Ma'rufin Sudibyo
Tue, 06 Jan 2009 17:18:05 -0800
Tsunami di Manokwari TerdeteksiRabu, 7 Januari 2009 | 03:00 WIB
Jakarta,
Kompas - Dua gempa tektonik berkekuatan di atas M 7 atau 7 skala
Richter di utara Kepala Burung Papua, Minggu (4/1), berdasar rekaman
Stasiun Pasang Surut Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional
diketahui telah menimbulkan tsunami setinggi 80 sentimeter di
Manokwari, 35 cm di Biak, dan 20 cm di Jayapura.
Parluhutan
Manurung, Kepala Bidang Medan Gaya Berat dan Pasang Surut Bakosurtanal,
Selasa (6/1), menjelaskan, gempa pertama (7,9 SR) pada pukul 19:43:51
UTC/GMT (04:43:51 WIT) menimbulkan tsunami dengan kecepatan sekitar 500
kilometer per jam. Manokwari berjarak 140 km dari pusat gempa terkena
terjangan gelombang pasang 17 menit setelah gempa.
Gempa kedua
(7,6 SR) pada 7:33:40 WIT pusat gempanya lebih dekat ke Manokwari, 77
km. ”Gelombang kedua datang 15 menit berikutnya disusul gelombang
ketiga sekitar interval waktu yang sama. Ini bukan gelombang tertinggi
sepanjang periode gempa susulan,” ujarnya. Setelah gempa kedua, datang
gelombang yang lebih besar setinggi 0,80 meter pada pukul 8:32 WIT—60
menit setelah gempa kedua terjadi.
Stasiun Pasang Surut Jayapura,
ibu kota Provinsi Papua, lebih dari 800 km dari pusat gempa, mencatat
tsunami 0,20 m. Tsunami ini pertama mencapai pantai Jayapura 95 menit
setelah gempa pertama dengan kecepatan 500 km per jam.
Di Pulau
Biak, sekitar 300 km dari pusat gempa, tsunami tiba 42 menit setelah
gempa pertama dengan tinggi 0,35 m. Kecepatannya sekitar 430 km per jam.
Tsunami,
menurut pakar tsunami dari ITB, Hamzah Latief, juga dilaporkan PARI
(Port and Airport Research Institute) Jepang. Tinggi tsunami sekitar 15
cm dari tinggi alat pemantau pasang surut (tide gauge ) di Pulau
Chichizima, pulau paling selatan di Jepang yang berjarak ribuan km dari
utara Papua.
Tsunami di Papua
Menurut
Parluhutan, tinggi gelombang dan kecepatan penjalaran tsunami
tergantung jarak dari pusat gempa dan kedalaman laut. Laut berkedalaman
4.500 m kecepatan tsunaminya bisa mencapai 700 km per jam, tetapi
tinggi gelombangnya rendah seperti riak air. Namun ketika mencapai
perairan dangkal, kecepatannya akan berkurang drastis dan bisa sangat
membahayakan karena gelombang berubah seperti tembok air yang siap
tumpah ke pantai.
”Fenomena ini ibarat mobil kencang yang direm mendadak menjelang gerbang tol,”
kata Parluhutan.
Saat
ini pemantauan tsunami di kawasan timur laut Indonesia dilakukan di
stasiun pengamatan pasang surut di tiga pelabuhan, yaitu Manokwari,
Biak, dan Jayapura.
”Data belum real time karena masih menggunakan komunikasi data GSM,” ungkap
Parluhutan.