco. Yang ada saat ini adalah ITB dan berbagai perguruan tinggi berlomba-lomba mencetak sarjana yang wirausahawan dan menyambungkan perguruan tinggi dengan industri. Cita-cita menjadikan Indonesia seperti silicon valley masih ada. "Saya sudah kasih jalannya, sekarang tinggal mahasiswa mau tidak mengambil kesempatan menjadi wirausaha. Bukan sekadar orang kaya yang kapitalis, tapi untuk membangun negeri dengan ilmunya, " kata Iskandar menutup pembicaraan.*** agus rakasiwi kampus...@yahoo.com -- Untuk keluar milis kirim email ke bhtv-requ...@paume.itb.ac.id Subject: unsubscribe