fisika_indonesia  

[FISIKA] Membangun perpustakaan

Moko Darjatmoko
Sat, 26 Aug 2006 12:00:10 -0700

Tabik,

Seminggu belakangan ini aku getol nulis serial tentang "lumpur lapindo" -- 
terutama dalam kaitannya dengan pencemaran lingkungan. Serial itu kukirim 
kemana-mana (ke milis-milis yang aku langgani) tetapi rasanya kok ada yang 
kurang begitu ... waktu ngedit setting di yahoogroups baru aku sadari ternyata 
aku ini masih nyanthol di milis ini ([EMAIL PROTECTED]) tetapi parkir 
(setting=nomail) sekitar 6 tahun yang lalu (jamannya masih egroups), karena 
waktu itu kewalahan dengan volume email (jaman masih pakai dial-up modem :-(

Baru saja membuka [EMAIL PROTECTED], kelihatan ada satu tayangan yang menarik 
dan sangat INTELLIGENT [sebagai selingan -- posting tentang lumpur boleh nunggu 
sebentar] yang cuplikannya aku kutipkan dibawah ini [maap ya subjectnya 
kuganti]:

*****
Sarono, wong Sleman nulis:
Ternyata sulit yaa... cari sumbangan buku-buku. Apa memang di negeri kita ini
tidak banyak orang yang peduli pada anak-anak yang pengetahuannya terbatas hanya
di sekolahan karena orang tuanya nggak mampu membelikan buku untuk menambah
pengetahuan? bahkan banyak anak-anak ini yang tidak sekolah.....

henri nurcahyo urun saran:
begini, soal permintaan sumbangan buku buat perpustakaan ini memang sudah
teramat sangat sering sekali. pertanyaannya, kalau kita memang hendak membangun
perpustakaan, mengapa harus berpikir soal buku untuk kali pertama? apalah
artinya buku tanpa pembaca yang jelas? apa artinya ribuan buku kalau tak ada
(sedikit) yang baca? saran saya, cobalah mendata PEMBACA bukan buku. Mendata
calon pembaca atau member sebuah perpustakaan itu saya kira lebih strategis
ketimbang mencari buku lebih dulu. kalau sudah ada semacam kelompok pembaca, nah
biar mereka sendiri yang berunding untuk mencari buku untuk koleksi
perpustakaan. dengan demikian, proses pengadaannya bottom up, bukan top down.
bayangkan kalau satu orang pembaca mampu mencari lima buku saja, kalikan dengan
jumlah anggota kelompok baca tersebut. atau, bukan tidak mungkin masing-masing
anggota akan menyumbangkan (baca: menitipkan) untuk koleksi perpustakaan.
*****

Sejalan dengan yang pendapat Henri, yang paling penting dalam mbangun library 
itu adalah "readership" -- kontak antara buku dan pembaca. Makin besar "kontak" 
ini (artinya BUKU yang diBACA), makin tinggi index readership-nya, makin tinggi 
manfaat upaya ini. Singkatnya, ada buku nggak ada yang mbaca namanya mubazir, 
ada pembaca (orang ingin baca) tetapi nggak ada buku ya bikin frustrasi aja. 
Mana yang musti duluan, kelihatan seperti problem "chicken-and-egg" walau 
sebetulnya ya tidak musti begitu. Keduanya bisa --dan mustinya-- berkembang 
bebarengan.

Di Amerika, urusan perpustakan ini sudah menjadi rutin. Public library bisa 
dikatakan sudah menjadi "institusi" yang permanen. Public library (PL) bisa 
diakses gratis oleh setiap penduduk dari setiap komunitas besar kecil (city, 
township), bahkan di kota kecil dengan penduduk yang cuma beberapa gelintirpun 
ada PLnya. Tetapi sebelum itu, jauh sebelum itu, apa institusi PL itu ya ada 
begitu saja? bagaimana asal mulanya?

Lebih dari 25 tahun aku memakai, mempelajari, ngobok-obok yang namanya PL ini 
... pertanyaan diatas sering menggoda. Untuk memuaskan rasa ingintahu tersebut 
aku kemudian "menggali" sejarah PL lokal di kotaku, juga beberapa PL yang 
"terkenal" di kota lain. Ternyata, dulu-dulunya semuanya ini juga berasal dari 
satu permulaan yang sederhana, ide dari satu atau beberapa orang. Ide kecil 
dari kebutuhan membaca dan sharing pengetahuan -- beli satu buku dibaca 
rame-rame -- yang berarti secara ekonomi murah-meriah.

Dulu-dulunya ceritanya orang yang berminat baca ini pada ngumpul, ketemu 
seminggu atau sebulan sekali, masing-masing bawa satu atau beberapa buku, 
tukar-menukar di pertemuan, bawa lagi ke pertemuan berikutnya ... dst. Supaya 
ada "darah segar" (buku sudah habis dibaca setiap orang) lalu ada yang usul 
"yuk urunan" buat beli buku baru. Anggota klub baca bertambah besar, bukunya 
tambah banyak, sampai diperlukan satu ruang atau gangunan khusus untuk menaruh 
buku-buku ini, and voila ... jadilah satu library. Kemudian UU dibikin untuk 
mengalokasikan dana (dari tax) untuk mengoperasikan dan menambah koleksi 
library.

PL mulai bermunculan di setiap komunitas, terutama dengan insentive dari 
filantropis Andrew Carnegie, yang dari koceknya sendiri menyumbang komunitas di 
mana saja yang mau mendirikan library, dengan syarat mereka mau menyediakan 
dana untuk isi dan operasinya (didukung oleh UU di komunitas lokal). Lebih dari 
2.500 library sumbangan Carnegie ini telah dibangun antara 1883 dan 1929 
(sebagian besar di Amerika, Great Britain and Ireland, lalu Canada, Australia, 
New Zealand, the Caribbean, and Fiji).

[Selingan trivia: Dalam buku "The Tribes and the States" William J. Sidis 
mengklaim bahwa PL itu adalah "penemuan Amerika" dengan merujuk fakta historis 
pada PL yang pertamakali didirikan di Boston, Massachusetts pada tahun 1636. 
Tentu saja banyak yang "argue" dengan klaimnya Sidis ini. Karakter "public" nya 
bisa jadi yang pertama, tetapi instiui library itu sendiri sudah ada sejak 
jaman dulu kala. Akar peradaban Barat sendiri (dari Yunani) tersimpan dalam 
library purba. Contoh yang terkenal misalnya library di Alexandria, yang 
mulanya adalah bagian dari Museion (the temple of the muses). Sayang sekali 
Alexandria Library ini hancur karena perang sekitar tahun 400 dan sebagian 
besar text Yunani itu musnah.]

Kembali ke soal "sumbang-menyumbang" yang mengawali topik ini, aku dulu juga 
suka ikut ngumpulin buku, ngirim ke tanah air (biasanya level universitas) ... 
tetapi rasa-rasanya kok nggak pernah merasa ada impact-nya. Mungkin karena 
nggak ada 'feedback' saja, tetapi dugaanku lebih condong ke tidak terjadinya 
"readership" yang diinginkan. Banyak faktor yang menjadi hambatan, kultur 
membaca yang rendah, soal penguasaan bahasa (asing), kaualitas dan kecocokan 
materi/subjek, kemudahan dan kenyamanan akses ... dan lain-lain yang kalau 
ditulis bisa setengah meter daftarnya.

Karena itulah aku sendiri sudah "pensiun" ngumpulin buku dengan cara dan tujuan 
seperti ini. Mubazir! Tetapi ini tidak berarti aku berhenti membaca (aku baca 
rata-rata 2 buku sehari) dan ljuga tidak berhenti mengumpulkan buku. Dalam 
setahun belakangan ini saja aku telah mengumpulkan lebih dari 2000 buku. Ini 
koleksi first-rate, setiap buku dipilih dengan seksama, mencakup segala bidang 
pengetahuan (non-fiction) ... kira-kira setara dengan koleksi kolektip dari 100 
profesor dalam segala bidang ilmu, cukup untuk mendukung satu college kecil.

Aktivitasku ngumpulin buku ini tidak mengandalkan bukan sumbangan lho [meskipun 
kalau ada yang bermurah hati aku nggak pernah nolak ;-]. Life is too short for 
that waiting game, kalau harus menunggu sumbangan yang tidak kunjung datang. 
Bisa jadi aku keburu modiar (atau kesamber avian-flu yang jadi pandemik), jadi 
aku pakai ilmu "tuwek" saja ... tuku-tuku ndiwek [beli dengan duit sendiri]. I 
spend all my money on books, skipping lunch if necessary --atau bawa nasi 
timbel dari rumah-- lumayan setiap hari ngirit $5-7an yang bisa buat beli buku. 
 Ini semua adalah bagian dari riset pribadi yang dilatarbelakangi oleh 
cita-cita masa kecil dulu: bikin perpustakaan sendiri [cerita "risetnya agak 
panjang", mungkin lain kali saja disambung].

Tabik,

Moko/


===============================================================
**  Arsip          : http://members.tripod.com/~fisika/ 
**  Ingin Berhenti : silahkan mengirim email kosong ke : 
                     <[EMAIL PROTECTED]> 
===============================================================
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/fisika_indonesia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



  • [FISIKA] Membangun perpustakaan Moko Darjatmoko