cikeas  

CiKEAS> Ulasan: Alat Politik Baru dideklarasikan | Berdikari Online

Rudi Hartono
Sun, 22 Feb 2009 06:12:44 -0800





Ulasan:
Alat Politik Baru dideklarasikan 

 

Minggu, 22
Februari 2009 | 09.30

 

Berdikari
Online, Jakarta : Lebih dari 1.500 massa rakyat
miskin, yang terdiri dari perwakilan tingkat kampung, kampus, pabrik, mengikuti
dengan antusias deklarasi Sukarelawan Perjuangan Rakyat untuk Pembebasan Tanah
Air (SPARTAN) bertempat di auditorium perpustakaan nasional, Jakarta
(22/02/08). Mereka merupakan refresentasi dari organisasi-organisasi massa 
seperti organisasi miskin kota, serikat buruh, petani, dan
mahasiswa. Karena kapasitas ruangan yang kecil, terlihat massa berdesak-desakan 
hingga sebagian
harus rela menyimak pidato dan orasi politik dari luar ruangan.

 

Tema dari
deklarasi alat politik baru ini; bangun
pemerintahan koalisi persatuan nasional untuk kemandirian bangsa”. Selain
itu, tiga banner besar, bertuliskan; nasionalisasi perusahaan tambang asing,
penghapusan utang luar negeri, dan bangun pabrik (industrialisasi) nasional
untuk kesejahteraan rakyat, terpampang jelas di dalam ruangan. 

 

Menurut Rio
Ayudia Martin, ketua panitia pelaksana deklarasi alat politik baru ini
mengatakan, sebetulnya panitia berencana menggelar acara ini digelora Bung
Karno, dengan menghadirkan puluhan ribu massa, hanya saja karena hambatan
logistik dan teknis sehingga dipindahkan ke perpusnas. Seluruh dana yang
dipergunakan dalam acara ini berasal dari dana
juang, yakni dana yang dikumpulkan sendiri oleh rakyat melalui kegiatan
menabung di rakyat miskin dan organisasi-organisasi pendukung SPARTAN.

 

Anti-Imperialisme

 

Agus Jabo
Priyono, yang terpilih sebagai koordinator SPARTAN mengatakan, berkali-kali
pemilu dilaksanakan, bahkan pemilu 1999 dan 2004, kekuasaan politik yang
terbentuk tidak pernah berdiri memihak pada rakyat. Selama ini, rakyat masih
ditaruh diluar kekuasaan. Sebaliknya, kekuasaan politik yang terbangun justru
menjadi penopang dan kaki-tangan dari imperialisme. Menurutnya, bangsa 
Indonesia hingga sekang ini masih terjajah,
baik di lapangan politik, ekonomi, dan kebudayaan. 

 

Di bidang
politik, praktek penjajahan asing berlansung melalui keterlibatan asing dalam
menentukan poros politik Indonesia, kemudian penyusunan UU (legilslasi) banyak
memuat kepentingan penjajahan asing (imperialisme), seperti UU migas, UU
penanaman modal, UU BHP, UU minerba, UU ketenaga kerjaan, dan lain-lain. Di
bidang ekonomi, praktek penjajahan asing nampak terlihat pada penguasaan asing
pada sektor-sektor ekonomi yang vital, seperti migas (85%-90%), telekomunikasi
(65%), investari (75%), dan perbankan (48%). Dalam aspek budaya, ronrongan
kebudayaan imperialis kini menggerogoti dan menghancurkan jati diri dan
karakter Indonesia sebagai sebuah bangsa merdeka. 

 

Bagi Agus
Jabo, seluruh kekuatan-kekuatan progressif yang selama ini telah berjuang
mati-matian dalam menghadapi imperialisme, baik di jalanan maupun di parlemen,
perlu merangkai sebuah koalisi persatuan yang lebih strategis, programatik, dan
mengakar pada massa. Dalam konteks pemilu 2009, kekuatan-kekuatan
anti-imperialisme perlu menyatukan gerak dan langkah perjuangan, baik dalam
memenangkan caleg aktifis kerakyatan, maupun dalam memperluas perjuangan
anti-imperialisme dalam ajang-ajang politik yang lebih terbuka. SPARTAN akan
berjuang mati-matian memenangkan caleg-caleg aktifis kerakyatan, mendorong
koalisi persatuan yang lebih luas, anti-neoliberalisme, dan anti imperialisme.

 

Sekarang
ini, SPARTAN sudah berdiri di kota-kota di berbagai wilayah Indonesia, dari 
Aceh hingga ke Maluku Utara.
Sebelum deklarasi ini saja, para sukarelawan SPARTAN sudah terlibat aktif dalam
perjuangan membela hak-hak rakyat, maupun menentang kebijakan neoliberal
pemerintah. Di Simalungun, Sumatera utara, 50-an orang aktifis SPARTAN berjalan
kaki berpuluh-puluh kilometer untuk membagi-bagikan selebaran, manifesto
perjuangan, dan alat-alat perjuangan lainnya. Di Surabaya, Magelang,
Purwokerto, Lampung, makassar, para aktifis SPARTAN berkali-kali menggelar aksi
menuntut pendidikan dan kesehatan gratis. Di Bali, para aktifis SPARTAN
berencana melakukan aksi long march, dan menggelar aksi besar-besaran untuk
menuntut pembagian kompor gratis bagi rakyat. Di Riau, para aktifis SPARTAN
terlibat aktif dalam memperjuangkan para petani Suluk Bongkal, dan membela
pedagang pasar kodim.

 

Dukungan solidaritas
datang dari Ririn Sefsani, merupakan salah seorang anggota Dewan Nasional
WALHI. Dalam orasi politiknya, Ririn menandaskan bahwa kemiskinan rakyat yang
berjalan pararel dengan kerusakan ekologis merupakan bukti kerakusan system
neoliberalisme. Ia menandaskan perlunya memperluas perjuangan anti
neoliberalisme dan anti imperialisme di segala lini.

 

Kemandirian Nasional

 

SPARTAN
menegaskan, perjuangan terdekat dan harus dituntaskan oleh rakyat Indonesia 
adalah pembebasan nasional, yaitu
persoalan kedaulatan nasional. Tidak mungkin tercipta peluang berbicara
kesejahteraan rakyat (buruh, petani, miskin kota, dan lain-lain) jika kita belum
bisa mengontrol sumber daya alam dan penggunaanya, mengendalikan
perusahaan-perusahaan vital dan saran produksi yang penting bagi rakyat, serta
cara mengendalikan perekonomian nasional secara berdikari. Dan untuk itu,
segala-galanya berbicara mengenai kekuasaan demokratis, yakni kekuasaan yang
dikontrol dan dikendalikan oleh rakyat.

 

Dalam
pemilu 2009, SPARTAN mendukung dan memperjuangkan sebanyak 590 aktifis
kerakyatan, yang meliputi DPR, DPD, DPRD I, dan DPRD II. Selain itu, alat
politik baru ini akan terlibat aktif dalam mendorong terbentuknya koalisi
alternatif, yang disebut Koalisi Persatuan Nasional untuk kemandirian bangsa,
yang menghimpun bukan saja organisasi pergerakan, tetapi juga partai-partai dan
tokoh-tokoh politik nasional yang kritis, anti-neoliberal, dan pro-kemandirian
bangsa. 

 

Meskipun belum
muncul kekuatan politik alternatif yang signifikan, tetapi bagi Agus Jabo,
metode-metode “infanteri”, mendatangi rumah-rumah rakyat, berdiskusi dengan
rakyat dimana saja, serta aksi-aksi longmarch dan jalan kaki para aktifis
SPARTAN, akan menyadarkan rakyat akan pentingnya terjun dalam perjuangan
politik dan memperkuat alat politik alternatif. 

 

Hal senada
disampaikan oleh Marlo Sitompul, ketua umum Serikat Rakyat Miskin Indonesia
(SRMI), kerja gigih dan tak kenal menyerah dari para relawan rakyat miskin akan
dapat mengubah politik Indonesia, yang sekarang ini patuh pada neoliberalisme,
menjadi lebih mandiri, berdaulat, dan kerakyatan. Ia meminta para aktifis
rakyat miskin untuk tetap mengaktifkan kerja-kerja advokasi dan pembelaan
rakyat sebagai jalan memperlebar struktur organisasi. Tetapi, rakyat miskin
juga harus aktif dalam memanfaatkan dan menggunakan ruang-ruang politik untuk
masuk dalam kekuasaan.

 

Sedangkan
Benediktus Adu, seorang sopir angkot yang menjadi calon DPD DKI Jakarta
mengatakan, rakyat miskin perlu memanfaatkan semaksimal mungkin proses
pemilihan (elektoral) untuk memenangkan ratusan caleg aktifis. Menurut pak
Benny (sapaan akrabnya, red), kehadiran para aktifis pada lembaga parlementer
akan memperluas perjuangan anti neoliberalisme, tidak hanya di jalanan
(ekstra-parlemen) tetapi juga di ruang-ruang politik formal, sehingga rakyat
miskin yang sudah lama dijauhkan dari ruang politik akhirnya dapat kembali
memanfaatkan ruang tersebut. 

 

Politik Kerakyatan 

 

Dalam
orasinya yang berapi-api dan mendapat gemuruh tepukan tangan dari massa, Marlo 
Sitompul menegaskan komitmen
politik para caleg aktifis kerakyatan jika nanti mereka terpilih. Menurutnya,
perjuangan dalam pemilihan (elektoral)
merupakan terobosan dalam memasukkan perwakilan rakyat miskin dalam kekuasaan,
dan kemudian menggunakan “kekuasan” untuk melayani dan membelah hak-hak rakyat
miskin. 

 

Menurutnya,
para caleg aktifis akan dikontrol dan bertindak atas dukungan rakyat. Di
parlemen, para caleg aktifis akan menampilkan praktik politik berbeda dengan
caleg-caleg pada umumnya. Sebagai misal, para caleg aktifis akan menyampaikan
kebusukan-kebusukan proses legislasi yang merugikan rakyat, dan akan terlibat
dalam aksi-aksi rakyat. 

 

“jika nanti
kawan-kawan ini terpilih, jangan ragu-ragu untuk melemparkan gelas kepada elit
dan pejabat korup yang mencoba menipu rakyat, pada saat siding-sidang
parlemen”; teriak Marlo.

 

Berikut
beberapa komitmen politik caleg aktifis di parlemen;

 

1.      
Membuat
Laporan berkala mengenai kerja-kerja di badan parlemen;

2.      
Bersedia
memotong gaji sebanyak 50%, dimana pengelolannya diserahkan kepada partai dan
organisasi-organisasi rakyat;

3.      
Melakukan
aksi walk out dan bergabung dengan
aksi-aksi rakyat pada sidang-sidang DPR yang mencoba meloloskan perundangan
yang tidak berpihak kepada rakyat;

4.      
Kami
akan melakukan konsultasi, diskusi terbuka, dan menampun usulan-usulan dari
konstituen pemilih) melalui badan-badan (dewan) konsultasi maupun melalui
organisasi-organisasi sosial kerakyatan;

5.      
Bersedia
di-recall kapan saja;

6.      
Dalam
periode tertentu masa jabatan, bersedia menggelar referendum; apakah rakyat
masih mendukung atau tidak;

Tentu saja,
deklarasi politik yang dilakukan oleh SPARTAN hari ini, merupakan langkah dan
gebrakan politik yang cukup progressif dalam mendorong maju perjuangan
anti-imperialisme di Indonesia, terutama kekosongan kaum kiri
dalam arena-arena politik legal.

 

ULFA ILYAS
dan RUDI HARTONO

 

Kunjungi website
kami di http://berdikari.org


"Tugas Manusia adalah Menjadi Manusia" (Multatuli)
Kunjungi website http://www.arahkiri2009.blogspot.com



      
  • CiKEAS> Ulasan: Alat Politik Baru dideklarasikan | Berdikari Online Rudi Hartono