Tonang Ardyanto
Fri, 01 Aug 2003 02:21:03 -0700
Menilai masalah MSG ini memang perlu hati-hati. Semula MSG erat dikaitkan dengan Chinese Restaurant Syndrome (sindrom yang timbul setelah makan di restoran china berupa rasa panas dan kaku di wajah, kepala pusing dan pengin muntah, rasa panas dan tebal di leher, punggung dan lengan, kadang sampai sesak nafas). Karena MSG dianggap begitu dominan di menu makanan China, zat ini yang dituduh menjadi biang penyebabnya. Pada penelitian lebih lanjut (pada tahun-tahun terakhir, setelah penelitian yang tahun 1970 itu), belum didapatkan bukti ilmiah yang kuat mengenai hubungan tersebut, meski juga tidak menyingkirkan adanya kaitan diantara keduanya. Pada percobaan terhadap hewan, pada dosis tinggi memang timbul gejala-gejala tersebut (pada tikus dengan dosis minimal 4 mg/kg), tetapi pada manusia sukarelawan, gejala baru timbul pada dosis minimal 30 mg/kg berat badan, dinilai dari peningkatan kadar dalam darah yang menunjukkan terlewatinya kemampuan tubuh memetabolisme MSG. Juga, pada tikus hamil, tidak ada hubungan antara pemberian dosis terhadap induk dengan kadar dalam darah janinnya. Dengan demikian, belum didapatkan bukti bahwa glutamat ini menembus plasenta. Yang sudah jelas adalah, penelitian pada tikus dengan dosis 4 mg/kg berat badan tersebut menunjukkan monosodium glutamate memang menimbulkan gangguan pada pertumbuhan sel-sel syaraf di otak. Untuk mengalirkan rangsang listrik antara simpul syaraf, diperlukan yang disebut neurotransmitter, yang salah satunya berkomponen glutamate. Juga terdapat reseptor bagi glutamat tersebut pada beberapa organ tubuh. Paparan kronis MSG ternyata menimbulkan menurunnya pembentukan sel dan simpul syaraf. Dengan demikian, masa-masa balita dimana sel-sel syaraf sedang bertumbuh, harus diwaspadai konsumsi MSG ini. Masih menjadi perdebatan apakah pada manula MSG juga berkaitan dengan penyakit sepert Alzheimer atau Parkinson. Sedang secara umum, yang jelas berhubungan adalah kecenderungan migrain. Tetapi penelitian ilmiah secara hati-hati menyimpulkan bahwa memang ada sekelompok orang yang sensitif sehingga bereaksi seperti yang kemudian disebut Chinese Restaurant Syndrome tersebut. Sayangnya, seperti apa orang yang termasuk kelompok ini, masih belum diketahui. Sehingga ada usulan menamakan reaksi tersebut sebagai reaksi Idiosinkresi. Yang juga perlu mendapat perhatian adalah penderita Asma, karena diduga konsumsi MSG bisa memicu serangan atau memperberat gejala pada penderita Asma. Atas dasar hasil-hasil ini, belum ada ketetapan merumuskan ADI (Allowed Daily Intake) untuk MSG. Sebagai ancar-ancar, hasil penelitian menunjukkan batas minimal 4 mg/kg berat badan pada tikus untuk timbulnya gejala atau 30 mg/kg berat badan pada manusia. Sebenarnya, secara alamiah ada bahan atau makanan yang mengandung glutamat ini seperti coklat, jamur, tomat, susu dan daging. Cukup bijaksana, kiranya bila mulai mencoba mengurangi atau kalau bisa menghentikan konsumsi MSG dan beralih ke penyedap rasa alami. Tetapi memang kadang tidak mudah menghentikan kebiasaan konsumsi MSG, karena di otak rasa yang timbul dari MSG (disebut umami) menimbulkan semacam ketergantungan. Juga, kadang sulit mengontrol kalau kebetulan makan di luar. Apalagi, kadang sikap hati-hati ini bisa juga disalahartikan oleh orang yang melayani menu. Semoga bermanfaat. Tonang ========= Pada 7/31/03 18:11PM, "Nadhira Khalid" <[EMAIL PROTECTED]> menulis : > Saya mendapat artikel di bawah ini dari seorang teman. Siapa tau bermanfaat. > > Salam, > > Nadhira > > =========================================== > Republika > Kamis, 31 Juli 2003 16:16:00 > > Pirac: 13 Jenis Snack Mengandung MSG yang Bisa Ancam > Kesehatan Anak > > Jakarta-RoL--Sejumlah tujuh makanan ringan dalam kemasan > (snack) yang biasa dikonsumsi anak-anak tidak mencantumkan > kandungan MSG, sementara diyakini MSG bila dikonsumsi > dalam jumlah tertentu akan mengancam kesehatan anak. > > Nurhasan, dari Pirac (Public Interest Research and > Advocacy Center) di Jakarta, Kamis mengatakan, pihaknya > sudah meneliti ke-13 contoh makanan ringan yang beredar > luas itu. > > Dari ke-13 jenis makanan ringan, tujuh di antaranya > mengandung MSG (monosodium glutamate), tetapi tidak > mencantumkannya dalam kemasan, sedangkan empat produk lagi > dinyatakan mengandung penyedap dan penambah rasa, namun > tidak menyebutkan mengandung MSG dan dua produk lainnya > mencantumkan MSG, tapi tidak menyebut jumlah kandungannya. > > Ketujuh produk tersebut adalah Cheetos (1,20 persen), > Chitato dengan rasa sapi panggang (1,06 persen), Chiki > dengan rasa keju (0,76 persen), Happytos Torpilachips > (0,71 persen), Golden Horn dengan rasa keju (0,46 persen), > Smax dengan rasa ayam (0,57 persen), dan Taro Snack dengan > rasa rumput laut (0,62 persen). > > Keempat produk yang menyatakan mengandung penyedap dan > penambah rasa, tetapi tidak menyebutkan mengandung MSG, > adalah Zetz dengan rasa ayam bumbu mamamai (0,50 persen), > Twistko dengan rasa jagung barbeque (1,59 persen), Double > Decker Snack dengan rasa ayam (0,48 persen) dan Twistee > Corn (0,47 persen). > > Keempat produk itu dinilai dan dianggap menyesatkan, > karena menyebutkan mengandung penyedap rasa, tetapi tidak > menyebutkan mengandung MSG. > > Dua produk yang mencantumkan MSG, tetapi tidak menyebutkan > jumlah kandungannya, adalah Gemez dengan rasa ayam > panggang (0,59 persen) dan Anak Mas dengan rasa keju (0,52 > persen). > > MSG, kata Nurhasan, dapat menembus plasenta pada saat > kehamilan, menembus jaringan penyaring antara darah otak, > dan menyusup ke lima organ circumventricular. > > Pelindung darah otak yang terkontaminasi dapat > mengakibatkan kelainan hati, trauma, hipertensi, stress, > demam tinggi dan mengganggu proses penuaan. > > MSG juga memicu reaksi gatal, bintik-bintik merah di > kulit, mual, dan muntah-muntah, sakit kepala, migren, > asma, gangguan hati, ketidakmampuan belajar dan depresi. > > "Penggunaan MSG lebih beresiko terhadap bayi dan > anak-anak," katanya. > > Ke-13 produk tersebut dinilai melanggar pasal 30 ayat 2 > tentang label pada UU No.8/1999 tentang Perlindungan > Konsumen (UU PK). Produk tersebut juga dinilai melanggar > Pasal 3 ayat 2 PP No.69/1999 tentang Label dan Iklan > Pangan. > > Pasal 33 UUPK dan pasal 5 PP 69/1999 yang menyatakan > setiap produk kemasan harus memuat keterangan dengan benar > dan tidak menyesatkan. > > Pirac minta pemerintah untuk mengawasi standarisasi > penggunaan MSG pada makanan dalam kemasan. Produsen juga > hendaknya diwajibkan menggunakan ukuran miligram dan bukan > persentase. > > Pemerintah juga hendaknya mewajibkan produsen makan ringan > yang menggunakan MSG untuk mencantumkan bahaya penggunaan > MSG pada anak-anak dalam jumlah tertentu. > > "Jika produsen tersebut melanggar UUPK, maka dikenakan > sanksi sesuai peraturan perundangan yang berlaku," kata > Nurhasan. > > Dia juga minta Badan Pengawasan Obat dan Makanan untuk > memerintahkan ke-13 produsen makanan ringan tersebut agar > menarik produknya dan menggantikannya dengan kemasan yang > sudah direvisi. > > Produsen makanan dalam kemasan sebenarnya wajib > mencantumkan denga benar kandungan dan komposisi produknya > dan hak konsumen yang menentukan apa akan membeli atau > tidak. > > Dikatakannya, percobaan pada binatang, seperti ayam, yang > mengonsumsi MSG sebanyak empat miligram akan tampak > mengantuk dan kemudian terkapar. Ada dua jenis MSG yang > beredar di Indonesia, yakni alami dan buatan (sintetik). > _______________________________________________ MAILING LIST DOKTER INDONESIA (MLDI) Sejarah, etika bermilis dan arsip, subscribe/unsubscribe dapat diakses di : http://www.mldi.or.id atau kirim mail ke: mailto:[EMAIL PROTECTED] _______________________________________________