fisika_indonesia  

[FISIKA] OOT : HAARP, Aurora dan Gempa --> Re: Alat Penyebab Gempa di Dunia dgn tujuan Politis

Ma'rufin Sudibyo
Thu, 27 Nov 2008 19:03:23 -0800

Mari bayangkan kita berdiri dalam jarak 10 m dari sebuah meja yang diatasnya 
terdapat segelas air minum. Tak ada media apapun yang menghubungkan kita dengan 
meja tersebut kecuali udara. Bisakah kita mengocok isi gelas tersebut tanpa 
menyentuhnya? Bisa, jika kita berfikir dalam paradigma kunyuk melempar buah ala 
Wiro Sableng. Namun itu sangat sulit diterima secara nalar bukan ? Sama juga 
dengan hubungan antara gempa dan aktivitas HAARP. Didalamnya banyak informasi 
sumir dan lebih parah lagi, kemudian dicampuradukkan sehingga sulit dipisahkan 
antara asumsi dan fakta. Sama jugalah dengan cerita Bom Bali I dan 
mikronuklir/SADM.

HAARP alias High-frequency Active Auroral Program memang salah satu proyek 
Pentagon, hasil kerjasama US Air Force, US Navy, DARPA (Defense Advanced 
Research Project Agency) dan Univ. of Alaska. Berdiri pada 1993, proyek ini 
menempati sisi barat Taman Nasional Wrangell-Saint Elias di Gakona, Alaska, 
dengan tujuan mengetahui, menyimulasikan dan mengontrol proses ionosferik yang 
barangkali saja bisa digunakan untuk meningkatkan kemampuan telekomunikasi dan 
surveilans. HAARP terdiri dari 180 antenna yang meradiasikan 3,981 megawatt ERP 
(total effective radiated power). Fasilitas seperti HAARP tidak hanya dibangun 
AS saja. Eropa juga memilikinya, dengan ERP 1 gigawatt yang berpangkalan di 
Tromso, Norwegia. Demikian pula Russia dengan fasilitas sejenis di Vasilsurk, 
yang sanggup menghasilkan 190 megawatt ERP. Dengan berpatokan pada ERP-nya 
saja, kita bisa lihat HAARP adalah yang terkecil. Seluruh fasilitas ini berada 
di lingkar kutub utara (Arktik).

Intensitas gelombang elektromagnetik high-frequency yang dipancarkan HAARP ke 
ionosfer mencapai 3 mikrowatt/cm persegi. Sebagai pembanding, intensitas 
radiasi elektromagnetik dari Matahari (dalam semua spektrum panjang gelombang) 
yang sampai ke permukaan Bumi mencapai 0,15 watt/cm persegi atau 50 ribu kali 
lebih besar. Dan marilah kita berandai-andai sedikit : bisakah pancaran sinar 
Matahari memicu gempa tektonik? Tidak bukan? Dan lantas, bisakah sinyal HAARP 
yang puluhan ribu kali lebih lemah ketimbang sinar Matahari itu memicu gempa? 

Kontroversi HAARP sebagai senjata geofisika telah muncul sejak September 1995 
lewat buku Angel's Don't Play This HAARP: Advances in Tesla Technology yang 
ditulis Nick Begich, Jr. Sebelumnya konttroversi HAARP lebih pada senjata 
elektronik strategis terbaru dalam kerangka Strategic Defence Initiative (SDI) 
alias Star Wars model Ronald Reagan. Pada Agustus 2002, Vladimir Putin di depan 
komite pertahanan dan hubungan internasional Duma (parlemen Rusia) memang 
menyinggung HAARP sebagai "..the U.S. is creating new integral geophysical 
weapons that may influence the near-Earth medium with high-frequency radio 
waves. The significance of this qualitative leap could be compared to the 
transition from cold steel to firearms, or from conventional weapons to nuclear 
weapons. This new type of weapons differs from previous types in that the 
near-Earth medium becomes at once an object of direct influence and its 
component..", namun pernyataan ini hanyalah reaksi atas
 sikap ugal-ugalan Bush yang menarik diri dari Anti-Ballistic Missile Treaty 
1972 (alias Mutual Destructive Treaty) yang ditandatangani Nixon dan Brezhnev 
dan menggelar National Missile Defense (sistem pertahanan rudal nasional) serta 
Theatre Missile Defense (sistem pertahanan rudal mandala) sebagai mutasi 
program SDI yang sebelumnya telah dibekukan Clinton. Putin sendiri inkonsisten 
dengan kata-katanya karena Russia ternyata juga memiliki fasilitas serupa HAARP 
(yakni Sura Ionospheric Heating Facility) di Vasilsurk yang bahkan lebih 
powerfull ketimbang HAARP. 

Kita bisa membandingkan HAARP atau instalasi sejenisnya dengan proses dinamika 
alami di ionosfer sendiri dalam bentuk kemunculan aurora atau cahaya kutub. 
Sebab prosesnya sama. Namun intensitas energi aurora ratusan hingga ribuan kali 
lebih kuat ketimbang HAARP. Dan jika ada hubungan antara dinamika ionosfer 
dengan gempa, maka seharusnya zona kutub utara dan selatan Bumi menjadi tempat 
aktivitas seismik teraktif, karena di sinilah aurora selalu muncul. Namun 
kenyataannya justru malah Jepang, Turki dan Indonesia yang menjadi kawasan 
seismik paling aktif. Demikian juga, jika ada hubungan aurora dengan gempa, ia 
juga gagal menjelaskan bagaimana gempa terdahsyat justru meletup di lepas 
pantai Chile pada 22 Mei 1960 (magnitude Mw 9,6). 

Jangankan HAARP ataupun aurora, ledakan nuklir sekalipun ternyata juga tak 
sanggup memicu gempa tektonik. Eksperimen detonasi nuklir bawah tanah 
terdahsyat yang pernah dilakukan, yakni Cannikin (5 megaton TNT) pada 6 
November 1971 di bawah Pulau Amchitka di gugusan Kepulauan Aleut, menghasilkan 
getaran setara gempa ber-body magnitude 6,8 skala Richter, namun tak sanggup 
meningkatkan frekuensi kegempaan di sepanjang zona subduksi Aleut, apalagi 
memicu gempa yang lebih besar. Padahal zona subduksi ini dikenal kritis karena 
secara geologis berada dalam kondisi fully locked dan sudah waktunya mengalami 
relaksasi tektonis yang menghasilkan gempa, terlebih segmen sebelah 
menyebelahnya baru saja terpatahkan pada 1964 dan memproduksi gempa besar 
(megathrust) Good Friday/Alaska 1964.

Gempa Aceh, atau teknisnya disebut gempa megathrust Sumatra-Andaman 2004, 
diproduksi dari pematahan dua segmen bersebelahan dalam zona subduksi Sumatra, 
yakni segmen Andaman dan Simeulue, yang keseluruhan panjangnya 1.500 km. 
Sebagian kecil segmen Andaman pernah terpatahkan pada 1941 dengan menghasilkan 
gempa dan tsunami lokal. Sementara sebagian kecil sisi selatan segmen Simeulue 
juga pernah terpatahkan dalam gempa 2002. Namun secara umum seluruh segmen 
belum pernah terpatahkan hingga akhir 2004, mengingat umurnya yang tua (segmen 
Andaman berusia 90 juta tahun, segmen Simeulue 70 juta tahun) sehingga dianggap 
lebih stabil. Meski begitu, akibat rumitnya tektonik di sini dimana kedua 
segmen menjadi bagian dari mikrolempeng Burma, membuat kedua segmen tersubduksi 
dengan lempeng India dengan sifat subduksi sangat miring, dimana vektor lempeng 
India yang bergerak ke utara hampir sejajar terhadap zona subduksinya. Zona 
subduksinya juga unik karena melengkung
 mirip tapal kuda alias konkaf ke timur. Oleh interaksi macam ini, sebagian 
kecil vektor lempeng India memang bisa dimanifestasikan ke sistem patahan besar 
Andaman Barat, namun sebagian besar lainnya ditahan oleh segmen Andaman dan 
Simeulue. Inilah yang terus menerus menumpuk dari waktu ke waktu hingga 
akhirnya melampaui ambang batas daya tahan batuan setempat dan meletupkan 
megathrust dengan magnitude Mw 9,2. Penumpukan tekanan macam ini bukan hanya 
monopoli kedua segmen tadi, namun juga dialami hampir seluruh zona subduksi di 
Indonesia, misalnya segmen Mentawai (panjang 900 km) atau bahkan juga segmen 
subduksi Jawa bagian tengah (panjang 300 km) di lepas pantai selatan Pulau 
Jawa. 

Dengan luas segmen Simeulue dan Andaman yang terpatahkan sebesar 300.000 km 
persegi dan total slip 10 m (rata-rata, karena di beberapa tempat mencapai 20 
meter), maka gempa ini melepaskan energi sebesar 950 megaton TNT atau 47.500 
kali lipat lebih dahsyat ketimbang bom Hiroshima. Jika kita meyakini bahwa 
gempa ini bisa dipicu oleh aktivitas aurora/HAARP maupun ledakan nuklir, maka 
energi minimum aurora/HAARP maupun ledakan nuklir yang dibutuhkan untuk memicu 
gempa sebesar itu adalah 95 juta megaton TNT. Sebagai pembanding, jika seluruh 
hululedak nuklir yang ada di Bumi ini dikumpulkan dan diledakkan bersama-sama, 
energinya paling banter 'hanya' 20.000 megaton TNT. Di tata surya ini, energi 
sebesar 95 juta megaton TNT tersebut hanya bisa dibangkitkan oleh satu sumber : 
tumbukan asteroid/komet. Mengapa butuh energi teramat besar? karena efisiensi 
pengubahan energi ledakan menjadi energi gempa itu sangat rendah, hanya 0,001 % 
(lihat di Melosh. 1989. Impact
 Cratering : A Geologic Process).

Terlepas dari magnitude gempa dan korban jiwanya, dari sisi fisika sebenarnya 
gempa megathrust Sumatra-Andaman 2004 tidak begitu istimewa. Dengan magnitude 
Mw 9,2 memang wajar vertical run-up tsunami yang menerjang pesisir terdekat 
mencapai 15 - 20 m (rata-rata) sebagai kompensasi dari energi tsunami yang 
besarnya 15 megaton TNT (lihat misalnya catatan Katsuyuki Abe, 2004, dalam 
Kanamori 2005). Dan memang dalam beberapa gempa, seperti di Sichuan setengah 
tahun lalu maupun di Samudera Hindia 17 Juli 2006 juga teramati adanya kilatan 
cahaya yang berwarna-warni mirip aurora, yang dikenal sebagai earthquake 
lights/earthquake rays. Fenomena ini sebenarnya sudah teramati sejak lama, 
bahkan jauh hari menjelang Gempa Tangshan 1976 (gempa paling mematikan dalam 
sejarah yang membunuh 750 ribu jiwa) pun sudah teramati. 

Banyak penjelasan diajukan untuk earthquake lights ini. Satu yang bisa 
diterima, cahaya itu muncul sebagai akibat adanya peningkatan intensitas 
ion/elektron di atmosfer lokal menjelang terjadinya gempa, ketika segmen batuan 
mulai terpatahkan dan bergesekan antar sesamanya. Jumlah ion/elektron juga 
semakin meningkat karena retakan-retakan kulit Bumi yang mulai terbentuk 
menjelang meletupnya gempa menyemburkan gas radioaktif dalam jumlah besar, 
umumnya Radon, sang pemancar sinar alfa. Sebutir sinar alfa di udara mampu 
menciptakan 10.000 pasang ion-elektron di sepanjang lintasannya. Sama seperti 
aurora, tubrukan ion/elektron berlebih ini dengan molekul-molekul udara pun 
menghasilkan emisi cahaya. Sementara arus ion/elektron dalam medan magnet Bumi 
menghasilkan gelombang elektromagnetik dalam spektrum gelombang radio, 
sebagaimana teramati dalam beberapa gempa. Arus partikel ini sanggup pula 
mengganggu garis-garis gaya magnet Bumi setempat, sehingga
 menghasilkan perilaku anomalik pada makhluk hidup yang menggunakan magnet Bumi 
sebagai panduan navigasinya, misalnya burung. 

Dan akhirnya, tak perlulah merasa underestimate berhadapan dengan AS dan 
lembaga-lembaganya macam CIA. Dari Tim Weiner dalam CIA : Legacy of Ashes, kita 
tahu banyak hal konyol bahkan di badan intelejen terbesar di Bumi ini, 
sampai-sampai untuk mengetahui informasi nomor wahid macam runtuhnya Tembok 
Berlin mereka harus mendapatkannya dari siaran TV. Dan kekonyolan ini bukan 
monopoli CIA saja. Tahu kenapa satelit Mars Climate Orbiter dan wahana pendarat 
Mars Polar Lander lenyap berurutan pada 1999 di Mars? Mereka "hilang" karena 
NASA gagal mengkonversi hitungan sistem British ke dalam sistem metrik. 
Kekonyolan yang sama pula membuat satelit Mars Global Surveyor 'hilang' pada 
2006.

Salam,


Ma'rufin



________________________________
From: irtadho falah <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Monday, November 17, 2008 9:52:10 AM
Subject: Alat Penyebab Gempa di Dunia dgn tujuan Politis


Assalaamu'alaikum Wr. Wb.

Saya mendapatkan informasi terpercaya dari sebuah forum terbesar di Indonesia 
yang menyebutkan tentang Penyebab Gempa Bumi yang pernah terjadi di Dunia 
termasuk bencana Tsunami yang pernah menimpa Indonesia. 

Dan ternyata, Alat tersebut dibuat untuk mencapai tujuan politis bagi negara 
tertentu agar kepentingannya tercapai. Berikut adalah linknya 
http://www.youtube.com/watch?v=0VX0JvpW5q0 Disitu dijelaskan secara rinci 
berbagai macam hubungannya mengenai  bencana gempa bumi yang pernah terjadi di 
berbagai belahan dunia beberapa waktu yang lalu.

Informasi ini saya sebarkan hanya sebagai tambahan pengetahuan saja tentang 
betapa kejamnya politik luar negeri Amerika Serikat dan sekutunya dalam rangka 
untuk tercapainya kepentingan2 mereka di dunia.

Wassalaamu'alaikum Wr. Wb.

Best Regards,

Irtadho Zainul Falah (ilenk)
Alumnus PLS UM 2001


      
  • [FISIKA] OOT : HAARP, Aurora dan Gempa --> Re: Alat Penyebab Gempa di Dunia dgn tujuan Politis Ma'rufin Sudibyo