daarut-tauhiid  

[daarut-tauhiid] Kenapa kau tuntut Tuhanmu?

firliana putri
Fri, 01 Aug 2008 08:34:00 -0700

Syeikh Ibnu'Athaillah As-Sakandary
Kenapa kau tuntut Tuhanmu?
           
"Janganlah kau tuntut Tuhanmu karena tertundanya keinginanmu, tetapi tuntutlah 
dirimu sendiri karena engkau telah menunda adabmu kepada Allah."
 
Betapa banyak orang menuntut Allah, karena selama ini ia merasa telah berbuat 
banyak, telah melakukan ibadah, telah berdoa dan berjuang habis-habisan.
Tuntutan demikian karena seseorang merasa telah berbuat, dan merasa perlu ganti 
rugi dari Allah Ta'ala. Padahal meminta ganti rugi atas amal perbuatan kita, 
adalah wujud ketidak ikhlasan kita dalam melakukan perbuatan itu. Manusia yang 
ikhlas pasti tidak ingin ganti rugi, upah, pahala dan sebagainya. Manusia yang 
ikhlas hanya menginginkan Allah yang dicinta. Pada saat yang sama jika masih 
menuntut keinginan agar disegerakan, itu pertanda seseorang tidak memiliki adab 
dengan Allah Ta'ala.
Sudah sewajarnya jika kita menuntut diri kita sendiri, karena Allah tidak 
pernah mengkhianati janjiNya, tidak pernah mendzalimi hambaNya, dan semua 
janjinya tidak pernah meleset. Kita sendiri yang tidak tahu diri sehingga, kita 
mulai intervensi soal waktu, tempat dan wujud yang kita inginkan. Padahal itu 
semua adalah Pekerjaan Allah dan urusanNya.
Orang yang terus menerus menuntut dirinya sendiri untuk Tuhannya, apalagi 
menuntut adab dirinya agar serasi dengan Allah Ta'ala, adalah kelaziman dan 
keniscayaan. Disamping seseorang telah menjalankan ubudiyah atau kehambaan, 
maka si hamba menuruti perilaku adab di hadapanNya, bahwa salah satu adab 
prinsipalnya adalah dirinya semata untuk Allah Ta'ala.
Karena itu Ibnu Athaillah melanjutkan:
"Ketika Allah menjadikanmu sangat sibuk dengan upaya menjalankan 
perintah-perintahNya dan Dia memberikan rezeki, rasa pasrah total atas 
Karsa-paksaNya, maka sesungguhnya saat itulah betapa agung anugerahNya 
kepadamu."
Anugerah paling agung adalah rezeki rasa pasrah total atas takdirNya yang 
pedih, sementara anda terus menerus menjalankan perintah-perintahNya dengan 
konsisten, tanpa tergoyahkan.
Wahb ra, mengatakan, "Aku pernah membaca di sebagian Kitab-kitab Allah 
terdahulu, dimana Allah Ta'ala berfirman:
"Hai hambaKu, taatlah kepadaKu atas apa yang Aku perintahkan kepadamu, dan 
jangan ajari Aku bagaimana Aku berbuat baik kepadamu.
Aku senantiasa memuliakan orang yang memuliakan Aku, dan menghina orang yang 
menghina perintahKu. Aku tak pernah memandang hak hamba, sehingga hamba 
memandang (memperhatikan) hakKu."
Syeikh Abu Muhammad bin Abdul Aziz al-Mahdawi ra, mengatakan, "Siapa pun yang 
dalam doanya tidak menyerahkan dan merelakan pilihannya kepada Allah Ta'ala, 
maka si hamba tadi terkena Istidroj dan tertipu. Berarti ia tergolong orang 
yang disebut dengan kata-kata, "Laksanakan hajatnya, karena Aku sangat tidak 
suka mendengarkan suaranya.". Namun jika ia menyerahkan pilihannya pada Allah 
Ta'ala, hakikatnya ia telah diijabahi walau pun belum diberi. Amal kebaikan itu 
dinilai di akhirnya..."
 

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

[Non-text portions of this message have been removed]

  • [daarut-tauhiid] Kenapa kau tuntut Tuhanmu? firliana putri