jusfiq
Wed, 8 Dec 1999 08:46:59 -0800
Di web-site Sabili dan beberapa mailing list yang disatroni oleh
orang-orang Islam Indonesia (tapi si Sonny di mailing list proletar
juga) saya baca sejak beberapa hari ini belasan posting minta maaf
sebelum puasa.
Ini kan sedeng!
Pertama minta maaf kayak orang Padang ngobral celana dalam: nggak
ada artinya.
Minta maaaf itu, kudu jelas apa yang mau dimaafin dan jelas kepada
siapa minta maaf.
Dan permintaan maaf itu kudu serius, artinya perbuatan yang salah
itu kudu sungguh-sungguh disadari salah dan diusahain untuk
selanjutnya buat diubah!
Jadi permintaan maaaf itu nggak bisa kayak berak: asal lepas biar
legahan!.
Kalau nggak serius minta maaf itu artinya cuma perbuatan munafik!
Sama munafiknya kayak orang yang nggak mau minta maaf kendati udah
terbukti bersalah!
Jadi sama-sama nyebelin, kayak taik anjing yang berarakan di
trottoir Amsteram!
Kedua: kenapa bulan puasa itu dianggap bulan luar biasa, bulan suci:
puasa itu kan cuma kebiasaan goblok orang Timur-Tengah sono nyang
nggak ada urusan ditiru oleh orang Indoneia diakhir abd ke XX ini.
Kapan ya Allah yang goblok dan biadab itu akan memberikan kesempatan
kepada orang Indonsia untuk punya neuron kembali?
Atau kudu kita minta bantuan neurolog?
To unsubscribe send a message to [EMAIL PROTECTED] with in the
message body the line:
unsubscribe demi-demokrasi