Adi Nugraha
Mon, 04 Aug 2008 07:41:10 -0700
Bismillahirrahmanirrahim *Mendahului Karsa*
Oleh : Fauzi Nugroho
Saya teringat ketika masih usia belasan tahun, seorang rekan yang sebaya,
dan sama-sama masih duduk di bangku SMA walaupun berbeda sekolah pernah
berkata, "Ok...besok siang saya jemput kamu di rumah". Rekan yang beragama
Nasrani itu, berjanji kepada saya untuk menjemput ke rumah karena ada
keperluan bersama ke tempat kursus Bahasa Inggris. Rencananya, sebelum ke
sekolah, kami akan ke tempat itu dahulu dan keperluan lain di rumah rekan
yang lain. Tetapi pada pagi hari saya dengar berita duka cita dari tetangga
rumah bahwa rekan itu telah meninggal dunia pada jam 2.00 dini hari.
Menurut penuturan pihak keluarga, rekan tersebut tidak menunjukkan
tanda-tanda dirinya sakit, bahkan sebelum tidur jam 21-an masih bercanda
dengan adik-adiknya di ruang tamu. Hanya pada jam 1.00 ia mengatakan bahwa
kepalanya sakit kepada ibunya, ketika terjaga dari tidur dan meminta
diambilkan obat sakit kepala seperti biasanya. Tetapi setelah ibunya kembali
membawa obat yang dipinta si anak sulung itu ternyata sudah tidak adanya
nyawanya. Ia meninggal dalam usia muda, 16 tahun.
Peristiwa itu, bagi saya masih misteri dan menjadi tanda tanya pada saat
itu. Kenapa Tuhan begitu cepat memanggilnya?. Padahal ia sudah berjanji
kepada saya untuk pergi bersama. Ia tidak mengalami proses sakit yang cukup
lama sebagaimana kebanyakan orang yang akan meninggal dan banyak lagi
pertanyaan di fikiran saya kala itu. Saya hanya bisa merasakan kasihan
kepada orang tuanya yang harus ditinggal oleh anak kesayangannya, tanpa bisa
mengatakan apa-apa. Setelah beberapa waktu sejak kepergian putranya, orang
tua itu jika melihat saya, sahabat anaknya yang sering bertandang ke
rumahnya, hanya bisa menangis karena menurutnya terbayang-bayang tentang
anaknya.
Apalagi setelah saya menjadi mahasiswa, ibunya kerap berbicara dengan ibu
saya, kalau saja anaknya masih hidup, tentu sudah sebesar saya dan juga bisa
kuliah. Sungguh menyenangkan melihat anak pertamanya bisa kuliah dan sekolah
di perguruan tinggi sebagaimana anak-anak sebayanya. Sahabat yang telah
meninggal, sebelum kepergiannya pun telah berjanji untuk bertemu, tetapi ia
adalah anak biasa seperti manusia kebanyakan yang tidak bisa memprediksi
masa depannya. Ia tidak tahu kalau malam itu malaikat maut akan
menjemputnya.
Peristiwa itu mengingatkan saya bahkan kerap saya mendengar orang begitu
mudah membuat janji kepada orang lain tanpa menyebut "Insya Allah". Seperti
percakapan berikut; "Fulan.... jangan lupa besok hadir, ya...., di resepsi
perkawinan si anu!", lalu di jawab oleh rekannya, "Ok nanti saya datang ke
acara itu". Mungkin sederhana, tetapi tanpa disadari rekan yang menjawab
ajakan itu sejatinya telah mendahului karsa Tuhan. Ia tidak sadar bahwa
apakah besok hari dirinya masih hidup atau tidak. Kesadaran semunya seolah
dirinya berkeyakinan bahwa besok masih akan hidup, atau ada hal lain yang
bisa membatalkan rencana acara dimaksud.
Sebaliknya, hal yang terkadang lucu adalah ketika seseorang nyata-nyata
besok ada keperluan lain yang lebih penting dan mendesak, namun hanya karena
enggan untuk mengatakan keadaan sebenarnya, lalu ia mengatakan "Insya
Allah". Lalu karena begitu banyak orang yang berkata seperti itu untuk
kondisi hampir serupa, maka kalimat "Insya Allah", diterjemahkan sebagai
ungkapan verbal "Tidak bisa". "Ok Insya Allah saya hadir", tetapi pada
harinya ia benar-benar tidak hadir, karena kalimat tersebut diucapkan dengan
niat lain, yaitu tidak bisa memenuhi permintaan/undangan.
Akhirnya "Insya Allah" identik dengan tidak bisa, atau orang akan meragukan
(memenuhi) kedatangan orang yang mengucapkan kalimat seperti itu. Tampaknya
sepele, tetapi sebenarnya hal itu menjadi masalah keimanan. Manusia seolah
melupakan Kuasa-Nya. Insya Allah merupakan ucapan seseorang yang menyertai
pernyataan akan berbuat sesuatu pada masa yang akan datang. Dengan
mengucapkan perkataan ini seorang muslim telah berjanji untuk melakukan
perbuatan tersebut kecuali tidak memungkinkan pada saat akan dilakukan.
Insya Allah diartikan sebagai jika Allah Menghendaki, manusia tiada kuasa
untuk memastikan masa depannya, bahkan seorang Nabi. Nabi Muhammad SAW pun
pernah diingatkan akan hal itu tatkala ditanya perihal kisah pemuda di dalam
gua sebagaimana diceritakan dalam Surat Al Kahfi (QS. 18:23-24), "*Dan
jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: "Sesungguhnya aku akan
mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): "Insya-Allah". Dan
ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: "Mudah-mudahan
Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya
daripada ini"*.". Sekali lagi, mungkin terkesan remeh dan biasa-biasa saja.
Namun Al Qur'an telah banyak memberikan pelajaran terkait dengan hal ini.
Dalam Surat Al Qalam dikisahkan mengenai hal tersebut. "*Sesungguhnya Kami
telah menguji mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah menguji
pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh
akan memetik (hasil) nya di pagi hari, dan mereka tidak mengucapkan: "Insya
Allah", lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Tuhanmu ketika
mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap
gulita*," (QS. 68:17 - 20).
Dalam ayat selanjutnya (QS. 68:21 - 27), lalu mereka panggil memanggil di
pagi hari: "Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik
buahnya". Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan. "Pada hari ini
janganlah ada seorang miskin pun masuk ke dalam kebunmu". Dan berangkatlah
mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal
mereka mampu (menolongnya). Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka
berkata: "Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan),
bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)".
Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka: "Bukankah
aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Tuhanmu)?".
Mereka mengucapkan: "Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya kami adalah
orang-orang yang lalim". Lalu sebahagian mereka menghadapi sebahagian yang
lain seraya cela mencela. Mereka berkata: "Aduhai celakalah kita;
sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas".
Mudah-mudahan Tuhan kita memberikan ganti kepada kita dengan (kebun) yang
lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Tuhan
kita. (QS. 68:28 32).
Kisah meninggalkan rekan kecil di atas`seakan mengingatkan peringatan-Nya.
Mungkin menurut keyakinan kaum Nasrani, tidak wajib bagi mereka mengatakan
"Insya Allah", namun bagi kita kaum muslim sudah sepatutnya mengatakan
kalimat tersebut. Hal ini selain menunjukkan betapa lemahnya kita sebagai
manusia yang tiada daya dan upaya, juga sebagai bukti keimanan kita bahwa
Allah-lah Pemilik segala yang ada di langit dan bumi.
Mudah-mudah pesan ini semakin mengingatkan penulis pribadi khususnya maupun
majelis pada umumnya untuk senantiasa mengingat-Nya dalam berbagai macam
kondisi, dan selalu menegaskan "Jika Allah Menghendaki" dengan ucapan Insya
Allah. Semoga peristiwa lama yang pernah penulis alami maupun di dengar di
sekitar lingkungan kita selama ini, semakin menggugah kesadaran betapa Allah
Maha Berkehendak menurut Kuasa-Nya, dan manusia sebagai makhluk tiada andil
serta mempunyai kemampuan untuk memastikan masa depannya. Amin (fn).
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
===================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
===================================================
website: http://dtjakarta.or.id/
===================================================Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/daarut-tauhiid/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/