fisika_indonesia  

[FISIKA] Re: Fw: [indonesia] Guru Fisika yang Inspirasional

yuyun Irmawati
Sun, 30 Nov 2008 20:29:22 -0800

cerita yang mengharukan, pe nangis bacanya, dalem bget....salut......

saya juga sedang ambil kuliah mekanika kuantum, mga ajah bisa dapet A
juga, AMIN............


> ----- Forwarded Message ----
> From: Muhammad Ari Mukhlason <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
QB-Milis <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Friday, November 28, 2008 1:28:59 PM
> Subject: [indonesia] Guru Fisika yang Inspirasional
> 
> Guru Fisika yang Inspirasional 
> Oleh JANSEN H. SINAMO
> 
> JAM tujuh pagi, suatu hari pada tahun 1981, di sebuah ruang kuliah
kuno bersuasana gelap dan kelam, yang dibangun pada zaman Belanda,
sebuah kuliah fisika yang sangat modern segera akan dimulai. Fisika
kuantum nama kuliah itu. 
> 
> Hariadi Paminto Soepangkat—doktor fisika zat padat lulusan
Universitas Purdue, Indiana, AS—sang dosen yang berkulit putih bersih
bertubuh tinggi besar yang dibalut busana rapi lengkap pakai dasi bak
eksekutif bisnis itu, telah berdiri penuh wibawa di hadapan sekitar
150 mahasiswa dari tiga jurusan: fisika, astronomi, serta geofisika
dan meteorologi. 
> 
> Belum dua puluh menit kuliah berjalan, usai Pak Hariadi menggambar
orbit-orbit lintasan elektron pada atom hidrogen di papan tulis,
tiba-tiba nama saya dia panggil. 
> 
> "Saya, Pak," jawab saya agak terkejut sambil mengangkat tangan. 
> "Kota asal Saudara di mana?" tanyanya sambil menuruni panggung
kuliah yang rapat dengan papan tulis dan berjalan mendekati tempat
saya duduk di barisan depan. 
> "Sidikalang, Pak," jawab saya. 
> "Oh ya? Kata Pak Andi Hakim Nasution, Rektor IPB, daerah Saudara
penghasil kopi ya? Kopi Sidikalang enak kata Pak Nas. Betul?" 
> "Betul, Pak," jawab saya sumringah. 
> "Sidikalang itu berapa kilometer jaraknya dari Medan?" 
> "Seratus lima puluh kilo Pak." 
> "Kalau naik bis ke Medan berapa ongkosnya?" 
> "Lima ribu, Pak." 
> "Kalau uang Saudara cuma tiga ribu, sampai di mana itu?" 
> "Berastagi, Pak." 
> 
> Sambil memandang kepada semua mahasiswa sesudah kembali ke panggung
kuliah, Pak Hariadi berkata, "Kira-kira seperti inilah yang dimaksud
dengan energi ambang. Jika uang Saudara Jansen cuma tiga ribu, itu
tidak cukup mengantarnya sampai ke Medan. Jadi, lima ribu adalah uang
ambang yang diperlukan agar dia bisa sampai ke Medan dari Sidikalang." 
> 
> "Nah, demikian pula elektron: dia butuh energi ambang, itu energi
yang minimum, untuk bisa pindah ke orbit yang lebih tinggi. Kita sudah
tahu bahwa energi itu tidak kontinum, melainkan diskrit, artinya
terkuantifikasi. Paket-paket energi yang terkuantifikasi ini dalam
bentuk radiasi atau gelombang disebut kuanta energi, yang besarnya
menurut Max Planck adalah hv, di mana v frekuensi radiasi itu dan h
adalah konstanta Planck yang besarnya 6,626×10-pangkat- minus-34
joule-detik. 
> 
> Elektron hanya bisa punya energi dalam kelipatan bulat kuanta ini.
Tidak hanya pada elektron tetapi juga foton dan semua zarah renik di
tingkat subatom. Inilah asal-usul nama kuantum pada fisika kuantum
yang kita pelajari ini. Fisika kuantum mempelajari perilaku
zarah-zarah subatomik, dinamika dan interaksinya, serta relasinya
dengan medan yang memengaruhinya." 
> 
> Entah apa lagi yang dikuliahkan Pak Hariadi pagi itu saya sudah
lupa. Tapi, saya terpesona sudah. Sidikalang dan saya jadi pusat
perhatian seluruh kelas dan terutama Pak Hariadi. Cuma beberapa menit
saja sorotan lampu perhatian itu, tapi sudah cukup membuat saya merasa
diri spesial. 
> 
> Dan sejak momen itu rasa suka saya berlipat ganda kepada Pak
Hariadi. Sebagai akibatnya, berlipat ganda pula minat saya pada fisika
kuantum. 
> Singkat cerita, pada ujian akhir semester itu saya mendapat nilai A. 
> Dan ini tidak lazim. Jarang sekali saya mendapat nilai A. Di kelas
saya angkatan 1978, saya cuma mahasiswa rata-rata: mayoritas nilai
saya adalah C, agak lumayan dapat B, tapi yang mendapat nilai A
sungguh sangat sedikit. 
> 
> Tapi, mendapat nilai A pada fisika kuantum selangit rasanya. Buat
saya itu setara dengan nilai A pada sepuluh mata kuliah yang lain.
Fisika kuantum adalah salah satu mata kuliah paling bergengsi di
Jurusan Fisika, kreditnya maksimum: empat. Bukan cuma itu, di zaman
itu, cuma ada dua mata kuliah fisika yang dianggap dahsyat: fisika
kuantum dan teori relativitas. Yang terakhir ini belum disajikan di
tingkat S1. Fisika kuantum pun sebenarnya baru cuma pengantar pada
kuliah sepenuh: mekanika kuantum, yang akan disajikan nanti di tingkat
S2. 
> 
> Saya juga takjub pada diri sendiri. Mengapa mendadak saya jadi
pintar sekali? Tapi, saya akhirnya menyadari: itu semua karena cara
dan gaya Pak Hariadi mengajar kami memang luar biasa. 
> 
> Betapa tidak. Dia selalu sudah ada di kelas sepuluh menit sebelum
jam kuliah dimulai. Di hampir semua mata kuliah lain, mahasiswa yang
menunggu dosen. Tapi Pak Hariadi sebaliknya. 
> 
> Pak Hariadi selalu tampil necis: busananya, kebersihannya, dan
istimewa tulisannya. Dia membersihkan sendiri papan tulis dengan kain
lap basah yang dibawanya dari kantornya. Ada tiga papan tulis di kelas
kami. Dibersihkannya dulu papan tulis ketiga saat dia mulai memakai
papan tulis pertama, sehingga papan tulis ketiga itu sudah kering saat
dia akan memakainya. Demikian seterusnya sampai kuliahnya yang
berdurasi 100 menit itu selesai. 
> 
> Lima tahun saya kuliah di ITB, tidak pernah saya bertemu dengan
dosen lain yang mampu menyamai kerapihan dan keindahan tulisan tangan
Pak Hariadi. 
> Pak Hariadi juga pekerja cepat. Hari ini ujian, besoknya jawaban
soal-soalnya sudah tertempel di papan pengumuman. Di Jurusan Fisika
hanya Pak Hariadi yang mampu dan disiplin berbuat demikian. 
> 
> Dia pun hafal nama semua mahasiswa yang diajarnya. Pada setiap
kuliah ia mampu memanggil nama mahasiswa secara acak, dan seperti saya
di atas setiap mahasiswa yang terpilih namanya disebut diajaknya
berinteraksi. Dan dari interaksi pendek itu, tiba-tiba bisa keluar
ilustrasi untuk menjelaskan konsep fisika kuantum. Bukan saja
ilustrasi itu sangat menolong, karena membumi bahkan personal, tetapi
di tingkat psikologis sang mahasiswa merasa dilibatkan, bahkan
dijadikan bintang pada momen pendek itu. Tak pelak kuliah Pak Hariadi
selalu digandrungi. Fisika kuantum jadi mudah dimengerti, gampang
diikuti, dan menarik ditelusuri. 
> 
> Pak Hariadi sangat jauh dari jenis dosen yang memetik rasa puas
karena pelajarannya sukar diikuti. Ia bukan tipe dosen yang berbahagia
melihat mahasiswa pusing tujuh keliling, lalu takut pada dosennya, dan
jeri pada pelajarannya. Sedikit pun tak ada perangai galak padanya
apalagi killer. Ia memenuhi tanda-tanda orang cerdas seturut pendapat
Einstein: bahwa orang cerdas ialah orang yang mampu membuat perkara
sulit jadi mudah dipahami, sedangkan orang bodoh sebaliknya, membuat
perkara mudah jadi sukar dimengerti. Fokus kedosenan Pak Hariadi ialah
bagaimana agar mahasiswanya bisa mudah memahami pelajarannya supaya
dengan begitu tumbuh gairah, minat, dan kecintaan pada pelajaran itu
sendiri. Jadi, sebenarnya tidak mengherankan saya bisa medapat nilai A. 
> 
> Sesampai di Sidikalang, saat libur panjang semester, sensasi
kebanggaan mendapat nilai A itu masih terus berdenyut. Tak tahan, saya
pun menulis sepucuk surat kepada Pak Hariadi. Saya ungkapkan rasa
syukur dan terima kasih saya dan khususnya kedahsyatan cara
mengajarnya saya apresiasi dengan rinci. 
> 
> Eh, surat saya dibalasnya dengan cepat. Katanya dari sekitar 30
mahasiswa yang mendapat nilai A, cuma saya yang menulis surat. Gantian
dia yang berterima kasih. Di ujung suratnya, sesudah menitipkan salam
kepada orangtua saya, dia mengundang saya ke kantornya usai libur.
Waktu itu Pak Hariadi adalah Dekan Fakultas MIPA. "Saya ingin mengenal
Saudara lebih dekat." katanya. 
> 
> Tak sabar saya menunggu waktu untuk kembali ke Bandung. Berhubung
kopi Sidikalang sudah disebut-sebut di awal kuliah, itu pula oleh-oleh
yang saya bawa buat beliau. Ketika orangtua saya tahu kisah dosen yang
istimewa ini, Ibu saya mengusulkan memberikan ulos sebagai
cinderamata. Ulos dan kopi, itulah yang kemudian saya bawa ke Bandung. 
> Ke kantor dekan F-MIPA, saya pun menghadap. Di ujung percakapan,
tanpa saya duga, Pak Hariadi meminta agar saya bersedia menjadi
asistennya. Terhenyak saya. Tubuh ini mendadak ringan rasanya, seperti
kapas di awang-awang layaknya. Tak berpikir panjang tawaran itu segera
saya sambut. 
> 
> Ketika Pak Hariadi sadar bahwa saya membawa ulos sebagai
cinderamata, dia sempat tertegun lalu berkata, "Wah, istri saya harus
ikut bersama saya menerima ini. Terima kasih. Ini penghargaan yang
sangat tinggi." 
> 
> Malam itu juga, di rumah Pak Hariadi di perumahan dosen Sangkuriang,
saya pun menjadi tamu keluarga, diundang makan malam bersama, dan
kemudian bercakap-cakap dengan akrab. Di situlah ulos dan kopi
Sidikalang saya serahkan. 
> Sampai akhirnya saya tamat pada akhir 1983––saat itu Pak Hariadi
sudah menjabat sebagai Rektor ITB––saya terus membantunya sebagai
asisten kuliah fisika kuantum. 
> Diajar oleh Pak Hariadi dan menjadi asistennya sesudahnya merupakan
salah satu pengalaman akademik paling berkesan dan terpenting buat
saya selama kuliah di ITB Bandung. 
> 
> Kini saya berpendapat, andai kata semua guru matematika, fisika,
kimia, dan biologi di tingkat sekolah lanjutan di negeri ini sanggup
mengajar secerdas dan sebaik Pak Hariadi, niscaya mata pelajaran-mata
pelajaran keras itu tidak akan pernah jadi momok buat anak-anak muda
kita. Bahkan, matematika dan sains akan jadi mata pelajaran favorit.
>



------------------------------------

===============================================================
**  Arsip          : http://members.tripod.com/~fisika/ 
**  Ingin Berhenti : silahkan mengirim email kosong ke : 
                     <[EMAIL PROTECTED]> 
===============================================================
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/fisika_indonesia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/fisika_indonesia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [EMAIL PROTECTED] 
    [EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/