Ibon
Mon, 15 Aug 2005 09:08:59 -0700
http://www.kontan-online.com/ Monggo, Sir, Jualan Bensin Pemain asing segera meramaikan persaingan penjualan BBM Pom bensin asing mulai dibangun di Tangerang dan Cibubur. Persaingan akan makin ketat dan masyarakat mempunyai alternatif pilihan. Pertamina mengeluarkan BBM jenis baru. Anda pernah merasakan sengsara kehabisan bensin di luar kota? Agaknya, kejadian itu dalam tempo dekat tak bakal terjadi lagi. Dalam waktu dekat, jaringan pom bensin dengan cepat bakal menyebar ke seluruh pelosok Indonesia. Mulai tahun ini, sesuai ketentuan yang tertuang dalam UU Migas No. 22/2001, Pertamina bukan lagi satu-satunya pemain di bisnis hilir migas. Akan mulai bermunculan pom bensin atawa stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) swasta atau bahkan asing. Kepala Badan Pelaksana Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) Tubagus Haryono mengungkapkan, sekurangnya terdapat 141 perusahaan asing siap meramaikan bisnis hilir migas. Dari jumlah itu, sekitar lima perusahaan migas raksasa telah siap membangun SPBU, yakni Petronas, Shell, BP, ExxonMobil, dan Caltex/Chevron Texaco. Namun, hingga kini baru Shell dan Petronas yang telah memegang izin prinsip. Di luar pemain asing, pemerintah telah meloloskan lima perusahaan lokal, yakni PT Sigma Rancang Perdana, PT Pandu Selaras, PT Elnusa Petrofin, PT Elnusa Harapan, PT Krida Petragraha, dan PT Raven Sejahtera. Tubagus bilang, Shell berencana membangun 400 SPBU dalam waktu delapan tahun. "Tahun ini sudah mulai dibangun di Tangerang," ujarnya. Petronas juga siap membangun 200 SPBU, dan saat ini sudah menyiapkan lahan di Cibubur untuk dibangun SPBU Petronas yang pertama. Sayangnya, tidak ada orang Shell maupun Petronas yang bisa dihubungi untuk memberikan komentar seputar pembangunan SPBU ini. Kendati begitu, bisa dipastikan pom-pom bensin asing ini baru mulai beroperasi menjelang akhir 2005. Sebab, hingga 23 November 2005, Pertamina masih berperan sebagai operator maupun regulator pendistribusian BBM berdasarkan Undang-Undang Nomor 8/1971. "Sekarang ini adalah masa transisi sebelum diserahkan pada BPH Migas. Karena itu, BPH Migas tengah menyiapkan aturan main berdasarkan PP dan UU," tutur Tubagus. Pertamina sudah melakukan antisipasi Masuknya SPBU asing di Indonesia memang sudah lama terdengar. Tapi, harga BBM yang dipatok pemerintah membuat mereka ogah-ogahan menggelar jaringan bisnisnya karena dirasa tak memenuhi skala ekonomi. Nah, seiring dengan niatan pemerintah melepas harga BBM sesuai dengan harga pasar, perusahaan-perusahaan minyak asing mulai bergairah lagi berbisnis minyak dan gas di sektor hilir, salah satunya dengan membangun SPBU. Pertamina sendiri mengaku tak terlalu khawatir dengan dibukanya persaingan bebas ini. "Ini yang kami harapkan sejak lama, biar masyarakat bisa membedakan dari sisi harga, produk, dan layanan," kata Muhammad Harun, Kepala Hubungan Media Pertamina. Menurut Harun, dengan adanya liberalisasi, pemerintah tak bisa lagi mematok harga jual dan volume penjualan BBM. Adapun Pertamina hanya pelaksana yang tak punya kebebasan mengelola BBM sebagai ladang bisnis. "Buat apa pangsa pasar besar tapi margin kita kecil atau bahkan enggak ada margin? Lebih baik kita kita punya pangsa pasar 60%-70% tapi punya komposisi margin yang baik," tandas Harun. Menghadapi persaingan bebas ini, Pertamina sudah menyiapkan berbagai langkah antisipasi. Salah satunya, Pertamina mengeluarkan jenis BBM baru yang dinamakan Pertamina Dex untuk mobil diesel yang memenuhi standar emisi Euro II. Selain itu, sudah sejak tahun lalu kontrak kerja sama antara pengelola SPBU dan Pertamina diperbaharui. Seorang pengusaha yang sedang mengurus izin SPBU waktu itu mengeluhkan tambahan syarat dari Pertamina. Salah satunya soal penyerahan lahan. Kalau sebelumnya Pertamina hanya menetapkan penyerahan lahan selama 20 tahun, kini mereka menetapkan penyerahan selama 30 tahun. "Pengusaha harus menyerahkan surat pernyataan bahwa ia bersedia," cetus sumber KONTAN itu. Selain memperpanjang kontrak dengan alasan suplai BBM dari Pertamina akan lebih terjamin, Pertamina juga agresif memperbaharui kerja sama dengan pengelola SPBU swasta. Caranya, dengan pola bagi hasil. Jadi, Pertamina akan membantu renovasi atau pendirian SPBU baru, namun Pertamina memiliki sebagian saham SPBU tersebut. Niatan Pertamina untuk memiliki sebagian saham SPBU ini didasarkan pada fakta bahwa dari sekitar 2.600 SPBU yang BBM-nya dipasok Pertamina, cuma 40-an SPBU yang merupakan milik Pertamina sepenuhnya. Nah, kalau Pertamina tak agresif memiliki sebagian saham di SPBU lain, masuknya pengusaha minyak asing ke sektor hilir bisa membuat para pengusaha SPBU swasta memalingkan wajah dari Pertamina. Di lain pihak, masuknya pom bensin asing sudah membuat pengusaha lokal kebat-kebit. "Dari manajemen, pasti akan jauh lebih baik. Kemudian servis, mereka pasti punya servis yang jauh lebih baik. Ini akan berdampak langsung pada omset penjualan kami," kata Syarif Hidayat, pengusaha SPBU di Cibubur. Walau masuknya SPBU asing menimbulkan pro-kontra, tapi masyarakat jadi memiliki alternatif memilih SPBU yang dirasa paling benar meterannya, BBM-nya tidak dioplos, dan nyaman tempatnya. Jadi, tak ada salahnya kan persaingan sepanjang menguntungkan konsumen? +++++Dex, "Solar" Baru Andalan Pertamina Jangan kira Pertamina malas menjemput pasar otomotif. Apalagi persaingan SPBU bakal makin ketat seiring dengan masuknya SPBU asing. Tak heran Pertamina menyiapkan berbagai langkah antisipasi. Salah satunya, pada Senin, 15 Agustus, perusahaan migas berlambang kuda laut ini meluncurkan BBM jenis baru bernama Pertamina Dex alias Diesel Environment Xtra. "Untuk tahap awal, kami memproduksi sekitar 24 kiloliter," papar Mohammad Harun, Kepala Hubungan Media Pertamina. Dengan keluarnya "solar" jenis baru ini, beberapa mobil diesel baru yang sempat susah masuk pasar Indonesia-lantaran terganjal ketiadaan bahan bakar berstandar emisi Euro II-kini bakal bisa melenggang dengan bebas. Perkara kualitas Dex, itu bisa dilihat dari emisinya. "Ini ada kaitannya dengan Euro II," papar Haryo Puguh, Kepala Laboratorium Kendaraan dan Emisi Kendaraan Bermotor Balai Termodinamika, Motor, dan Propulsi (BTMP) BPPT. Untuk lolos standar Euro II, sebuah kendaraan harus lolos 13 mata uji dari Ditjen Perhubungan Darat. "Itu sudah diatur dalam Kepmen 141/2003," imbuh Haryo. Nah, Pertamina Dex didesain untuk standar emisi Euro II, dan telah lulus dari uji coba tersebut. Pertamina memang sengaja membikin Dex demi memenuhi kebutuhan pasar otomotif akan bahan bakar mesin diesel yang berkualitas. Dengan menambah sedikit investasi, Pertamina menyiapkan kilang Balongan untuk memproduksi "solar" jenis baru ini. "Pasar untuk bahan bakar ini potensial, ATPM segera me-launching mobil diesel terbarunya," jelas Harun. Sayang, Harun masih enggan membuka harga eceran Dex. Yang jelas, menurut Harun, kemampuan bahan bakar ini lebih baik ketimbang Premium maupun Pertamax. Bahan bakar ini sudah diujicobakan pada Toyota Innova diesel untuk rute Merak-Jakarta-Bandung pergi pulang secara terus-menerus hingga 10.000 km. Hasilnya, performa mesin maksimal, knalpot tidak mengeluarkan asap, dan hampir tidak terasa getaran mesin diesel. "Kendaraan dipacu hingga 120 km/jam di ruas jalan yang menanjak, suara mesin tetap halus, tanpa getaran, dan tanpa asap," kata Harun berpromosi. +++++Tak Ada lagi Agen dan Pangkalan Minyak Tanah Di tengah maraknya pemberitaan soal BBM yang terfokus pada kenaikan harga premium, sebenarnya ada satu produk BBM yang sangat sensitif dan menyentuh hajat hidup orang banyak: minyak tanah. Sebagaimana kita ketahui, harga minyak tanah yang dijual eceran di warung-warung dengan harga Rp 1.100-Rp 1.300 seliter itu bukanlah harga sesungguhnya. Harga dari Pertamina sebetulnya cuma Rp 885 seliter. Lantaran rantai distribusi yang panjang, konsumen harus membayar jauh lebih mahal. Nah, tanpa banyak gembar-gembor, Pertamina tengah menyiapkan strategi pemasaran minyak tanah yang baru untuk menekan harga di tingkat konsumen sekaligus mengurangi penyalahgunaan minyak tanah, semisal dijual lagi ke industri atau diselundupkan. "Saat ini akan kami uji cobakan di DKI Jakarta," kata Muhammad Harun, Kepala Hubungan Media Pertamina. Diakui Harun, saat ini memang belum ada persetujuan dari Pemda DKI Jakarta soal penerapan strategi baru pemasaran minyak tanah ini. Yang pasti, strategi baru pemasaran minyak tanah ini memotong mata rantai penjualan minyak tanah yang terlalu panjang. "Dari Pertamina langsung ke kelurahan. Agen dan pangkalan yang ada sekarang kami potong habis," ungkap Harun. Konsep pemasaran minyak tanah yang baru ini juga sekaligus menghapus rumor yang beredar bahwa Pertamina akan mendirikan SPBU-SPBU yang menjual minyak tanah. "Itu dulu kan hanya wacana," tukas Harun. Memang, konsep ini belum matang. Siapa yang bakal menerima pasokan minyak tanah dari Pertamina dan mendistribusikannya, belum selesai digodok. Yang pasti, tutur Harun, yang akan melakukan kontrol adalah aparat pemda. Pihak agen dan pangkalan pun agaknya secara samar-samar sudah mulai mendengar soal perubahan jalur distribusi minyak tanah. "Mau diambil sama DKI, selanjutnya enggak tahu dah," kata Ogi, pemilik pangkalan di daerah Kemandoran. Adapun Pertamina merancang pola baru distribusi minyak tanah ini supaya bisa menekan harga. Dus, subsidi harga minyak tanah bisa lebih mengenai sasaran, bukannya dinikmati pedagang. Bila ada yang membutuhkan minyak tanah untuk keperluan usaha atau industri, mereka wajib membelinya dengan harga pasar tanpa subsidi. +++++Berbagai Pola Kerja Sama SPBU Asing Dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 36/2004 tentang Kegiatan Industri Hilir Minyak dan Gas Bumi, untuk pendistribusian BBM atau ritel BBM ini perusahaan asing yang akan membuka SPBU di Indonesia memiliki beberapa alternatif pola operasional. Yaitu: Company Own, Company Operate (COCO). Sesuai dengan namaya, apabila perusahaan asing mendirikan pom bensin, dia bisa memiliki dan mengoperasikan sendiri SPBU tersebut, tapi mereka hanya boleh berjualan sebanyak 80%, adalah barang dagangan yang dipasok dari Pertamina. Company Own, Dealer Operate (CODO). Perusahaan asing boleh memiliki SPBU tapi yang mengoperasikan harus mitra lokal. Dealer Own, Dealer Operate (DODO). Perusahaan minyak asing cuma memasok BBM, namun SPBU yang menjadi penjualnya 100% dimiliki dan dioperasikan oleh usaha lokal. Selain wajib memilih salah satu pola operasional SPBU, pemerintah juga mewajibkan perusahaan asing mengikuti ketentuan wilayah distribusi niaga. Ketentuan distribusi niaga ini mewajibkan perusahaan asing yang bermain si sektor hilir untuk mendistribusikan BBM di seluruh Indonesia. Konfigurasi wilayah ini terdiri dari daerah atau wilayah yang pasarnya sudah terbuka, dan wilayah yang masih terpencil. Misalnya, perusahaan mendapat hak untuk mendistribusikan BBM di Jawa atau Jakarta, mereka juga bakal diwajibkan untuk mendistribusikan ke daerah terpencil seperti Papua atau Maluku. "Ini untuk prinsip keadilan. Kalau enggak, mereka pasti hanya mau jual di Jabotabek," ujar Tubagus Haryono, Kepala BPH Migas. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> <font face=arial size=-1><a href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h9irbkl/M=362343.6886682.7839641.1493532/D=groups/S=1705001222:TM/Y=YAHOO/EXP=1124129339/A=2894352/R=0/SIG=11fdoufgv/*http://www.globalgiving.com/cb/cidi/tsun.html">Help tsunami villages rebuild at GlobalGiving. The real work starts now</a>.</font> --------------------------------------------------------------------~-> Ingin bergabung ke milis ekonomi-nasional? Kirim email ke [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ekonomi-nasional/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/