bumi-serpong  

[bumi-serpong] FYI: [bic] (OOT) JAJANAN BANGO

hilmy_wanamulya
Thu, 21 Jul 2005 20:50:54 -0700


"didiek widyoastono" <[EMAIL PROTECTED]> on 07/22/2005
11:01:00 AM

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, July 22, 2005 9:17 AM

Festival Jajanan Bango

Jaka sembung makan pete, ambil sapu di ujung gunung
Jangan ngaku orang Jakarte, kalo kaga tahu "Gabus Pucung"

Penasaran??? Tunggu di Festival Jajanan Bango


Infotorial

Festival Jajanan Bango di Jakarta

Gabus Pucung, "Rawon Ikan" Khas Betawi

Pernah  dengar  makanan  khas  Betawi  yang  bernama sayur gabus atau gabus
pucung?   Jangan  khawatir. Anda tidak sendirian. Sayur gabus memang hampir
punah.  Penjualnya bisa dihitung dengan jari-jari sebelah tangan.

Ikan  gabus  (semacam  lele,  di  Jawa disebut iwak kutuk) adalah ikan yang
hidup di sungai atau rawa. Jenis ikan ini sudah semakin jarang dijajakan di
pasar.  Jumlahnya  memang  semakin  menyusut. Pada musim banjir, ikan gabus
bahkan hilang dari pasokan.

Orang Betawi asli suka makan ikan gabus goreng yang kemudian  dimasak dalam
kuah  pucung  (Jawa = kluwek, Sumatra = kepayang). Karena itu, kuahnya yang
berwarna  hitam  pekat sangat mirip citarasanya dengan rawon yang khas Jawa
Timur.  Kuah  pucung  dimasak  pedas,  sedang  rawon  harus dibubuhi sambal
sebagai topping agar menjadi pedas.

Karena  pasokan ikan gabus tidak kontinyu, salah satu pedagang  sayur gabus
di  kawasan  Srengseng  Sawah, Jakarta Selatan, mengganti ikan gabus dengan
ikan  gurame.  Hasilnya? Peningkatan mutu kuliner Betawi! Tetapi, sekaligus
juga  meningkatkan  harganya,  sehingga  rakyat  kalangan bawah tidak dapat
terlalu sering menikmatinya.

Setahu  saya,  selain  di  Srengseng Sawah, warung khas Betawi lainnya yang
menghidangkan sayur gabus ini ada di Cibubur dan Jatimakmur, Jakarta Timur.
Berbeda  dengan  warung  di  Srengseng  Sawah  yang  banyak dikunjungi kaum
bermobil,  dua  warung  yang lain itu betul-betul berkelas rakyat. Artinya,
kepunahan sayur gabus barangkali memang sudah di ambang pintu.

Warga  Jakarta  yang  belum  pernah  mencicipi hidangan khas ini akan dapat
menemukannya  di  Festival Jajanan Bango yang bakal digelar pada tanggal 24
Juli  2005,  dari  pukul 9.00 hingga 17.00, di pelataran Museum Fatahillah,
Jakarta Pusat.

Satu  jenis masakan khas Betawi lain yang nyaris punah adalah nasi ulam. Di
Jakarta  kita  mengenal dua jenis nasi ulam, yaitu varian kering dan varian
basah.

Nasi  ulam varian kering adalah nasi putih yang dicampur atau diaduk dengan
serundeng  (parutan  kelapa  goreng  berbumbu). Adukan nasi ini dihidangkan
dengan lauk-pauk yang khas seperti dendeng, sambal goreng telur, tempe-tahu
goreng,  dan  lain-lain.  Di atasnya ditaburi rajangan timun, daun kemangi,
dan  kacang  hijau  (mentah, tetapi sebelumnya telah direndam semalam dalam
air).  Tentu  saja  harus  ada  sambal  dan  kerupuk  untuk menyedapkan dan
melengkapi hidangan ini.

Nasi  ulam  varian  basah  adalah nasi putih dengan lauk-pauk bihun goreng,
perkedel,  dendeng  sapi  manis,  cumi  kering  asin, tempe goreng, disiram
dengan  kuah  semur  tahu-kentang,  lalu  diberi  kerupuk  atau rempeyek di
atasnya. Masih lagi ditaburi dengan serundeng dan daun kemangi. Semula saya
anggap  guyuran  kuah  semur  di  atas berbagai lauk itu merupakan hal yang
aneh.  Tetapi,  ternyata justru kuah semur itu yang menjadi "pengikat" bagi
kesatuan unik yang dinamai nasi ulam itu.

Bila diperhatikan, nasi ulam sebenarnya merupakan fusi dari berbagai elemen
kuliner  yang  hadir  di  Jakarta  masa  lalu. Semur dan perkedel merupakan
jejak-jejak  yang  jelas  dari  pengaruh  Belanda. Bihun goreng dan dendeng
manis  dipengaruhi  oleh kuliner Tionghoa. Rempeyek dan tempe goreng datang
dari Jawa. Orang Jakarta sejak dulu memang dikenal toleran terhadap masukan
berbagai elemen budaya asing.

Gado-gado,  hidangan  populer  yang  diduga  keras  merupakan  sajian  asli
Jakarta,  juga  berkemungkinan  merupakan  fusi  antara  kuliner  Jawa  dan
Tionghoa yang hadir dalam setting kota besar. Bukan tidak mungkin gado-gado
merupakan adaptasi nyonya-nyonya Tionghoa terhadap pecel yang khas Jawa.

Secara  umum  kita mengenal dua versi gado-gado, yaitu gado-gado rakyat dan
gado-gado  orang kaya. Versi rakyat biasanya dijajakan dengan kereta dorong
atau  mangkal di ujung gang. Versi ini justru lebih kaya variasi sayur yang
digunakan:  tauge,  kol,  nangka  muda,  pare,  jagung,  tahu,  tempe,  dan
lain-lain.  Bumbunya  di-uleg  langsung  from scratch untuk setiap pesanan.

Gado-gado  versi "priyayi" biasanya memakai telur rebus, emping goreng, dan
bumbunya  dibuat dari kacang mede - bukan kacang tanah. Harganya tentu saja
jauh  lebih  mahal.  Bahkan ada versi gado-gado yang lebih menonjolkan ciri
peranakan dan disebut dengan nama rujak pengantin.

Pernah   dengar  nasi  gila?  Tentu  saja,  ini  bukan  nasi  yang  membuat
penyantapnya  jadi  gila.  Tetapi, cukup tergila-gila. Nasi gila sebetulnya
bukan  masakan  tradisional Jakarta, melainkan sebuah kreativitas baru yang
ternyata  cukup  banyak  digemari  warga  Jakarta. Pada dasarnya, nasi gila
adalah bumbu dan aksesoris untuk nasi goreng yang diaduk dengan nasi putih,
tetapi  tidak  digoreng.  Hidangan ini sangat populer di kalangan anak-anak
muda yang suka melewatkan malam sambil dugem (dunia gemerlap). Berani coba?

Untungnya,  selain masakan khas yang hampir punah dan kreasi baru, ada juga
beberapa   jenis  masakan  tradisional  yang  masih  populer  hingga  kini.
Contohnya  adalah nasi uduk dan soto betawi. Semua itu hanya dapat dijumpai
di Festival Jajanan Bango.

Festival  ini  juga  akan  menghadirkan  berbagai masakan khas Betawi lain,
seperti:  nasi uduk, pindang bandeng, nasi goreng kambing, ketoprak, asinan
betawi,  bubur  ayam  betawi,  dan  lain-lain.  Sebelum  punah,  manfaatkan
kesempatan  langka  ini  untuk  mencicipi berbagai makanan dan jajanan khas
Jakarta.  Siapa  tahu,  partisipasi  Anda  justru akan menghidupkan kembali
berbagai pusaka kuliner yang nyaris punah itu.

Berbagai  jajanan juga akan dihadirkan di Festival Jajanan Bango ini antara
lain  adalah:  kue  ape, kerak telor, roti buaya, kue pancong, es doger, es
cincau, bir pletok, dan lain-lain. Panitia bekerja sama dengan klub kuliner
Jalansutra dalam memilih hidangan yang terbaik untuk digelar dalam festival
ini.

Bila  Anda  sedang  berkunjung atau pendatang baru di Jakarta - maupun bila
Anda  warga  Jakarta  asli yang sudah lama merindukan makanan serta jajanan
khas Jakarta dan sekitarnya - jangan lewatkan kesempatan langka ini.

Bersama Kecap Bango, kita lestarikan Pusaka Kuliner Indonesia!

(Bondan  Winarno,  penulis  kolom'Jalansutra',  dan penyaji acara TV 'Bango
Cita Rasa  Nusantara')


--- End of Forwarded Message ---




___________________________________________________
Kirim e-mail:   bumi-serpong@yahoogroups.com
Setting: http://groups.yahoo.com/group/bumi-serpong 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bumi-serpong/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


  • [bumi-serpong] FYI: [bic] (OOT) JAJANAN BANGO hilmy_wanamulya