Ma'rufin Sudibyo
Sun, 04 Jan 2009 22:16:14 -0800
Catatan dimulai dari 4 Januari 2009 pukul 04:44 WIT, ketika sebuah guncangan kuat menggoyang kepala burung pulau Irian. USGS National Earthquake Information Center menempatkan gempa ini pada magnitude 7,6 Mw dan dikategorikan sebagai gempa besar dengan pelepasan energi seismik mencapai 3.700 kiloton TNT atau 185 kali lipat lebih dahsyat ketimbang bom Hiroshima. Hingga 12 jam kemudian telah tercatat sedikitnya 21 gempa susulan. Sejauh ini "baru" 1 orang tewas, 2 orang masih tertimbun di Hotel Mutiara, 4 orang luka-luka serta beragam bangunan roboh ataupun retak-retak, seperti misalnya kantor Gubernur Irian Jaya Barat.
Plotting posisi episentrum gempa utama dan gempa-gempa susulannya menunjukkan
Gempa Sorong ini berpusat di daratan, tepatnya di lintasan sesar Sorong.
Merujuk mekanisme fokal dari USGS, gempa ini ditimbulkan oleh pematahan naik
(thrust faulting) sepanjang 150 km dengan luas segmen batuan yang terpatahkan
mencapai 4.000 km persegi, yang secara rata-rata mengalami pergeseran total
(total slip) sebesar 2,5 meter. Angka ini berbeda jauh dengan estimasi Pusat
Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Dept. ESDM yang menempatkan luasan
patahan sebesar 28.600 km persegi atau 7 kali lipat lebih besar, yang
berkorelasi dengan total slip 7 m. Mana yang lebih tepat tentunya musti dicek
berdasarkan jejak-jejak rupture di lapangan, yang kemungkinan besar terekspos
di permukaan mengingat hiposentrum gempa ini dangkal (yakni 35 km menurut
USGS). Namun jika merujuk pada pengalaman gempa dengan magnitude hampir sama,
seperti Samudera Hindia 17 Juli 2006 (7,7 Mw) maupun
Mentawai 1935 (7,7 Mw), nilai total slipnya rata-rata tidak melebihi 3 meter.
Di tengah musibah ini, patut disyukuri bahwa gempa ini tidak terjadi di laut,
mengingat ada bagian sesar Sorong yang berada di dasar Teluk Cenderawasih.
Andaikata sumber gempa ada di dasar teluk, maka dengan dislokasi vertikal
rata-rata sebesar 150 cm akan diikuti dengan terbentuknya tsunami merusak
dengan energi 3,92 kiloton dengan tinggi gelombang 1,3 meter pada pantai
berjarak 50 km dari episentrum. Ini tentu cukup merusak. Di masa silam pesisir
utara Pulau Irian, khususnya pulau Biak dan sekitarnya, pernah dihantam tsunami
merusak pada 17 Februari 1996 yang menyebabkan 108 orang tewas.
Gempa ini menghasilkan guncangan berintensitas 9 MMI di sumbernya. Namun di
kota Sorong dan Manokwari, dua pusat pemukiman terdekat dengan sumber gempa,
intensitas gempa tercatat hanya 5 MMI yang berkorelasi dengan percepatan tanah
maksimum 4 - 6 % G. Angka ini cukup kecil sehingga tidak sampai meruntuhkan
bangunan setempat. USGS Landscan 2005 menyebut ada 200 ribu jiwa yang mendiami
wilayah yang terkena guncangan lebih dari 5 MMI, sehingga potensi korban jiwa
memang ada, namun diestimasikan kecil. Demikian pula dengan potensi korban
luka-luka. Sementara kerusakan infrastruktur sejauh ini belum bisa
diestimasikan.
Gempa Sorong meletup di lintasan sesar Sorong, sebuah patahan transformasi nan
panjang yang membentuk Kawasan Indonesia bagian Timur mulai dari Pulau Irian
hingga Pulau Sulawesi, yang muncul sebagai hasil interaksi kompleks antara
lempeng Pasifik yang mendesak ke arah barat daya dengan kecepatan 11 cm/tahun
dengan lempeng Australia yang bergerak ke utara dnegan kecepatan 6 cm/tahun.
Sesar Sorong ini tergolong sesar aktif dan berulangkali menjadi sumber gempa
yang merusak di kawasan Pulau Irian, Kepulauan Maluku, maupun Sulawesi bagian
timur (Kep. Banggai dan Sula). Namun Pulau Irian tidak hanya punya sesar Sorong
saja, masih ada pula sesar Tarera Aiduna yang bertanggung jawab atas gempa
Nabire 2004, serta sesar Ransiki dan sesar-sesar yang membujur di sepanjang
Pegunungan Jayawijaya.
Persoalannya sekarang, 70 % pusat hunian manusia Indonesia berada di atas
lembah/daratan yang terbentuk oleh aktivitas patahan, sebagian di antaranya
diketahui aktif dan sebagian lagi belum jelas statusnya. Sementara sebagian
besar bangunan di pusat-pusat hunian ini mempunyai daya tahan nan buruk
terhadap guncangan gempa. Perhitungan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana
Geologi Dep. ESDM menunjukkan, untuk Pulau Jawa saja, guncangan gempa dengan
magnitude 4,8 - 5,2 Mw (alias 5 skala Richter) sudah cukup mampu membuat
kerusakan signifikan, sebagaimana yang terbukti dalam petaka Gempa Yogya 27 Mei
2006 silam yang merenggut 6.000 korban jiwa, padahal magnitudenya tergolong
"kecil" (hanya 6,4 Mw). Maka prioritas mitigasi bencana gempa, mau tak mau
adalah bagaimana menytelematkan manusianya, bukan bangunannya.
Inilah yang harus terus menerus kita latih dan lakukan. Waspada dan berlatih
siaga adalah your earthquake early warning systems. Sebab gempa-gempa lain
setelah Gempa Sorong pasti akan terjadi, dan salah satunya mungkin akan terjadi
di tempat tinggal kita. Itu hanya masalah waktu saja.
Catatan usai.
Salam,
Ma'rufin
<<attachment: papua_seismicity.GIF>>