bhtv  

Re: [igos-kerjasama] Kenapa Project Pengadaan Software masih belum Open Source juga ?

T Budiman
Tue, 21 Jul 2009 21:33:18 -0700

Saya sependapat dengan Kang Lurah, yaitu perlunya ada semacam repository bagi 
software-software semacam ini, untuk memfasilitasi semangat untuk berbagi 
aplikasi e-government. Saya kira sebaiknya situs ini pun dikelola atas nama 
pemerintah (maksudnya secara formal milik pemerintah), karena bila 'hanya' atas 
nama komunitas, tampaknya akan banyak pula Pemda yang ragu untuk 
memanfaatkannya.

Problem awalnya tentu memang masalah aplikasi awalnya. Walaupun sudah ada 
aplikasi yang bersifat open source yang digunakan oleh Pemda, tidak ada yang 
secara khusus memotivasi baik pengembang ataupun Pemdanya sendiri untuk berbagi 
kode program tersebut. Untuk langkah awal saya kira ada baiknya bila ada pihak 
dari pemerintah pusat yang mendanai dan menginisiasi proyek awalnya (dan untuk 
memastikan bahwa copyright awalnya dimiliki oleh pemerintah). Misalnya saja 
pemerintah pusat mendanai pengembangan Sistem Keuangan Daerah, dengan target 
implementasi di 2 kabupaten/kota. Lalu sebagai syarat kontrak, hasil akhirnya 
harus ditaruh dalam repository tersebut. Amat penting adalah adanya upaya yang 
berkelanjutan untuk memelihara repository tersebut, sehingga dapat 
meng-encourage pihak lain untuk turut berkontribusi dan mengembangkan. Di sini 
pengelolaan sendiri oleh komunitas juga harus difasilitasi, maksudnya kalau ada 
dari pihak pengembang yang ingin turut
 mengelola, hal itu harus dimungkinkan. Sistem Keuangan Daerah ini bukan 
menjadi aplikasi wajib, sehingga misalnya nanti ada Sistem Keuangan Daerah yang 
lain (misalnya dibangun dengan menggunakan teknologi yang lain), maka proyek 
tersebut boleh didaftarkan juga ke dalam repository dan bisa saling 
berkompetisi (kayak GNOME dan KDE). Demikian juga forknya.

Nah, namun ada hal yang sangat krusial agar model ini dapat bekerja: yaitu 
pemahaman bahwa implementasi e-government bukan hanya sekedar software / 
teknologi saja.
Paling tidak ada 5 unsur berbeda:

        1. Perencanaan -- Analisa kebutuhan -- Desain. Tidak semua daerah 
kebutuhannya sama. Tidak semua kabupaten/kota memiliki susunan organisasi yang 
sama, bahkan dengan organisasi yang sama, dengan memakai peraturan dan 
undang-undang yang sama sekalipun pada kenyataannya kebutuhan tiap daerah bisa 
berbeda-beda. Di daerah ini ada prosedur tertentu yang tidak perlu dilakukan, 
atau di tempat lain formatnya ada perbedaan, atau ada kode rekening tambahan, 
dll. Hal ini membutuhkan jasa konsultansi tersendiri, yang sebaiknya dilakukan 
terpisah dengan pelaksanaannya nanti (dan umumnya tidak dilakukan oleh 
perusahaan yang sama). Bahkan idealnya tiap daerah memiliki master plan yang 
berjangka panjang.
        2. Pengadaan perangkat keras dan jaringan.

        3. Pengembangan software. Ini yang dibantu dengan adanya proyek open 
source. Tetapi bergantung proses nomor 1 di atas, bisa saja masih diperlukan 
pengembangan fitur tambahan atau modifikasi.
        4. Penyesuaian proses kerja / prosedur baku, prosedur perawatan, dan 
perawatannya. Proses kerja dengan menggunakan sistem tentu berbeda, sehingga 
diperlukan perubahan cara kerja. Ekstrimnya mungkin beberapa orang perlu 
berubah job desc-nya. Ini seringkali juga menjadi faktor resistensi utama dalam 
penerapan IT. Masalah perawatan juga menjadi masalah tersendiri, karena banyak 
implementasi yang gagal karena tidak adanya kegiatan perawatan yang benar.

        5. Pelatihan dan kesiapan untuk sumber daya manusianya, baik yang 
menggunakan aplikasi maupun yang melakukan administrasi aplikasi. Bahkan bila 
memang perlu untuk memodifikasi aplikasinya.Nah, yang penting adalah pemahaman 
bahwa semua kegiatan tersebut penting dan sama-sama membutuhkan biaya, terlepas 
softwarenya menggunakan open source atau proprietary. Adanya open source hanya 
meringankan biaya lisensi untuk yang nomor 3. Oleh karena itu 
perusahaan-perusahaan IT juga tidak perlu khawatir bila menggunakan basis open 
source, atau hasil kerja softwarenya diopensourcekan. yang jadi masalah 
sekarang adalah pemahaman atas 5 hal tersebut amat kurang, sehingga saat ini 
kecenderungan yang ada hanyalah menganggap bahwa biaya hanya perlu dikeluarkan 
untuk nomor 2 dan 3 saja, ditambah pelatihan sekedar formalitas [Yang paling 
parah saya pernah melakukan kegiatan pelatihan, namun panitia tidak melakukan 
koordinasi sehingga orang-orang yang seharusnya dilatih tidak
 ada, jadi mereka meminta kita melatih satpam untuk menggunakan aplikasi -- 
padahal setelah acara itu mereka toh ngga akan menyentuh aplikasi itu lagi].

Nah, bagaimana cara untuk menanamkan pemahaman tersebut? Saya juga tidak 
memahami regulasi yang ada, sejauh mana proses pelaksanaan e-government dapat 
distandarisasi oleh regulasi tanpa membuat aturan jadi berlebihan. Barangkali 
perlu juga ada inisiatif community watch untuk menilai compliance dan 
mempublikasikan tingkat keberhasilan penerapan IT dalam organisasi-organisasi 
pemerintah.

Saya kira secara umum open source juga tidak perlu diwajibkan, karena masih ada 
kebutuhan-kebutuhan tertentu yang hanya dapat dipenuhi dengan aplikasi 
proprietary.

T. Budiman
Malaka9
Bandung