Widha Putra
Sun, 30 Nov 2008 20:30:40 -0800
Wah2...bener2 kisah yang menarik.Mengajak orang untuk melihat suatu masalah
bukan dari sisi gelap nya, tp menuntun orang untuk menemukan cahaya dalam
dirinya.
Di jurusan Teknik Fisika UGM juga ada dosen yang sangat bisa membimbing
mahasiswa nya, bliau adalah Bpk. Kusnanto. Kebetulan bliau adalah dosen
pembimbing skripsi saya.Bliau sangat lah "open minded" dalam membimbing
mahasiswa di tiap mata kuliah ataupun di setiap forum pertemuan dosen-mahasiswa.
Prinsip bliau yang saya ingat betul adalah bahwa "setiap ada kemajuan meskipun
hanya 1 %, itu adalah kemajuan yang sangat luar biasa". Sangat jarang ada guru
atau dosen yang bisa menghargai kemajuan, kebanyakan si hanya nuntut "harus
bisa" hehehe.....
Maaf kalau ada kata2 yang menyinggung...
----- Forwarded Message ----
From: Muhammad Ari Mukhlason <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; QB-Milis <[EMAIL
PROTECTED]>
Sent: Friday, November 28, 2008 1:28:59 PM
Subject: [indonesia] Guru Fisika yang Inspirasional
Guru Fisika yang Inspirasional
Oleh JANSEN H. SINAMO
JAM tujuh pagi, suatu hari pada tahun 1981, di sebuah ruang kuliah kuno
bersuasana gelap dan kelam, yang dibangun pada zaman Belanda, sebuah kuliah
fisika yang sangat modern segera akan dimulai. Fisika kuantum nama kuliah itu.
Hariadi Paminto Soepangkatdoktor fisika zat padat lulusan Universitas Purdue,
Indiana, ASsang dosen yang berkulit putih bersih bertubuh tinggi besar yang
dibalut busana rapi lengkap pakai dasi bak eksekutif bisnis itu, telah berdiri
penuh wibawa di hadapan sekitar 150 mahasiswa dari tiga jurusan: fisika,
astronomi, serta geofisika dan meteorologi.
Belum dua puluh menit kuliah berjalan, usai Pak Hariadi menggambar orbit-orbit
lintasan elektron pada atom hidrogen di papan tulis, tiba-tiba nama saya dia
panggil.
"Saya, Pak," jawab saya agak terkejut sambil mengangkat tangan.
"Kota asal Saudara di mana?" tanyanya sambil menuruni panggung kuliah yang
rapat dengan papan tulis dan berjalan mendekati tempat saya duduk di barisan
depan.
"Sidikalang, Pak," jawab saya.
"Oh ya? Kata Pak Andi Hakim Nasution, Rektor IPB, daerah Saudara penghasil kopi
ya? Kopi Sidikalang enak kata Pak Nas. Betul?"
"Betul, Pak," jawab saya sumringah.
"Sidikalang itu berapa kilometer jaraknya dari Medan?"
"Seratus lima puluh kilo Pak."
"Kalau naik bis ke Medan berapa ongkosnya?"
"Lima ribu, Pak."
"Kalau uang Saudara cuma tiga ribu, sampai di mana itu?"
"Berastagi, Pak."
Sambil memandang kepada semua mahasiswa sesudah kembali ke panggung kuliah, Pak
Hariadi berkata, "Kira-kira seperti inilah yang dimaksud dengan energi ambang.
Jika uang Saudara Jansen cuma tiga ribu, itu tidak cukup mengantarnya sampai ke
Medan. Jadi, lima ribu adalah uang ambang yang diperlukan agar dia bisa sampai
ke Medan dari Sidikalang."
"Nah, demikian pula elektron: dia butuh energi ambang, itu energi yang minimum,
untuk bisa pindah ke orbit yang lebih tinggi. Kita sudah tahu bahwa energi itu
tidak kontinum, melainkan diskrit, artinya terkuantifikasi. Paket-paket energi
yang terkuantifikasi ini dalam bentuk radiasi atau gelombang disebut kuanta
energi, yang besarnya menurut Max Planck adalah hv, di mana v frekuensi radiasi
itu dan h adalah konstanta Planck yang besarnya 6,626×10-pangkat- minus-34
joule-detik.
Elektron hanya bisa punya energi dalam kelipatan bulat kuanta ini. Tidak hanya
pada elektron tetapi juga foton dan semua zarah renik di tingkat subatom.
Inilah asal-usul nama kuantum pada fisika kuantum yang kita pelajari ini.
Fisika kuantum mempelajari perilaku zarah-zarah subatomik, dinamika dan
interaksinya, serta relasinya dengan medan yang memengaruhinya."
Entah apa lagi yang dikuliahkan Pak Hariadi pagi itu saya sudah lupa. Tapi,
saya terpesona sudah. Sidikalang dan saya jadi pusat perhatian seluruh kelas
dan terutama Pak Hariadi. Cuma beberapa menit saja sorotan lampu perhatian itu,
tapi sudah cukup membuat saya merasa diri spesial.
Dan sejak momen itu rasa suka saya berlipat ganda kepada Pak Hariadi. Sebagai
akibatnya, berlipat ganda pula minat saya pada fisika kuantum.
Singkat cerita, pada ujian akhir semester itu saya mendapat nilai A.
Dan ini tidak lazim. Jarang sekali saya mendapat nilai A. Di kelas saya
angkatan 1978, saya cuma mahasiswa rata-rata: mayoritas nilai saya adalah C,
agak lumayan dapat B, tapi yang mendapat nilai A sungguh sangat sedikit.
Tapi, mendapat nilai A pada fisika kuantum selangit rasanya. Buat saya itu
setara dengan nilai A pada sepuluh mata kuliah yang lain. Fisika kuantum adalah
salah satu mata kuliah paling bergengsi di Jurusan Fisika, kreditnya maksimum:
empat. Bukan cuma itu, di zaman itu, cuma ada dua mata kuliah fisika yang
dianggap dahsyat: fisika kuantum dan teori relativitas. Yang terakhir ini belum
disajikan di tingkat S1. Fisika kuantum pun sebenarnya baru cuma pengantar pada
kuliah sepenuh: mekanika kuantum, yang akan disajikan nanti di tingkat S2.
Saya juga takjub pada diri sendiri. Mengapa mendadak saya jadi pintar sekali?
Tapi, saya akhirnya menyadari: itu semua karena cara dan gaya Pak Hariadi
mengajar kami memang luar biasa.
Betapa tidak. Dia selalu sudah ada di kelas sepuluh menit sebelum jam kuliah
dimulai. Di hampir semua mata kuliah lain, mahasiswa yang menunggu dosen. Tapi
Pak Hariadi sebaliknya.
Pak Hariadi selalu tampil necis: busananya, kebersihannya, dan istimewa
tulisannya. Dia membersihkan sendiri papan tulis dengan kain lap basah yang
dibawanya dari kantornya. Ada tiga papan tulis di kelas kami. Dibersihkannya
dulu papan tulis ketiga saat dia mulai memakai papan tulis pertama, sehingga
papan tulis ketiga itu sudah kering saat dia akan memakainya. Demikian
seterusnya sampai kuliahnya yang berdurasi 100 menit itu selesai.
Lima tahun saya kuliah di ITB, tidak pernah saya bertemu dengan dosen lain yang
mampu menyamai kerapihan dan keindahan tulisan tangan Pak Hariadi.
Pak Hariadi juga pekerja cepat. Hari ini ujian, besoknya jawaban soal-soalnya
sudah tertempel di papan pengumuman. Di Jurusan Fisika hanya Pak Hariadi yang
mampu dan disiplin berbuat demikian.
Dia pun hafal nama semua mahasiswa yang diajarnya. Pada setiap kuliah ia mampu
memanggil nama mahasiswa secara acak, dan seperti saya di atas setiap mahasiswa
yang terpilih namanya disebut diajaknya berinteraksi. Dan dari interaksi pendek
itu, tiba-tiba bisa keluar ilustrasi untuk menjelaskan konsep fisika kuantum.
Bukan saja ilustrasi itu sangat menolong, karena membumi bahkan personal,
tetapi di tingkat psikologis sang mahasiswa merasa dilibatkan, bahkan dijadikan
bintang pada momen pendek itu. Tak pelak kuliah Pak Hariadi selalu digandrungi.
Fisika kuantum jadi mudah dimengerti, gampang diikuti, dan menarik ditelusuri.
Pak Hariadi sangat jauh dari jenis dosen yang memetik rasa puas karena
pelajarannya sukar diikuti. Ia bukan tipe dosen yang berbahagia melihat
mahasiswa pusing tujuh keliling, lalu takut pada dosennya, dan jeri pada
pelajarannya. Sedikit pun tak ada perangai galak padanya apalagi killer. Ia
memenuhi tanda-tanda orang cerdas seturut pendapat Einstein: bahwa orang cerdas
ialah orang yang mampu membuat perkara sulit jadi mudah dipahami, sedangkan
orang bodoh sebaliknya, membuat perkara mudah jadi sukar dimengerti. Fokus
kedosenan Pak Hariadi ialah bagaimana agar mahasiswanya bisa mudah memahami
pelajarannya supaya dengan begitu tumbuh gairah, minat, dan kecintaan pada
pelajaran itu sendiri. Jadi, sebenarnya tidak mengherankan saya bisa medapat
nilai A.
Sesampai di Sidikalang, saat libur panjang semester, sensasi kebanggaan
mendapat nilai A itu masih terus berdenyut. Tak tahan, saya pun menulis sepucuk
surat kepada Pak Hariadi. Saya ungkapkan rasa syukur dan terima kasih saya dan
khususnya kedahsyatan cara mengajarnya saya apresiasi dengan rinci.
Eh, surat saya dibalasnya dengan cepat. Katanya dari sekitar 30 mahasiswa yang
mendapat nilai A, cuma saya yang menulis surat. Gantian dia yang berterima
kasih. Di ujung suratnya, sesudah menitipkan salam kepada orangtua saya, dia
mengundang saya ke kantornya usai libur. Waktu itu Pak Hariadi adalah Dekan
Fakultas MIPA. "Saya ingin mengenal Saudara lebih dekat." katanya.
Tak sabar saya menunggu waktu untuk kembali ke Bandung. Berhubung kopi
Sidikalang sudah disebut-sebut di awal kuliah, itu pula oleh-oleh yang saya
bawa buat beliau. Ketika orangtua saya tahu kisah dosen yang istimewa ini, Ibu
saya mengusulkan memberikan ulos sebagai cinderamata. Ulos dan kopi, itulah
yang kemudian saya bawa ke Bandung.
Ke kantor dekan F-MIPA, saya pun menghadap. Di ujung percakapan, tanpa saya
duga, Pak Hariadi meminta agar saya bersedia menjadi asistennya. Terhenyak
saya. Tubuh ini mendadak ringan rasanya, seperti kapas di awang-awang layaknya.
Tak berpikir panjang tawaran itu segera saya sambut.
Ketika Pak Hariadi sadar bahwa saya membawa ulos sebagai cinderamata, dia
sempat tertegun lalu berkata, "Wah, istri saya harus ikut bersama saya
menerima ini. Terima kasih. Ini penghargaan yang sangat tinggi."
Malam itu juga, di rumah Pak Hariadi di perumahan dosen Sangkuriang, saya pun
menjadi tamu keluarga, diundang makan malam bersama, dan kemudian
bercakap-cakap dengan akrab. Di situlah ulos dan kopi Sidikalang saya serahkan.
Sampai akhirnya saya tamat pada akhir 1983saat itu Pak Hariadi sudah menjabat
sebagai Rektor ITBsaya terus membantunya sebagai asisten kuliah fisika
kuantum.
Diajar oleh Pak Hariadi dan menjadi asistennya sesudahnya merupakan salah satu
pengalaman akademik paling berkesan dan terpenting buat saya selama kuliah di
ITB Bandung.
Kini saya berpendapat, andai kata semua guru matematika, fisika, kimia, dan
biologi di tingkat sekolah lanjutan di negeri ini sanggup mengajar secerdas dan
sebaik Pak Hariadi, niscaya mata pelajaran-mata pelajaran keras itu tidak akan
pernah jadi momok buat anak-anak muda kita. Bahkan, matematika dan sains akan
jadi mata pelajaran favorit.