bhtv  

[bhtv] Kenapa Project Pengadaan Software masih belum Open Source juga ?

Lurah
Mon, 20 Jul 2009 19:09:56 -0700

Yth Semua,

Saat ini banyak Pemda yang sedang gencar melakukan lelang pengadaan
berbagai macam software untuk keperluan mereka. Kalau diperhatikan umum
nya semua lelang ini adalah pemborosan uang negara yang lumayan besar.
Masing-masing Pemda baik itu di tingkat Propinsi, Kabupaten, Kecamatan,
atau Desa (sudah ada belum ya desa yang mengadakan tender software ....
hehehehe......) bikin software sendiri-sendiri dan sebagian besar
pemenang nya adalah software yang masih closed source. Nggak kalah
dengan Pemda, instansi pemerintah yang lain juga demikian.

Yang sangat memprihatinkan adalah kadang masalah yang sama ditender kan
berkali-kali dan software nya dibikin berkali-kali karena masih closed
source. Yang sudah berhasil bikin satu software yang bagus untuk satu
masalah tidak mau memberikan software yang sama untuk Pemda yang lain
karena nggak diajak tender misal nya.

Kenapa kok tidak dipikirkan suatu mekanisme untuk mengatur sedemikian
rupa sehingga tender software itu untuk Pemda atau instansi Pemerintah
lain nya harus Open Source dan harus hosting misal nya di "sourceforge"
sehingga software itu bisa dipake oleh Pemda yang lain, bisa diperbaiki
oleh kontribusi komunitas, dan yang lebih penting lagi bisa diaudit oleh
siapa saja isi dan kelayakan software dibandingkan dengan harga nya.

Walaupun mungkin pada awal nya tetap ada arogansi dari Pemda yang kaya
untuk tetep mengadakan tender software untuk masalah yang sama dengan
pola seperti ini tetep masih jauh lebih baik daripada pola software yang
closed source, karena komunitas nanti dapat menilai apakah Pemda yang
arogan ini mengadakan tender hanya sekedar untuk menghamburkan uang atau
mampu menghasilkan alternatif software yang lebih baik untuk masaah yang
sama. Dengan demikian Pemda yang lain dapat memanfaatkan semaksimal
mungkin software-software yang sudah ada karena tidak perlu harus setiap
kali melakukan tender dan pihak software house yang memenangkan tender
itu tidak bikin software ala kadar nya karena apa yang dia buat dapat
dinilai oleh semua pihak.

Belum lagi kalau kita pikirkan kemungkinan software-software itu
dieksplorasi lebih lanjut dan lebih jauh oleh para mahasiswa kita atau
komunitas Open Source lainnya. Bukan tidak mungkin software itu
berkembang terus menjadi lebih baik dari hari ke hari.

Satu hal lagi adalah terbuka nya peluang interoperabilitas antar
software untuk direalisasikan. Sekarang ini seringkali terjadi hal-hal
yang konyol. Satu pemda membuat satu software untuk satu keperluan dan
membuat satu software lagi untuk keperluan yang lain. Padahal kalau
diperiksa basis data nya sebagian besar sama, tapi ketika software
tersebut akan diinteroperabilitikan yang terjadi adalah project membuat
lagi software yang ketiga yang lain lagi cerita nya. Hal ini akibat dari
closed soruce tadi, pemenang tender tidak membuka struktur data nya
sehingga tidak mungkin dibuat interface yang mampu menghubungkan satu
software ke software lain kecuali membuat nya lagi. Sampai kapan project
software di Pemda dan Instansi Pemerintah ini akan terus berjalan
seperti ini ?

Dengan pola seperti ini cita-cita untuk mewujudkan single national
identity sampai kapan pun mungkin nggak akan pernah terjadi, atau kalau
jadi pun harus menguras dana yang luar biasa banyak nya akibat
inefisensi seperti ini.

Barangkali komunitas kita ini dapat berbuat sesuatu untuk dititipkan
kepada kabinet y.a.d untuk memperbaiki sistem tender software yang ada
sekarang ?


Sent from my HuckleBerry:-Q dumbphone from Sinyal Nggedabrus SML,
Ngelantuu..uu.urrr Terusssss.......! 

<<attachment: stock_smiley-26.png>>