cikeas  

CiKEAS> Kejayaan Maritim Indonesia

Sunny
Tue, 04 Dec 2007 16:41:19 -0800

KOMPAS
Rabu, 05 Desember 2007

 
Kejayaan Maritim Indonesia 


Laksamana TNI Sumardjono 

Nenek moyangku orang pelaut, gemar mengarung luas samudra.... 

Penggalan syair lagu itu mengingatkan kebesaran nusantara di masa lalu yang 
kini hilang. Namun, "Betulkah nenek moyang kita pelaut? Betulkah kita ini 
bangsa bahari? Betulkah karakter bangsa kita berwawasan maritim?" 

Sebagai bangsa bahari, negeri ini seharusnya mempunyai visi kelautan, 
direfleksikan dalam pembangunan berwawasan bahari, termasuk menguatkan armada 
laut (niaga dan militer). 

Zaman keemasan 

Menengok masa keemasan nusantara, sejak abad ke-9 Masehi, bangsa Indonesia 
telah berlayar jauh menggunakan kapal bercadik. Mereka ke utara mengarungi 
lautan, ke barat memotong Lautan Hindia hingga Madagaskar, ke timur hingga 
Pulau Paskah. Dengan kian ramainya arus perdagangan melalui laut, mendorong 
munculnya kerajaan-kerajaan di nusantara yang bercorak maritim dan memiliki 
armada laut yang besar. 

Kerajaan maritim terbesar di nusantara diawali Kerajaan Sriwijaya (tahun 
683-1030 M). Petualang Tiongkok, I Tsing, mencatat, Shih Li Fo Shih (Sriwijaya) 
adalah kerajaan besar yang mempunyai benteng di Kotaraja, armada lautnya amat 
kuat. Guna memperkuat armada dalam mengamankan lalu lintas perdagangan melalui 
laut, Sriwijaya memanfaatkan sumber daya manusia yang tersebar di seluruh 
wilayah kekuasaannya, yang kini disebut "kekuatan pengganda". 

Runtuhnya Sriwijaya disusul naiknya Kerajaan Majapahit (1293-1478 M) yang 
semula agraris. Majapahit lalu berkembang menjadi kerajaan maritim setelah 
Gajah Mada menjadi mahapatih. Dengan Sumpah Palapa, Gajah Mada bercita-cita 
menyatukan nusantara dan diangkatlah Laksamana Nala sebagai Jaladimantri yang 
bertugas memimpin kekuatan laut Kerajaan Majapahit. Dengan armada laut yang 
kuat, kekuasaan Majapahit amat luas hingga keluar nusantara. 

Kejatuhan Majapahit diikuti munculnya Kerajaan Demak. Kebesaran Kerajaan Demak 
jarang diberitakan. Kekuatan maritim Kerajaan Demak dibuktikan dengan mengirim 
armada laut sebanyak 100 buah kapal dengan 10.000 prajurit menyerang Portugis 
di Malaka. Pemimpin armada itu adalah Pati Unus yang bergelar Pangeran Sabrang 
Lor. Meski berteknologi sederhana, Demak mampu mengerahkan pasukan dan 
perbekalan dari utara Pulau Jawa menuju semenanjung Malaka. 

Sejarah itu menggambarkan kehebatan armada niaga, keandalan manajemen 
transportasi laut, dan armada militer yang mumpuni dari beberapa kerajaan di 
nusantara yang mampu menyatukan wilayah luas dan disegani bangsa lain. Dengan 
armada niaga yang besar, kerajaan bersosialisasi dan membawa hasil alam sebagai 
komoditas perdagangan ke negeri lain. Dan untuk menjaga keamanan, kerajaan 
memiliki armada laut yang kuat. 

Sayang, beberapa kerajaan besar itu jatuh bukan karena serangan lawan, tetapi 
karena "perang saudara". Kondisi itu dimanfaatkan kekuatan asing untuk 
menguasai wilayah ini. Dengan mempelajari kondisi kerajaan dan kultur penguasa 
di nusantara, kekuatan asing mampu menduduki negeri ini dengan menjauhkan 
penghidupan masyarakat dari laut. Masyarakat digiring untuk kembali menjadi 
petani. Lama-kelaman armada laut kerajaan menjadi kecil. Kesempatan ini 
dimanfaatkan kekuatan asing, seperti Portugis, Inggris, dan VOC, untuk ganti 
menguasai laut nusantara. Dengan terdesaknya raja-raja ke pedalaman dan 
dikuasainya berbagai pelabuhan oleh asing, sejak saat itu paradigma maritim 
kita diubah penjajah, menjadi bangsa agraris. 

Bangsa pelaut 

Sejarah menyakitkan itu dibaca para pejuang kemerdekaan Indonesia. Untuk itu, 
ketika bangsa ini baru mulai hidup di alam kemerdekaan, para pemimpin kita 
sadar atas kondisi geografis dan kejayaan masa lampau sebagai bangsa bahari. 

Saat membuka Institut Angkatan Laut (IAL) tahun 1953 di Surabaya, Presiden 
Soekarno berpesan, ".usahakan penyempurnaan keadaan kita ini dengan menggunakan 
kesempatan yang diberikan oleh kemerdekaan. Usahakan agar kita menjadi bangsa 
pelaut kembali. Ya..., bangsa pelaut dalam arti seluas-luasnya. Bukan sekadar 
menjadi jongos di kapal... bukan! tetapi bangsa pelaut dalam arti cakrawati 
samudra. Bangsa pelaut yang mempunyai armada niaga, bangsa pelaut yang 
mempunyai armada militer, bangsa pelaut yang kesibukannya di laut menandingi 
irama gelombang lautan itu sendiri ". 

Hal ini dibuktikan Soekarno. Tahun 1960-an kekuatan Angkatan Laut Indonesia 
adalah yang terbesar di Asia Tenggara dengan komposisi 234 kapal perang terdiri 
dari sebuah kapal penjelajah (cruiser), 12 kapal selam, 7 kapal perusak 
(destroyer), 7 fregat, dan beberapa jenis kapal perang lain. Dalam usia 
kemerdekaan yang masih muda, para pemimpin telah memfokuskan kekuatan militer 
berdasarkan konstelasi geografis. Dengan kekuatan militer, bangsa ini mampu 
mengusir Belanda yang saat itu masih mempertahankan Irian Barat. 

Mengapa Belanda meninggalkan Irian Barat tanpa pertempuran? Terlepas dari upaya 
diplomasi politik saat itu, jawaban kuatnya adalah kuat dan solidnya TNI, 
terutama kekuatan lautnya. Besarnya armada laut dengan persenjataan canggih 
saat itu, mampu mengangkut pasukan dalam jumlah besar, siap melaksanakan 
pertempuran laut. Maka, saat itu, Indonesia memiliki posisi tawar yang tinggi. 

Seiring perjalanan waktu dan akibat kondisi ekonomi yang berbeda serta 
perhatian pada maritim berkurang membuat kekuatan laut kita mencapai 
antiklimaks. Peralatan alutsista rontok, menjadi besi tua. Armada niaga kita 
pun bernasib sama. Meski tak laik, dipaksa melaut sehingga kadang terjadi 
kecelakaan. 

Menuju AL yang kuat 

Kini keadaan relatif membaik. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang 
Pertahanan Negara, terutama Pasal 3 Ayat (2) menyatakan, pertahanan negara 
disusun dengan memerhatikan kondisi geografis Indonesia sebagai negara 
kepulauan. Artinya, pemimpin Indonesia menyadari, laut berikut segala aktivitas 
di dalamnya dapat menjadi tumpuan masa depan bangsa. Bagi TNI AL, ini merupakan 
tantangan, menjaga keamanan perairan dari gangguan ataupun ancaman kedaulatan. 
Untuk itu, dibutuhkan Angkatan Laut yang kuat dan upaya menuju ke arah itu 
telah dimulai. 

Saat ini telah dibeli empat korvet kelas Sigma dari Belanda, sebuah kapal sudah 
tiba di Tanah Air, KRI Diponegoro-365, sisanya masih diselesaikan. Dari Korea 
juga telah datang dua kapal LPD, disusul segera dua lainnya yang masih 
dibangun. Meski anggaran menjadi kendala, dengan perencanaan yang baik 
mudah-mudahan kapal-kapal lain akan menyusul memperkuat kekuatan penjaga laut 
kita. Kita berharap perhatian dalam aspek maritim tidak hanya tertumpu pada 
pembangunan kekuatan angkatan laut, tetapi mampu mengembalikan Indonesia 
sebagai negara bahari. 

Bangsa yang memiliki karakter bahari tidak harus diartikan bangsa yang sebagian 
besar masyarakatnya adalah nelayan, tetapi bangsa yang menyadari kehidupan masa 
depannya bergantung pada lautan. Intinya, selalu menoleh, menggali, dan 
memanfaatkan laut sebagai tulang punggung bangsa dan negara. 

Laksamana Sumardjono Kepala Staf TNI Angkatan Laut
  • CiKEAS> Kejayaan Maritim Indonesia Sunny