demi-demokrasi  

[demi-demokrasi] Re: [Minangkabau] Salam lekom lagi....

jusfiq
Thu, 19 Aug 1999 08:01:28 -0700

To:                     [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
        [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
        [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Date sent:              Wed, 18 Aug 1999 15:09:12 -0700
From:                   "Si Palala" <[EMAIL PROTECTED]>
Copies to:              "Reformasi Indonesia" <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED],
        [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Subject:                Re: [Minangkabau] Salam lekom lagi....
Organization:           MailCity  (http://www.mailcity.lycos.com:80)

> Uda Sutan:
> 
> kalau masyarakat Aceh diwakili siapa? apa ada cerita 
> ttg Aceh selagi kongkow di sono? 
> 

    Oleh hampir seluruh orang Indonesia yang datang dari Indonesia! 

    (Rafendi Djamin dan saya dari Belanda).

    Dan ada dua kelompok yang datang dari Aceh bener, yaitu Otto
    Syamsuddin dan Maimul beserta dua saksi yang saya ceritakan. 

    Tapi nyang lain juga ngomong tentang Aceh: Clara Kristanti, Nur
    Amalia, Ifdal dll. 

    Sepanjang yang menyangkut perhatian orang yang datang dari Indonesia
    kita bisa merasa senang dan berterima kasih bahwa mereka berusaha
    betul membawa masaalah Aceh ke forum PBB ini. 

    Dan bukan hanya masaalah Aceh! 

    Lobby HAM Indonesia di PBB kali ini cakep dah! 


> 
> ===
> 
> Si Palala
> 
> 
> 
> 
> On Wed, 18 Aug 1999 10:21:32   jusfiq wrote:
> >
> >
> >    Saya balik dari Jenewa kemarin malam, tapi belum bisa baca posting
> >    yang sampai di box yang di antenna.nl,  karena - saya kira - box saya
> >    kepenuhan dan karena itu hanya bisa saya buka bila orang di
> >    antenna.nl telah membagi-bagi posting itu dalam potongan-potongan
> >    sebanyak lima mb dan dikirimkan bertahap. 
> >
> >    Tapi saya bisa mengirim posting. Jadi menunggu kantor antenna.nl
> >    dibuka buat bilang bahwa saya telah kembali  saya mau cerita
> >    pengalaman di Jenewa. 
> >
> >   Wah asyik. 
> >
> >    Beberapa aktivis Indonesia, antara lain Rachlan Nasudik dan Rafendi
> >    Djamin sudah berada di Jenewa di minggu pertama Sidang Tahunan
> >    Sub-Komisi HAM PBB ini dan telah pula  balik dari Jenewa. Sedangkan
> >    Clara Kristanti (Yayasan Sosial Jakarta) dan Feri (Papua) masih ada
> >    di Jenewa. Disamping itu lobby Papua Barat (Leonie Tanggahma dan
> >    Mbiko Tanggahma) - seperti biasanya tiap tahun, juga sudah berada di
> >    Jenewa. 
> >
> >    Disamping saya sendiri, beberapa aktivis lain pada berdatangan di
> >    minggu kedua, seperti Nur Amalia (YBHI), Ifdal (ELSAM), Basrin
> >    (Masyaakat Adat) dan Maimul beserta dua orang saksi dari  Aceh
> >    (Seorang perempuan yang suaminya dibunuh dan dia sendiri diperkosa
> >    dan seorang lagi anak laki-laki muda yang disiksa hingga pingsan
> >    selama sepuluh hari). 
> >
> >    Disamping itu ada juga seorang mahasiswi Indonesia , Airina Nusyirwan
> >    dari Bandung yang magang disalah satu NGO yang juga sering ikut
> >    ngumpul buat belajar mekanisme Sub-Komisi HAM PBB. 
> >
> >    Jadi rame, kami bisa bikin team lobbying yang rapi juga, walaupun
> >    selain Ifdal yang pernah saya temui di Jogya sebelas tahun yang lalu
> >    ketika dia masih mahasiswa tidak seorangpun diantara mereka yang saya
> >    kenal sebelumnya 
> >
> >   Yang luar biasa pula kali ini adalah bahwa Nirmala Pandit bekas guru
> >   besar yang berasal dari India dan mengurus masaalah Asia dan Pasifik
> >   di ICJ memutuskan untuk mendukung lobby HAM Indonesia. 
> >
> >    Juga Raj Kumar dari Pax Romana membantu lobby HAM Indonesia. 
> >
> >    Jadi, lobby HAM Indonesia tahun ini cantik juga. 
> >
> >    Dan cantiknya pula, kami dengar bahwa beberapa expert, yaitu -
> >    antara lain - expert dari Norwegia, Sri Langka, Uganda telah
> >    memutuskan untuk menyusun resolusi. 
> >
> >   Wah asyik, pikir saya. 
> >
> >   Seperti barangkali pernah saya ceritakan bahwa tujuan kami datang ke
> >   Jenewa itu, selain dari untuk menyampaikan berita tentang pelanggaran
> >   hak-hak azasi manusia di Indonesia ke forum PBB itu, adalah pula untuk
> >   meyakinkan para expert bahwa pemerintah Indonesia perlu diberi
> >   peringatan dalam bentuk resolusi atau sekurangnya sebuah Chairperson's
> >   statement. 
> >
> >   Selama ini tiap tahun kami memang berusaha keras meyakinkan beberapa
> >   expert untuk membikin resolusi. Beberapa kali kami berhasil meyakinkan
> >   beberapa orang diantara mereka tapi rancangan resolusi yagn mereja
> >   susun itu selalu ditorpedo oleh expert yang dekat dengan Perwakilan
> >   Tetap Indonesia  di Jenewa, yaitu expert Cuba dan expert Marocco. Yang
> >   lebih sering kami tidak berhasil, karena ada-ada saja alasan para
> >   expert itu untuk menolak: banyak rancangan resolusi lainlah, situasi
> >   di Indonesia yang sedang berubah dll. 
> >
> >    Tahun yang lalu, ketika saya mulai putus asa (hari-hari terakhir saya
> >    praktis sendirian yang lobby), tiba-tiba expert Norwegia dan Chili
> >    menunjukkan perhatiannya untuk menyusun resolusi, tapi ternyata
> >    kemudian bahwa mereka - kata mereka - kepepet waktu dan tidak sempat
> >    menyusun resolusi itu. 
> >
> >   Dan mereka berniat - katanya pula kepada saya -  untuk meneruskan
> >   usaha mereka itu tahun ini. 
> >
> >   Apakah keputusan mereka tahun ini adalah kelanjutan niat mereka tahun
> >   yang lalu atau berkat lobby teman-teman yang telah hadir di minggu
> >   pertama tidak sempat saya telusuri. 
> >
> >   Yang terang, ketika saya sampai, saya dengar dari Nirmala Pandit
> >   bahwa expert Sri Langka dan Norwegia sudah pasang niat. 
> >
> >    Dan kamipun mulai pasang siasat. 
> >
> >    Seperti tahun-tahun sebelumnya, tiap hari kami pilih salah satu meja
> >    di lobby (Le Serpent) yang kami jadikan " kantor ". Di sekitar meja
> >    itulah kami rundingkan langkah yang perlu diambil, dan karena selalu
> >    ada salah seorang dari kami yang duduk disitu maka arus informasi
> >    setiap aktivis juga bisa mengalir dengan baik karena dari sanalah
> >    kami pusatkan petukaran berita terakhir. 
> >
> >    Dan entah karena Perwakilan Tetap Indonesia di Jenewa melihat jumlah
> >    aktivis HAM Indonesia meningkat dari minggu pertama atau entah karena
> >    alasan lain, yang terang  jumlah diplomat Indonesia - menurut orang
> >    yang hadir sejak minggu pertama, juga meningkat. Termasuk diantara
> >    mereka, menurut cerita salah seorang diplomat yang bercerita kepada
> >    salah seorang anggota lobby HAM, salah seorang Intel dari BIA. 
> >
> >    Dan para anggota lobbypun dikerubutin - artinya di " intimidasi "
> >    dengan ramah  - oleh para diplomat. Gerak langkah kamipun diikuti.
> >    Dan saya yang biasanya sebel dengan paranoida beberapa aktivis juga
> >    jadi yakin bahwa kami memang diikuti: mereka tahu di restoran 
> >    (murah) mana kami makan malam bersama! 
> >
> >    Perwakilan Indonesia juga - tentu saja - mengarahkan kegiatannya ke
> >    arah para expert. Kami lihat Duta Besar berbicara dengan expert
> >    Norwegia selama lebih dari sejam di Le Serpent dan mereka akan
> >    mengadakan jamuan makan (mahal) khusus untuk para expert. 
> >
> >    Sepanjng yagn menyangkut kami,  dengan membagi-bagi tenaga, kami
> >    sampaikan berita terakhir ke semua expert. Semua aktivis yang datang
> >    dari Indonesia cekatan belaka adanya. Ada sih yang di hari-hari
> >    pertama yang kagok mendengar orang ngomong segala macam bahasa dan
> >    lari-lari kecil pating seliweran nguber expert yang masuk Le Serpent.
> >    Tapi dihari kedua tiap-tiap aktivis sudah cekatan menyampikan
> >    informasi dengan catatan tambahan bahwa yang perempuan, Nur Amalia
> >    dan Clara Kristanti,  suka lebih gesit dari yang laki-laki. 
> >
> >    Saya kembali kemarin sore, draft resolusi telah dimasukkan dan
> >    voting akan dilakukan hari Jumat. 
> >
> >    Bagaimanakah hasilnya nanti? 
> >
> >    Betapapun hasilnya, yang bisa saya katakan adalah bahwa saya yakin
> >    para aktivis yang sekarang masih di Jenewa - bersama Nirmala Pandit -
> >    akan melakukan semaksimal mungkin yang bisa mereka lakukan. 
> >
> >    Mereka semua adalah aktivis jempolan! 
> >
> >
> >Jusfiq Hadjar gelar Sutan Maradjo Lelo                                   
> > = ======================================
> >
> >
> >To unsubscribe sent a message to [EMAIL PROTECTED] with in the message
> >body the line: UNSUBSCRIBE RANTAU-D
> >
> 
> 
> Get your FREE Email at http://mailcity.lycos.com
> Get your PERSONALIZED START PAGE at http://my.lycos.com
> 


Jusfiq Hadjar gelar Sutan Maradjo Lelo                                              =
======================================


To unsubscribe send a message to [EMAIL PROTECTED] with in the
message body the line:
unsubscribe demi-demokrasi