daarut-tauhiid  

[daarut-tauhiid] Sejarah Kodifikasi Al-Quran

Denny Wijaya
Wed, 27 Sep 2006 17:26:03 -0700

Ass. Wr. Wb. Rekan2, ini ada artikel menarik, jika ada yg tdk benar,
maka kita patut meluruskannya.



Sejarah Kodifikasi Al-Quran



Mushaf Al Quran yang ada di tangan kita sekarang ternyata telah melalui
perjalanan panjang yang berliku-liku selama kurun waktu lebih dari 1400
tahun yang silam dan mempunyai latar belakang sejarah yang menarik untuk
diketahui. Selain itu jaminan atas keotentikan Al Quran langsung
diberikan oleh Allah SWT yang termaktub dalam firman-Nya QS.AL Hijr
-(15):9: "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan adz-Dzikr (Al Quran), dan
kamilah yang akan menjaganya"..



Al-Quran pada jaman Rasulullah SAW.

Pengumpulan Al Quran pada zaman Rasulullah SAW ditempuh dengan dua cara:



Pertama : al Jam'u fis Sudur

Para sahabat langsung menghafalnya diluar kepala setiap kali Rasulullah
SAW menerima wahyu. Hal ini bisa dilakukan oleh mereka dengan mudah
terkait dengan kultur (budaya) orang arab yang menjaga Turast
(peninggalan nenek moyang mereka diantaranya berupa syair atau cerita)
dengan media hafalan dan mereka sangat masyhur dengan kekuatan daya
hafalannya.



Kedua : al Jam'u fis Suthur

Yaitu wahyu turun kepada Rasulullah SAW ketika beliau berumur 40 tahun
yaitu 12 tahun sebelum hijrah ke madinah. Kemudian wahyu terus menerus
turun selama kurun waktu 23 tahun berikutnya dimana Rasulullah. SAW
setiap kali turun wahyu kepadanya selalu membacakannya kepada para
sahabat secara langsung dan menyuruh mereka untuk menuliskannya sembari
melarang para sahabat untuk menulis hadis-hadis beliau karena khawatir
akan bercampur dengan Al Quran. Rasul SAW bersabda  "Janganlah kalian
menulis sesuatu dariku kecuali Al Quran, barangsiapa yang menulis
sesuatu dariku selain Al Quran maka hendaklah ia menghapusnya " (Hadis
dikeluarkan oleh Muslim (pada Bab Zuhud hal 8) dan Ahmad (hal 1).



Biasanya sahabat menuliskan Al Quran pada media yang terdapat pada waktu
itu berupa ar-Riqa' (kulit binatang), al-Likhaf (lempengan batu),
al-Aktaf (tulang binatang), al-`Usbu ( pelepah kurma). Sedangkan jumlah
sahabat yang menulis Al Quran waktu itu mencapai 40 orang. Adapun hadis
yang menguatkan bahwa penulisan Al Quran telah terjadi pada masa
Rasulullah s.a.w. adalah hadis yang di Takhrij (dikeluarkan) oleh
al-Hakim dengan sanadnya yang bersambung pada Anas r.a., ia berkata: 
"Suatu saat kita bersama Rasulullah s.a.w. dan kita menulis Al Quran
(mengumpulkan) pada kulit binatang ".



Dari kebiasaan menulis Al Quran ini menyebabkan banyaknya naskah-naskah
(manuskrip) yang dimiliki oleh masing-masing penulis wahyu, diantaranya
yang terkenal adalah: Ubay bin Ka'ab, Abdullah bin Mas'ud, Mu'adz bin
Jabal, Zaid bin Tsabit dan Salin bin Ma'qal.



Adapun hal-hal yang lain yang bisa menguatkan bahwa telah terjadi
penulisan Al Quran pada waktu itu adalah Rasulullah SAW melarang membawa
tulisan Al Quran ke wilayah musuh. Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Janganlah kalian membawa catatan Al Quran kewilayah musuh, karena aku
merasa tidak aman (khawatir) apabila catatan Al Quran tersebut jatuh ke
tangan mereka".



Kisah masuk islamnya sahabat `Umar bin Khattab r.a. yang disebutkan
dalam buku-bukus sejarah bahwa waktu itu `Umar mendengar saudara
perempuannya yang bernama Fatimah sedang membaca awal surah Thaha dari
sebuah catatan (manuskrip) Al Quran kemudian `Umar mendengar, meraihnya
kemudian memba-canya, inilah yang menjadi sebab ia mendapat hidayah dari
Allah sehingga ia masuk islam.



Sepanjang hidup Rasulullah s.a.w Al Quran selalu ditulis bilamana beliau
mendapat wahyu karena Al Quran diturunkan tidak secara sekaligus tetapi
secara bertahap.



Al-Quran pada zaman Khalifah Abu Bakar as Sidq



SEPENINGGAL Rasulullah SAW, istrinya `Aisyah menyimpan beberapa  naskah
catatan (manuskrip) Al Quran, dan pada masa pemerintahan Abu Bakar r.a
terjadilah Jam'ul Quran yaitu pengumpulan naskahnaskah atau manuskrip Al
Quran yang susunan surah-surahnya menurut riwayat masih berdasarkan pada
turunnya wahyu (hasbi tartibin nuzul).



Imam Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya sebab-sebab yang
melatarbelakangi pengumpulan naskah-naskah Al Quran yang terjadi pada
masa Abu Bakar yaitu Atsar yang diriwatkan dari Zaid bin Tsabit r.a.
yang berbunyi:



"Suatu ketika Abu bakar menemuiku untuk menceritakan perihal korban pada
perang Yamamah , ternyata Umar juga bersamanya. Abu Bakar berkata :"
Umar menghadap kapadaku dan mengatakan bahwa korban yang gugur pada
perang Yamamah sangat banyak khususnya dari kalangan para penghafal Al
Quran, aku khawatir kejadian serupa akan menimpa para penghafal Al Quran
di beberapa tempat sehingga suatu saat tidak akan ada lagi sahabat yang
hafal Al Quran, menurutku sudah saatnya engkau wahai khalifah
memerintahkan untuk mengumpul-kan Al Quran, lalu aku berkata kepada Umar
: " bagaimana mungkin kita melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan
oleh Rasulullah s. a. w. ?" Umar menjawab: "Demi Allah, ini adalah
sebuah kebaikan".



Selanjutnya Umar selalu saja mendesakku untuk melakukannya sehingga
Allah melapangkan hatiku, maka aku setuju dengan usul umar untuk
mengumpulkan Al Quran.



Zaid berkata: Abu bakar berkata kepadaku : "engkau adalah seorang pemuda
yang cerdas dan pintar, kami tidak meragukan hal itu, dulu engkau
menulis wahyu (Al Quran) untuk Rasulullah s. a. w., maka sekarang
periksa dan telitilah Al Quran lalu kumpulkanlah menjadi sebuah mushaf".



Zaid berkata : "Demi Allah, andaikata mereka memerintahkan aku untuk
memindah salah satu gunung tidak akan lebih berat dariku dan pada
memerintahkan aku untuk mengumpulkan Al Quran. Kemudian aku teliti Al
Quran dan mengumpulkannya dari pelepah kurma, lempengan batu, dan
hafalan para sahabat yang lain).



Kemudian Mushaf hasil pengumpulan Zaid tersebut disimpan oleh Abu Bakar,
peristiwa tersebut terjadi pada tahun 12 H. Setelah ia wafat disimpan
oleh khalifah sesudahnya yaitu Umar, setelah ia pun wafat mushaf
tersebut disimpan oleh putrinya dan sekaligus istri Rasulullah s.a.w.
yang bernama Hafsah binti Umar r.a.



Semua sahabat sepakat untuk memberikan dukungan mereka secara penuh
terhadap apa yang telah dilakukan oleh Abu bakar berupa mengumpulkan Al
Quran menjadi sebuah Mushaf. Kemudian para sahabat membantu meneliti
naskah-naskah Al Quran dan menulisnya kembali. Sahabat Ali bin Abi
thalib berkomentar atas peristiwa yang bersejarah ini dengan mengatakan
: " Orang yang paling berjasa terhadap Mushaf adalah Abu bakar, semoga
ia mendapat rahmat Allah karena ialah yang pertama kali mengumpulkan Al
Quran, selain itu juga Abu bakarlah yang pertama kali menyebut Al Quran
sebagai Mushaf).



Menurut riwayat yang lain orang yang pertama kali menyebut Al Quran
sebagai Mushaf adalah sahabat Salim bin Ma'qil pada tahun 12 H lewat
perkataannya yaitu : "Kami menyebut di negara kami untuk naskah-naskah
atau manuskrip Al Quran yang dikumpulkan dan di bundel sebagai MUSHAF"
dari perkataan salim inilah Abu bakar mendapat inspirasi untuk menamakan
naskah-naskah Al Quran yang telah dikumpulkannya sebagai al-Mushaf as
Syarif (kumpulan naskah yang mulya). Dalam Al Quran sendiri kata Suhuf
(naskah ; jama'nya Sahaif) tersebut 8 kali, salah satunya adalah firman
Allah QS. Al Bayyinah (98):2 " Yaitu seorang Rasul utusan Allah yang
membacakan beberapa lembaran suci. (Al Quran)"



Al-Quran pada jaman khalifah Umar bin Khatab



Tidak ada perkembangan yang signifikan terkait dengan kodifikasi Al
Quran yang dilakukan oleh khalifah kedua ini selain melanjutkan apa yang
telah dicapai oleh khalifah pertama yaitu mengemban misi untuk   
menyebarkan    islam     dan mensosialisasikan sumber utama ajarannya
yaitu Al Quran pada wilayah-wilayah daulah islamiyah baru yang berhasil
dikuasai dengan mengirim para sahabat yang kredibilitas serta kapasitas
ke-Al-Quranan-nya bisa dipertanggungjawabkan Diantaranya adalah Muadz
bin Jabal, `Ubadah bin Shamith dan Abu Darda'.



Al-Quran pada jaman khalifah Usman bin `Affan



Pada masa pemerintahan Usman bin 'Affan terjadi perluasan wilayah islam
di luar Jazirah arab sehingga menyebabkan umat islam bukan hanya terdiri
dari bangsa arab saja ('Ajamy). Kondisi ini tentunya memiliki dampak
positif dan negatif.



Salah satu dampaknya adalah ketika mereka membaca Al Quran, karena
bahasa asli mereka bukan bahasa arab. Fenomena ini di tangkap dan
ditanggapi secara cerdas oleh salah seorang sahabat yang juga sebagai
panglima perang pasukan muslim yang bernama Hudzaifah bin al-yaman.



Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas r.a. bahwa suatu saat Hudzaifah yang
pada waktu itu memimpin pasukan muslim untuk wilayah Syam (sekarang
syiria) mendapat misi untuk menaklukkan Armenia, Azerbaijan (dulu
termasuk soviet) dan Iraq menghadap Usman dan menyampaikan kepadanya
atas realitas yang terjadi dimana terdapat perbedaan bacaan Al Quran
yang mengarah kepada perselisihan.



Ia berkata : "wahai usman, cobalah lihat rakyatmu, mereka berselisih
gara-gara bacaan Al Quran, jangan sampai mereka terus menerus berselisih
sehingga menyerupai kaum yahudi dan nasrani ".



Lalu Usman meminta Hafsah meminjamkan Mushaf yang di pegangnya untuk
disalin oleh panitia yang telah dibentuk oleh Usman yang anggotanya
terdiri dari para sahabat diantaranya Zaid bin Tsabit, Abdullah bin
Zubair, Sa'id bin al'Ash, Abdurrahman bin al-Haris dan lain-lain.



Kodifikasi dan penyalinan kembali Mushaf Al Quran ini terjadi pada tahun
25 H, Usman berpesan apabila terjadi perbedaan dalam pelafalan agar
mengacu pada Logat bahasa suku Quraisy karena Al Quran diturunkan dengan
gaya bahasa mereka.



Setelah panitia selesai menyalin mushaf, mushaf Abu bakar dikembalikan
lagi kepada Hafsah. Selanjutnya Usman memerintahkan untuk membakar
setiap naskah-naskah dan manuskrip Al Quran selain Mushaf hasil
salinannya yang berjumlah 6 Mushaf.



Mushaf hasil salinan tersebut dikirimkan ke kota-kota besar yaitu Kufah,
Basrah, Mesir, Syam dan Yaman. Usman menyimpan satu mushaf untuk ia
simpan di Madinah yang belakangan dikenal sebagai Mushaf al-Imam.



Tindakan Usman untuk menyalin dan menyatukan Mushaf berhasil meredam
perselisihan dikalangan umat islam sehingga ia manual pujian dari umat
islam baik dari dulu sampai sekarang sebagaimana khalifah pendahulunya
Abu bakar yang telah berjasa mengumpulkan Al Quran.



Adapun Tulisan yang dipakai oleh panitia yang dibentuk Usman untuk
menyalin Mushaf adalah berpegang pada Rasm alAnbath tanpa harakat atau
Syakl (tanda baca) dan Nuqath (titik sebagai pembeda huruf).



Tanda Yang Mempermudah Membaca Al-Quran



Sampai sekarang, setidaknya masih ada empat mushaf yang disinyalir
adalah salinan mushaf hasil panitia yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit
pada masa khalifah Usman bin Affan. Mushaf pertama ditemukan di kota
Tasyqand yang tertulis dengan Khat Kufy. Dulu sempat dirampas oleh
kekaisaran Rusia pada tahun 1917 M dan disimpan di perpustakaan Pitsgard
(sekarang St.PitersBurg) dan umat islam dilarang untuk melihatnya.



Pada tahun yang sama setelah kemenangan komunis di Rusia, Lenin
memerintahkan untuk memindahkan Mushaf tersebut ke kota Opa sampai tahun
1923 M. Tapi setelah terbentuk Organisasi Islam di Tasyqand para
anggotanya meminta kepada parlemen Rusia agar Mushaf dikembalikan lagi
ketempat asalnya yaitu di Tasyqand (Uzbekistan, negara di bagian asia
tengah).



Mushaf kedua terdapat di Museum al Husainy di kota Kairo mesir dan
Mushaf ketiga dan keempat terdapat di kota Istambul Turki. Umat islam
tetap mempertahankan keberadaan mushaf yang asli apa adanya.



Sampai suatu saat ketika umat islam sudah terdapat hampir di semua
belahan dunia yang terdiri dari berbagai bangsa, suku, bahasa yang
berbeda-beda sehingga memberikan inspirasi kepada salah seorang sahabat
Ali bin Abi Thalib yang menjadi khalifah pada waktu itu yang bernama
Abul-Aswad as-Dualy untuk membuat tanda baca (Nuqathu I'rab) yang
berupa tanda titik.



Atas persetujuan dari khalifah, akhirnya ia membuat tanda baca tersebut
dan membubuhkannya pada mushaf. Adapun yang mendorong Abul-Aswad
ad-Dualy membuat tanda titik adalah riwayat dari Ali r.a bahwa suatu
ketika Abul-Aswad adDualy menjumpai seseorang yang bukan orang arab dan
baru masuk islam membaca kasrah pada kata "Warasuulihi" yang seharusnya
dibaca "Warasuuluhu" yang terdapat pada QS. At-Taubah (9) 3 sehingga
bisa merusak makna.



Abul-Aswad ad-Dualy menggunakan titik bundar penuh yang berwarna merah
untuk menandai fathah, kasrah, Dhammah, Tanwin dan menggunakan warna
hijau untuk menandai Hamzah. Jika suatu kata yang ditanwin bersambung
dengan kata berikutnya yang berawalan huruf Halq (idzhar) maka ia
membubuhkan tanda titik dua horizontal seperti "adzabun alim" dan
membubuhkan tanda titik dua Vertikal untuk menandai Idgham seperti
"ghafurrur rahim".



Adapun yang pertama kali membuat Tanda Titik untuk membedakan
huruf-huruf yang sama karakternya (nuqathu hart) adalah Nasr bin Ashim
(W. 89 H) atas permintaan Hajjaj bin Yusuf as-Tsaqafy, salah seorang
gubernur pada masa Dinasti Daulah Umayyah (40-95 H). Sedangkan yang
pertama kali menggunakan tanda Fathah, Kasrah, Dhammah, Sukun, dan
Tasydid seperti yang-kita kenal sekarang adalah al-Khalil bin Ahmad
al-Farahidy (W.170 H) pada abad ke II H.



Kemudian pada masa Khalifah Al-Makmun, para ulama selanjutnya berijtihad
untuk semakin mempermudah orang untuk membaca dan menghafal Al Quran
khususnya bagi orang selain arab dengan menciptakan tanda-tanda baca
tajwid yang berupa Isymam, Rum, dan Mad.



Sebagaimana mereka juga membuat tanda Lingkaran Bulat sebagai pemisah
ayat dan mencamtumkan nomor ayat, tanda-tanda waqaf (berhenti membaca),
ibtida (memulai membaca), menerangkan identitas surah di awal setiap
surah yang terdiri dari nama, tempat turun, jumlah ayat, dan jumlah
'ain.



Tanda-tanda lain yang dibubuhkan pada tulisan Al Quran adalah Tajzi'
yaitu tanda pemisah antara satu Juz dengan yang lainnya berupa kata Juz
dan diikuti dengan penomorannya (misalnya, al-Juz-utsalisu: untuk juz 3)
dan tanda untuk menunjukkan isi yang berupa seperempat, seperlima,
sepersepuluh, setengah Juz dan Juz itu sendiri.



Sebelum ditemukan mesin cetak, Al Quran disalin dan diperbanyak dari
mushaf utsmani dengan cara tulisan tangan. Keadaan ini berlangsung
sampai abad ke16 M. Ketika Eropa menemukan mesin cetak yang dapat
digerakkan (dipisah-pisahkan) dicetaklah Al-Qur'an untuk pertama kali di
Hamburg, Jerman pada tahun 1694 M.



Naskah tersebut sepenuhnya dilengkapi dengan tanda baca. Adanya mesin
cetak ini semakin mempermudah umat islam memperbanyak mushaf Al Quran.
Mushaf Al Quran yang pertama kali dicetak oleh kalangan umat islam
sendiri adalah mushaf edisi Malay Usman yang dicetak pada tahun 1787 dan
diterbitkan di St. Pitersburg Rusia.



Kemudian diikuti oleh percetakan lainnya, seperti di Kazan pada tahun
1828, Persia Iran tahun 1838 dan Istambul tahun 1877. Pada tahun 1858,
seorang Orientalis Jerman , Fluegel, menerbitkan Al Quran yang
dilengkapi dengan pedoman yang amat bermanfaat.



Sayangnya, terbitan Al Quran yang dikenal dengan edisi Fluegel ini
ternyata mengandung cacat yang fatal karena sistem penomoran ayat tidak
sesuai dengan sistem yang digunakan dalam mushaf standar. Mulai Abad
ke-20, pencetakan Al Quran dilakukan umat islam sendiri. Pencetakannya
mendapat pengawasan ketat dari para Ulama untuk menghindari timbulnya
kesalahan cetak.



Cetakan Al Quran yang banyak dipergunakan di dunia islam dewasa ini
adalah cetakan Mesir yang juga dikenal dengan edisi Raja Fuad karena
dialah yang memprakarsainya. Edisi ini ditulis berdasarkan Qiraat Ashim
riwayat Hafs dan pertama kali diterbitkan di Kairo pada tahun 1344 H/
1925 M. Selanjutnya, pada tahun 1947 M untuk pertama kalinya Al Quran
dicetak dengan tekhnik cetak offset yang canggih dan dengan memakai
huruf-huruf yang indah. Pencetakan ini dilakukan di Turki atas prakarsa
seorang ahli kaligrafi turki yang terkemuka Said Nursi.








===================================================================
        Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
=================================================================== 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [EMAIL PROTECTED] 
    [EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



  • [daarut-tauhiid] Sejarah Kodifikasi Al-Quran Denny Wijaya