Ma'rufin Sudibyo
Thu, 27 Nov 2008 19:23:36 -0800
Sampai kini tercatat 'hanya' 4 orang tewas dan 50-an orang luka-luka dalam
bencana Gempa Gorontalo 17 November 2008 lalu. Ditulis 'hanya', karena merujuk
USGS Landscan 2005 terdapat populasi lebih dari 160.000 orang menghuni daerah
yang terguncang sangat keras, mencapai 7 - 8 MMI. Sebagai gambaran, guncangan
sebesar itu pulalah yang memporak-porandakan Kabupaten Bantul dalam bencana
Gempa Yogya 2,5 tahun silam dan merenggut korban sedikitnya 6.000 jiwa. Agaknya
konsep "Siaga Bencana" memang sudah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat
Gorontalo dan Sulawesi Tengah, sehingga mereka sudah tahu apa yang harus
dilakukan dalam minutes-by-minutes ketika gempa mengguncang. Yang patut
disayangkan memang respon aparat administratur setempat. Sampai hari ini kita
mendengar alat berat belum dikerahkan, meski 1.500 bangunan telah rusak/roboh,
sehingga pembersihan puing-puing hanya dikerjakan dengan tangan. Dana bantuan
sudah habis dan harus menunggu lagi duit
tahun anggaran mendatang. Ironisnya, Fadel Muhammad sang gubernur, lebih
memilih keluyuran ke Yogyakarta mempromosikan bukunya "Reinventing Local
Government..." Ya, inilah potret birokrasi Indonesia yang tak jua berubah,
lebih suka ngurus diri dan popularitasnya sendiri ketimbang peduli dan
berempati pada penderitaan orang banyak.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa utama terjadi
pada 17 November 2008 pukul 01:32 WITA dengan magnitude 7,7 skala Richter dan
kedalaman hiposentrum fhanya 10 km. Segera disiarkan peringatan dini tentang
potensi terjadinya tsunami menyusul gempa ini. Namun re-analisis data dari USGS
National Earthquake Information Center mencatat gempa tersebut memiliki moment
magnitude Mw 7,3 dengan surface-magnitude 7,0 skala Richter dan melepaskan
energi luar biasa besar : 1.340 kiloton TNT atau 67 kali lipat lebih dahysat
ketimbang bom Hiroshima. Episentrum gempa berada di Laut Sulawesi pada jarak 30
km dari garis pantai terdekat, dengan hiposentrum hanya sedalam 30 km.
Episentrum gempa berada di zona pertemuan patahan Gorontalo dengan palung
Minahasa, dua dari sekian banyak retakan kulit Bumi yang mengelilingi
Semenanjung Minahasa, tempat provinsi Sulawesi tengah, Gorontalo dan Sulawesi
Utara berada. Analisis mekanisme fokus menunjukkan gempa bersumberkan dari
pematahan naik (thrust faulting) pada segmen batuan seluas 4.000 km persegi,
dengan retakan menjalar dari episentrum sampai 90 km ke arah timur-tenggara,
menyusuri alur patahan Gorontalo. Pergeseran total (total slip) akibat
aktivitas ini mencapai 1,9 meter (rata-rata).
Jika merujuk ke persamaan Iida (Iida, 1958), untuk hiposentrum sedalam 30 km
dibutuhkan magnitude minimum Mw 6,7 agar Gempa Gorontalo mampu menghasilkan
tsunami. Dangkalnya hiposentrum Gempa Gorontalo juga mengakibatkan munculnya
rupture (rekahan) di permukaan Bumi dalam bentuk dislokasi vertikal dasar laut
di atas patahan sumber gempa. Sehingga Gempa Gorontalo merupakan gempa tsunami
(tsunamigenic). Namun dengan dislokasi vertikal 'hanya' 0,8 m maka energi
tsunami yang diproduksinya sangat kecil, yakni hanya 0,45 kiloton saja. Ini 38
kali lipat lebih rendah dibanding energi inisial tsunami merusak terakhir di
Indonesia, yakni Gempa Samudera Hindia 17 Juli 2006 (Mw 7,7) yang
memporak-porandakan pesisir selatan Pulau Jawa. Dan berbeda dengan Gempa
Samudera Hindia 17 Juli 2006, episentrum Gempa Gorontalo berada di laut dangkal
dengan kontur dasar laut sekitarnya cukup landai, sehingga guncangan keras
gempa tidak sampai merontokkan dasar laut disekitarnya
dalam skala besar. Oleh karena itu tidak ada efek penguatan/amplifikasi
gelombang. Inilah yang membuat Gempa Gorontalo tidak disertai tsunami yang
signifikan, apalagi merusak. Salah satu tide-buoy BPPT yang berada di Manado
merekam amplitude tsunami produk Gempa Gorontalo hanyalah beberapa puluh cm
saja, tidak berbeda dengan hasil pemodelan matematis yang berkisar 10 - 60 cm.
Pulau Sulawesi dibentuk oleh interaksi rumit antara Lempeng Filipina, Lempeng
Sunda (Eurasia) dan Lempeng Pasifik, menempatkannya sebagai triple junction
penting di Indonesia dengan frekuensi kegempaan cukup tinggi yang bisa
dibandingkan dengan Kepulauan Jepang. Di bagian utara, interaksi Lempeng
Filipina dengan mikrolempeng Maluku (pecahan Lempeng Pasifik) membentuk
Semenanjung Minahasa yang dikelilingi sejumlah retakan kulit Bumi aktif seperti
palung Minahasa (di sisi utara), patahan besar Palu-Koro dan Matano (di sisi
barat dan selatan), palung Sangihe (di sisi timur) serta patahan Gorontalo (di
bagian tengah). Kerumitan ini membuat Sulawesi kaya akan mineral bahan tambang
dan migas. Di sepanjang patahan Gorontalo misalnya, yang membelah kota
Gorontalo dan Danau Limboto, dijumpai mineral bahan tambang seperti emas dan
tembaga (Katili, 1969).
Namun retakan-retakan tersebut juga dikenal sebagai generator gempa. Dari
episentrum Gempa Gorontalo saja, merentang hingga 300 km ke timur-timur laut
menyusuri palung Minahasa, berjejeran episentrum Gempa 1990 (Mw 7,6), Gempa
1991 (Mw 7,5), Gempa 1997 (Mw 7,0) dan Gempa 2000 (Mw 7,5). Gempa terakhir
disertai dengan tsunami merusak yang membunuh 46 orang di provinsi Sulawesi
Utara. Dan jangan lupakan Gempa 1932, gempa besar (Mw 8+) yang membunuh ribuan
jiwa dan menghancurleburkan kota Gorontalo, dengan episentrum di lepas pantai
Kwandang. Dan tentu saja, dengan patahan melintas tepat membelah kota, kota
Gorontalo senantiasa menderitakan ancaman laten akan guncangan gempa merusak
dan membunuh di masa depan. sejauh ini belum diketahui pola perulangan kejadian
gempa sejenis 1932 di patahan ini. Namun merujuk pada sistem patahan besar
Sumatra di Pulau Sumatra, periode ulang kejadian gempa 1932 mungkin 100 - 150
tahun.
Namun Indonesia bukan hanya Sumatra, bukan pula hanya Sulawesi. Masih banyak
tempat lainnya yang tak kalah rentan terhadap gempa, misalnya Kepulauan Maluku,
Pulau Irian dan Kepulauan Sunda Kecil mengingat kompleksnya interaksi antar
lempeng di sini. Demikian pula Pulau Jawa. Meskipun di sisi selatan Pulau Jawa
terdapat zona subduksi lempeng Australia dan Eurasia dengan vektor lempeng
Australia tepat tegak lurus terhadap zona subduksi sehingga tidak terbentuk
sistem patahan besar di sini, namun ketiadaan patahan besar justru membuat tiap
titik di Pulau Jawa berpotensi menjadi sumber gempa. Kerentanan Pulau Jawa
menjadi bertambah besar mengingat tingginya kepadatan penduduk, dengan sebagian
besar kota (70 %) berdiri tepat di atas patahan dan masih diperparah lagi
dengan mutu bangunan yang rendah. Sementara kajian BMKG tempo hari menunjukkan
gempa ber-body-magnitude 5,2 skala Richter saja sudah berdampak besar.
Inilah yang harus diantisipasi. Pengalaman penduduk setempat dalam Gempa
Gorontalo, dengan "Siaga Bencana" yang sudah mendarah daging, semoga menjadi
salah satu cermin bagi kita untuk terus-menerus mengembangkan budaya sadar
bencana. Sebab gempa adalah suatu kejadian yang pasti akan terjadi di tempat
kita berpijak (!), tinggal menunggu kapan waktunya (time), dimana tempatnya
(place) dan seberapa besar kekuatannya (magnitude).
Salam,
Ma'rufin