ekonomi-nasional  

[ekonomi-nasional] Pamor Ngarso Dalem.

rifky pradana
Tue, 06 Jun 2006 21:21:55 -0700

 “  Pamor Kraton Kasultanan Ngayogyokarto Hadiningrat  “
( 1 of 5 )

Trajumas ndeprok lalu luruh rata tanah, Tamansari pun bengkah menjadi
berbongkah-bongkah. Kereta-kereta kencana mengungsi, terpaksa dievakuasi
oleh para sais dan pekatiknya. Gerbang tempat bersemayamnya jasad Sultan
Abdullah Muhammad Matarani di Imogiri ikutan rubuh. Sementara itu,
gunung Merapi disegaris arah utara deretannya Alun Alun Lor - Tugu -
Monjali, tak juga berhenti terbatuk lalu meruntuhkan geger boyo yang
membuat terbukanya perlindungan lereng selatan yang menghadap ke arah
kota. Nun jauh di selatan, Episentrum gempa, disegaris deretannya Alun
Alun Kidul - Krapyak, masih juga secara ritmik bergetar lirih.

Sebagian kawulo mengeluh dan berpeluh, menggapai-gapai mencari
perlindungan dan pengayoman bagi raga dan jiwa serta batinnya. Beberapa
diantaranya pun mengalami trauma psikis yang cukup parah, terlihat ada
yang mendirikan kusen pintu diatas reruntuhan rumahnya yang sudah tak
berbentuk dan tak berdinding lagi. Mereka memperlakukannya sebagai pintu
untuk masuk dan juga untuk keluar dari bekas tempat tinggalnya itu,
seolah rumahnya itu masih utuh berbentuk. Duh Gusti Alloh, wonten pundi
malih awak mami puniko bade kawulo betho ?. 

Poro kawulo tlatah Mataram ini berharap kepada pengayoman Priyagung
Pengageng Kasultanan untuk menguatkan keyakinan jiwa dan batinnya.
Sayangnya, sudah hampir mencapai dua pasaran hari, Ngarso Dalem dan
Garwo Dalem serta poro Rayi Dalem dan poro Sentono Dalem, belum terlihat
cukup aktif dan belum optimal dalam menyambangi dan menyapa poro
kawulonya di pelosok-pelosok pedusunan yang terkena bencana. 

Hal seperti ini, oleh beberapa kalangan, dikuatirkan lambat laun akan
memudarkan pamor dan wibawa Keraton Kasultanan. Padahal semasa Ngarso
Dalem ingkang kaping Songo, pamor dan wibawa itu begitu mencorong
sekaligus mengayomi yang meneduhkan. Saat Ngarso Dalem ingkang kaping
Songo surut nyuswo, berlaksa-laksa poro kawulo dari seluruh pelosok
tlatah Kasultanan, duduk bersimpuh dipinggir jalan yang membentang
sepanjang Kraton sampai Imogiri, menghaturkan sembah sungkem terakhirnya
bagi lelayu Ngarso Dalem yang ditandu diatas kereta praloyo.  
    
Memang kekuatiran beberapa kalangan itu dapatlah dimaklumi, semata
karena dilandasi besarnya rasa tresno dan perasaan ikut handarbeni. Bagi
poro kawulo, keraton beserta segala perangkatnya merupakan kebanggaan
sekaligus simbol identitas jati diri masyarakat tlatah Kasultanan
Ngayogyokarto Hadiningrat. Namun semua itu tak dapat menepis tanda
adanya kemunduran, serta tak dapat menafikan telah munculnya semburat
kepudaran.

Belum lama berselang, Rayi Dalem telah kasoran logo dalam pemilihan
secara langsung di pilkada Kabupaten Bantul. Sebelumnya, dalam sebuah
musda parpol terbesar di Indonesia, juga terkalahkan sehingga terpaksa
lengser dari kursi kepemimpinan tingkat Propinsi DIY. Padahal posisi ini
hampir merupakan tradisi dipegang oleh kerabat atau sentono Kraton,
bahkan semenjak Ngarso Dalem belum jumeneng noto.   

Hasil pemilihan langsung yang masih cukup menggembirakan adalah sewaktu
Garwo Dalem terpilih sebagai anggota DPDRI pada urutan teratas dari
rangking lima besar. Sayangnya, pelosok dusun didaerah yang
menyumbangkan suara dukungan sangat signifikan, malahan belum sempat
dijenguknya. Termasuk diantaranya, sewaktu Ngarso Dalem hanya sempat
menjenguk selama lima menit saja di dusun terisolir yang berada di
daerah dimana Ki Ageng Giring dahulu bertempat tinggal dan dimakamkan.

Padahal semua itu, termasuk menjenguk poro kawulo yang merupakan
konstituen loyal dan setia merupakan hal yang tak kalah penting dalam
mempertahankan pamor dan wibawa Kraton. Tak kalah penting dibandingkan
dengan ‘memecahkan kendi’ pertanda ‘pecahnya pamor’ ketika ikut memimpin
arak-arakan para Penyanyi Orkes Dangdut Goyang Ngebor dan kaum Pengusung
Budaya Permisifme dalam menolak secara total tanpa reserve terhadap
aturan yang bertujuan membendung merebaknya Pornografi dan Pornoaksi.

Diatas semua itu, yang tak kalah pentingnya juga adalah menjaga dan
memelihara ‘pamor’ kota Yogyakarta sebagai Kota Pelajar. Pudarnya pamor
sebagai Kota Pelajar yang Berbudaya dan Bermoral -dalam arti yang
berkembang justru budaya permisif terhadap Pornografi dan Pornoaksi-
lambat laundimata para orangtua diseluruh pelosok Nusantara akan
berkurang daya tariknya sebagai kota utama tujuan melanjutkan pendidikan
bagi anak-anaknya. Jika itu yang kemudian terjadi, maka kehidupan poro
kawulonya yang relatif merata sejahtera, akan menjadi terancam.  

Akhirul kalam, sekarang saatnya untuk mengerahkan segala daya dan upaya
agar pamor Kraton Kasultanan kembali mencorong sekaligus kembali
mengayomi dalam keteduhan, serta tetap mampu menjadi benteng yang kokoh
dalam menjaga tata nilai dan moral masyarakatnya dari gempuran budaya
permisifme.

Wallahu’alambishawab.
Jakarta, 06 Juni 2006.
*

 “  Mataram, Kembalilah ke Jati Dirimu  “
( 2 of 5 )

Yogya, Sabtu (27/5) pukul 5.53.58, sama dengan New York, 11 September.
New York dengan dua gedung kembar yang merupakan simbol kapitalisme dan
ateisme Amerika Serikat luluh lantak oleh Al Qaeda dengan kaum jihadnya.
Yogya dengan nafsu menggebu menjadi hub, titik simpul kegiatan ekonomi,
budaya, dan dagang juga luluh lantak oleh keperkasaan tokoh imaginer
yang kita hormati, Nyai Loro Kidul !.
 
Kita wajib hormat pada Nyai Loro Kidul bukan karena "sosok", tetapi
karena harus hormat pada seruan nenek moyang. Artinya, jika dengan
pengetahuan dan teknologi seismologis kita tahu soal sabuk api Pasifik,
lempeng benua, dan sesar Sanden-Pulung, nenek moyang kita dengan batin
dan kedalaman hati sudah mengingatkan, tanah Ibu Kota Mataram, persis
pada jalur imajiner kekuasaan Kyai Sapu Jagad yang bermukim di Merapi
dan Kanjeng Nyai Kidul, penjaga lautan. 

Kehilangan Jati Diri. 

Pengertian "mito"logi jangan disepelekan sebagai lebih rendah dari
"tekno"logi. Cara berpikir "mito" sama indah dan benarnya dengan
"tekno". Asal tidak "kongas" atau membusungkan dada dan merasa serba
tahu, kita akan melihat "kedalaman" mitologi dan "ketinggian" teknologi. 

Namun, nestapa sudah terjadi, tepatnya berulang lagi. Ketika Pangeran
Mangkubumi mendirikan takhta Yogya setelah palihan nagari tahun 1755, ia
adalah raja besar yang memiliki watak aristokratis Jawa yang diturunkan
dari moyangnya di awal abad XVII, Sultan Agung. Watak aristokratis ini
lalu memudar menjadi nafsu kewangsaan (dinasti), sekadar meneruskan
tradisi menjadi raja dan mencapai puncaknya di saat ini. 

Sang raja, dalam hal ini Gubernur DI Yogyakarta, seakan tidak berkutik
menyaksikan ribuan rakyatnya tewas dan hancur, mirip kehancuran perang
daripada bencana alam. Berhari-hari rakyat menjerit kesakitan, pedih,
dan putus-asa, sedangkan penguasa sibuk dengan rapat dan rapat, untuk
akhirnya, setelah sepasar, diputuskan: potong lekuk-liku birokrasi. 

Aristokrasi yang telah berubah menjadi birokrasi menjadikan Yogya
kehilangan jati diri. Seakan mabuk dengan gadget, mal, ruko, dan segala
kuil berhala konsumsi lain, hingga universitas perjuangan pun sudah jadi
BHMN, demi kata sopan "komersialisasi" UGM. 

Birokratisme yang buta pada rakyat inilah yang memungkinkan Ambarrukmo
Plaza, misalnya, diizinkan untuk dibangun pengusaha, meski masyarakat
menentang. Betapa tidak? Bangunan itu diletakkan di kawasan warisan
budaya keraton yang sebenarnya harus dijaga dan dihormati. Kalangan
aktivis "Heritage" gusar. Kawasan itu merupakan daerah buangan saluran
air warga sekitar sehingga soil mechanics selalu dipersoalkan. Karena
itu, kaum "Amdal" tak habis mengerti mengapa bangunan bertingkat dan
mewah itu diizinkan berdiri. 

Ditambah lagi, tanah itu (konon) milik pribadi Hamengku Buwono VII
sehingga kerabat sendiri kurang nyaman dengan kuil berhala konsumsi itu. 

Selalu Goyah. 

Ketika gempa tektonik melanda ribuan rumah warga sepanjang sesar
Sanden-Pulung dan memakan 5000-an anaknya sendiri, saya hanya bisa
menangis. Saya sadar penuh, bumi Mataram bukan buatan kita dua abad
silam. Ibu Pertiwi adalah sebuah graben/amblesan yang terbentuk sejak
zaman Miosen, sekitar 5.000.000 tahun. Sebuah cekukan antara Gunung
Kidul dan Bukit Menoreh. Lalu di bawah sesar Kali Opak itu tergaris
lempeng benua yang bertemu di Palung Jawa, Lempeng Australia, dan
Eurasia. Lebih lagi, kota ini ada dalam ring of fire Pasifik yang
membentang jauh sepanjang lautan Teduh. Kita tinggal di sebuah titik
yang selalu goyah. 

AA Navis, penulis dari Minangkabau, meratapi tanah leluhurnya dalam
novel Robohnya Surau Kami. Al Qaeda yang geram dengan AS "mengirim" dua
pesawat komersial untuk merobohkan World Trade Center. Kini Ibu Pertiwi
yang murka dan menghardik putra-putrinya membiarkan lempeng benua itu
bergerak, saling menunjam dan melepaskan keperkasaan energi primer
berkekuatan 5,6 SR. Peringatan itu harap disambut dengan hati bersih.
Sudah saatnya kuil berhala konsumsi di Ngayogyakarta Hadiningrat
dirobohkan demi keselamatan rakyat. Dua kuil kembar, Saphire Square dan
Ambarrukmo Plaza, ditegur sang ratu dengan retakan, robohan, dan
kehancuran. 

Rusaknya dua kuil berhala konsumsi di bumi Mataram adalah ajakan untuk
kaum cacah dari Yogya/Mataram untuk kembali ke jati diri. Lebih dari
5.000 nyawa dipersembahkan kepada dewa nafsu bermodern ala Yogya. Ini
adalah persembahan paling kolosal sepanjang sejarah Mataram, sejak
Pangeran Mangkubumi meletakkan istananya di tempat keraton sekarang ini. 

Mataram yang lupa jati diri adalah nagari yang bergerak tanpa roh dan
mitologi serta dengan limpahan barang konsumsi saja. 

Putra-putri Mataram kalian adalah anak keturunan wong agung ngeksi
gondo, Pangeran Mangkubumi pendiri wangsa kita. Kembalilah ke jati
dirimu, bergerak antara mitologi dan teknologi.

Dikutip dari : “ Mataram, Kembali ke Jati Dirimu “. Emmanuel Subangun. 
Kompas, Rabu, 07 Juni 2006.
*

 “  ADA APA DENGAN YOGYA ?  “
( 3 of 5 )

Berminggu-minggu para kawulo di sebagian tlatah Kasultanan
Ngagyogyokarto Hadiningrat dibuat lelah oleh rasa was-was akibat
peningkatan aktifitas gunung Merapi. Sebuah gunung berapi teraktif di
dunia yang terletak di sebelah utara kota Yogyakarta. Sebagian poro
kawulo prihatin, mBah Marijan salah satunya. Kanjeng Kyai Merapi lagi
punya gawe membangun diri, katanya lirih sembari menenggelamkan diri
dalam mujahadah dan menjalani laku tirakat. Sebagian poro kawulo lainnya
lagi memang tak merasa harus cemas dan tak merasa perlu untuk turut
resah. 

Lava pijar panas yang meleleh dan meluncur cepat menuruni lerengnya jika
dilihat dari alun-alun utara yang merupakan halaman depannya Keraton
Kasultanan, pada malam hari jika langit cerah lagi tak berawan,
merupakan suguhan pemandangan nan indah lagi mentakjubkan. Fenomena alam
berupa Merapi yang lagi ‘ngoweh dan ngeches’ ini merupakan salah satu
bukti dari ayat-Nya yang memperlihatkan keperkasaan dan kebesaran serta
kekuasaannya Gusti Alloh.

Tanpo disopo lan dinyono oleh siapapun juga, pada tanggal 27 Mei 2006,
di hari Sabtu pagi tepat waktu isro’, bala bencana justru datang dari
arah sebaliknya. Nyai Laut Selatan yang terletak di arah sebelah selatan
halaman belakangnya Keraton, tiba-tiba terbangun dan bangkit memusuhi.
Bumi tlatah Mataram tempat berpijak berguncang hebat, dan
bangunan-bangunan selama sekitar semenit menari-nari dan bergoyang serta
selanjutnya rubuh dan rata dengan tanah. Berbilang puluhan ribu hamba
ciptaan-Nya, terkubur dibawah reruntuhan. Sebagian besar diantaranya
meregang nyawa menemui ajalnya, sebagian lagi diantaranya menderita
cedera yang tak ringan.

Sejurus kemudian, sebagian yang lainnya lagi berlarian lintang pukang
berhamburan, berduyun-duyun berebutan menuju ke arah utara. Tengah kota
menjadi semrawut tak beraturan, diserbu ratusan ribu jiwa yang mencari
keselamatan bagi selembar nyawanya. Sejenak mereka tertegun, sekawanan
‘wedhus gembel’ terlihat berderap-derap berbaris menerjang lereng arah
barat daya dan selatan. Puncak kubah Merapi ternyata belum juga berhenti
terbatuk-batuk mengeluarkan lava pijar panas, dan belum juga berhenti
mendengus-dengus menyemburkan gumpalan awan panas. Mendadak sontak
terasa seperti kiamat, tak ada lagi tempat yang aman untuk berpijak,
terasa seperti hari menjelang berakhirnya keberadaan dunia ini.

Berkait dengan peristiwa ‘Geger Yogya’ itu, maka tak dapat hanya dilihat
sebagai sebuah kebetulan semata jika Kyai Merapi dan Nyai Roro Kidul
-yang merupakan simplifikasi dari simbolisasi unsur anasir alam yang
mengapit tlatah Mataram ini- secara berbarengan menjadi tak lagi ramah
dan tak lagi bersahabat. Semua itu tentu mengandung hikmah dan makna.
Sementara itu, alam pun tak berkuasa mandiri, Dia yang menggerakkannya
melalui sunatullah-Nya. Fenomena peristiwa alam pun bukanlah suatu
kebetulan-kebetulan belaka, karena tak akan jatuh selembar daun pun jika
Dia tak menghendakinya. Tak semua berarti ridho-Nya namun semua pasti
karena kehendak dan izin-Nya. Budaya dan alam spiritualitas serta
religiulitas masyarakat Mataram penuh dengan makna simbol, perlambang,
dan sanepo. Semua itu adalah perlambang yang sarat makna dan pesan serta
nasihat dari-Nya.

Bukan kebetulan jika Gedong Trajumas yang merupakan salah satu bangunan
inti yang ada didalam Keraton warisannya Pangeran Mangkubumi ini rubuh.
Sedangkan bangunan lain disekelilingnya tidak rubuh, termasuk bangunan
ringkih milik para kawulo alit yang ngindung dan magersari didalam
lingkungan beteng Keraton. Trajumas ini bukan sembarang bangunan biasa,
bangunan ini merupakan bangunan sakral penuh makna dan simbolitas bagi
Penguasa Keraton. Bukanlah kebetulan jika Merapi - Monumen Jogja Kembali
- Keraton Kasultanan Yogyakarta - Krapyak - Episentrum Gempa Tektonik,
terletak pada lokasi yang segaris. Bukan pula kebetulan jika bangunan
komplek pemandian Tamansari juga rusak sementara bangunan seusia
dengannya yang disekitarnya serta bangunan di komplek pasar Ngasem dan
sekitarnya tetap tegak berdiri.

Bukanlah pula kebetulan jika Kotagede, daerah bekas Alas Mentaok dimana
Raden Mas Danang Sutowijoyo dan Ki Pemanahan serta Ki Juru Mertani mulai
membangun pusat kekuasaanya justru termasuk daerah yang merasakan
guncangan yang keras. Situs komplek Keraton utuh, pun situs pesarean
Hastorenggo utuh, situs petilasan Watu Gatheng juga utuh, namun
pemukiman yang diantara situs-situs itu banyak yang runtuh.
Bangunan-bangunan kokoh disekitar Gadean lawas, termasuk rumah asal
muasalnya keluarga besar Pesik, Tegalgendu, Lor Pasar, Samakan, Kemasan,
rubuh dan beberapa tewas tertimpa reruntuhan tembok tebal. Namun
Giwangan, daerah disekitar komplek terminal baru yang merupakan bekas
komplek lokalisasi pelacuran Sanggrahan justru tidak ikut mengalami
kerusakan. Sementara itu, disebelah selatannya diseberang Ring Road,
sepanjang jalan menuju Imogiri bangunan banyak yang runtuh.

Ini bukan soal gugon tuhon dan bukan soal takhayul serta bukan sekedar
gothak gathuk saja. Perspektif pemahaman spiritualitas Jawa, dalam
kaitannya dengan jagad gedhe dan jagad cilik, secara jelas telah
menempatkan aspek keadaan moralitas masyarakatnya sangat berkait erat
dan akan berpengaruh kepada keadaan alam dan zaman yang akan
melingkupinya. Pujangga besar, Raden Bagus Burhan -nama kecilnya Raden
Ngabehi Ronggowarsito- yang alumni Pondok Pesantren Gebang Tinatar
Ponorogo, dibawah didikan Kyai Imam Besari, pernah memperingatkan akan
datangnya zaman yang kacau balau, bumi gonjang-ganjing, gunung meletus,
banjir bandang dan aneka musibah silih berganti. Dalam salah satu serat
yang ditulisnya, menyebutkan penyebab kegelapan zaman dan kemurkaan
alam, ...maksiat, madat, madon, minum, main...lan  wadon nir wadoniro...

Ilmu modern pun saat ini telah memahami kaitan-kaitan tak kasat mata
yang sepertinya tak berkaitan itu, walau harus dimaklumi, logika manusia
saat ini memang baru mencapai sebatas itu taraf pencapaiannya. Seperti
ulah dan tingkah sekumpulan orang-orang serakah yang membabat habis
rimba belantara di Khatulistiwa yang merupakan paru-paru dunia ternyata
pengaruhnya menyebar meliputi ke semua orang di seluruh pelosok dunia,
termasuk mereka yang tak ikut serakah dan tak ikut menikmati hasil
keserakahannya. Orang-orang yang secara membabi buta menebangi pepohonan
besar di hulu sungai, dampak pengaruh bencananya justru akan menerjang
orang-orang tak berdosa yang berada di hulu dan muara sungai itu.

Berkait dengan kaitan-kaitan yang tak kasat mata dari tingkah laku
sebagian orang yang berpengaruh bagi peri kehidupan dan sosial ekonomi
dari sebagian besar orang yang lainnya lagi, Yogyakarta di masa depan
mempunyai pekerjaan rumah yang tak ringan. Dimasa depan, perjalanan
Kasultanan Ngayogyokarto Hadiningrat janganlah sampai mengulangi catatan
kelamnya sejarah Mataram seperti ketika masa berkuasanya Susuhunan
Amangkurat, setelah sempat mencacat masa keemasan pada eranya Sultan
Agung Hanyakrokusumo. 

Dimasa mendatang, Kasultanan Ngayogyokarto Hadiningrat seyogyanya
mencatat perjalanan sejarahnya dengan tinta emas. Seperti yang pernah
dicatatkan dengan tinta emas oleh Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Sri
Sultan Hamengku Buwono ingkang kaping Songo. Seperti yang pernah
dilakukan oleh Kanjeng Gusti Pangeran Diponegoro. Tokoh besar, bangsawan
Jawa yang sangat religius, putra tertuanya Sampeyan Dalem Ingkang
Sinuhun Sri Sultan Hamengkubuwono ingkang kaping Tigo.

Arah perjalanan sejarahnya Kasultanan Yogyakarta jelas berbeda dengan
rute perjalanan sejarahnya Kasunanan Surakarta, walau silsilahnya
berasal dari tunas akar yang sama, yaitu Panembahan Senopati yang
bersemayam di Kotagede. Ngarso Dalem ingkang kaping Sedoso sebagai
pepunden poro kawulo ing tlatah Kasultanan Ngayogyokarto Hadiningrat
tentu sangat faham betapa keras dan istiqomahnya perjuangan untuk tetap
menegakkan wibawa Keraton yang telah dilakukan oleh Sampeyan Dalem
Ingkang Sinuhun Sri Sultan Hamengku Buwono ingkang kaping Songo.   

Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Sri Sultan Hamengku Buwono ingkang kaping
Songo, pada masa lalu beberapa kali secara sangat brilian telah
meletakkan dasar-dasar penopang untuk pemerataan kesejahteraan bagi poro
kawulonya. Hasilnya sampai hari ini masih dirasakan oleh poro kawulonya,
semoga masih akan terus berlanjut sampai ke masa depan.

Pada zaman pendudukan Jepang, proyek selokan Mataram yang menyatukan
sungai Progo dengan Sungai Opak merupakan langkah strategis yang
brilian. Disamping manfaat langsung berupa jaringan irigasi teknis bagi
lahan pertaniannya. Dampak lain dari proyek padat karya ini yang tak
kalah penting adalah poro kawulo alitnya secara otomatis terhindarkan
dari keharusan menjadi Romusha, poro kawulo alitnya terhindarkan dari
keharusan memasuki ‘neraka’ menjadi pekerja paksa ditengah kancah perang
dunia kedua.

Sesudah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, pada timing yang
tepat secara arif bijaksana Ngarso Dalem bersama Sri Paduka bersepakat
merelakan tlatah Kasultanannya dan daerah swapraja Pakualaman yang
berdaulat untuk secara resmi meleburkan diri dalam kedaulatan negara
baru yang disebut sebagai Republik Indonesia. Ini yang mengakibatkan
status dan posisi serta kedudukan Kasultanan Yogyakarta dan Pakualaman
menjadi sangat jauh berbeda dengan Kasunanan Surakarta dan
Mangkunegaran.

Ini juga yang melahirkan status Istimewa bagi kedaulatan dan kekuasaanya
atas tlatah Kasultanannya. Ini yang membuat secara de facto maupun de
jure menjadikan eksistensi kekuasaan Keratonnya dan kedaulatan tlatah
Kasultanannya tetap tegak dilingkup nasional, dan tetap hidup dihati
keseluruhan poro kawulonya, serta menghindarkan Keratonnya hanya sekedar
sebuah situs pariwisata bak situs peninggalan purbakala saja.      
 
Selanjutnya, disaat yang tepat ditengah situasi keberadaan sarana
akomodasi bagi wisatawan yang masih langka, disertai perhitungan yang
sangat cermat, tak hanya berdasarkan trend yang anut grubyug saja.
Tentunya ini karena dibarengi ketajaman insting dan kematangan wawasan
serta kewaskitaan panggraito seorang Raja Sejati yang Arifbillah. Ngarso
Dalem ingkang kaping Songo, merelakan sebagian tempat dimana pernah
dijadikan keraton bagi mandeg manditonya Sultan Sepuh untuk dijadikan
lokasi bagi pembangunan hotel Ambarukmo yang dibangun dari hasil
pampasan perang. Langkah brilian ini telah menjadi salah satu dasar
penting bagi berkembangnya Yogya sebagai salah satu tujuan wisata nomor
dua di negeri ini.

Selainnya itu, kerelaan Ngarso Dalem ingkang kaping Songo untuk
Keratonnya dipakai sebagai tempat kuliahnya Universitas Gajah Mada,
serta kerelaannya menghibahkan tanah Bulak Sumur untuk dipakai sebagai
lokasi pembangunan kampusnya, telah menjadikan dasar-dasar penting bagi
melejitnya Yogyakarta sebagai Kota Pelajar. Dampaknya sungguh luar
biasa, sampai dengan hari ini mampu menjadi penopang utama kesejahteraan
sosial yang adil dan merata bagi poro kawulonya. Mulai dari poro kawulo
alitnya hingga sampai kepada poro kawulo elitnya.

Anak bangsa dari seluruh pelosok Indonesia, tumplek blek memenuhi bangku
kuliah Perguruan Tinggi, bahkan juga bangku Sekolah Menengah Atas yang
ada di kota Yogya. Tak hanya para pemuka di bisnis pendidikan formal
saja, para pebisnis dibidang pendidikan non formal pun ikut menerima
berkahnya, bimbingan tes salah satu misalnya. Saat ini, Yogya telah
melahirkan salah satu diantara sedikit pewaralaba tingkat nasional yang
sukses di bidang ini. 

Limpahan berkah tak hanya berhenti sampai disitu saja. Rumah-rumah
tinggal poro kawulo alit menjadi bernilai ekonomis, kamar-kamarnya tak
hanya kosong melompong dan berdebu, setiap bulannya mampu menghasilkan
uang dalam jumlah yang tak sedikit. Kamar kos-kosan di gang sempit pun
bukan tak dilirik, karena beragam dan berjenjangnya status sosial dari
pelajar dan mahasiswa pendatang yang datang dari seluruh pelosok negeri. 

Kiriman uang tunai dari berbagai daerah diluar wilayah Yogyakarta,
secara kontinyu setiap bulan mengalir untuk dibelanjakan di Yogyakarta.
Suntikan uang segar terus menerus yang mengalir ke segala sektor,
mengalir secara adil dan merata secara proporsional dari atas sampai
kebawah, termasuk juga ke urusan sandang dan makanan. Tak heran jika
secara proporsional, berkah yang diterima oleh simbok pemilik warung
kecil di gang sempit di tlatah Kasultanan ini pun sama-sama dijejali
para pembeli seperti berkah yang diterima oleh jurangan pemilik toko
eceran sandang pakaian di pusat-pusat perbelanjaannya yang mewah dan
megah.
 
Tak hanya itu, para pedagang buku loak dan buku murah di emperan-emperan
mendapatkan berkah rezeki sebagaimana rezeki yang diterima oleh
toko-toko buku besar lokal seperti Social Agency misalnya, dan toko buku
berjaringan nasional seperti Gramedia umpamanya. Bukan omong kosong jika
kemudian wilayah Yogyakarta ini merupakan salah satu rangking atas dalam
target marketingnya para penerbit buku nasional.  

Ini semua tentu tak dapat dinafikan, berkaitan erat dan merupakan salah
satu diantara sekian banyak hasil tak langsung dari kebrilianan
langkah-langkah strategisnya Ngarso Dalem ingkang kaping Songo pada masa
lalu. Dan, ini merupakan warisan berharga yang harus terus dilestarikan.
Tentunya sungguh merupakan kerugian yang tidak terkira, sekiranya harus
terkikis karena langkah tak strategis yang justru akan memasung gerak
langkahnya untuk terus memelihara bersinarnya pamor Yogyakarta sebagai
Kota Pelajar yang bermoral.  

Pudarnya pamor Kota Pelajar yang bermoral akan berpengaruh secara
signifikan bagi industri pendidikan di kota Yogyakarta. Dan ini akan
berpengaruh besar terhadap tatanan sosial ekonomi Yogyakarta yang secara
mapan telah memberikan berkah yang merata kepada seluruh lapisan
kawulonya. Padahal pada saat yang sama, kesulitan lain telah muncul
didepan mata. Puluhan ribu rumah tinggal serta ribuan kios tempat
berdagang dan ribuan tempat usaha lainnya luluh lantak. Hasil jerih
payahnya selama bertahun-tahun mungkin berpuluh tahun bahkan mungkin
sepanjang hayat hidupnya, hanya karena peristiwa yang hitungan waktunya
tak lebih dari enam puluh sekon, menjelma menjadi hanya setumpuk puing
reruntuhan dan seonggok barang rongsokan. Kini puluhan ribu tunawisma
berkeleleran dan puluhan ribu tunakarya pun bermunculan di seluruh
pelosok tlatahnya Kasultanan Ngagyogyokarto Hadiningrat.

Kini, Yogyakarta terhimpit dua buah kehilangan yang menyulitkan akibat
dua jenis gempa yang walau terlihat berbeda namun dampak yang
ditimbulkannya akan bermuara pada hal yang sama, yaitu terancam
menurunnya aktifitas ekonomi yang menghidupi poro kawulonya yang akan
berakibat penurunan tingkat kesejahteraan poro kawulonya.

Disatu sisi, kehilangan harta benda maupun prasarana dan sarana produksi
akibat ‘gempa bencana alam’ akan mengakibatkan penurunan aktifitas
ekonomi, selanjutnya hal itu akan menurunkan tingkat kesejahteraan poro
kawulonya. Kesulitan ini bukannya mudah teratasi. Namun dengan
tersedianya dukungan dana bantuan pembiayaan untuk membangunkan kembali
rumah tinggal dan prasarana serta sarana produksi seperti sedikala, maka
peluang pemulihan menjadi besar untuk tercapai dengan cepat.

Disisi lain, kehilangan batas-batas tata nilai dan moral ketimuran
masyarakatnya akibat gempuran ‘gempa bencana budaya’ yang liberal dan
persimif, akan dapat mengakibatkan pudarnya pamor Yogya sebagai Kota
Pelajar yang bermoral. Ini dapat berdampak kepada turunnya animo para
orangtua untuk mengirimkan anaknya sekolah ke kota Yogya. Selanjutnya
penurunan animo itu akan menurunkan jumlah suplai uang yang masuk ke
Yogyakarta. Kemudian ini akan berdampak lanjut kepada penurunan tingkat
aktifitas ekonomi masyarakatnya. Giliran akhirnya akan menurunkan
tingkat kesejahteraan poro kawulonya. Padahal modalitas pada sektor
pendidikan ini merupakan sesuatu yang telah ada digenggaman sejak lama,
dan telah menunjukkan kontribusinya yang besar bagi kesejahteraan sosial
ekonomi masyarakatnya. Sungguh sangat disayangkan jika kemudian memudar
dan menjadi hilang. Dan, jika gempa bencana budaya akhirnya berhasil
menghilangkan pamor dari modalitas pada sektor ini, maka akan
menimbulkan kesulitan yang berlipat kali. Sebab mengembalikan dan
memulihkan ‘pamor’-nya tentu tak akan ‘semudah’ membangun kembali
bangunan-bangunan yang runtuh karena gempa bencana alam.

Ini pekerjaan rumah yang tak mudah bagi poro kawulo elit dan poro kawulo
alit tlatah Kasultanan Ngayogyokarto Hadiningrat. Namun, jika legitimasi
Wahyu Keraton digunakan dengan perhitungan yang sangat cermat -tak hanya
berdasarkan trend yang anut grubyug saja- serta disertai ketajaman
insting dan kematangan wawasan serta kewaskitaan panggraito seorang Raja
Sejati yang Arifbillah, tentulah akan membuahkan kemaslahatan besar bagi
poro kawulonya dalam mempertahankan pamor kota Yogya sebagai kota Budaya
dan kota Wisata serta kota Pelajar. 

Legitimasi Wahyu Kedaton yang merupakan landasan legitimasi jumeneng
noto, seyogyanya tak digunakan secara serampangan dan sembarangan serta
sembrono. Tidaklah arif bijaksana jika penempatannya justru telah
membuka peluang yang akan mengakibatkan Kemben ala Thanktop yang pamer
pusar dan Rok Mini yang pamer pangkal paha menjadi semarak bersliweran
di sepanjang Malioboro dan jalan Urip Sumoharjo. Tak seyogyanya pula
seandainya penempatannya justru hanya dipakai dan dimanfaatkan oleh
orang lain sebagai tameng untuk menjustifikasi bedoyo srimpi ala
penyanyi dangdut yang goyang erotis ngebornya sampai seperti orang
kesurupan. 

Legitimasi wahyu kedaton yang garis silsilahnya bersambung secara turun
temurun dari Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarani -gelar lainnya
dari Sultan Agung Hanyakrakusumo yang serat kekancingan sebagai
pengukuhannya secara resmi diberikan oleh Kekhalifahan Islam- terlalu
agung dan terlalu mulia serta terlalu sakral, bahkan terlalu tak
sepandan, jika hanya dipakai untuk mendukung gerakannya sekumpulan wong
wadon kang nir wadoniro.

Akhirulkalam, peristiwa 27 Mei 2006 yang menakutkan itu kini telah
berlalu lebih dari sepasar, kedepan akan menjadi sebuah kenangan yang
tak terlupakan, serta akan menjadi warisan dongeng menjelang tidur
malam. Dibawah naungan bentangan plastik dan tenda terpal, kini poro
kawulo alit yang tak berdosa duduk tercenung dibalut kedinginan. Jalan
kehidupan dimasa depan seakan terhalang oleh tirai guyuran derasnya air
hujan dan tabir kepekatan gelapnya malam serta belitan rasa melilitnya
perut yang lapar. ...duh Gusti Alloh ingkang murbeng dumadi, kawulo
hanyekseni bilih mboten wonten Gusti Alloh ingkang pantes dipun sembah
kejawi namung Panjenenganipun, duh Gusti Alloh SWT, kawulo inggih
hanyekseni bilih Nabi Muhammad SAW meniko utusanipun Gusti
Alloh...sedoyo lelampahan puniko nyektos sampun kersanipun Gusti Alloh,
poro kawulo namun sak dermo nglampahi...duh Gusti Alloh ingkang makaryo
jagad, kawulo caos sembah lan bektos ing ngarsonipun Gusti Alloh,
sinambi ngaturaken dhongo pinyuwunan dumateng ngarsonipun Gusti
Alloh...mugi Gusti Alloh kepareng paring pangupenten dumateng poro sanak
sederek kawulo ingkang sampun tinimbalan...mugi Gusti Alloh kepareng
peparing kekiyatan dumateng poro sanak sederek kawulo ingkang dipun
thilar...mugi Gusti Alloh kepareng maringi kesabaran dumateng poro sanak
sederek kawulo ingkang nandhang sisah lan loro lopo...Amin Yaa Robbal
‘Alamin. 

Wallahu’alambishawab
Yogyakarta, 03 Juni 2006.
*   

 “  Pudarnya, Pamor Kota Pelajar  “
( 4 of 5 )

Bagaimana jika suatu saat `pudar' pamor kota Yogyakarta sebagai kota
pelajar dan pendidikan ?.

Berbeda karakteristiknya dengan Solo yang ekonomi masyarakatnya ditopang
oleh industri dan perdagangan, sebagaian besar sebagai buruh dan
sebagian kecil lainnya sebagai tauke juragan pabrik. Yogyakarta, ekonomi
masyarakatnya ditopang oleh banyaknya mahasiswa dan pelajar pendatang
yang menuntut ilmu. Pariwisata juga memberikan andilnya, terutama home
industry kerajinan. Berbeda dengan Bali, kedatangan turis mancanegara
memberikan kontribusi, namun tak sebesar kedua hal tersebut.

Sesungguhnya, banyaknya mahasiswa pendatang dan pelajar pendatanglah
yang telah memberikan kontribusi besar terhadap ekonomi kotanya.
Suntikan `uang segar' dari luar wilayahnya yang mengalir secara kontinyu
setiap bulannya kepada ekonomi masyarakat Yogyakarta, membuat ekonomi
kotanya menjadi terhidupi. Dampaknya, kesenjangan sosial masyarakat
Yogyakarta lebih tipis intervalnya, kerawanan konflik sosialnya juga
relatif kecil, jika dibandingkan kota tetangganya yaitu Solo.

Label kota pelajar ini memberikan kontribusi sedemikian besar, dan
mekanisasi menetes kebawahnya berjalan baik serta merata ke segala
lapisan masyarakatnya. Mulai dari simbok-simbok penjual makanan, penjual
makanan lesehan, penjual makanan angkringan, para pensiunan penyedia
jasa kos-kosan, sopir-sopir angkutan `colt campus', para pengusaha
bisnis pendidikan formal segala jenjang dari SMA sampai Program
Doktoral, para pengusaha bisnis pendidikan informal segala jenjang dari
bimbingan tes SPMB sampai bahasa inggris, para pengusaha retailer
fashion seperti matahari store dan lainnya, para retailer kendaraan roda
dua dan perusahaan leasingnya, para retailer buku cetakan, dan lain
sebagainya.

Namun sayangnya, dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir ini,
sesungguhnya mulai banyak kalangan yang mengkhawatirkan nilai lebih kota
Pelajar yang memberikan sumbangan kepada ekonomi masyarakatnya itu
terancam akan memudar. Pemakaian narkoba serta peri kehidupan yang mulai
permisif, isunya merebak dan mencoreng pamor kota Pelajar itu.

Bagaimanapun juga kedua isu itu lambat laun tentu akan membuat para
orangtua meninjau kembali rencananya melepas buah hatinya untuk menuntut
ilmu dan hidup `mandiri' di di kota ini. Siapa orangtua yang tak miris
melihat insan-insan muda berbeda jenis kelamin di kota ini telah begitu
bebas masuk dan ngendon beberapa saat didalam kamar kosnya ?.

Seliberal dan semodern apapun orangtua Indonesia pada umumnya, tentunya
masih belum rela anak remajanya hidup serumah tanpa nikah. Sepermisif
apapun orangtua Indonesia pada umumnya, tentunya masih belum rela anak
gadisnya  mempraktekkan ideologi kebebasan memakai tubuhnya sendiri
dengan melakukan seks pra nikah.

Sesekuler apapun orangtua Indonesia pada umumnya, tentunya masih belum
rela anak gadisnya mempraktekkan ideology pengasurtamaan gender dengan
melakukan aborsi. Sebarat apapun orangtua Indonesia pada umumnya,
tentunya masih belum rela anak lelaki mudanya mempraktekkan ideology
kebebasan seksual dengan kemana saja mengantungi kondom dalam saku
celananya.

Kumpul kebo, berhubungan seks di kamar kos, serta hal-hal serupa yang
lainnya, telah menjadi semacam fakta. Sekalipun pemerintah DIY sekuat
tenaga mencoba menepis berita-berita miring itu. Bagaimana dapat ditepis
habis jika para orangtua di rantau mendapati fakta kehidupan anaknya
demikian itu ?.

Namun, akan ada hambatan `moral' yang akan melingkupi gerak langkah
pemerintah DIY dalam meredam laju `liberalisasi' norma kehidupan
masyarakatnya. Bagaimana akan mampu meredamnya ketika elite masyarakat
dan pemerintahnya justru terlihat mempunyai ideologi yang relatif cukup
`permisif' dalam soal yang harus diperangi aparat pemerintah dan
masyarakatnya ?.

Fakta memperlihatkan `kemben' ala modern sudah jamak dipakai oleh para
anak muda kota ini. Memang, cara berfikir masyarakat telah cukup
`modern' untuk tak serta merta mengkorelasikan gaya pamer bagian tubuh
vitalnya dengan gaya seks bebas. Namun, bagaimana jika fakta kehidupan
telah dialami sendiri oleh para orangtua gadis dan pemuda yang
mempraktekkan gaya hidup seks bebas ?. Masihkah akan tetap menafikan
korelasi itu dengan cara fikir seperti para juru kampanye permisifme
terhadap pornografi dan pornoaksi ?.

Kemben modern yang memperlihatkan pusar dan belahan dada ala thaktop
inilah yang diperjuangkan untuk dilestarikan agar tetap hidup di
keseharian masyarakat Yogyakarta ?.

Jika bencana dan kematian yang merenggut nyawa dan harta para kawulo
alit yang tak berdosa ini tak juga mampu menjadi nasihat dari-Nya,
bagaimana jika kelak justru para kawulo alit akan menerima dampaknya
secara sosial ekonomi kehidupannya sebagai akibat lanjut dari pamor Kota
Pelajar dengan budaya permisifnya ?.

Seharusnya para Pepunden Kawulo dan para Pengageng Priayi Yogyakarta
Hadiningrat lebih arif dan bijaksana dalam menyikapi perjuangan
pelestarian budaya kemben di masyarakatnya. Toh, hari ini busana kemben
yang asli hanya marak di kalangan abdi dalem dilingkungan dalam benteng
kraton dan kemben pakaian peranakan yang asli tinggal berlaku untuk
penziarah makam Imogiri serta acara budaya lainnya. Sementara
dikeseharian, justru kemben modern ala thank top dan rok yang
memperlihatkan celana dalamnya yang marak di mal-mal Yogyakarta seperti
di Malioboro Mall dan Galeria.

Pamor inikah yang ingin diraih oleh Kota Pelajar ?.

Wallahu'alambishawab.
Yogyakarta, 31 Mei 2006.
*

Meskipun telah diguncang gempa besar yang meluluh-lantakkan sebagian
besar wilayah Bantul, sebagian wilayah Gunung Kidul, sebagian kecil kota
Yogya dan Kulon Progo. Namun aktivitas bisnis esek-esek di jalan Pasar
Kembang Yogyakarta tampaknya tak terpengaruh, tetap berjalan terus
seperti biasa. Mereka seakan tidak perduli, meskipun didekat tempat
mereka bertransaksi terdapat Masjid yang dipenuhi pengungsi gempa.

“ Disini aman mas, yang rusak itu Malioboro “, kata mereka. Memang,
hotel melati dan rumah tempat esek-esek di daerah Sarkem tak tersentuh
kerusakan dan selamat dari gempa. Hanya hotel Mendut saja yang terlihat
sedikit mengalami keretakan kecil pada dindingnya.

Begitu pantauan detikcom pada hari Rabu tanggal 31 Mei 2006 disepanjang
jalan Pasar Kembang Yogyakarta.

Dikutip dari : ‘ Digoyang Gempa, Bisnis Esek-esek Yogya Jalan Terus ‘,
Detikcom, 31/05/2006, 03:18 WIB.
*

Di pagi itu, di sebuah kos yang berada di sekitar jalan Solo, Sleman
Yogyakarta. Usai melipat sarung dan Sajadah, Anton mengambil ponselnya,
kemudian mengajak Rudi untuk nonton video porno di ponselnya itu.

Kedua mahasiswa salah satu universitas swasta itu  selanjutnya larut
dalam keasyikan menonton video porno di ponsel. Mata mereka tak berkedip
Saking asyik dan seriusnya, mereka tak tersadarkan bahwa gempa
mengguncang.

"Nonton sih nonton, tapi jangan goyang-goyang dong", ujar Rudi. "Siapa
yang goyang-goyang, orang goyang sendiri", jawab Anton. Sesaat kedua
saling berpandangan dan spontan berteriak "Gempa, gempa, tolong", jerit
mereka.

Sejurus kemudian, genteng berjatuhan, dinding bangunan kos mereka
retak-retak. Namun Anton berhasil menyelamatkan handphone-nya. "Selamat,
selamat handphoneku selamat", kata Anton bersyukur.

Demikian, Afifa, mahasiswi psikologi Universitas Gajah Mada, sahabat
kedua mahasiswa itu, menuturkannya kepada detikcom pada hari Rabu
tanggal 31 mei 2006.

Dikutip dari : ` Cerita Gempa : Asyik Nonton Video Porno, Gempa
Menggoyang ',
Detikcom, 31/05/2006, 08:05 WIB.
*

 “  Ngarso Dalem, Cukupkah Lima Menit Saja ?  “
( 5 of 5 )

Sejarah awal muasal berdirinya kerajaan Mataram tak dapat dipisahkan
dari keberadaan Wahyu Keprabon yang berhubungan erat dengan Kelapa Degan
miliknya Ki Ageng Giring yang bertempat tinggal di daerah Gunung Seribu.

Akan tetapi sayang seribu satu sayang, pasca bencana Gempa Bumi yang
meluluh lantakkan tlatah Mataram, pewaris tahta kursi singgasana
kerajaan Mataram pada sekarang ini, Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Sri
Sultan Hamengku Buwono ingkang kaping Sedoso, untuk poro kawulo yang
bertempat tinggal di wilayahnya keturunan Ki Ageng Giring itu hanya
diberikannya waktu lima menit saja. 

Kunjungan langka yang hanya sekejap saja ini tentulah telah mengecewakan
hati mereka. Harapan segunung dibenak poro kawulo yang sedari pagi
menantikan rawuhnya Priyagung Pepunden yang sangat dihormatinya, pupus
begitu saja. Padahal sesungguhnya ditengah situasi dimana kepiluan dan
kesedihan mendera mereka akibat musibah yang telah mengambil nyawa sanak
saudaranya serta memusnahkan harta bendanya, kehadiran Pepundennya yang
menunjukkan empati dan simpati disertai uluran bantuan untuk meringankan
kesulitan yang sedang dialaminya, merupakan sesuatu yang sangat berharga
bagi poro kawulo.

Poro kawulo kemudian terpaksa mencoba memaklumi. Walau didalam hati
mereka mungkin telah berkecamuk seribu satu macam tanya. Sedemikian
sangat sibuknyakah kegiatan Pepundennya itu, sehingga penderitaan dan
kepiluan serta loro loponya poro kawulo itu hanya bernilai lima menit
saja ?.

Apalagi saat itu tak terlihat Garwo Dalem ikut mendampingi Rajanya yang
Gung Binatoro itu. Padahal poro kawulo diwilayah ini, disepanjang
perjalanan sejarah kerajaan Mataram, telah menunjukkan bukti nyata
berupa kesetiaan dan dharma bhakti serta labuh labet yang sungguh luar
biasa. 

Poro kawulo di wilayah ini tak hanya terbatas memberikannya semasa Ki
Ageng Giring masih sugeng saja. Kemarin lalu, pada waktu pelaksanaan
pemilihan anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPDRI),
poro kawulo di wilyah ini juga telah memberikan kontribusi dukungan
suara yang amat sangat signifikan. Tak hanya itu, Rayi Dalem pun
mendapatkan dukungan suara yang amat sangat signifikan dari poro kawulo
daerah ini untuk melenggang ke Senayan, duduk di kursi Dewan Perwakilan
Rakyat Republik Indonesia (DPRRI). 

Beberapa kalangan kemudian mempertanyakan. Apakah ini karena para kawulo
didaerahnya Ki Ageng Giring yang miskin dan terbelakang serta setiap
tahunnya terkenal selalu kekurangan air bersih ini, tidak mengenakan
busana Kemben yang sedang diusung sebagai ikon oleh Kerabat terdekatnya
Ngarso Dalem bersama Penyanyi Orkes Dangdut Goyang Ngebor dan kaum
Pengusung Budaya Permisifme, untuk dalih menolak secara tegas dan
menolak secara total tanpa reserve terhadap aturan yang bertujuan
membendung merebaknya Pornografi dan Pornoaksi ?.

Wallahu’alambishawab.
*

Ratusan warga di desa terisolasi Sampang, Gedangsari, Gunung Kidul,
menyesalkan kedatangan Sultan Hamengku Buwono X yang hanya lima menit.

Pada kunjungan Minggu (4/6) kemarin itu warga gagal mengungkapkan keluh
kesah mereka karena Sultan hanya mampir ke rumah seorang warga yang
rusak, bersalaman dengan segelintir warga, lalu meninggalkan desa itu. “
Baru datang kok tiba-tiba sudah pergi lagi. Padahal, waktu helikopternya
turun kami sudah berusaha mendekat. Ternyata Sultan hanya lewat pakai
mobil,. Bersalaman pun kami tak dapat “, tutur Asih (45), warga dusun
Kayen, Sampang. Kedatangan Sultan semula direncanakan berlangsung pukul
13.00. Namun, karena kedatangannya terlambat, salah seorang pejabat
daerah mengatakan Sultan sudah harus kembali lagi ke Yogyakarta dengan
menggunakan helikopter sehingga meniadakan dialog dengan masyarakat
setempat.

Asih mengatakan, dirinya dan banyak warga sangat ingin mengadukan
persoalan yang mereka hadapi pasca gempa bumi 27 Mei 2006. Musibah ini,
menurut dia sangat sulit diterima warga yang umumnya miskin. “ Untuk
bangun rumah lagi kami ini tak punya uang Mbak, makanya tadinya saya
ingin mengadukan masalah ini kepada Sultan. Kami ingin minta tolong
bagaimana caranya supaya rumah kami bisa dibangun kembali “, ujarnya.
Sugirah (40), warga setempat lainnya, juga menyatakan kekecewaannya
tentang kehadiran Sultan yang begitu singkat. “ Saya hanya bisa melihat
dari jauh. Bersalaman, apalagi berdialog saja tak bisa “, tuturnya.

Dikutip dari : ` Korban Gempa : Warga Kecewa Sultan Berkunjung Hanya 5
Menit ',
Kompas, Senin, 05/06/2006.
*





-- 
http://www.fastmail.fm - Email service worth paying for. Try it for free



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Everything you need is one click away.  Make Yahoo! your home page now.
http://us.click.yahoo.com/AHchtC/4FxNAA/yQLSAA/GEEolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Ingin bergabung ke milis ekonomi-nasional?
Kirim email ke [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ekonomi-nasional/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


  • [ekonomi-nasional] Pamor Ngarso Dalem. rifky pradana