Hio
Produk Budaya yang Religius

Bogor | Jurnal Bogor

Ketika melintasi atau memasuki sebuah klenteng ataupun Bio, wewangian khas yang 
berasal dari dupa atau hio menyeruak keluar menyapa setiap hidung pengunjung 
yang datang untuk sembahyang maupun hanya sekedar lewat didepan Bio.
Hio yang bermanfaat sebagai alat sembahyang, ternyata juga memiliki manfaat 
lain. Selain juga sebagai pengukur waktu, di beberapa salon atau tempat 
refleksi, para terapis memakai salah satu jenis hio sebagai aroma terapi yang 
bermanfaat untuk memberikan relaks kepada pasien.
Itulah pula alasan hio digunakan dalam sembahyang karena aroma terapinya 
bermanfaat untuk menenangkan pikiran saat beribadah. Berabad-abad lalu kakek 
moyang orang Tionghoa sudah mengetahui manfaat aroma terapi, suatu hal yang 
baru menjadi populer di mana-mana sekarang ini.
Dalam sejarah, hio tercatat digunakan sebagai wewangian pertama kali pada zaman 
Konfusius. Pada zaman itu, dalam proses pembelajaran, hio digunakan untuk 
mengusir rasa kantuk dan menambah semangat belajar serta konsentrasi meskipun 
bentuknya tidak seperti sekarang melainkan masih berbentuk serbuk yang dibakar.
Ini adalah salah satu bukti yang menandakan bahwa hio tidak lekat dengan unsur 
religius, hio bukan sebuah produk agama, melainkan sebuah produk budaya.
Produk budaya inilah yang seterusnya berkaitan dengan kehidupan sehari-hari 
leluhur orang Tionghoa di zaman tersebut, kaum agamawan dan penganut 
kepercayaan tradisional juga mengadopsi produk budaya ini ke dalam ritual 
keagamaan mereka. 
Hio dianggap cocok sebagai simbol penghormatan dilihat dari makna asap yang 
mengepul selalu mengarah ke atas dan menandakan niat penghormatan kita akan 
terbawa bersama asap ke atas.
Berbagai hio pun bermunculan seiring dengan perkembangan budaya tersebut. Ada 
beberapa warna hio yang dipakai dalam ritual tertentu. Dalam sembahyang 
sehari-hari umat Budha maupun Konghucu memakai hio berwarna merah. Merah dalam 
tradisi Cina memiliki makna keberuntungan atau hoki. Adapula hio yang berwarna 
coklat dan memiliki wangi yang khas. Berbeda dengan yang berwarna merah karena 
diberi pewarna merah, hio yang berwarna coklat tidak memakai pewarna apapun.
"Hio coklat berasal dari kayu cendana karenanya jika dibakar, wangi cendana 
yang sangat khas akan tercium. Kalau yang berwarna merah wanginya seperti 
parfum namun tidak semua suka dengan wangi  parfum tersebut kan?," ujar Susan, 
pengurus Vihara Dhanagun kepada Jurnal Bogor kemarin.
Adapula yang hio berwarna hijau, Susan mengatakan bahwa hio berwarna hijau 
biasanya dipakai untuk sembahyang orang yang meninggal umurnya dibawah 60 tahun.
"Hio yang digunakan hanya dua saja. Lilin yang dipakai juga berbeda, memakai 
lilin putih. Kalau yang meninggal diatas 70 tahun, pakainya lilin dan hio 
merah," jelasnya.
Tambahnya, pemakaian hio sebenarnya memang sudah tradisi yang dilakukan turun 
temurun sebab hio juga tidak digunakan untuk sembahyang saja.
"Buktinya, hio hitam yang saya tahu dipakai sewaktu ada pernikahan, dipasang di 
dalam kamar pengantin dan wanginya sangat membuat rileks dan tidak membuat 
pengap. Hio hitam tersebut memang sangat sedikit dijualnya. Satu bungkus saja 
ada yang berisi lima hingga sembilan batang," tandasnya. Sri Wahyuni



Kirim email ke