daarut-tauhiid  

[daarut-tauhiid] Malu itu Penting

andri satriawan
Fri, 01 Aug 2008 08:36:56 -0700

Malu itu Penting  
Budaya Malu, oleh Prof. Dr. Achmad Satori Ismail (IKADI)


Ketika Abu Qilabah keluar untuk sholat berjamaah, bertemu dengan Umar bin Abd 
Al Aziz yang juga sedang menuju masjid untuk jama’ah sholat ashar. Beliau 
kelihatan membawa secarik kertas, maka Abu Qilabah bertanya: Wahai Amirul 
mukminin, geranga kertas apakah ini ? Beliau menjawab ini adalah secarik kertas 
berisi sebuah hadits yang aku riwayatkan dari Aun bin Abdillah. Aku tertarik 
sekali dengan hadits ini maka aku tulis dalam secarik kertas ini dan sering aku 
bawa. Abu Qulabah berkata; ternyata di dalamnya tertera sebuah hadits sbb. 
“Diriwayatkan dari Aun bin Abdillah, ia berkata: Aku berkata kepada Umar bin 
Abdil Aziz bahwa aku telah meriwayatkan hadits dari seorang sahabat nabi saw 
yang kemudian diketahuinya oleh Umar. Aku berkata, ia telah meriwayatkan bahwa 
Rasulullah saw telah bersabda: “Sesungguhnya rasa malu, iffah ( menjauhi yang 
syubhat) , dan diamnya lisan bukanlah diamnya hati, serta pemahaman (agama) 
adalah termasuk dalam keimanan.
 Semuanya itu termasuk yang menambah dekat kepada akhirat dan mengurangi 
keduniaan, dan termasuk apa-apa yang lebih banyak menambah keakhiratan.Tapi 
Sebaliknya, Sesungguhnya ucapan jorok, perangai kasar dan kekikiran termasuk 
dalam kenifakan (prilaku kemunafikan) dan semuanya itu menambah dekat dengan 
dunia dan mengurangi keakhiratan serta lebih banyak merugikan akhirat. 
(Sunan Ad Darami)

Kejadian di atas menunjukkan betapa besar perhatian Umar bin Abdil Aziz 
terhadap masalah yang mendorongnya untuk meningkatkan masalah keakhiratannya. 
Hadits tentang rasa malu ini mendapat perhatian khusus sehingga ditulis dalam 
secarik kertas yang sering dibawa kemana-mana. sampai waktu berangkat sholat 
jamaahpun dibawa pula. Di antara isi dari inti hadits ini bahwa rasa malu 
adalah sebagian dari iman dan bisa menambah urusan keakhiratannya..

Definisi rasa malu

Ketika seorang mau melanggar aturan agama misalnya, maka ia merasakan dalam 
dirinya sesuatu yang tidak enak, merasa malu ataupun rasa takut. Karena 
pelanggaran agama atau menentang disiplin bertentangan dengan fitrahnya 
sehingga menimbulkan rasa malu. Seorang yang ingin mencuri kemudian tidak jadi 
mencuri, karena dalam dirinya masih ada rasa malu. Namun bila rasa malu ini 
dikikis terus dengan pelanggaran maka hilanglah rasa malunya dan akhirnya 
menjadi orang yang memalukan, contohnya seorang wanita yang berpakaian ketat, 
pada awalnya ada rasa malu yang kemudian lama kelamaan menjadi hilang rasa 
malunya.

Keutamaan rasa malu:

1. Rasa malu adalah penghalang manusia dari perbuatan dosa

Rasa malu adalah pangkal semua kebaikan dalam kehidupan ini, sehingga 
kedudukannya dalam seluruh sifat keutamaan adalah bagaikan kepala dengan badan. 
Maksudnya, tanpa rasa malu maka sifat keutamaan lain akan mati. Dalam sebuah 
hadits disebutkan:

“Rasa malu tidak mendatangkan selain kebaikan.
Busyair bin Ka’b berkata: Dalam kata-kata bijak tertera :”Sesungguhnya rasa 
malu memiliki keagungan dan dalam rasa malu terdapat ketenangan” ( HR Bukhori 
dan Muslim)

2. Rasa malu merupakan salah satu cabang dari iman dan indicator nilai keimanan 
seseorang

Rasa malu adalah cabang dari iman. Seabagaimana Rasulullah saw menyatakan: 
“Iman terdiri dari enam puluh cabang lebih dan rasa malu sebagian cabang dari 
iman ( HR Bukhori)

Rasulullah saw melewati seorang anshor yang sedang menasehati saudaranya 
tentang rasa malu, maka Rasulullah bersabda: “ Biarkanlah ia memiliki rasa malu 
karena malu itu termasuk dalam keimanan”
(Bukhori dan Muslim)

Bahkan lebih dari itu, dalam hadits lain dinyatakan: “iman dan rasa malu 
merupakan pasangan dalam segala situasi dan kondisi. Bila rasa malu tidak ada 
maka imanpun akan sirna”( HR Al Hakim) 

3. Rasa malu adalah inti akhlak islami

Anas r.a. meriwayatkan hadits bahwa Rasulullah saw telah bersabda: “setiap 
agama memiliki akhlak dan akhlak Islam adalah rasa malu”.

Diriwayatkan dari Ya’la bahwa Rasulullah saw melihat seorang mandi di tanah 
lapang, maka Rasulullah seketika naik mimbar dan setelah memuji Allah beliau 
bersabda : “sesungguhnya Allah adalah Maha Malu yang suka menutupi ‘aib yang 
mencintai rasa malu. Jika salah seorang dari kamu mandi hendaklah ia mandi di 
tempat tertutup.

4. Rasa malu adalah benteng akhir keislaman seseorang

Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa nabi saw telah bersabda: “Sesungguhnya Allah 
azza Wajalla apabila hendak menghancurkan seorang hamba menarik darinya rasa 
malu, apabila rasa malu telah dicopot maka tidaklah kau jimpai dia kecuali dlam 
keadaan tercela dan dibenci, Bila sudah tercela dan dibenci maka akan dicopot 
darinya sifat amanah. Apabila sifat aamanah telah tercopot maka tidak kau 
jumpai dia kecuali menjadi seorang yang pengkhianat, bila sudah menjadi 
pengkhianat maka dicopot darinya sifat kasih sayang. Bila sifat kasih sayang 
telah dicopot darinya maka tidak kau jumpai dia kecuali dalam keadaan terlaknat 
dan bila dalam keadaan terlaknat maka akan dicopotlah ikatan islam darinya.

5. Rasa malu merupakan akhlak yang sejalan dengan fitrah manusia

Rasa malu sebagai hiasan semua perbuatan. Dalam hadits yang diriwayatkan Anas 
r.a. bahwa rasulullah saw telah bersabda: “Tidaklah ada suatu kekejian pada 
sesuatu perbuatan kecuali akan menjadinya tercela dan tidaklah ada suatu rasa 
malu pada sesuatu perbuatan kecuali akan menghiasinya. 
(Musnad Ahmad)

Diriwayatkan dari Ibnu abbas r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda pada Al Asyaj 
al ‘Asry ; “Sesungguhnya dalamdirinmu terdapat dua sifat yang dicintai Allah 
yaitu kesabaran dan rasa malu.
( Musnad ahmad)

Diriwayatkan dari anas r.a. ia berkata: Rasulullah telah bersabda; Orang yang 
paling kasih sayang dari umatku adalah Abu Bakar r.a, orang yang paling tegas 
dalam masalah agama dri umatku adalah Umar r.a Orang yang paling merasa malu 
adalah Utsman r.a. Orang yang paling mengetahui halal dan haram adalah Mu’adz 
bin Jabal. Orang yang paling mengerti tentang Al quran adalah Ubay r.a. Orang 
yang paling mengetahui tentang faroidl adalah Zaid bin Tsabit. Setiap umat 
memiliki orang keperayaan dan orang kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah Ibn 
al jarroh.
(Musnad Ahmad)

Al Fudleil bin ‘iyadh menyatakan: Ketika manusia sudah tidak memiliki rasa malu 
lagi maka tidak ada bedanya dengan bianatang.


Karakteristik rasa malu

Diriwayatkan dari abdillah ibni Mas’ud r.a. ia berkata, Rasulullah telah 
bersabda pada suatu hari : “Milikilah rasa malu kepada Allah dengan 
sebenar-benarnya.! Kami (para sahabat) berkata: Wahai rasulullah sesungguhnya 
kami alhamdulillah telah memiliki rasa malu. Rasulullah bersabda: “ Bukan 
sekedar itu akan tetapi barangsiapa yang mealu dari allah dengan sesungguhnya, 
hendaknya menjaga kepalanya dan apa yang ada di dalamnya, hendaknya ia menjaga 
peruta dan aapa yang didalamnya, hendaknya ia mengingat mati dan hari 
kehancuran. Dan barangsiapa menginginkan akhirat ia akan meninggalkan hiasan 
dunia . Barangisapa yang mengerjakan itu semua berarti ia telah merasa malu 
kepada allah dengan sesungguhnya.
(Musnad Ahmad)


Dalam hadits di atas kita dapat menarik empat karakteristik rasa malu yang 
sebenarnya yaitu:
1. Menjaga kepala dan sekitarnya
2. Menjaga perut dan segala isinya
3. Mengingat mati dan hari kehancuran
4. Menjadikan akhirat sebagai tujuan akhir.

Berikut ini penjelasan empat karakteristik rasa malu yang sebenarnya:
1. Menjaga kepala dan sekitarnya.

Yang dimaksud dengan menjaga kepala dan sekitaranya adalah sbb.
a. Menjaga indera penglihatannya agar jangan sampai melihat kepada yang haram, 
mencari-cari kesalahan orang lain dan hal-hal lain yang diharamkan Allah swt. 
Yang termasuk menjaga indera penglihatan adalah menggunakannya untuk membaca 
Alquran, mempelajari lmu, merenungi alam semesta dan bersengan-sengan dengan 
memandang yang halal.
b. Menjaga indera pendengaran dengan menggunakannya untuk mendengarkan bacaan 
Al Quran, mendengarkan pengajian dan menjauhi mendengarkan ghibah, namimah dsb
c. Menjaga lisan dengan mempergunakannya untuk dzikrullah, memberi nasehat, 
menyampaikan dakwah dan menjauhi segala ucapa yang diharamkan seperti adudomba, 
mengumpat, menghina orang lain dsb.
d. Menjaga mulut dengan membiasakan menggunakan siwak, memasukkan makanan yang 
halal dan menjauhi makanan yang haram. Menjauhi tertawa berlebihan dst.
e. Menjaga muka dengan membiasakan bermuka manis, tersenyum dan ceria setiap 
ketemu kawan. 
f. Menjaga akal dengan menjauhi pemikiran yang sesat seperti pemikiran 
muktazilah, sekuler, islam liberal dsb.

2. Menjaga perut dan seisinya

Yang dimaksud dengan menjaga perut seisinya adalah:
a. Menjaga hati dengan menanamkan keikhlasan dan melakukan muhasabah serta 
menjauhi penyakit hati seperti riya’, ujub, sombong, kufur, syirik dsb. 
b. Menjaga saluran pernafasan dengan tidak merusak saluran pernafasan seperti 
meokok dsb.
c. Menjaga kemaluan dengan menjauhi apa-apa yang diharamkan Allah seperti 
perzinahan dsb.
d. Menjaga saluran pencernaan dengan henya memasukkan makanan dan minuman yang 
halal saja.

3. Mengingat mati dan hari kiamat.

Mengingat mati akan membawa kita kepada upaya untuk meningkatkan ketakwaan . 
Kematian cukuplah bagi kita sebagai nasihat agar kita taubat dan kembali kepada 
Allah. Orang yang berbahagia adalah orang yang senantiasa melupakan kebaikan, 
mengingat dosa, mengingat kematian, melihat orang yang lebih rendah di bidang 
dunia dan melihat orang yang lebih baik dalam bidang akhirat. Orang yang 
mengingat kematian akan terdorong untuk menyiapkan bekal menuju akhirat dan 
melu melanggar larangan Allah

4. Menjadikan akhirat sebagi tujuan akhir.

Assindi mengatakan dalam syarah Sunan Ibni Majah sbb: Pengertian hadits “ Bila 
kamu tdiak memiliki rasa malu maka berbuatlah semaumu” adalah bahwa rasa malu 
itu merupakan benteng manusia dari perbuatan buruk. Orang yang memeiliki rasa 
malu terhadap Allah akan menghalanginya dari pelanggaran agama. Orang yang malu 
terhadap manusia akan menjauhi semua tardisi jelek manusia. Bila rasa malu ini 
hilang dari seseorang maka ia tidak peduli lagi terhadap perbuatan dan 
ucapannya. Perintah dalam hadits ini memiliki makna pemberitahuan yang intinya 
bahwa setiap orang harus melihat perbuatannya. Bila perbuatan itu tidak 
menimbulkan rasa malu maka hendaknya ia melakukannya bila sebaliknya ia harus 
meninggalkannya. (Sunan Ibni Majah syarh Sindi)

Bangsa Indonesia yang sudah tidak lagi memiliki budaya malu, harus kembali 
melaksanakan empat anjuran Rasulullah secara massif demi menuju kebangkitan 
menggapai kegemilangan di masa mendatang. 


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

===================================================
 Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
===================================================
       website:  http://dtjakarta.or.id/
===================================================Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [EMAIL PROTECTED] 
    [EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

  • [daarut-tauhiid] Malu itu Penting andri satriawan