fisika_indonesia  

[FISIKA] Re:Pendaratan di bulan, benarkah ?

yyoorrggaa
Wed, 12 Nov 2008 01:44:42 -0800

Oooo gitu ya. terima kasih banyak untuk info ttg geologi bulan.

Pa ma'rufin, saya pernah dengar bahwa penelitian tentang geologi 
bulan juga telah mengungkapkan bahwa bulan pernah terbelah dua. 
apakah hal ini valid?

regards,
Yorga

--- In fisika_indonesia@yahoogroups.com, Ma'rufin Sudibyo 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Dalam bincang2 tentang pendaratan manusia di Bulan, sering kita 
terjebak pada "percaya nggak percaya" soal pendaratan itu, tanpa 
mencoba menoleh lebih jauh tentang sumbangan ilmiah dari peristiwa 
tersebut. 
> 
> Mari kita tinjau dua saja diantaranya. Saya mengutipnya dari 
publikasi American Geophysical Union 1974 dan bulletin Icarus 168 
(2004). Yang pertama itu himpunan geofisikawan yang prestisius, 
sementara yang kedua bulletin ilmiah yang tak kalah prestisiusnya.
> 
> Pertama, tentang interior Bulan. Mayoritas pemahaman struktur 
internal Bulan datang dari data-data kegempaan Bulan (moonquake) 
yang direkam seismometer-seismometer yang dipasang oleh misi Apollo 
11 - 17 (kecuali Apollo 13), yang berfungsi hingga 1977 - 1983 
ketika instrumen itu dimatikan karena pasokan listriknya telah 
menyusut. Misalnya saja, antara 1972 - 1977 tercatat 38 kali gempa 
Bulan sangat dangkal dengan magnitude hingga 5,5 skala Richter, yang 
skala guncangannya di Bumi kita sudah melebihi dahsyatnya Gempa 
Yogya. Ada empat jenis gempa Bulan : gempa sangat dalam (hiposentrum 
> 700 km, disebabkan oleh gaya pasang surut dalam sistem Bumi-
Bulan), gempa tumbukan meteorit, gempa termal (hiposentrum ~ 60 km, 
disebabkan oleh pemuaian kerak Bulan oleh sinar Matahari setelah 2 
minggu menjalani kondisi malam) dan gempa sangat dangkal 
(hiposentrum 20 - 30 km, disebabkan oleh pemerosotan struktur tepi 
kawah muda). 
> 
> Dari data kegempaan ini, yang berdasarkan spektrum gelombang 
primer (P) yang longitudinal/kompresional dan gelombang sekunder (S) 
yang transversal, diketahui struktur internal Bulan terbagi ke dalam 
tiga lapisan : kerak (tebal rata-rata 60 km), selubung/mantel (tebal 
rata-rata 1.530 km, dari kedalaman 60 km hingga 1.590 km) dan inti 
(diameter 350 km). 
> 
> Ada yang unik dari kerak Bulan, dimana pada wajah Bulan yang dekat 
Bumi (Earthside) secara rata-rata 12 km lebih tipis ketimbang kerak 
sisi jauh (farside). Ini membuat pusat massa Bulan dan pusat 
geometrisnya jadi tak berimpit, yakni berselisih 1,8 km, sesuatu 
yang tidak dijumpai di Bumi dan planet lainnya. Mengapa demikian? 
Ini terkait dengan evolusinya.
> 
> Selubung terdiri dari 3 lapisan : selubung atas, tengah dan bawah. 
Kini kerak Bulan, selubung atas dan selubung tengah berada pada fase 
padat, sementara selubung bawah (mulai kedalaman 1.000 km) dan inti 
fasenya setengah cair. Tebalnya bagian padat ini membuat transfer 
panas dari interior Bulan ke permukaan terjadi secara konduksi, 
sehingga magma dari selubung Bulan tidak sanggup bermigrasi ke 
permukaan baik secara konveksi maupun adveksi. Bandingkan misalnya 
dengan Bumi, yang bagian padatnya hanya ada di kerak (dengan 
ketebalan rata-rata 40 km), dialasi selubung yang setengah cair. Ini 
membuat transfer panas ke kerak Bumi berlangsung secara konveksi dan 
adveksi, dimana terjadi sirkulasi dalam selubung dan itulah yang 
menggerakkan lempeng-lempeng tektonik. 
> 
> Mungkinkah data struktur interior Bulan didapat tanpa harus 
meletakkan seismometer di permukaan? Secara teknis sangat sulit, dan 
kalopun bisa hanyalah parsial. Clementine misalnya, pesawat 
antariksa yang diorbitkan ke Bulan pada 1999, bisa mendeteksi inti 
Bulan lewat sifat magnetik Bulan (yang sangat lemah) yang ditangkap 
magnetometer boom-nya yang supersensitif, namun tidak untuk struktur 
keseluruhan. 
> 
> Yang kedua, dinamika jarak Bumi-Bulan. Pemahaman ini berasal dari 
data-data retroreflektor, yakni cermin khusus yang sengaja dipasang 
di permukaan Bulan dalam misi Apollo 11 - 15 (kecuali Apollo 13) dan 
dirancang sedemikian rupa sehingga jika dikenai seberkas cahaya maka 
cahaya itu akan dipantulkan kembali ke sumbernya. Dengan menggunakan 
Laser, jarak Bumi-Bulan bisa diketahui dengan sangat teliti. Pada 
dekade 1970-an, ketidakpastian jarak Bumi-Bulan dengan 
retroreflektor 'hanya' 15 cm, namun di dekade ini telah jauh lebih 
akurat dengan ketidakpastian hanya 1 - 2 mm saja, sehingga bahkan 
cukup memadai untuk menguji prinsip ekivalensi yang menjadi batu 
bata dasar relativitas Einstein.
> 
> Dari sini akhirnya diketahui bahwa sumbu mayor orbit Bulan selalu 
bertambah besar sebanyak 3,6 cm/tahun. Ini terkait dengan gaya 
pasang surut dalam sistem Bumi-Bulan, dimana implikasi perubahan itu 
membuat periode rotasi Bumi menjadi sedikit melambat, sementara 
Bulan semakin menjauh. Bulan akan terus menjauh dari Bumi sedikit 
demi sedikit hingga sampai di region dimana gaya pasang surut sistem 
Bulan-Matahari lebih dominan dan pada saat itu Bulan akan lebih 
dikontrol oleh gravitasi Matahari. 
> 
> Jika diekstrapolasikan mundur ke belakang, mudah ditebak bahwa 
Bulan pernah bergabung jadi satu dengan Bumi. Pemisahan (fission) 
Bumi - Bulan diperkirakan terjadi pada masa awal tata surya ketika 
proto-Bumi dihantam benda langit seukuran Mars, yang membuat 
sebagian selubung Bumi terlepas ke angkasa dan terkondensasi sendiri 
hingga membentuk Bulan. Ini konsisten dengan data densitas rata-rata 
Bulan (yang besarnya 3,35 g/cc atau sama dengan densitas selubung 
Bumi) dan keberadaan mineral ilmenit (FeTiO3) di batuan Bulan yang 
10 kali lipat lebih tinggi dari batuan Bumi, sementara konsentrasi 
ilmenit setinggi itu di Bumi hanya ditemukan pada selubung 
(berdasarkan data seismik). Kesimpulan ini juga ditunjang rekaman 
fosil stromatolit di Bumi dari zaman Devon (400 juta tahun silam), 
yang jelas menunjukkan bahwa setahun Bumi saat itu terdiri dari 400 
hari (bandingkan dengan 365 hari di masa sekarang). 
> 
> Mungkinkah menentukan pertambahan jarak 3,6 cm/tahun ini tanpa 
meletakkan retroreflektor di Bulan? Amat sangat sulit, untuk tidak 
mengatakan tidak mungkin. Dengan gelombang radar jelas tidak 
mungkin, karena ketidakpastiannya cukup besar (dalam orde beberapa 
ratus hingga beberapa km). Sementara menggunakan satelit, misalnya, 
kita harus memperhitungkan efek relativitas umum akibat pelengkungan 
kurvatur ruang-waktu di dekat Bumi dan juga di dekat Bulan, yang 
membuat deteksi posisi satelit bisa bergeser beberapa km dari titik 
yang sebenarnya. 
> 
> Dari dua hal itu saja, bisa dilihat bahwa misi Apollo ke Bulan 
membuat pengetahuan kita tentang Bulan menjadi berlipat ganda secara 
eksponensial. 
> 
> Saya percaya Wernher von Braun, Farouk el-Baz dan orang-orang 
pinter di balik misi Apollo sejatinya takkan mempersoalkan skeptisme 
dan hiruk pikuk tentang benar tidaknya pendaratan itu. Sebab ini 
bukan wilayah "percaya nggak percaya", namun lebih pada bagaimana 
mengkajinya, mengkritisinya dan sekaligus memaparkan antitesisnya 
(kalo ada) dalam metodologi yang bisa dipercaya. Sebab pendaratan 
itu sebuah peristiwa ilmiah, bukan dogma. Dan sejauh ini pihak2 yang 
menganggap pendaratan di Bulan sebagai hoax gagal untuk menjelaskan 
(secara ilmiah pula) bagaimana pengetahuan kita tentang satelit Bumi 
itu menjadi berlipat ganda pasca dekade 1960-an. Terlebih data2 dari 
misi Apollo tetap menunjukkan konsistensinya jika dibandingkan 
dengan misi2 antariksa yang lebih kemudian, seperti Lunar Prospector 
1996, Clementine 1999, Magellan 1989 dan Cassini 1997 (meski dua 
yang terakhir tadi sebenarnya hanya memanfaatkan gravitasi Bulan 
untuk pergi ke planet lain). 
> 
> Salam,
> 
> 
> Ma'rufin
> 
> 
> 
> 
> ________________________________
> From: Asis Pattisahusiwa <[EMAIL PROTECTED]>
> To: fisika_indonesia@yahoogroups.com
> Sent: Tuesday, November 11, 2008 4:05:05 AM
> Subject: Re: [FISIKA] Re: Pendaratan di bulan, benarkah ?
> 
> 
> sebelumnya saya minta maaf kalo ada kata-kata saya yang kasar. 
namun, sebaiknya kalo kita bergelut di suatu bidang atau apapun 
namanya, ada baiknya kita mengetahui seluk beluk bidang itu termasuk 
tata kramanya semampu kita. walaupun sedikit yang penting ada 
daripada tidak sama sekali.
> 
> 
> saya sebenarnya penasaran, apa sebenarnya tujuan kita menjelajahi 
bulan? apa hanya untuk mengeksplorasi bulan? kalo hanya untuk itu, 
saya fikir sudah cukup dengan hasil jelajah pertama oleh Apollo 11.
> 
> 
> -- 
> Asis Pattisahusiwa
> 
> Jurusan Fisika, F. MIPA, Universitas Pattimura - Ambon
>



------------------------------------

===============================================================
**  Arsip          : http://members.tripod.com/~fisika/ 
**  Ingin Berhenti : silahkan mengirim email kosong ke : 
                     <[EMAIL PROTECTED]> 
===============================================================
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/fisika_indonesia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/fisika_indonesia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [EMAIL PROTECTED] 
    [EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/