eskol  

[Eskol-Net]- Artikel Lepas: Kebebasan Beribadat atau Kebebasan Pendirian Gedung Ibadat?

Eskol-Net
Fri, 23 Sep 2005 03:57:32 -0700

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
    Layanan Informasi Aktual
         eskol@mitra.net.id
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Artikel Lepas: Jumat, 23 September 2005

 

Kebebasan Beribadat atau Kebebasan Pendirian Gedung Ibadat?

Dr. Jeff Hammond

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Di tengah-tengah diskusi tentang SKB 1/69 tentang perizinan pendirian rumah ibadat perlu kita tanya apa soal izin pembangunan gedung gereja adalah masalah utama.

Di Indonesia memang harus ada peraturan untuk pembangunan bukan saja untuk pembangunan gedung ibadat. Indonesia adalah rawan banjir, gempa bumi dan bencana lainnya dan tentu harus ada aturan-aturan pembangunan demi kesejahteraan semua masyarakat. Tentu ini harus menyangkut lokasi, kekuatatan dan keindahan gedung demi kelanjutan pembangunan dan kemajuan bangsa Indonesia.

Namun, di dalam perdebatan yang kini terjadi soal IMB menjadi pertentangan dengan UUD ’45 yang menjamin kebebasan beragama, bukan kebebasan membangun gedung-gedung sembarangan. Kebebasan beragama menuntut agar setiap penduduk Indonesia memiliki kebebasan beribadat sesuai dengan aturan agamanya.

Dalam agama Hindu dan Budha setiap rumah menjadi mezbah penyembahan atau puri untuk sesembahannya. Dalam agama Islam, agar memenuhi kewajiban berdoa lima kali sehari diperlukan kebebasan berdoa di rumah, di musholla, di masjid dan lokasi-lokasinya ada di mana-mana, di tiap mal, bandara, perkantoran, sekolah, markas aparat dst dan hal itu wajar-wajar saja.

Hak yang sama juga diklaim oleh umat Kristiani. Beribadat di mana pun juga adalah bagian integral iman Kristiani dan adalah praktek Gereja sejak lahirnya pada tahun 30M pada waktu Yesus disalibkan dan bangkit dan Roh Kudus dicurahkan pada Hari Pentakosta.

Selama 300 tahun pertama dalam Gereja mula-mula ibadat dilakukan di dalam rumah-rumah pribadi, sekolah-sekolah, tempat-tempat yang disewa dan jarang sekali dalam gedung yang dapat disebut “Gereja”. Selama 300 tahun itu Gereja belum diakui oleh penguasa saat itu, yaitu Kerajaan Romawi sehingga ibadat umat Kristiani lahir di dalam konsep Gereja Rumah bukan gedung terpisah sebagai gedung “Gereja”. Sejak waktu itu dan sampai masa kini, ini tetap merupakan bagian dasar ibadat Kristiani.

 

Pengajaran Sang Juruselamat tentang Peribadatan

Yesus telah mengajarkan murid-murid-Nya hal-hal penting tentang peribadatan yang dikehendaki Allah Bapa:

  1. Beribadat tidak dibatasi pada lokasi atau gedung

       Seorang ibu yang dikenal sebagai ‘perempuan Samaria’ telah mengemukakan pandangan bahwa orang Yahudi punya pusat penyembahan di Bait Suci di Yerusalem sedangkan orang Samaria di gunung (Yoh 4:19-24). Yesus menjawabnya dengan berkata bahwa penyembahan kepada Tuhan tidak dibatasi lokasi, bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem.... Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.”

Ucapan Yesus ini merupakan pandangan revolusioner dan radikal bagi agama Yahudi yang telah mengagungkan konsep bahwa ibadat harus di dalam gedung, yaitu Bait Suci.

  1. Beribadat boleh terjadi di mana saja dengan jumlah yang beribadat yang minimnya hanya dua orang saja

      Yesus mengajarkan konsep ibadat bahwa “di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka,” Mat 18:20.

Konsep yang diajarkan Yesus ini adalah dasar persekutuan orang-orang Kristen dalam peribadatannya. Ibadat tidak dibatasi oleh jumlah, misalnya minim 40 kepala keluarga, tetapi adalah sangat fleksibel dengan dasar dua atau tiga orang saja dan Yesus akan ada di tengah-tengahnya. Ibadat tidak dibatasi gedung sebab boleh dilakukan di mana pun juga dan ibadat Kristiani boleh terjadi di mana hanya dua atau tiga orang berkumpul bersama-sama.

 

Praktek Para Rasul sebagai Dasar Doktrin Peribadatan dalam Gereja Mula-mula dan Praktek Ibadah dalam Sejarah Gereja

Murid-murid Yesus dari awal lahirnya umat Kristiani pasca penyaliban, kebangkitan dan kenaikan Yesus dan pencurahan Roh Kudus pada tahun 30M telah memiliki fokus dan pola pelayanan dan peribadatan yang sangat jelas. Pola itu sudah menjadi pola Gereja selama 1975 tahun sejarah Gereja dan tetap merupakan pola ibadat dasar umat Kristiani.

  1. Kebaktian Perdana Gereja Mula-mula – tahun 30M

      Di rumah Yesus mengadakan Perjamuan Malam di Bukit Sion (Luk 22:7-13), juga adalah rumah pertemuan murid-murid Yesus setelah penyalibannya (Yoh 20:19-31). Rumah inilah yang menjadi rumah ibadat mereka pasca kebangkitan dan kenaikan Yesus (Kis 1:6-15) dan pada Hari Pentakosta saat pencurahan Roh Kudus dan lahirnya Gereja (Kis 2:1-4).

  1. Setelah Gereja lahir Para Rasul mengatur Ibadat di Rumah-rumah

      Umat Kristiani pada waktu itu “selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa,” Kis 2:42 dan “dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir ... sambil memuji Allah,” Kis 2:46-47. Bait Allah adalah tempat ibadat agama Yahudi dan umat Kristiani pada mulanya merasa diri sebagai penggenapan agama Yahudi sebab Mesias (Kristus) yang dinubuatkan itu telah datang tetapi umat Kristiani ditolak umat Yahudi karena Kristus ditolaknya.

  1. Rasul Petrus beribadat di rumah Kornelius

      Awalnya, umat Kristiani hanya terdiri dari orang-orang Yahudi tetapi di kota Kaisarea Injil Kristus juga mulai diterima secara luas antara bangsa-bangsa, khususnya orang Romawi melalui seorang perwira pasukan Italia yang namanya Kornelius, (Kis 10:1).

      Di rumah Kornelius itu dalam ibadat yang dipimpin Rasul Petrus telah terjadi awal pencurahan Roh Kudus atas bangsa-bangsa non-Yahudi (Kis 10-11).

  1. Awal ibadat umat Kristiani di kota Filipi terjadi di rumah-rumah.

      Penginjilan pertama di Filipi ada di tempat sembahyang orang Yahudi lalu Paulus pindah ke rumah Ibu Lidia seorang pedagang dan rumahnya menjadi tempat persekutuan umat Kristiani di Filipi (Kis 16:14-15, 40). Paulus juga mengadakan ibadat di rumah kepala penjara Filipi yang dibaptis bersama “seisi rumahnya [yang] telah menjadi percaya kepada Allah,” Kis 16:29-34.

  1. Ibadat di Efesus dalam Sekolah dan rumah-rumah

      Seperti kebiasaan Paulus pada waktu tiba di sebuah kota dia selalu berusaha untuk meyakinkan umat Yahudi tentang kedatangan Mesias. Bila ditolak dia mencari tempat lain. Hal ini terjadi di Efesus di mana Paulus menyewa Ruang Kuliah Tiranus. Tiap hari umat Kristiani berkumpul untuk beribadat, berdoa dan melatih mereka dalam kebenaran Firman Tuhan.

      Pada waktu Paulus meninggalkan Efesus dia mengumpulkan para penatua jemaat dan berkata kepada mereka, “Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di muka umum [mungkin di Ruang Kuliah Titanus] maupun dalam perkumpulan-perkumpulan di rumah kamu,” Kis 20:20.

      Jadi, di Efesus kita melihat dengan jelas bahwa umat Kristiani memiliki pola ibadat yang terdiri dari ibadat umum di gedung yang disewa dan ibadat dengan pengumpulan orang di rumah-rumah.

  1. Ibadat Umum di salah satu rumah pribadi di Troas

      Umat Yahudi telah mengadakan ibadat mereka pada hari Sabat (Sabtu) di Rumah Sembahyang Yahudi tetapi umat Kristiani telah menjadi mengadakan Ibadat Umum pada hari Minggu untuk merayakan kebangkitan Yesus yang terjadi pada hari Minggu. Maka, di Troas mereka mengadakan kebaktian “pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti,” Kis 20:7.

  1. Pelayanan Paulus di Roma dalam rumah kontrakan

      “Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri itu; ia menerima semua orang yang datang kepadanya. Dengan terus terang dan tanpa rintangan apa-apa ia memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus,” Kis 28:30-31. Sepanjang Kisah Para Rasul, yaitu masa yang sekitar 35 tahun lamanya, adalah masa awal sejarah Gereja dan sepanjang masa itu pola ibadat adalah sama – rumah-rumah dan tempat-tempat kontrakan. Pada waktu itu, umat Kristiani belum menggunakan apa yang masa kini disebut “gedung Gereja”.

8.   Pola ibadat di kota Korintus

      Pada waktu Paulus mengirim salam dari jemaat-jemaat di Asia Kecil kepada jemaat di Korintus ternyata Akwila dan Priskila, dua warga Roma telah aktif melayani di kota itu dan membantu membimbing Apolos (Kis 18:18-28). Paulus menulis, “Salam kepadamu dari Jemaat-jemaat di Asia Kecil, Akwila, Priskila dan Jemaat di rumah mereka,” 1Kor 16:19. Sebagaimana di tempat lain, peribadatan dan pengumpulan umat Kristiani terjadi di dalam rumah-rumah orang percaya.

  1. Pola ibadat umat Kristiani di kota Roma

      Pada waktu Rasul Paulus menulis surat kepada Sidang Jemaat Roma ternyata pola ibadat tetap sama. Menurut catatan sejarah ada ibadat umum di rumah Priskila dan Akwila, sebagaimana dulu waktu mereka di Korintus. Mereka adalah suami-isteri yang memiliki komplek rumah besar dan pada waktu Paulus mengirimkan salam pribadi kepadanya dia menambah, “Salam juga kepada jemaat di rumah mereka,” Rom 16:5. Sudah lama Akwila dan Priskila menjadi kawan sekerja Paulus dalam pemberitaan Injil. Selain rumah mereka kita dapat membaca dalam Roma 16 tentang adanya banyak rumah peribadatan di kota itu yang disalami Paulus.

 

Kesimpulan

Kalau izin dan kebebasan beribadat di rumah-rumah, di mal-mal, sekolah-sekolah, di kantor-kantor dll ini ditolak maka ini melanggar kebebasan beragama dan kebebasan beribadat yang dijamin UUD ’45.

Penolakan prinsip dasar ini dalam berdirinya bangsa dan negara Republik Indonesia atau kelalaian pemerintah dan aparat keamanan dalam menjamin kebebasan tersebut, atau lebih parah lagi, kalau mereka membiarkan kaum radikal bertindak sewenangnya dalam penganiayaan terhadap umat Kristiani dengan penutupan tempat-tempat peribadatannya maka hal itu dapat dinilai tindakan pemerintah yang dapat dianggap pelanggaran HAM dan intervensi yang tidak wajar dalam penentuan doktrin dasar agama Kristen.

 

*************************************************************************************************
Satu tangan tak kuasa menjebol 'penjara ketidakadilan'.
Dua tangan tak mampu merobohkannya.
Tapi bila satu dan dua dan tiga dan seratus dan seribu tangan bersatu,
kita akan berkata, "Kami mampu!"
 
"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
*************************************************************************************************
Redaksi Eskol-Net menerima informasi/tulisan/artikel yang relevan.
Setiap informasi/tulisan/artikel yang masuk akan diseleksi dan di edit seperlunya.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan masukan harap menghubungi
Redaksi Eskol-Net <eskol@mitra.net.id>
*************************************************************************************************
  • [Eskol-Net]- Artikel Lepas: Kebebasan Beribadat atau Kebebasan Pendirian Gedung Ibadat? Eskol-Net