Kalau ngak salah nyebut istilah ...Pengalaman adalah guru yang paling dekat 
dengan kehidupan manusia.....tidak membedakan Suku Agama Ras dan keturunan
Apa yang ditulis ini adalah sebuah contoh dari alur pengalaman tentang 
pemahaman kehidupann didunia dan inilah hasil yang didapat dari sebuah 
perjalanan pengalaman tentang kehidupan.
Saya salud dengan bapak yang berani mengambil resiko dengan berbagai 
konsekuensi yang dihadapi tetapi hasilnya....LUAR BIASA....
dan itu membentuk karakter berbeda dalam diri bapak  dengan saudara2 dalam 
keluarga dan saya pikir bapaklah yang mempunyai pengalaman lebih luas dan bisa 
dijadikan rujukan untuk semua anggota keluaga
Sekali lagi Salud untuk bapak...

Salam
Heru

--- Pada Kam, 2/9/10, Azura-Mazda <[email protected]> menulis:

Dari: Azura-Mazda <[email protected]>
Judul: [budaya_tionghua] keberanian untuk berjumpa by Hamzah Sahal
Kepada: [email protected]
Tanggal: Kamis, 2 September, 2010, 4:08 AM







 



  


    
      
      
      keberanian untuk berjumpa by Hamzah Sahal
 
Saya lahir dan tumbuh dalam keluarga santri. Lingkungan dan komunitas tempat 
saya tinggal juga santri. Saya menempuh pendidikan dasar di sekolah yang semua 
murid dan gurunya bertradisi santri, dan nama sekolahnya saja berbahasa Arab, 
namanya Madrasah Ibtidaiyah As-Suniyyah. Otomatis, sebagian besar mata 
pelajaran berisi tentang Islam.
 
Masih banyak lagi contoh identitas kultural bahwa saya adalah bagian dari 
kerumunan, komunitas, atau jama’ah santri. Identitas-identitas kesantrian itu 
menempel dan menandai saya dengan amat kuat, dari kulit hingga otak, dari yang 
sadar hingga bawah sadar. Kehidupan sosial-budaya di desa saya nyaris mutlak 
homogen, 100% penduduk desa santri, teman bermain santri, warung-warung santri, 
semuanya Islam. Islamnya, Islam santri. Santrinya, santri yang tradisinya 
berkiblat pada Nahdlatul Ulama.
 
Situasi kultural macam itu, (mungkin) juga ideologis, hampir ‘tak tercampuri’ 
hingga saya memasuki masa akil balig. Perjumpaan saya dengan yang bukan santri, 
Tiong Hua misalnya, bukanlah berjumpaan yang sesungguhnya. Saya menjumpai 
mereka ketika ada transaksi ekonomi saja. Misalnya ketika beli pakaian, beli 
alat sekolah, beli bola. Selebihnya tidak.
 
Meski berjumpa, kami tidak saling mengenal. Otomatis, tidak ada keakraban, 
tidak ada rasa, tidak ada simpati, apalagi empati. Saya rasa, mereka, 
orang-orang Tiong Hua, juga mengalami hal yang sama.
 
Pengalaman saya ketemu mereka, hanyalah prasangka dan stereotipe. Dalam benak 
saya waktu itu, Tiong Hua adalah Kristen, makan babi, memlihara anjing, minum 
arak, lelakinya tidak sunat dan suka memakai kalung emas, tukang adu jago, 
pelit, pedagang, berjudi, celana pendek, bulu tangkis, kencing tidak cebok, dan 
lain-lain.
 
Ada gap di antara kami. Bahkan, situasi anarkhis kerap terjadi. Ada 
peristiwa-peristiwa yang masih saya ingat dengan baik. Misalnya, saya dan 
teman-teman suka melempari anjing-anjing mereka, meski berada di dalam pagar 
rumah. Peristiwa itu terjadi di malam hari, sepulang dari nonton bioskop atau 
dangdut. Atau ketika kami sedang bermain bola, lantas ada anjing lewat, kami, 
tanpa dikomando, membubarkan diri, lalu mengejar dan melempari anjing dengan 
batu.
 
Saya juga merasakan stereotip yang dilemparkan para orang dewasa kepada 
komunitas Tiong Hua. Misalnya, jika waktu Magrib datang, lalu saya masih 
bercelana pendek, pasti akan ada umpatan begini, “Kaya Cina saja, magrib-magrib 
belum pakai sarung!” Begitu juga ketika ada anak laki-laki yang tidak berani 
disunat, pasti akan langsung dengan komunitas Tiong Hua, atau ketika habis 
kencing tidak cebok.
 
Situasi macam inilah yang membuat orang mudah disulut, mudah disusupi untuk 
kepentingan-kepetingan orang yang tidak bertanggung jawab. Dan situasi macam 
inilah, yang membuat kerusuhan SARA pecah di Losari Cirebon pada Mei 1998.
 
Prasangka dan stereotipe, juga menjadi ‘kaca mata’ ketika saya memandang orang 
Islam yang tradisi keagamaannya lain dengan saya, yang santri Nahdlatul Ulama. 
Saya, ketika melihat ada orang sembahyang mengenakan celana --bukan sarung-- 
dan tidak berkopyah, akan cepat menyangka orang tersebut Muhammadiyah. Atau 
ketika ada perempuan yang kerudungnya panjang menjutai hingga tangganya 
tertutupi, pasti akan dilabeli Muhammadiyah. Atau saya berpandangan, referensi 
agama orang Muhammadiyah adalah buku-buku berbahasa Indonesia, bukan 
kitab-kitab berbahasa Arab. Begitu pula perempuan yang tidak mau bersalaman 
dengan lali-laki, saya akan  mencapnya sebagai orang Muhammadiyah.
 
Sudah barang tentu, pengalaman saya di atas, bagi orang yang terbiasa dengan 
dinamika sosial-budaya yang heterogen, terasa janggal dan aneh. “Kok ada orang 
kaya begitu?” Pertanyaan sinikal macam itu mudah keluar dari orang-orang yang 
pengalaman sosialnya terbiasa dengan keberagaman.
 
Tapi begitulah fakta kehidupan saya, kehidupan yang homogen, kehidupan yang 
seragam, kehidupan yang menutup diri dengan fakta lain, bahwa ada aneka macam 
kehidupan di luar sana, di luar kehidupan pribadi dan kelompok.
 
Selepas dari sekolah dasar, saya melanjutkan pendidikannya di SMP umum, SMPN I 
Losari, Cirebon. Kaum santi di kampung saya, sekolah SMP umum, pada akhir 80-an 
hingga awal 90-an adalah sesuatu yang tidak lazim, untuk tidak mengatakan 
menyimpang. Sebab, di sana tidak akan ditemukan pelajaran Al-Qur’an dan Hadits, 
fikih, sejarah Islam, atau akhlak. Itu artinya, anak-anak sekolah di sana, akan 
distreotipekan sebagai kelompok yang tidak mengerti agama, atau dangkal 
pemahaman agamanya.
 
Di keluarga saya sendiri, hanya saya yang sekolah SMP, enam saudara kandung 
saya semuanya melanjutkan sekolah menengahnya di madrasah tsanawiyah, sekolah 
yang sarat dengan pelajaran agama. Keluarga mengizinkan saya sekolah di SMP 
bukan tanpa syarat.
“Kamu boleh sekolah di SMP. Tapi waktu ngajinya ditambah dua kali, setelah Isya 
dan setelah Subuh!” Begitu kira-kira kalimat yang sering dilontarkan keluarga 
saya begitu tahu anaknya bersikeras sekolah di SMP. Dan sejak itulah, sehari 
saya mengaji tiga kali, Magrib, Isya, dan Subuh.
 
Nah, di SMP umumlah saya bertemu dengan kultur yang berbeda. Pada mulanya 
canggung, aneh dan terasa asing. Misalnya, saya tidak habis mengerti, ada anak 
sudah akil balig kok tidak bisa baca Al-Qur’an. Atau ada rasa ogah-ogahan 
menjadi makmum kepada guru yang baca lafadz Allah saja tidak fasih. Di SMP-lah 
saya sekelas dengan komunitas Tiong Hua, atau Hoakiao, komunitas yang saya 
pandang sebelah mata.
 
Tapi, di SMP-lah, saya berjumpa dengan mereka. Betul-betul berjumpa, bukan saja 
kepentingan ekonomi. Perjumpaan, adalah momentum krusial bagi pribadi atau 
kelompok yang tertutup, seperti saya. Berjumpa dalam artian yang sesungguhnya, 
dibutuhkan keberanian. Orang-orang yang memiliki problem, akan repot diajak 
berjumpa.
 
Contoh kecil, orang atau kelompok yang berkonflik pasti susah untuk berjumpa. 
Atau seorang laki-laki dan perempuan yang tertutup, meski keduanya saling jatuh 
cinta, tidak gampang berjumpa. Mereka butuh keberanian. Kenapa?
 
Sebab, dalam berjumpa orang akan saling mengenal, ada dialog yang menuntut 
untuk saling memahami. Dalam perjumpaan yang sungguh-sungguh, ada rasa yang 
harus dibagi, ada hormat yang harus diberi, ada perbedaan yang harus 
dimengerti. Dalam perjumpaan (dituntut) ada pembaruan pikiran, pandangan, sikap 
dan tindakan.
 
Sejak itulah, saya tidak lagi melempari anjing-anjing. Saya juga tidak 
keberatan makmum kepada orang yang tidak fasih baca Al-Qur’annya. Atau saya 
paham mereka memang kerepotan melafalkan bahasa Arab, sembahyangnya pun jadi 
sah, karena sudah dari sononya begitu. Mereka bukan Arab, jadi wajar bila 
bacaan Al-Qur’annya tidak sempurna. Tuhan  mengampuni.
 
Sejak itu pulalah, saya mulai akrab dengan aneka ragam perbedaan. Kaca mata 
bernama prasangka dan stereotipe yang selama ini menempel, pelan-pelan tidak 
berfungsi, dan akhirnya saya lepaskan. Yang membantu banyak untuk memandang 
mereka dengan normal, dengan pandangan manusia yang semestinya, adalah 
perjumpaan, hari demi hari kami berjumpa. Keberanian untuk berjumpa, adalah 
modal utama menjadi manusia.


    
     

    
    


 



  





Kirim email ke