daarut-tauhiid  

[daarut-tauhiid] Perjalanan Menuju Allah

Abu Farras Mujahid
Sat, 27 Sep 2008 22:10:27 -0700

Pada suatu hari saya bertanya pada diri saya sendiri, apakah keadaan saya saat 
ini lebih baik daripada hari kemarin. Saya menjawab pertanyaan itu dengan hati 
dipenuhi kegalauan. Saya merasa hari-hari saya yang telah berlalu dipenuhi 
kezaliman. Ya, saya telah menzalimi diri saya dan juga orang lain.

Kemudian, saya katakan pada hati saya bahwa saya bertekad kuat untuk berubah 
menjadi hamba yang lebih baik lagi. Intinya, hari ini harus lebih baik daripada 
hari kemarin. Jika tidak ada perubahan, berarti tidak ada kemajuan dalam hidup 
saya.

Memang, tidaklah mudah untuk menempuh jalan perubahan. Kita akan berhadapan 
langsung dengan hawa nafsu kita; yang datang menggoda dan merayu kita untuk 
tunduk patuh padanya. Sekali saja kita tergoda, maka godaan selanjutnya akan 
lebih mudah dilakukannya. Jika kita menolaknya, maka godaan itu akan semakin 
kuat, tetapi kita juga semakin kuat, semakin merasakan manisnya iman, semakin 
merasakan lezatnya ibadah.

Imam Ibnul Qayyim mengatakan tentang tempat-tempat persinggahan orang-orang 
yang mengadakan perjalanan kepada Allah: Yang pertama al-Yaqzhah, artinya 
kegalauan hati setelah terjaga dari tidur yang lelap. Hal ini sangat penting 
dan membantu pembenahan perilaku. Siapa yang merasakannya, berarti dia telah 
merasakan satu keberuntungan. Jika tidak, berarti dia tetap dicengkeram 
kelalaian. Jika sudah tersadar, dia diberi bekal hasrat untuk memulai 
perjalanannya dan menuju persinggahannya yang pertama dan ke tempat dimana dia 
ditawan.

Jika perjalanan sudah dimulai, maka hati beralih ke persinggahan al-Azm, yaitu 
tekad yang bulat untuk melakukan perjalanan, siap menghadapi segala rintangan 
dan mencari penuntun yang dapat menghantarkan ke tujuan. Seberapa jauh 
seseorang memiliki kesadaran, maka sejauh itu pula tekadnya, dan seberapa jauh 
tekad yang dimilikinya, maka sejauh itu pula persiapan yang dilakukannya.

Jika sudah terjaga, maka dia memiliki al-Fikrah, yaitu pandangan hati yang 
hanya tertuju ke sesuatu yang hendak dicari, sekalipun dia belum memiliki 
gambaran jalan yang menghantarkannya ke sana. Jika fikrah-nya sudah benar, 
tentu dia memiliki al-Bashirah, yaitu cahaya di dalam hati untuk melihat janji 
dan ancaman, surga dan neraka, apa yang telah dijanjikan Allah terhadap para 
wali dan musuh-Nya. Dengan semua ini seakan-akan dia bisa melihat apa yang 
terjadi pada hari akhirat, semua orang dibangkitkan dari kuburnya, para 
malaikat didatangkan, para Nabi, syuhada dan shalihin dihadirkan, jembatan 
dibentangkan, musuh-musuh dikumpulkan, api neraka dikobarkan. Di dalam hatinya 
seakan ada mata yang dapat melihat berbagai kejadian akhirat, dan dia juga 
melihat bagaimana keduniaan ini yang begitu cepat berlalu. (Madarijus Salikin, 
hlm. 32-33, Cet. V 2003, Pustaka al-Kautsar)

Segala puji bagi Allah yang telah memberi saya petunjuk untuk berubah. Saya 
berkata pada diri saya sendiri, ingat-ingatlah wahai jiwa apabila engkau ingin 
merdeka, merasakan manisnya iman dan lezatnya ibadah, maka lepaskanlah dirimu 
dari belenggu hawa nafsumu sendiri. Ingat-ingatlah dosa-dosamu yang telah 
berlalu, kemudian engkau renungkan apakah engkau akan selamat atau akan binasa. 
Ingat-ingatlah, mungkin karena kezaliman yang telah engkau lakukan, ada airmata 
yang tumpah, ada rasa pedih yang menyayat hati, ada kerinduan yang mencekam, 
ada kebencian dan kemarahan yang meluap, ada doa-doa orang yang teraniaya. 
Ingat-ingatlah, shalat yang telah engkau tinggalkan, bagaimana caramu 
membayarnya, padahal shalat itu kewajiban bagimu? Ingat-ingatlah janji yang 
belum engkau tunaikan, sumpah yang engkau khianati, taat hanya dikala ramai, 
maksiat dikala sepi, mulut manis yang sering berkata dusta. Ingat-ingatlah 
sudah berapa lama engkau hidup dalam kelalaian,
 sementara itu waktu terus berlalu dan engkau tidak pernah berada dalam 
kemajuan berarti. Ingat-ingatlah tawa ria anakmu, apakah engkau tega 
melepaskannya dari dirinya? Ingat-ingatlah senyum kebahagiaan istrimu, apakah 
engkau tega menghilangkannya?

Di mana engkau kini berada, di dunia yang akan segera berakhir, entah kapan, 
yang pasti akan segera berakhir. Apakah engkau takut mati? Takut mati karena 
kurangnya perbekalan, takut mati karena banyaknya dosa-dosa, takut mati karena 
berpisah dari orang-orang yang engkau cintai, entah perpisahan yang sementara 
atau abadi, entah engkau akan bertemu lagi dengan mereka di surga atau salah 
satu di antara engkau dan mereka terseret dalam api neraka.

Jika engkau hanya mengharapkan rahmat Tuhan tanpa mau beramal, engkau hanya 
berkhayal. Harapkanlah rahmat Tuhan dan tanamkan dalam dirimu rasa takut akan 
amal salehmu yang tidak diterima oleh-Nya. Dengan harapan itu, engkau pantang 
putus asa. Dan, dengan rasa takut itu, engkau menjadi insan bertakwa.
 
http://abufarras.blogspot.com 




[Non-text portions of this message have been removed]

  • [daarut-tauhiid] Perjalanan Menuju Allah Abu Farras Mujahid