abuluthfia
Fri, 01 Aug 2008 03:51:47 -0700
Hari Kiamat, Waktu Demi Waktu! sumber dari http://www.jkmhal.com/main.php?sec=content&cat=2&id=8978
Mari kita hidup bersama kiamat, waktu demi waktu. Atau kita bayangkan beberapa situasi. Saya tidak bisa menjelaskan semua agar rasa takut bersemi di ladang hati. Ketika saya mencari faktor yang paling efektif mengerakkan rasa takut di hati, ternyata saya menemukan "mengingat hari kiamat" ini sebagai faktor yang paling tepat. Allah berfirman, "Hai manusia, bertakwalah kepada Rabbmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah segala kandungan wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal mereka sebenarnya tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras." (Al-Hajj: 1¬2). Apakah kita takut kepada Allah saat mendengar ayat ini, ataukah tidak? Apakah kita tetap bermaksiat, ataukah tidak? Bacalah firman Allah, "Ini adalah hari, yang mereka tidak dapat berbicara (pada hari itu). Dan tidak diizinkan kepada mereka minta uzur sehingga mereka (dapat) minta uzur." (Al¬Mursalat: 35-36). Kita tidak bisa beralasan, karena telah habis waktu beralasan. Kita memang bisa beralasan di dunia, dulu kita bisa bertaubat kapan saja, maka siapa saja yang ingin bertaubat sekarang, maka ia bisa bertaubat. Adapun di akherat, "Ini adalah hari, yang mereka tidak dapat berbicara (pada hari itu). Dan tidak diizinkan kepada mereka minta uzur sehingga mereka (dapat) minta uzur." Renungkanlah juga firman Allah berikut: "Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) -Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba¬-hamba-Nya. " (Ali Imran : 30) Dan: "Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka fidak berkata-kata, kecuali siapa yang diberi izin kepadanya oleh Rabb Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar. Itulah hari yang pasti terjadi, Maka barangsiapa yang menghendakai, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Rabbnya." ( An-Naba' : 38-39). Perhatikanlah! Ketakutan para malaikat yang jelas-jelas tidak pernah bermaksiat kepada Allah terhadap apa yang diperintahkan kepada mereka. Jika malaikat berdiri berbaris rapi dan tidak mampu berbicara, lalu apa yang akan kita lakukan? Allah berfirman, "Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya. Dari ibu dan bapaknya. " (Abasa: 34-35) "Maka apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah datang. Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya, " (An-N azi'at : 34-35) Ingatkah kebohongan yang kita lakukan? Ingatkah ghibah yang kita ucapkan? Di saat itulah kita berkata, "Sekarang saya akan ditanya dosa yang kusembunyikan pada manusia. " Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya." Allah SWT, berfirman, "(yaitu) hari (ketika) mereka keluar (dari kubur), tiada suatu pun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. (Lalu Allah berfirman),'Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini.' Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan." ( Al-Mu'min : 16). Ke mana kita akan bersembunyi sekarang?! "Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan),'Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman Karena itu rasakanlah azab disebabkun kekafiranmu itu'. Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya." (Ali Imran : 106-107). Apakah kita takut pada hari itu atau justru bersikap masa bodoh? Apakah kita lupa kalau kita akan menyaksikan dan berdiri kaku di hari itu? Apakah kita telah siap menghadapi hari itu? Di mana takut kita kepada Allah? Apakah hati kita tetap tak mampu takut kepada Allah dengan meninggalkan maksiat untuk menghadapi hari itu? Nabi bersabda, "Bagaimana keadaan kalian kelak, jika Allah mengumpulkan kalian seperti Dia mengumpulkan panah-panah dalam tabung selama lima puluh ribu tahun, lalu Allah tidak melihat pada kalian." (HR. Al-Hakim). Pemberhentian di hari kiamat selama lima puluh ribu tahun. Di sana kita tidak makan dan minum... lalu apa yang akan kita kerjakan? Bagaimana keadaan kita? Bagaimana perasaan kita? Apa yang kita lakukan? Nabi bersabda, "Kalian akan dikumpulkan dalam keadaan telanjang dan tak beralas kaki." Aisyah bertanya, "Lelaki dan wanita melihat satu sama lain?". Beliau menjawab, "Perkara hari itu lebih dahsyat dari apa yang menjadikan mereka merasa sedih itu." (HR. Bukhari dan Muslim). Setiap orang tidak akan mampu melihat kepada yang lain. Mereka akan mengatakan, "Diriku, diriku!". Setiap orang merasa takut dan gelisah. Tidakkah kita takut dengan hari itu? Nabi bersabda, "Pada hari itu manusia dikumpulkan dalam tiga golongan-golongan yang berjalan kaki, golongan yang berkendaraan dan golongan yang berjalan dengan muka mereka." Beliau ditanya, "Wahai Rasul, bagaimana mereka berjalan dengan muka?" Beliau menjawab, "(Allah) Zat yang memperjalankan mereka dengan kaki-kaki mereka akan menjalankan mereka dengan muka-muka mereka. Sedangkan mereka (yang diperjalankan dengan kaki-kaki mereka), adalah orang-orang yang menjaga wajah mereka dari kesulitan dan duri." (HR. At-Turmudzi dan Imam Ahmad). Tidakkah kita membaca firman Allah, "Orang-orang yang dihimpunkan ke neraka jahannam dengan diseret mukanya, mereka itulah orang-orang yang paling buruk tempatnya dan paling sesat jalannya." (Al-Furqan: 34). Lalu Allah berfirman, "Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu, dan pekak...... (Al-Isra': 97) Sekarang, mungkin kita merasa takut, tetapi saya ulangi bahwa tujuan saya bukan menakuti anda, sehingga anda akan mengatakan, `Aku akan lari, aku takut, aku tidak mau." Tapi tujuan saya agar kita mengatakan, "Sekarang aku akan menghadap Tuhanku." Maukah kita khusyuk dan takut kepada Allah. Dengarkanlah, jika kita beriman dan takut kepada Allah, maka Dia akan memberikan pahala. Nabi bersabda, "Sesungguhnya hari kiamat itu melewati orang mukmin seperti dua rekaat yang ia lakukan dalam shalat." Perhatikanlah sisi rahmat yang besar setelah kita mendengar sisi yang menakutkan. Apakah kita takut, ataukah tidak? Kita merasa takut karena Dia Ar-Rahim (Maha Pengasih). Kita merasa takut karena hari itu seperti dua rekaat yang ringan bagi seorang mukmin. Allah berkata kepada orang mukmin pada hari kiamat, "Wahai hamba-hamba-Ku, tiada ketakutan bagi kalian pada hari ini dan kalian tiada merasa sedih." Ketakutan bagi orang mukmin pada hari itu diganti dengan ketakutan mereka di dunia. Kita takut kepada Allah, ataukah tidak? Kita berganti ke episode lain di hari kiamat, saat matahari mendekat ke kepala. Jarak matahari dari kita sekarang ini adalah sembilan puluh tiga juta mil. Dan Nabi bersabda, "Matahari akan didekatkan pada kepala manusia hingga tinggal satu mil." Satu mil! Jika jarak matahari dari kita sembilan puluh tiga juta mil, dan kita merasa kepanasan. Lalu apa yang terjadi, ketika antara kita dan matahari hanya tinggal jarak satu mil? Kita takut kepada Allah, ataukah tidak? Apa keuntungan kebohongan yang terucap dari mulut kita? Apa keuntungan dari pandangan haram mata kita? Apa keuntungan berkawan? Apa keuntungan membiarkan bagian tubuh kita terbuka tanpa hijab? Apa keuntungan kita memakan harta haram? Apa keuntungan durhaka kepada orang-tua? Tatkala kita berdiri tegak dan matahari begitu dekat dengan kepala kita! Tidakkah kita takut kepada Allah? Saudaraku tercinta, lupakah kita kalau hari itu adalah hari yang hakiki? Allah berfirman, "Itulah hari yang pasti terjadi....... ( An-Naba' : 39) Matahari didekatkan pada kepala. Nabi bersabda, "Manusia akan berkeringat sesuai kadar amal mereka. Di antara mereka ada yang berkeringat sampai kedua mata kaki mereka, ada yang sampai kedua lutut mereka, ada yang sampai pusar mereka, ada yang sampai punggung, ada yang berenang, dan ada yang sampai tenggelam. " (HR. Muslim, At-Tirmidzi dan Imam Ahmad). Kata "yuljimuhu" merupakan pecahan dari kata "lijaam", artinya tali kekang pada kuda. Perhatikan pilihan kata Rasul SAW, yang teliti itu... air telah sampai ke mulut. Lima puluh ribu tahun merasakan bau busuk dan keringat yang bercucuran. Karena air itu telah sampai ke bibirnya, maka ia tidak mampu membuka mulutnya, maka jadilah keringat itu seperti tali kekang. Bisakah kita menanggung hari ini? Apakah kita sudah takut kepada Allah? Apakah kita telah tersadar dari kelalaian atau belum? Karena saya ingin kita "merasa takut", bukan "ketakutan", maka perhatikanlah kalau kita seorang mukmin dan takut kepada Allah di dunia. Nabi bersabda, "Tujuh orang yang Allah menaungi mereka di bawah naungan-Nya di hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya...". Hari itu seperti dua rekaat ringan bagi seorang mukmin, dan mereka berdiri di bawah naungan, bukan sekadar di bawah pohon. Tidak... tetapi bawah naungan Allah di saat tidak ada naungan kecuali naungan Allah. Siapa mereka itu? Demi Allah, wahai saudaraku, jika kita mau memilih satu dan mengapai itu tentu mudah. Nabi SAW, bersabda, "...Imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah; laki-¬laki yang hatinya terpaut dengan masjid; dua orang yang saling mencintai karena Allah, bertemu karena Allah dan berpisah juga karena-Nya; laki-laki yang diajak (melakukan perzinaan) seorang wanita yang cantik lagi terhormat, lalu ia mengatakan, aku takut kepada Allah,; laki-laki yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi sehingga tangan kiri tidak tahu keadaan tangan kanannya; dan laki-laki yang mengingat Allah dalam kesendirian sehingga air matanya bercucuran." (HR. Bukhari dan Muslim). Kesendirian ini bukan berarti kesendirian yang kita pahami selama ini. Tetapi itu adalah menyendiri bersama Allah. Ya, bersama Allah di antara ratusan juta manusia. Saya tidak bermaksud menakut-nakuti pembaca. Ketika saya mengatakan, "Bayangkan sesuatu yang ada di hari kiamat" maka saya mengetahui kalau kita akan merasa takut, namun saya ingin kita membungkus ketakutan ini dengan cinta, maka saya katakan, "Ingatlah! Kalau kita takut kepada Allah di dunia, apa yang akan Allah berikan kepada kita?" Bayangkanlah, wahai saudaraku tercinta, pemberhentian ini. Kita belum mulai dihisab, tetapi kita sudah dalam keadaan tak beralas kaki, telanjang, berdiri, berjalan, menaiki kendaraan, atau berjalan dengan wajah. Matahari di atas kita, kita berenang dalam air keringat kita selama lima puluh ribu tahun. Selama itu kita tidak makan atau minum. Bayangkan, kehausan! Bayangkan, kita akan merasa kehausan selama lima puluh ribu tahun, dan tak seorang pun yang akan bertanya atau berbicara pada kita. Di sana tiada setetes air pun. Maka ketika Imam Asy-Syafi'I rahimahullah meminum air zam-zam, ia berkata, "Aku minum air zam-zam untuk menghindari kehausan di hari kiamat." Di mana rasa takut kita kepada Allah pada hari kita berhadapan dengan-Nya, sedang kita memakan barang haram dan meminum minuman haram? Di manakah silaturahmi yang terputus pada hari itu? Siapa yang akan menolong kita? Kalau kita takut kepada Allah di dunia, maka Nabi akan datang pada kita, ia akan mencari kita, dan bukan kita yang akan mencarinya. la akan berkata, "Di mana Fulan dari umatku? Kemarilah, aku akan memberi minum dari telagaku." Jika kita meminum air dari tangan beliau, maka kita tidak akan kehausan. Siapa yang mengatakan kita akan berdiri di lautan keringat pada hari kiamat? Siapa yang bilang kita akan kehausan? Di sana kita adalah orang yang sejak hari pertama langsung disapa oleh Rasul "Kemarilah, wahai Fulan, kau yang mengikuti sunnahku tetapi kau belum melihatku; Kemarilah, wahai Fulan, kau yang takut kepada Allah, hatimu penuh dengan cinta kepada Allah, dan kau tinggalkan kata-kata haram, pandangan haram dan pakaian haram; Kemarilah dan minum dari tanganku yang mulia yang menjadikan kau tidak akan pernah haus selamanya." Di setiap peristiwa yang menakutkan pada hari kiamat pasti terdapat rahmat. Sekarang apakah kita tahu makna firman Allah: "(Yaitu) orang yang takut kepada Rabb Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat. " (Qaf : 33). Tidakkah kita tahu makna ayat ini? Apakah pembaca tahu besarnya rahmat Allah kepada kita?