fisika_indonesia  

Re: [FISIKA] Butuh info tentang kegiatan SCADA dan DCS di Indonesia

Haryo Sumowidagdo
Mon, 12 Jan 2009 23:45:13 -0800

Halo mas Hosana,

Wah, terimakasih banyak nih untuk penjelasan dan diskusinya yang detail.  
Terimakasih pula untuk mas Rudy, de Guzman, dan Kemal.
Balasan ini akan saya cc juga ke fisika Indonesia

> Kalau boleh tahu, bapak mengembangkan software kontrol untuk fisika
> partikel yang bagaimana ya dalam hubungannya dengan SCADA ??

Ok, saya perlu menerangkan sedikit tentang detektor fisika partikel.  
Detektor partikel pada dasarnya merupakan kumpulan banyak sekali sensor.  
Jumlah readout channelnya banyak sekali: CMS (detektor saya sekarang)
memiliki l.k. 100 juta readout channel.  Ada banyak tipe detektor yang
dipakai di detektor fisika partikel (kalau pernah ikut/belajar tentang
instrumentasi untuk reaktor nuklir atau proteksi radiasi, fisika 
partikel menggunakan tipe-tipe detektor yang sama).

Sensor-sensor ini begitu banyak channelnya dan memberikan informasi
begitu banyak (detektor saya bisa memberikan 100 MB - 1 GB per detik),
sehingga terkadang produk komersial semacam PLC tidak bisa langsung
dipakai.  Jadi fisikawan partikel eksperimen merancang custom-design
electronic board khusus untuk memungkinkan membaca sensor-sensor
tersebut.  Electronic board ini diproduksi massa oleh perusahaan
elektronik komersial (bisa ada ribuan untuk 1 tipe sensor saja).  Dalam
bidang ini electronic board semacam itu disebut 'readout electronics'.  
Biasanya tiap board punya ADC sendiri (parallel bbrp channel sekaligus),
preamp, readout buffer, clock, etc.  Terkadang bahkan untuk bbrp tipe
sensor, readout electronics ini dibuat dalam bentuk ASIC.  Dari readout 
electronics barulah data digabung dan ditransmisi ke computer farm untuk 
kemudian disimpan dalam disk.

'Readout electronics' tentu tidak bisa jalan sendiri.  Mereka harus 
dikumpulkan dan ditaruh di rak-rak (crate), harus mendapat catu daya, 
dan harus berada dalam ruangan yang temperatur dan kelembabannya 
dimonitor.

Dalam pengoperasiannya, kita biasanya membedakan 2 tipe data yang
dimonitor:

a) physics data: data yang berkaitan dengan posisi, waktu, energi, dan
momentum partikel.  Data inilah yang dibaca oleh 'readout electronics'.
Ini lebih merupakan spesialisasi fisika partikel eksperimen.

b) monitoring/environmental data: data yang berkaitan dengan kondisi
operasional sensor-sensor dan 'readout electronics' tsb.  Untuk tipe
data kedua inilah dimana ada perlunya SCADA/DCS !

Sistem sensor-sensor ini begitu besar dan kompleks sehingga kita ingin 
tahu misalnya:

1) sensor-sensor pada umumnya terletak didalam ruangan bawah tanah, dan 
terisolasi dari akses operator selama akselerator dijalankan.  Jadi kita 
harus bisa mengontrol kondisi sensor-sensor selama akselerator 
dijalankan.

2) tingkat radiasi dalam ruangan bawah tanah dimana eksperimen 
dijalankan.

3) apakah sensor-sensor semuanya mendapat catu daya yang cukup ?  
(Monitoring arus, tegangan, daya, dll)

4) apakah readout electronics juga mendapat catu daya yang cukup.

5) apakah sensor-sensor sudah diset untuk beroperasi pada mode yang 
diinginkan (cek bit setting tiap-tiap sensor)

6) situasi operasional lain-lain seperti: tekanan gas dalam ionization
chamber (Geiger counter), kemurnian/purity dari liquid helium atau
liquid argon, kelembaban udara, tekanan atmosfer, bahkan hingga
pasang-naik turun Danau Geneva atau apakah ada kereta api lewat di 
Stasiun Geneva (Tahun 1990-an, detektor di CERN begitu sensitif sehingga 
data-data dari detektor menunjukkan efek dari pasang naik-turun dan 
kereta api lewat - no kidding !).

Fisikawan partikel ingin mengetahui kondisi operasional detektor, karena
kita ingin 'physics data'-nya direkam saat kondisi detektor
prima/optimal.  Jangan sampai tahu-tahu mengklaim sudah menemukan Higgs
boson, tapi ternyata ketika dicek, ketika data direkam salah satu power
supply jebol.  Jadi memang ada kesamaan aspek antara pengoperasian
sebuah detektor partikel dengan pengoperasian instalasi migas, pabrik
kimia, atau building automation !  Kita ingin produk yang kelas utama, 
jadi kita ingin detektor kita beroperasi sempurna, tanpa cacat.

Selain untuk detektor, tentunya sistem akselerator semacam CERN LHC juga 
memerlukan SCADA.  Akselerator partikel terdiri dari sekumpulan 
magnet-magnet superkonduktor dengan cryostat helium dan segala macam 
sistem transmisi arus listrik tegangan tinggi. Disini kita perlu 
mengatur/memonitor misalnya:

- besar dan arah medan magnet
- kondisi operasional cryostat -- jangan sampai temperaturnya naik 
diatas temperatur kritis Tc dan superkonduktor kehilangan sifat 
superkonduktivitasnya
- kondisi vakum dalam pipa akselerator
- besar arus dari particle beam dalam akselerator

Jadi berbeda dengan detektor partikel. Namun prinsipnya sama.

Ada 2 set slide yang menjelaskan dengan bagus sekali relasi antara
SCADA/DCS dengan experimental high energy physics:

http://itcobe.web.cern.ch/itcobe/Services/Pvss/ScadaLab/CSC/2001/lecture1.pdf
http://itcobe.web.cern.ch/itcobe/Services/Pvss/ScadaLab/CSC/2001/lecture2.pdf

CERN sendiri sekarang mengadopsi software SCADA komersial dari 
perusahaan Austria (ETM) bernama PVSS.  
http://cerncourier.com/cws/article/cern/29358

Opini saya sih, jika di Indonesia SCADA/DCS kegiatannya sudah aktif dan
berjalan, ada peluang untuk membuka jalur dan menerapkannya ke fisika
partikel eksperimen.  Yang beda cuma target customernya: yang ada
sekarang customernya adalah industri, sekarang ditambah customer baru
yakni eksperimen fisika partikel eksperimen.  Cuma membangun
koneksi/kerja-samanya susah.  Saya belum jadi apa-apa baik di Indonesia
maupun disini ! Makanya kalau akhir-akhir ini saya sering berkampanya
agar orang masuk fisika partikel eksperimen, ya ini salah satu
tujuannya.  Semakin banyak orang Indonesia kerja di bidang ini, semakin
ada kemungkinan membuka koneksi dan kerja sama.



---
Haryo Sumowidagdo
Department of Physics and Astronomy
University of Califonia, Riverside

E-mail : ha...@fnal.gov                 CMS Experiment at CERN LHC
Web    : http://home.fnal.gov/~haryo    LHC Physics Center
Phone  : +1 +630 840 8567               Fermilab MS 121
Fax    : +1 +630 840 6736               Batavia, IL 60510, USA

# ``Jer basuki mawa beya'' -- (Javanese proverb) --

------------------------------------

===============================================================
**  Arsip          : http://members.tripod.com/~fisika/ 
**  Ingin Berhenti : silahkan mengirim email kosong ke : 
                     <fisika_indonesia-unsubscr...@yahoogroups.com> 
===============================================================
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/fisika_indonesia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/fisika_indonesia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:fisika_indonesia-dig...@yahoogroups.com 
    mailto:fisika_indonesia-fullfeatu...@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    fisika_indonesia-unsubscr...@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/