Ijinkan aku menambah kasusnya:
Sebenarnya tidak jelas bagiku apa yang dimaksud oleh teman-2 dgn teori
geosentris mereka itu, yaitu meletakkan planet bumi sebagai pusat alam
semesta sedangkan benda-2 lainnya bergerak mengelilinginya. Apakah
geosentris yg dimaksud di sini identik dengan pandangan astronomy kuno?
Kalo benar demikian, berarti titik pusat massa alam semesta ini ada
disekitar jejari bumi atau bahkan berada di sekitar pusat bumi.
Akibatnya massa bumi bukanlah sebesar
5,98 X 10^24 kg, tetapi mendekati massa alam semesta. Dengan massa bumi
yg maha luar biasa besar ini dan jejari bumi yang hanya sebesar 6,38 X
10^6 meter, planet kita ini (bumi) adalah sebuah black hole dengan
gravitasi permukaan yg maha besar, sehingga cahaya pun tidak sanggup
keluar dari permukaan bumi. Akibatnya bumi adalah planet gelap dan
tidak bisa dilihat dari luar angkasa.
Deskripsi di atas memang tidak mengeliminir hukum-hukum fiisika seperti
hukum Kepler dan hukum Gravitasi Newton (berbanding terbalik dgn jarak
pangkat dua), tetapi ya itu tadi, bumi haruslah sebuah black hole
supaya hukum Kepler dan Newton tetap berlaku.
Salam hangat,
Awam
--- In fisika_indonesia@yahoogroups.com,
Ma'rufin Sudibyo <[EMAIL PROTECTED].> wrote:
>
Kasus 1 :
Asumsikan jarak Bumi - Matahari tetap 150 juta km dan orbit Matahari
mengelilingi Bumi berbentuk lingkaran.
Anggap sifat2 Matahari yang lain (jari2, massa, luminositas) tetap.
Terapkan hukum Kepler 3, kita dapatkan periode rotasi Bumi sama sekali
tidak berpengaruh terhadap sifat2 orbit Matahari, sehingga kita tetap
bisa menggunakan definisi 1 hari = 24 jam.
Karena massa Bumi = 5,98 . 10^24 kg maka diperoleh periode edar
Matahari - atau definisi 1 tahun Bumi - adalah sebesar 18,274 milyar
detik alias 211.000 hari ! Jika jumlah hari dalam setahun sebanyak itu,
maka
seharusnya kita di Indonesia akan mengalami musim kemarau sepanjang
> 100 ribu hari.
Jumlah hari sebanyak ini juga sangat berbeda jauh dengan hasil
observasi penyair dan astronom besar Omar Khayyam dan al-Khazini (abad
6 Hijriyyah / 12 TU) di observatorium Nizamiah (Baghdad) pada masa
daulah
Abbasiyah, yang berhasil menetapkan panjang 1 tahun syamsiyah
(Matahari) = 365 hari dan panjang 1 tahun qomariyah (Bulan) = 354 hari,
dengan ketelitian yang hanya berbeda 6,5 detik dibanding hasil
perhitungan
Paus Gregorius 3 abad kemudian (yang menjadi dasar pembaharuan kalender
Julian menjadi Gregorian).
------cut-------cut------cut--