daarut-tauhiid  

[daarut-tauhiid] Nasehat Diri : TUTUPLAH AIB SAUDARAMU

Susiana
Tue, 29 May 2007 05:30:54 -0700

 
BismillaaHir Rohmaanir Rohiim
Assalamu'alaykum wa RohmatulloHi wa BarokatuHu
 
TUTUPLAH AIB SAUDARAMU
Oleh : Al Ustadzah Ummu Ishaq bintu Husein Al Atsariyyah
 
Saudariku Muslimah, 
 
Bagi kebanyakan kaum wanita, ibu ibu ataupun remaja putri, bergunjing
membicarakan aib, cacat, atau cela yang ada pada orang lain bukanlah
perkara yang besar. Bahkan dimata mereka terbilang remeh, ringan dan
begitu gampang meluncur dari lisan. Seakan akan obrolan tidak asyik bila
tidak membicarakan kekurangan orang lain . " Si Fulanah begini dan
begitu....". " Si "Alanah orang nya suka ini dan itu..."
 
Ketika asyik membicarakan kekurangan orang lain seakan lupa dengan diri
sendiri. Seolah diri sendiri sempurna tiada cacat dan cela. Ibarat kata
pepatah, " Kuman diseberang lautan tampak, gajah dipelupuk mata tiada
tampak."
 
Perbuatan seperti ini selain tidak pantas / tidak baik menurut perasaan
dan akal sehat kita, ternyata syariat yang mulia pun mengharamkannya
bahkan menekankan untuk melakukan yang sebaliknya yaitu menutup dan
merahasiakan aib orang lain.
 
Ketahuilah wahai saudariku, siapa yang suka menceritakan kekurangan dan
kesalahan orang lain, maka dirinya pun tidak aman untuk diceritakan oleh
orang lain. Seorang ulama salaf berkata , " aku mendapati orang orang
yang tidak memiliki cacat / cela, lalu mereka membicarakan aib manusia,
maka manusia pun menceritakan aib aib mereka. Aku dapati pula orang
orang yang memiliki aib namun mereka menahan diri dari membicarakan aib
manusia yang lain, maka manusia pun melupakan aib mereka." 1
 
Tahukah engkau bahwa manusia itu terbagi dua :
 
Petama : Seseorang yang tertutup keadaannya, tidak pernah sedikitpun
diketahui berbuat maksiat. Bila orang seperti itu tergelincir dalam
kesalahan maka tidak boleh menyingkap dan menceritakannya, karena hal
itu termasuk ghibah yang diharamkan. Perbuatan demikian juga berarti
menyebarkan kejelekan di kalangan orang orang yang beriman. Alloh
SubhanaHu wa Ta'ala berfirman :
 
" Sesungguhnya orang orang yang menyenangi tersebarnya perbuatan keji 2
dikalangan beriman, mereka memperoleh azab yang pedih di dunia dan di
akhirat ... ( An Nur : 19 )
 
Kedua : seorang yang terkenal suka berbuat maksiat dengan terang
terangan, tanpa malu malu, tidak peduli dengan pandangan dan ucapan
orang lain. Maka membicarakan orang seperti ini bukanlah ghibah. Bahkan
harus diterangkan keadaannya kepada manusia hingga mereka berhati hati
dari kejelekannya. Karena bila orang seperti ini ditutup tutupi
kejelekannya, dia akan semakin bernafsu untuk berbuat kerusakan,
melakukan keharaman dan membuat orang lain berani untuk mengikuti
perbuatannya. 3
 
Saudariku Muslimah....
 
Engkau mungkin pernah mendengar hadits Rasululloh Shollallohu "alaihi wa
Sallam yang berbunyi :
" Siapa yang melepaskan dari seseorang mukmin satu kesusahan yang sangat
dari kesusahan dunia niscaya Alloh akan melepaskan darinya satu
kesusahan dari kesusahan dihari kiamat. Siapa yang memudahkan orang yang
sedang kesulitan niscaya Alloh akan memudahkannya di dunia dan nanti di
akhirat . Siapa yang menutup aib seorang muslim niscaya Alloh akan
menutup aibnya didunia dan kelak di akhirat. Dan Alloh senantiasa
menolong hambaNya selama hambaNya itu menolong saudaranya....( HR.
Muslim no. 2699 )
 
Bila Demikian, engkau telah tahu keutamaan orang yang suka menutup aib
saudaranya sesama muslim yang memang menjaga kehormatan dirinya, tidak
dikenal suka berbuat maksiat namun sebaliknya ditengah manusia ia
dikenal sebagai orang yang baik baik dan terhormat. Siapa yang menutup
aib seorang muslim yang demikian keadaannya, Alloh SubhanaHu wa Ta'ala
akan menutup aibnya di dunia dan kelak di akhirat.
 
Namun bila disana ada kemaslahatan atau kebaikan yang hendak dituju dan
bila menutupnya akan menambah kejelekan, maka tidak apa apa bahkan wajib
menyampaikan perbuatan jelek / aib / cela yang dilakukan seseorang
kepada orang lain yang bisa memberinya hukuman. Jika ia seorang istri
maka disampaikan kepada suaminya. Jika ia seorang anak maka disampaikan
kepada ayahnya. Jika ia seorang guru disebuah sekolah maka disampaikan
kepada mudirnya ( kepala sekolah ). Demikian seterusnya. 4
 
Yang perlu diingat, wahai saudariku, diri kita ini penuh dengan
kekurangan, aib, cacat, dan cela. Maka sibukkan diri ini untuk memeriksa
dan menghitung aib sendiri, niscaya hal itu sudah menghabiskan waktu
tanpa sempat memikirkan dan mencari tahu aib orang lain. Lagi pula,
orang yang suka mencari cari kesalahan orang lain untuk dikupas dan
dibicarakan di hadapan manusia, Alloh SubhanaHu wa Ta'ala akan
membalasnya dengan membongkar aibnya walaupun ia berada didalam
rumahnya. 
 
Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Barzah Aslami radhiyallohu 'anhu
dari Rasululloh Shollallohu "alaihi wa Sallam :
 
" Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya dan iman itu belum
masuk kedalam hatinya 5. Janganlah kalian mengghibah kaum muslimin dan
jangan mencari cari / mengintai aurot 6 mereka. Karena orang yang suka
mencari cari aurot kaum muslimin, Alloh akan mencari cari aurotnya. Dan
siapa yang dicari cari aurotnya oleh Alloh, niscaya Alloh akan
membongkarnya didalam rumahnya ( walaupun ia tersembunyi dari manusia
)." ( HR. Ahmad 4/420. 421, 424 dan Abu Dawud no. 4880. Kata Asy Syaikh
Al Albani rahimahulloh dalam Shahih Abi Dawud : " Hasan shahih." )
 
Abdulloh bin Umar radhiyallohu 'anhu menyampaikan hadits yang sama, ia
berkata, " suatu hari Rasululloh Shollallohu "alaihi wa Sallam naik ke
atas mimbar, lalu menyeru dengan suara yang tinggi :
 
" Wahai sekalian orang yang mengaku berislam dengan lisannya dan iman
itu belum sampai ke dalam hatinya. Janganlah kalian menyakiti kaum
muslimin, janganlah menjelekkan mereka, jangan mencari cari aurot
mereka. Karena orang yang suka mencari cari aurot saudaranya sesama
muslim, Alloh akan mencari cari aurotnya. dan siapa yang dicari cari
aurotnya oleh Alloh, niscaya Alloh akan membongkarnya walau ia berada di
tengah tempat tinggalnya ( HR. At Tirmidzi no. 2032, dihasankan Asy
Syaikh Muqbil rahimahulloh dalam Ash Shahibul Musnad Mimma Laisa fish
Shahihain, hadits no. 725. I/581 )
 
Dari hadits di atas tergambar pada kita betapa besarnya kehormatan
seorang muslim. Sampai sampai ketika suatu hari Abdulloh bin Umar
radhiyallohu 'anHu memandang Ka'bah, ia berkata :
 
" Alangkah agungnya engkau dan besarnya kehormatanmu. Namun seorang
mukmin lebih besar lagi kehormatannya disisi Alloh darimu. 7
 
Karena itu saudariku.... Tutuplah cela yang ada pada dirimu dengan
menutup cela yang ada pada saudaramu yang memang pantas ditutupi. Dengan
engkau menutup cela saudaramu, Alloh SubhanaHu wa Ta'ala akan menutup
celamu di dunia dan kelak di akherat. Siapa yang Alloh SubhanaHu wa
Ta'ala tutup celanya didunianya, dihari akhir nanti Alloh SubhanaHu wa
Ta'ala pun akan menutup celanya, sebagaimana sabda nabi Shollallohu
'alaihi wa Sallam bersabda :
 
" Tidaklah Alloh menutup aib seseorang hamba di dunia melainkan nanti di
hari kiamat Alloh juga akan menutup aibnya. " 8 ( HR. Muslim no. 6537 )
 
Wallohu ta'ala a'lam bish showab
 
 
 
 
--------------------------------------------
 
1. Jami'ul Ulum Wal Hikam ( 2/291 )
2. Baik seseorang yang disebarkan kejelekannya itu benar benar terjatuh
dalam perbuatan tersebut ataupun sekedar tuduhan yang tidak benar.
3. Jami'ul Ulum Wal Hikam ( 2/293 ), Syarhul Arba'in Ibnu daqiqil Ied (
hal 120 ), Qowa'id wa Fawa'id minal Arba'in An Nawawiyyah ( hal 312 )
4. Syarhul Arba'in An Nawawiyyah, Asy Syaikh Ibnu Utsaimin ( hal 390 -
391 )
5. Yakni lisannya menyatakan keimanan namun iman itu belum menancap
didalam hatinya.
6. Yang dimaksud dengan aurot disini adalah aib / cacat atau cela dan
kejelekan. Dilarang mencari cari kejelekan seorang muslim untuk kemudian
diungkapkan kepada manusia ( tuhfatul Ahwadzi )
7. Diriwayatkan oleh Tirmidzi no. 2032
8. Al Qodhi 'Iyadh rahimahulloh berkata : " tentang ditutupnya aib si
hamba di hari kiamat, ada dua kemungkinan. Pertama: Alloh SubhanaHu wa
Ta'ala akan menutup kemaksiatan dan aibnya dengan tidak mengumumkannya
kepada orang orang yang ada di mauqif ( padang mahsyar ). Kedua Alloh
SubhanaHu wa Ta'ala tidak akan menghisab aibnya dan tidak menyebut
aibnya tersebut." Namun kata Al Qodhi, sisi yang pertama lebih nampak
karena adanya hadits lain." ( Al Minhaj Syarh Shahih Muslim. 16/360 )
Hadits yang dimaksud adalah hadits dari Abdulloh bin 'Umar radhiyallohu
'anhu, ia berkata." Aku pernah mendengar Rasululloh Shollallohu 'alaihi
wa Sallam bersabda :
" Sesungguhnya ( dihari penghisaban nanti ) Alloh mendekatkan seorang
mukmin, lalu Alloh meletakkan tabir dan menutupi si mukmin ( sehingga
penghisabannya tersembunyi dari orang orang yang hadir di mahsyar ),
Alloh berfirman : " Apakah engkau mengetahui dosa ini yang pernah kau
lakukan ? Apakah engkau tahu dosa itu yang dulunya di dunia engkau
kerjakan ? Si mukmin menjawab : "Iya, hamba tahu wahai Rabbku ( itu dosa
dosa yang pernah hamba lakukan )." Hingga ketika si mukmin itu telah
mengakui dosa dosanya dan ia memandang dirinya binasa karena dosa dosa
tersebut, Alloh memberi kabar gembira padanya: " Ketika didunia Aku
menutupi dosa dosamu ini, dan pada hari ini Aku ampuni dosa dosamu itu.
" Lalu diberikanlah padanya catatan kebaikan kebaikannya..." ( HR. Al
Bukhori dan Muslim )
 
Dari : Majalah Asy Syariah Vol III / No. 30/1428 H / 2007 
 
Wassalamu'alaykum wa RohmatulloHi wa BarokatuHu


[Non-text portions of this message have been removed]

  • [daarut-tauhiid] Nasehat Diri : TUTUPLAH AIB SAUDARAMU Susiana