suryati
Mon, 04 Aug 2008 07:33:34 -0700
Bunda, Tolong.... Oleh Ineu
sumber: eramuslim.com
-------------
"Masya Allah
40, 5 derajat!" rasanya tak percaya ketika kulihat alat
pengukur suhu yang barusan kukempitkan di sela-sela ketiak si sulung.
Matanya menatapku dengan sorot sayu padahal belum lama berselang mata
itu masih berbinar-binar ceria diiringi senyum penuh rasa bangga
manakala menunjukkan kepadaku sebuah kreasinya menyusun balok-balok
kayu membentuk kereta api.
"Bunda, aku ingin tidur" suara si sulung tiba-tiba mengagetkanku.
"Ya, nak sayang, tidur ya? Bunda kompresin keningmu dengan air ya?"
kataku sambil memeras handukyang telah dicelupkan ke dalam air.
Ia mengangguk lemah. Beberapa detik kemudian handuk kecil itu telah
berada di atas keningnya. Ia tersenyum seolah ingin mengucapkan
terimakasih. Aku membalas senyumnya dan membisikkan padanya bahwa ia
kuat dan akan segera sembuh. Lagi-lagi ia tersenyum dan mengangguk
padahal panasnya masih belum turun.
Setelah memastikan bahwa ia bisa kutinggal, aku berniat ke dapur
untuk membuat bubur serta sup untuk ia makan. Baru saja kulangkahkaan
kaki menuju pintu kamar, ia memanggilku.
"Bunda, tolong bacakan Al-Hafithah!"
Sejenak kutertegun dan sejurus kemudian berbalik dan kembali
mendekatinya. Si sulung dengan mata terpejam masih terus menyebutkan
permintaannya berulang-ulang dengan suara lemah.
"Ya sayang, Bunda akan bacakan." Kugenggam tangan mungil yang panas
itu. Pelan kubacakan surat Al-Fathihah yang masih sering keliru ia
sebut menjadi al-Hafithah. Mata yang terpejam itu tiba-tiba
mengeluarkan bulir-bulir kristal.
Aku segera bertanya padanya, "ada yang sakit, Nak?"
Ia hanya menggeleng lalu berucap lemah tetap dengan mata terpejam.
"Noch mal (ulangi lagi) Bunda!" pintanya.
Kubacakan lagi surat Al-Fatihah dengan penuh penghayatan. Kutatap
wajahnya yang berpeluh keringat itu menyunggingkan senyum dan tetap
dalam keadaan terpejam. Lalu bulir-bulir kristal dari matanya mengalir
lagi. Menyaksikan hal itu, hatiku jadi menggigil dan suaraku bergetar
saat membaca surat Al-Quran yang diinginkannya itu. Sepenuh perasaan
kubacakan berulang-ulang padanya dan bulir-bulir kristal itu tak kuasa
kubendung.
"Sekarang tolong Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Naas, Bunda!" pintanya dengan mata
tetap terpejam.
Sekalipun kaget, tetap kupenuhi lagi permintaannya itu. Membaca berulang-ulang
di antara deraian air mata dan getar suaraku.
"Bunda, tolong sekarang nyanyikan lagu doa untuk ayah bunda!" pintanya lagi.
Aku terdiam, menata gemuruh di hatiku.
"Ayo Bunda, tolong!" kali ini ia meminta dengan suara memelas.
Akhirnya aku pun bernyanyi, mendendangkan sebuah lagu yang
belakangan ini sangat disukainya. Sebenarnya lagu itu sebuah lirik doa
untuk orangtua yang sedikit kugubah ketika ingin mengajari ia dan
adiknya menghapal doa-doa. Tak disangka, sejak itu ia selalu
menyanyikan lagu tersebut kapan dan di mana saja ia suka.
Dengan mata yang masih terpejam, ia ikut bersenandung pelan, "Ya Allah, ampuni
Abang Adik
.juga Ayah Bunda Abang Adik. Kasihi mereka
bagai mereka sayang Abang
Adik."
Bibir mungilnya terus bergerak-gerak, melengkungkan sebentuk senyum
tiap di akhir lagu. Sementara itu batinku gerimis dan air mata terus
mengalir tak tertahankan.
"Bunda, tolong jangan sedih!" pintanya, padahal matanya terpejam.
Bagaimana ia bisa tahu kalau aku sedih padahal saat itu matanya
terpejam terus hingga aku merasa leluasa menangis di hadapannya.
"Iya sayang, Bunda tidak sedih. Bunda senang mendengarmu menyanyi." Ujarku
sambil mengusap air mata.
Ya Allah, ia yang baru berusia tiga tahun dapat sedemikian tenang
menghadapi sakit yang tiba-tiba datang. Tidak ada keluhan terlontar,
yang ada malah keinginan mengingat Engkau Ya Allah, lewat
firman-firmanMu yang kubacakan. Ia juga masih sempat mengingat untuk
mendoakan kami sekalipun dalam bentuk lagu. Benar-benar sebuah
pelajaran yang teramat berharga bagiku.
----------------------------------
Jadikanlah Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu. Dan Sesungguhnya Yang Demikian
itu Sungguh Berat, Kecuali Bagi Orang-Orang yang Khusyu [ Al Baqarah : 45 ]
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
===================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
===================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
===================================================Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/