budaya_tionghua  

[budaya_tionghua] PUTRI CINA

HERI
Wed, 26 Sep 2007 23:18:38 -0700

salam moderator,

saya ingin berbagi artikel tentang buku baru, semoga diperbolehkan

Resensi Atas Novel Terbaru Sindhunata: Putri Cina
Oleh MARIA HARTININGSIH
Kompas, Minggu, 23 September 2007
 
Judul Buku: Putri Cina
Pengarang: Sindhunata
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 304
Harga: Rp 50.000

Antara mitos dan sejarah

Kisah Putri Cina merupakan pergumulan eksistensial menyangkut 
identitas-identitas : Siapa dia sesungguhnya dan mengapa ia bernama 
Putri Cina? Di manakah ia ketika tiada lagi wajahnya? (hal 13) 

Sebagian narasi dalam buku ini menggunakan bahasa indah, tidak 
mengada-ada dan sangat dalam tentang kejawaan. Dialog antara Putri 
Cina dan Sabdapalon-Nayageng gong dalam beberapa hal mengingatkan 
pada pemikiran Hannah Arendt tentang banalitas kejahatan dan 
pandangan Elie Wiesel tentang kejahatan tersembunyi di dalam diri 
manusia, yang membuat manusia tega berlaku keji pada siapa pun. 

Dalam Putri Cina, Sindhunata memasuki wilayah yang tak bisa 
dikatakan sepenuhnya sebagai mitos. Bagian yang dikembangkan menjadi 
novel ada dalam disertasi antropolog Nancy K Florida dari 
Universitas Michigan, AS, diterbitkan dalam buku Writing the Past, 
Inscribing the Future: History as Prophecy in Colonial Java (1995). 

Naskah Babad Jaka Tingkir yang tersimpan di Keraton Surakarta itu 
ada kaitannya dengan Pakubuwana VI, yang lenyap dalam pembuangan 
Belanda tahun 1830. Kisah Jaka Prabangkara yang membuka kisah Putri 
Cina adalah bagian dari babad tersebut. 

Jaka Prabangkara adalah anak Prabu Brawijaya dari seorang selir, 
yang dibuang ke Cina oleh ayahnya setelah titah sang ayah melukis 
permaisurinya, Putri Cempa, terlihat begitu sempurna, sampai kepada 
noda hitam di ujung pahanya. 

Prabangkara akhirnya menjadi menantu Maharaja Kaisar Cina, 
menurunkan banyak anak-cucu, yang nantinya berlayar menuju ke tanah 
leluhurnya, Tanah Jawa. Putri Cina adalah keturunan Prabangkara. 

Ada dua Putri Cina dalam novel ini. Yang pertama adalah Putri Cina 
yang diceraikan Prabu Brawijaya, ibu dari Raden Patah, penguasa baru 
Tanah Jawa yang kelak menggulingkan sang ayah. Dia membawa Tanah 
Jawa menapaki zaman baru, dan oleh para wali diminta menjadi 
jembatan antara Jawa Lama menuju Jawa Baru, antara agama lama menuju 
agama baru. 

Putri Cina lainnya adalah Giok Tien, pemain ketoprak Sekar Kastubo. 
Hampir setengah bagian terakhir mengeksplorasi kisah Giok Tien, 
termasuk kisah cintanya dengan pemuda Jawa bernama Setyoko, suami, 
yang kelak menjadi Senapati Gurdo Paksi di Kerajaan Medang Kamulan 
Baru. 

Di sini mitos dan sejarah bergulat menjadi kenyataan hidup. Peran 
Eng Tay yang dilakonkan Giok Tien dalam ketoprak Sam Pek-Eng Tay 
adalah lakon hidupnya sendiri. Cinta yang mengikat, cinta pula yang 
memisahkan. Seperti kesia-siaan. 

Akan tetapi, adakah kesia-siaan ketika kita menyaksikan kupu-kupu 
cinta tak lagi memisahkan Jawa dan Cina, kupu-kupu kuning yang mati 
di utara, memanggil hujan yang menyegarkan dan menyuburkan tanah; 
kupu-kupu Putri Cina yang mengubah bunga-bunga kematian menjadi 
kehidupan dan menaburkan permata berupa buah-buah doa ke seluruh 
dunia. 

Novel ini menggambarkan peralihan kekuasaan di tanah Jawa yang 
selalu berlumur darah dan pengkhianatan. Ketika raja tak mampu 
menghadapi beragam persoalan, akan selalu diperlukan kambing hitam. 
Identitas menjadi permainan politik. Di situ, memakukan identitas 
tunggal tak hanya berbahaya, tetapi juga kejam. 

Manusia terus mengulang sejarah itu dalam konteks politik yang 
berbeda-beda. Pemerkosaan terhadap perempuan etnis Cina juga terjadi 
waktu itu (hal 149-150). Sejarah kontemporer mencatat 
pengambinghitaman etnis Cina sejak tahun 1740 (hal 85-86). 

Sebuah novel menawan, dengan mengabaikan gambar sampulnya. 

Ilusi identitas 

Novel ini membawa pesan: identitas tunggal adalah ilusi. 

Siapa Cina? Siapa Jawa? Nilai kemanusiaan kita ditantang ketika 
keberagaman manusia dimampatkan ke dalam satu sistem kategorisasi 
tunggal yang sewenang-wenang (Amartya Sen, 2007). 

Ironisnya, identitas selalu dijadikan locus politik. Pijakannya 
kultur. Padahal, kebudayaan bertumbuh dari perjumpaan antarmanusia. 
Lakon ketoprak Sam Pek-Eng Tay hanyalah satu contoh dialog dalam 
kebudayaan. Tak ada sekat. Sedangkan ciri fisik hanyalah "kulit" 
ketubuhan yang membalut pikiran dan jiwa; "dunia kecil" dalam "dunia 
besar" bernama Semesta yang dibahas sangat dalam di buku ini. 

Saya membaca Putri Cina dengan ingatan pada karya Sindhunata, 
Kambing Hitam (2006). Di situ ia tak menolak "identitas" yang 
didefinisikan pihak di luar dirinya, tetapi merengkuhnya sebagai 
kerinduan terdalam hati manusia akan sebuah tanah air abadi, yang 
damai dan tenteram, yang tak pernah memisah-misahkan manusia lagi. 

Dan identitas? Pada halaman 302-303, penyair Tao Yuan Ming 
mengatakan, "Tak berakarlah hidup manusia ini, seperti debu jalanan, 
kita beterbangan, dibawa angin, ditebarkan ke mana-mana."

sumber:[EMAIL PROTECTED]

penyuting: heri
www.feng-shui-indonesia.com
www.lifefeature.com


  • [budaya_tionghua] PUTRI CINA HERI