jusfiq
Tue, 7 Dec 1999 03:11:25 -0800
Date sent: Mon, 6 Dec 1999 23:56:24 -0800 (PST)
From: Alfian Salam <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re : Solusi Jitu Memberangus Narkoba
To: [EMAIL PROTECTED]
Copies to: [EMAIL PROTECTED]
Terus terang saya mulai sebel dengan orang Indonesia yang memakai
duburnya untuk membaca posting saya dan memakai taik yang mau keluar
dari duburnya untuk memahami isi posting saya.
Saya berusaha untuk menjawab setiap posting dengan serius.
Sebelum saya angkat bicara sering saya renungkan masaalahnya
dalam-dalam dan berjam-jam. Saya biasakan mengecek informasi yang
saya pakai dengan baik-baik agar argumen saya tidak kedodoran (Dan
kalau saya tidak pasti saya pakai conditionaal mode).
Saya turutkan logika dengan baik-baik agar argumen saya tidak mirip
dengan argumen kusir sado. .
Saya harapkan para peserta mailing list ini juga menghargai jerih
saya dengan membaca posting saya baik-baik sebelum mengomentarinya.
Sekali lagi, tidak jarang saya sediakan waktu berjam-jam untuk
berfikir sebelum saya menulis sebuah posting, kadang-kadang
berhari-hari.
> JUSFIQ :
> Ada dua cara sekarang ini dalam melihat masalah
> narkoba ini.
> Cara fascsist, cara otoriter atau cara yang tidak
> manusiawi.
>
> ALFIAN:
> Saudara Jusfiq. Apakah anda berpendapat bahwa para
> sindikat, pengedar dan penjual narkoba yang meracuni
> dan membunuhi secara pelan atau cepat anak-anak kita
> itu lebih MANUSIAWI dari hukuman mati itu sendiri???
Terus terang saya sebel dengan pertanyaan taik anjing begini!
Saya telah menulis diakhir postign saya kalimat berikut:
"Gelisah dengan adanya masaalah narkoba adalah sikap yang sehat,
tapi tergesa-gesa mamakai sistem libas tidaklah manusiawi dan tidak
memecahkan persoalan".
Lalu kenapa anda masih mengajukn pertanyaan taik anjing itu?
> Bagi saya, hukuman mati itu masih terlalu ringan bagi
> mereka, dari pada hukuman Tuhan nanti di
> neraka/akherat kelak, jika kita mengaku orang yang
> beragama dan beriman.
>
Anda adalah orang biadab!
Anda bersedia menghukum mati manusia pada hal belum jelas bentuk
kesalahan yang akan dihukum.
Saya ingatkan sekali lagi beberapa pendapat - yang kayaknya diterima
sekarang oleh administrasi Amerika - bahwa ada kebutuhan akan
cocaine di masyarakat Amerika Serikat, artinya masaalahnya bukan
masaalah pembikinan, penjualan dana penyelundupan cocaine, dari
Amerika Latin ke Amerika Serikat, tetapi kenapa ada kebutuhan akan
cocaine itu sendiri di Amerika Serikat.
Masaalah inilah yang kudu dipecahkan dan bukan masaalah penanaman
coca, pembikinan cocaine, penyelundupan dan pengedarannya.
Agar jelas, menurut pendapat ini, produksi dan penjualan cocaine
adalah 'messenger' bukan 'message'.
And you do not shoot the messengger.
> JUSFIQ:
> Cara ini adalah yang anda usulkan!
> Atau seperti yang di praktekkan orang - antara lain -
> di Singapura dan Malaysia.
>
> ALFIAN :
> Saudara Jusfiq, kita sudah capek dengan segala cara
> dan seminar tentang narkoba.
Bukan karena kita capek lantas kita merasa berhak untuk menjatuhi
orang dengan hukuman mati.
> Belum lagi sikap aparat
> dan penegak hukum di RI yang justru mlempen kalo nggak
> dibilang membacking bandar narkoba itu sendiri.
Pertama: saya ulangi sekali lagi, bahwa pemecahan repressif bukan
pemecahan yang manusiawi dan belum tentu betul.
Dan kalaupun betul, dalam hal yang terjadi di Indonesia ini yang
salah adalah oknum TNI/Polisi.
Yang salah itu yang harus dibetulkan.
> Berapa
> banyak oknum TNI/Polisi yang tertangkap ikut
> melindungi dan mengedar narkotik. Betapa malu rasanya
> jadi bangsa ini ketika dunia mendengar berita yang
> mengenaskan.
> Kita tak usah banyak bicara. Kita lihat saja bukti di
> Malaysia dan Singapura itu selama (misal) 10 th.
> menerapkan hukuman mati. bagaimana mereka melindungi
> generasinya, dan hasil yang dicapai dibanding kita
> yang cenderung meniru Eropa dan Amerika. Berapa milyar
> dollar dikeluarkan Amerika dan Eropa untuk mengatasi
> Narkoba disana. Tapi hasilnya????
Di Amerika mereka salah dengan cara represif.
Di Eropa saya melihat bahwa masaalahnya mulai teratasi.
Dan si Eropa tidak ada orang yang salah terhukum mati.
> Mengenaskan alias
> noll. Bandingkan dengan Saudi Arabia yang mungkin
> hanya ada kasus narkoba 1 kali dalam 10 th., hanya
> karena diperlakukan hukuman mati.
>
Menjadikan Saudi Arabia sebagai contoh adalah ketololan dan
kedunguan.
Kita tidak tahu banyak dengan apa yang sebenarnya terjadi di Saudi
Arabia karena negeri itu bukan contoh keterbukaan, sehingga apa yang
diberitakan adalah apa yang diizinkan oleh pengausa untuk
diberitakan.
> Sehingga hukuman mati itu akan bersifat mencegah dan
> mendidik karena menakutkan, bukan berarti semata-mata
> untuk sekedar menghukum.
>
Berbagai studi menunjukkan bahwa hukuman mati tidak mencegah dan
mendidik.
Di Eropa tidak ada hukumam mati dan negeri Eropa tidak lebih jelek
record keamanannya dari negeri yang memberlakukan hukuman mati.
> Saya lebih berani mengorbankan nyawa puluhan pengedar
> dan penjual itu, toh mereka juga penjahat, dari pada
> mengorbankan nyawa puluhan juta anak-anak kita dan
> generasi kita.
Anda adalah orang biadab!
> Ini konspirasi internasional untuk
> menghancurkan bangsa Indonesia lewat penghancuran
> generasinya terlebih dahulu.
>
Anda adalah orang tolol!
Sedikit-sedikit konspirasi internasional!
> JUSFIQ:
> Lalu ada cara manusiawi seperti yang dicoba orang
> untuk dipakai di negeri Belanda Swis (Zurich) dan
> Sepanyol misalnya.
>
> ALFIAN:
> Sdr. Jusfiq, 10 th. saya tinggal di Eropa, saya lihat
> narkoba telah menjadi kehidupan biasa. Generasi muda
> di sana hancur karena narkoba, dan pemerintah disana
> tak mampu lagi melindungi anak-anak dan generasi
> mereka, hanya dengan melakukan cara yang anda sebut
> "manusiawi" itu.
Anda adalah pembohong, pendusta dan tukang kibul!
Generasi muda di Eropa tidak hancur karena narkoba!
Ini adalah dusta, bohong dan omong kosong!
Anda adalah tukang kibul!
Anda adalah penyebar kabar palsu!
Anda adalah pendusta!
Agar jelas: adalah bohong untuk berkata bahwa generasi Eropa itu
hancur.
Agar jelas: bahwa ada orang yang menjadi kecanduan heroine, cocaine
dll. saya tidak membantah.
Tapi mereka tidak diperlakukan sebagai penjahat, tapi manusia
yang perlu bantuan!
Dan para sosiolog, psikolog dan pakar berbagai cabang ilmu
pengetahuan sibuk mengadakan penelitian untuk mengetahui kenapa ada
orang yang menjadi ketagihan heroine, cocaine dll. agar masaalahnya
bisa dipecahkan dengan baik-baik tanpa merugikan orang yang
sebenarnya tidak bersalah, seperti dealer yang hanyalah 'messenger'
masaalah dan bukan penyebab masaalah.
> Bagaimana kita akan mencontoh mereka, menghukum dengan
> cara 'manusiawi' para penjahat narkotik yang berlaku
> dan moralnya seperti 'binatang'.
> Saya tahu betul di Belanda itu. Disana Narkoba legal,
> paling bebas di Eropa, sampai sempat menbuat jengkel
> uni-eropa. Kalau saya jalan-jalan di sudut-sudut
> Amsterdam. Sungguh mengerikan, semoga jangan sampai
> menjalar ke negara bekas koloninya ini (indonesia).
>
Anda berdusta lagi!
Anda berbohong lagi!
Ganja memang ditolerir, setiap orang bisa membeli lima gram ganja
ditiap coffee shop.
Ada memang usul untuk melegalisir hard drugs, justru untuk
memudahkan kontrol.
Agar jelas: diskusi tentang apa yangkudu dianggap sebagfai drug dan
politik penanggulangan masaalah narkotika masih berlangsung di
Eropa.
Bahwa ada yang tidak setuju dengan cara Belanda saya tidak
membantahnya: tapi Perancis, kampiun anti cara Belanda juga sudah
sedang berubah pendirian.
Saya tidak mengatakan bahwa pendekatan Belanda adalah pendekatan
yang akan diterima nanti di Eropa, tapi diskusi tentang cara
penanggulanangan masaalah narkoba ini masih terus berlangsung.
> JUSFIQ:
> Mana yang baik?
>
> ALFIAN:
> Hanya orang yang berhati nurani yang tahu dan bisa
> membedakan mana yang baik dan yang buruk.
>
Yang kudu anda ingat pula adalah bahwa anda tidak berada diposisi
moral yang mengizinkan anda untuk bicara tentang tentang hati
nurani!
Anda adalah orang biadab!
Pembohong!
Pendusta!
Dan penyebar kabar palsu!
> JUSFIQ:
> Jangan kita lupa apa yang namanya dadah itu, apa
> bahayanya, apa mudharat dan manfaatnya belum jelas
> betul hingga sekarang.
>
> ALFIAN:
> Jelas banyak manfaatnya. Apalagi untuk keperluan
> farmasi, apotik dan obat-obatan kedokteran/kesehatan.
> Tapi dalam konteks pembicaraan kita ini adalah
> "PENYALAHGUNAAN NARKOBA". Anda harus camkan ini.
>
Diskusi tentang masalah manfaat dan mudharat ini masih berlangsung.
Para ahli belum seluruhnya sepakat tentang semua masaalah ini.
Jadi istilah penyalah gunaan juga belum bisa ditentukan batasnya.
> JUSFIQ:
> Apakah ganja berbahaya?
> Lebih berbahaya dari tembakau?
> Kenapa orang menjadi pemadat?
>
> ALFIAN:
> Saya kira kita semua sudah tahu jawabannya. Pisau akan
> bermanfaat bila kita gunakan utk. memasak, dan
> berbahaya bila untuk membunuh orang tanpa sebab dan
> alasan yang jelas. Jadi seperti pertanyaan : Kenapa
> orang membunuh orang yang tak bersalah dengan pisau?
> Intinya adalah penyalahgunaannya bukan bendanya.
>
Semua orang telah tahu?
Anda berdusta lagi disini!
Anda berbohong lagi disini!
Anda adalah pendusta!
Anda adalah pembohong!
Diskusi tentang masaalah ini dikalangan ahli belum selesai!
> JUSFIQ:
> Penguasa Amerika Serikat - saya dengar - baru mengakui
> bahwa bila orang membikin cocaine di Amerika Latin
> maka sebabnya adalah karena ada kebutuhan akan cocaine
> di Amerika.
> Artinya dengan menghancurkan produksi cocaine di
> Ameika Latin kebutuhan akan cocaine di Amerika Serikat
> tidak akan hilang dengan sendirinya.
>
> ALFIAN:
> Saya kira pemerintah Amerika juga tidak bodoh. Mereka
> tahu betul, untuk kebutuhan kokain demi
> kedokteran/farmasi/medis di USA atau dunia misalnya
> hanya dibutuhkan 1000 hektare di Amerika latin sekali
> panen per tahun.
> Tapi mengapa di Amerika Latin ditanam sebanyak 8000
> hektare sekali panen per tahun???
> Untuk persediaan paceklik kokain nanti maksudnya?
>
Sebelum anda membantah argumen saya, sebaiknya anda ketahui duduk
masaalahnya!
Nyerocos kayak anjing sakit gigi menggonggong tidak
memajukan diskusi!
> JUSFIQ:
> Apakah orang yang telah jadi pemadat itu kudu dianggap
> sebagai kriminil atau sebagai orang yang perlu
> dibantu?
>
> ALFIAN:
> Kalo mereka korban dan jadi pemadat, perlu kita bantu
> untuk rehabilitasi. Kalo pengedar/penjual harus kita
> peringatkan/hukum.
>
Sekali lagi: buat sosiolog, psikolog dan berbagai pakar lain belum
jelas betul apa yang menjadi sebab orang menjadi pemadat oleh karena
itu belum jelas dimana letak masaalahnya.
Jadi cara pemecahan yang tepat belum ditemukan!
Di Belanda ada yang mengusulkan (tapi usul ini belum diterima) agar
hard drugs dijadikan barang legal yang bisa dibeli di apotik - dengan
resep.
Dengan cara begini istilah pengedar jadi tidak ada dengan
sendirinya.
Dan hukuman bagi pengedar yang tidak akan adapun tidak perlu ada!
> JUSFIQ:
> Semua pertanyaan ini belum terjawab dengan pasti.
> Para ahli masih berdebat.
>
> ALFIAN:
> Kalo kita kembalikan pada agama dan hati nurani, maka
> semua pertanyaan itu akan bisa kita jawab dengan
> mudah.
Anda tidak berada diposisi yang mengizinkan anda untuk bicara
tentang harti nurani, karena anda adalah manusia yang berfikiran
biadab, pembohong, pendusta dan penyebar kabar bohong!
> Generasi suatu bangsa sedang dipertaruhkan. Di
> Indonesia saja sudah 2 juta total saat ini
> orang/anak-muda yang kecanduan narkoba. Anda mungkin
> baru merasakan betapa sakitnya bila anak anda/saudara
> anda yang terkena.
Sekali lagi: generasi muda di negeri Belanda dimana sedang dicoba
berbagai pemecahan yang manusiawi tidak lebih sengsara dari generasi
muda Perancis misalnya!
> Kita tak perlu para ahli yang lebih banyak berdebat
> dari pada beraksi.
Mari kita pakai kebodohan!
Agar jelas:anda adalah orang dungu, tolol, bodoh dan goblok
yang takut pinter!
> Malaysia dan Singapura tidak banyak
> debat tapi langsung beraksi. Dan apakah kita anggap
> Malaysia dan Singapura sebagai bangsa yang gagal dan
> lebih terpuruk dari Indonesia? Mestinya kita malu.
>
Malaysia dan Singapura - dalam masaalah narkoba - adalah dua negara
biadab didunia ini!
Kedua negara itu bukanlah contoh yang harus ditiru!
Bandingkan dengan negeri Belanda dan Swiss dan bukan dengan
Indonesia!
> JUSFIQ:
> Lalu apakah akan kita biarkan orang dijatuhi hukuman
> sekarang -apapun hukumannya - bila ternyata nanti
> bahwa ketergantungan itu tidak bisa dianggap sebagai
> kejahatan tapi sebagai teriakan minta tolong?
>
> ALFIAN:
> Dan kita yang membiarkan terus ini terjadi tanpa
> beraksi untuk mencegahnya agar tidak semakin parah,
> maka sikap kita inipun sudah suatu kejahatan.
> Kejahatan kemanusian yang luar biasa.
> Oleh karena itu mari, 'teriakan minta tolong' itu kita
> sambut dengan uluran tangan kita yang lembut untuk
> menolong mereka yang menderita karena ketergantungan,
> dan tangan kita yang keras untuk menghukum para
> penjahat pengedar itu, sehingga membangun kebaikan
> harus seimbang dengan menghancurkan kejahatan.
>
Lihat jawaban diatas.
> JUSFIQ:
> Lalu bagaimana sikap kita terhadap tembakau yang
> jelas-jelas telah terbukti membawa mudharat: bahaya
> penyakit kanker misalnya?
>
> ALFIAN:
> Pada dasarnya sama. Tapi derajat bahayanya belum
> separah narkotik. Jika suatu saat nanti keadaan suatu
> negeri sudah memungkinkan dan hukum sudah tegak
> sebagai budaya, dan aparatnya berwibawa, saya setuju
> kalo tembakau juga dikategorikan ke narkoba. Dan para
> petani tembakau kita, kita didik untuk beragrobisnis
> selain tembakau.
>
> JUSFIQ:
> Gelisah dengan adanya masaalah narkoba adalah sikap
> yang sehat, tapi tergesa-gesa mamakai sistem libas
> tidaklah manusiawi dan tidak memecahkan persoalan.
>
> ALFIAN:
> Kita tidak tergesa-gesa, kita sudah berpengalaman
> puluhan tahun, sudah kita studi, bandingkan, dan
> berkaca dari negara-negara tetangga. Akankah kita
> tunggu lagi 10 tahun (supaya kita tidak tergesa-gesa),
> sementara di DKI Jakarta saja, dalam satu hari
> rata-rata 2 orang tewas karena over dosis narkoba.
> Saya kira sudah cukup, tak perlu lagi menunggu 10
> tahun, dan korban terus berjatuhan. Sementara para
> pengedar itu sudah keras kepala, kebal hukum, muka
> tembok, bandel dan tak kenal jera selain hkuman mati.
>
Anda adalah manusia biadab!
Fascsit!
> Jusfiq Hadjar gelar Sutan Maradjo Lelo
> =======================================
> JUSFIQ:
> * Mendukung pemerintah sekarang berarti menjadi
> complicit atas despotisme anak-anak raja Jawa
> yang sedang berusaha melindungi pelaku
> kejahatan perang dan kejahatan terhadap manusia
> dengan impunity.
>
> ALFIAN:
> Saya sangat anti pemerintah yang otoriter. Tapi kalo
> pemerintah yang otoriter itu menegakkan hukum secara
> tegas pada para penjahat tak pandang bulu demi
> melindungi generasi ini, maka saya sangat
> mendukungnya. Daripada mendukung 'pemerintahan yang
> katanya demokratis', tapi kenyataannya membiarkan
> anak-anaknya sendiri binasa, seperti pemerintahan di
> negara-negara Eropa yang terkesan munafik untuk
> masalah narkoba ini.
>
Amin!
Jusfiq Hadjar gelar Sutan Maradjo Lelo
=======================================
* Mendukung pemerintah sekarang berarti menjadi
complicit atas despotisme anak-anak raja Jawa
yang sedang berusaha melindungi pelaku
kejahatan perang dan kejahatan terhadap manusia
dengan impunity.
To unsubscribe send a message to [EMAIL PROTECTED] with in the
message body the line:
unsubscribe demi-demokrasi