fisika_indonesia  

Bls: [FISIKA] Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Presiden SBY Pilih Kasih kepada Korban Gempa

Michael DeGuzman
Wed, 07 Jan 2009 18:41:18 -0800

 
Apakah itu akan menjadi pekerjaan rutin,membosankan dan memboroskan dari setiap 
rezim yang berkuasa? Kenapa tidak semua perancangan tata letak kota diarahkan 
sejak awalnya hanya pada daerah yang secara geologi relatif aman. Supaya  tiap 
tahun anggaran dihabiskan tidak hanya untuk menangani masalah korban bencana 
yang memang tinggal didaerah2 rentan.
 
Pemerintah juga perlu diberi masukan ttg hal ini. Tapi resikonya dari populasi 
yang besar dan pusat2 pemerintahan di pesisir barat sumatera misalnya, andai 
direlokasi ke bagian sebelah timur yang relatif aman akan juga menimbulkan 
gejolak tercabutnya akar sosial, politik dan identitas masyarakatnya. 
 
Ada joke dari sesama kawan yang mengamati salah seorang kawan yang  kebetulan 
orang Minang (sekitar 2-3 tahun yang lalu). saat gunung Talang meletus 
keluarganya mengungsi ke Padang. tapi kemudian Padang diguncang gempa dan 
diisukan berpotensi tsunami maka keluarga kawan saya tsb kebingungan mau pindah 
kemana lagi kita? Tidak mudah mengungsi sekeluarga dari kakek nenek hingga anak 
cucu.
 
Salam
Guzman 


--- Pada Kam, 8/1/09, Ma'rufin Sudibyo <maruf...@yahoo.com> menulis:

Dari: Ma'rufin Sudibyo <maruf...@yahoo.com>
Topik: [FISIKA] Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Presiden SBY Pilih Kasih kepada 
Korban Gempa
Kepada: forum-pembaca-kom...@yahoogroups.com, "Fisika" 
<fisika_indonesia@yahoogroups.com>, "Sains" <sa...@yahoogroups.com>
Cc: "Rovicky Dwi Putrohari" <rovi...@gmail.com>, "wahyu budi" 
<wahyubudisetya...@yahoo.com>, "Dirmawan" <lik_...@yahoo.co.id>, "Agus 
Hendratno MT" <agushendra...@yahoo.com>, "Riyan Triyono" 
<triyono_...@yahoo.co.id>
Tanggal: Kamis, 8 Januari, 2009, 7:36 AM








Ya memang mengherankan dan menyebalkan. Gempa Gorontalo 17 November 2008 silam 
itu memang 'hanya' memiliki magnitude Mw 7,3 (bandingkan dengan Gempa Sorong 4 
Januari 2009 yang magnitudenya Mw 7,6). Namun gempa Gorontalo lebih berdampak 
ke masyarakat setempat, mengingat menurut USGS Landscan 2005 terdapat 
sekurangnya 200 ribu jiwa yang bermukim di wilayah yang mengalami guncangan 
berskala 7 - 8 MMI alias setara dengan guncangan kuat yang menghantam Bantul 
dan sekitarnya dalam kejadian gempa Yogya 27 Mei 2006 silam. Sementara untuk 
kasus Gempa Sorong, juga ada 200 ribu jiwa yang terdampak, namun untuk 
intensitas guncangan yang lebih rendah yakni 'hanya' 5 - 6 MMI. Di sini 
seharusnya administrasi SBY (untuk tidak mengatakannya rezim) musti memiliki 
pengetahuan mendasar bahwa yang krusial dalam dampak gempa ke populasi adalah 
intensitas guncangannya (yang dinyatakan dalam skala MMI), bukan sekedar 
magnitudenya semata. Dan peta intensitas guncangan macam gini
 mudah sekali didapatkan, baik lewat BMKG maupun lewat USGS.

Memamg secara politis magnitude Gempa Sorong jauh lebih tinggi, mengingat fokus 
dunia internasional lebih menyorot ke Papua ketimbang wilayah lainnya di 
Indonesia. Namun jika menggunakan paradigma politik sebagai panglima dalam 
prosedur penanganan bencana, mau jadi apa negeri ini ? mau mengulangi borok 
Lapindo lagi ?

Ya inilah tantangan ke depan bagi organisasi2 macam HAGI, IAGI dan AGI2 
lainnya, untuk terus mengadvokasi dan mempersuasi administrasi pemerintahan 
soal penanganan bencana geologi. Nyaris sepanjang usia berdirinya republik ini, 
kita senantiasa mengalami bencana geologi dalam wujud gempa bumi. Jika 
penanganannya tidak kunjung membaik dari waktu ke waktu, ya banyak yang 
dipertaruhkan di masa depan...

Salam,


Ma'rufin





From: Agus Hamonangan <agushamonangan@ yahoo.co. id>
To: Forum-Pembaca- kom...@yahoogrou ps.com
Sent: Wednesday, January 7, 2009 11:21:43 PM
Subject: [Forum-Pembaca- KOMPAS] Presiden SBY Pilih Kasih kepada Korban Gempa



http://www.kompas. com/index. php/read/ xml/2009/ 01/06/19181161/ presiden. 
sby.pilih. kasih.pada. korban.gempa. .

PALU, SELASA — Bupati Buol Amran Natalipu dan mantan Direktur
Eksekutif Persatuan Bantuan Hukum Rakyat Sulawesi Tengah Muammar A
Koloi menilai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pilih kasih dalam
menangani korban gempa. SBY lebih mementingkan pencitraan diri di luar
negeri dalam menanggapi bencana Monokawari, Papua Barat. 

Ketimbang gempa Buol, Gorontalo, dan Toli-Toli November lalu yang
skala dan kerusakannya lebih besar, Presiden jauh lebih tanggap
memerhatikan bencana di Manokwari dengan langsung mengirim empat
menteri dan bantuan, kata Amran Natalipu, Selasa (6/1) . 

Amran dan Muammar mengungkapkan, hingga lebih sebulan gempa Buol yang
menyebabkan 1.500 rumah rusak, perwakilan pusat yang datang dari
Kementrian PU hanya staf di bawah dirjen. Tak satu pun menteri yang
berkunjung.

Senin lalu, atau cuma selang sehari setelah gempa di Manokwari, empat
menteri tiba dengan membawa bantuan bahan makanan, obat-obatan,
peralatan saat darurat, dan sejumlah uang tunai untuk para korban.
Mereka adalah Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah, Menteri Kesehatan Siti
Fadilah Supari, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Menteri
Perhubungan Jusman Safeii Djamal, ditambah Ketua Badan Nasional
Penanggulangan Bencana Syamsul Maarif.

Amran dan Muammar mengingatkan, Manokwari dan Buol sama-sama bagian
dari NKRI dan sama-sama warga Indonesia. Anehnya, bencana di Manokwari
jauh lebih diperhatikan. "Asas keadilan seperti diabaikan,'' katanya.

Reny Sri Ayu Taslim 


 














      
___________________________________________________________________________
Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/