fisika_indonesia  

[FISIKA] Re: Global Warming......di Papua udara masih segar.....

Ma'rufin Sudibyo
Wed, 21 Jan 2009 16:30:22 -0800

Venus hanya sebagai analogi, tentang bagaimana situasi sebuah "dunia kecil" 
yang mendadak harus menerima CO2 secara berlebih. Kata kunci yang menghubungkan 
antara global warming di Bumi dengan situasi Venus dan "kiamat" ya CO2 ini.

Singkat saja, dari sejarah tumbukan benda langit yang terekam dengan baik pada 
lapisan2 kulit Bumi, mekanisme pemusnahan massal makhluk hidup terletak pada 
berlebihnya kadar CO2, meski SO2 dan NxOy juga nggak bisa dikesampingkan. 
Musnahnya 75 % populasi makhluk hidup pada peristiwa 65 juta tahun silam, dan 
98 % makhluk hidup pada 250 juta tahun silam, mayoritas dikendalikan oleh 
berlebihnya kadar gas-gas ini di atmosfer. Beruntung Bumi kita masih punya 
medan magnetik, sehingga hancurnya atmosfer tidak membuat partikel2 energetik 
yang diproduksi dalam badai Matahari menjadi bebas hambatan untuk menghajar 
permukaan Bumi secara mematikan. 

Dan kunci untuk mengendalikan CO2 di Bumi ini, ada pada kita, manusia. Jika 
konsentrasi CO2 terus bertambah secara linier sesuai dengan rate sekarang, maka 
pada 2070 - 2100 kelak kita akan menjumpai kondisi dimana kadar CO2 telah mampu 
menyekap panas demikian banyak sehingga 30 % populasi makhluk hidup di Bumi 
yang sensitif akan perubahan suhu 1-2 derajat takkan  bertahan. Rate 30 % ini 
sama dengan yang  dihasilkan tumbukan benda langit 35 juta tahun silam, yang 
masing2 membentuk kawah Chesapeake Bay di New York (diameter 95 km) dan kawah 
Popigai di Russia timur (diameter 100 km). 

Konsentrasi CO2 di atmosfer akan bertambah lebih cepat andaikata ada yang iseng 
memulai perang berskala besar sambil membakar tanki-tanki penyimpanan minyak 
raksasa yang ada di Bumi ini (maaf saja, yang di Plumpang itu kemarin bukan 
apa-apa, cuman bisul di punggung gajah). R.P Turco, E. Toon, Pollack, Ackerman 
dan Carl Sagan mengtung pada 1984, andaikata hal ini terjadi, shu Bumi akan 
melorot drastis hingga 25 derajat di bawah nilai rata-ratanya sekarang (alias 
mengalami musim dingin nuklir) sebelum naik kembali secara dramatis ke angka 35 
derajat dari nilai pas musim dingin ekstrim itu.

Salam,


Ma'rufin




________________________________
From: USMAN SETIYANTO <usanto...@yahoo.co.id>
To: astronomi_indone...@yahoogroups.com
Sent: Friday, January 16, 2009 9:49:07 PM
Subject: [astronomi_indonesia] Re: Global Warming......di Papua udara masih 
segar.....


Salam sejahtera!
 
wah...menarik sekali diskusi ini;di Papua...masih luas hutannya, walau sudah 
mulai digunduli oleh orang2 yg haus & rakus kekayaan duniawi..... dan tidak 
peduli dgn global warming!!!
 
lalu apa hubungan Global Warming - Venus - Kiamat?
 
Salam dari Teluk Bintuni
===USman===

--- Pada Sen, 5/1/09, Ma'rufin Sudibyo <maruf...@yahoo. com> menulis:

Dari: Ma'rufin Sudibyo <maruf...@yahoo. com>
Topik: [astronomi_indonesi a] Re: [IndoEnergy] Re: Global Warming
Kepada: indoene...@yahoogro ups.com
Cc: "Fisika" <fisika_indonesia@ yahoogroups. com>, "Forum Pembaca Kompas" 
<forum-pembaca- kom...@yahoogrou ps.com>, "Himpunan Astronom Amatir Jakarta" 
<haa...@yahoogroups. com>, "Astronomi Indonesia" <astronomi_indonesia 
@yahoogroups. com>, "Jogja Astroclub" <jogja_astroclub@ yahoogroups. com>, 
"Iffah" <a.if...@gmail. com>, "Sulistyowati" <al_i...@yahoo. co.id>, "Ihda" 
<brother_ihda@ yahoo.co. id>, "Ayah Abdillah H" <abdill...@gmail. com>
Tanggal: Senin, 5 Januari, 2009, 10:45 PM


Ya, tentu saja tak ada yang salah dengan CO2 di atmosfer Bumi. Itu bukan "gas 
setan." Namun menjadi bermasalah ketika konsentrasinya menjadi terlalu banyak.

Mari kita lihat kasus pemusnahan massal 65 juta tahun silam, yang menyebabkan 
sedikitnya 75 % populasi makhluk hidup penghuni Bumi punah. Alvarez et.al 
(1980) menyebutkan pemusnahan massal ini sangat terkait dengan eksistensi 
lapisan lempung hitam tipis nan kaya Iridium yang ditemukan terjepit di sedimen 
zaman Karbon dan Paleosen, yang kemudian diketahui memiliki hubungan dengan 
terbentuknya Megastruktur Chicxulub di Semenanjung Yucatan, kawah raksasa 
produk tumbukan benda langit. Memang timing terbentuknya Megastruktur Chicxulub 
dengan pemusnahan massal itu ada selisih waktu 0,3 juta tahun. Namun dari 
jejak-jeka di lapisan tipis lempung hitam itu diketahui bahwa pemusnahan massal 
terjadi akibat adanya perubahan lingkungan dramatis yang diawali dengan musim 
dingin nuklir selama 8 - 20 tahun (ingat hipotesis TTAPS alias Turco, Toon, 
Pollack, Ackerman dan Sagan), dimana suhu udara turun hingga titik yang 
membekukan akibat terhalangnya radiasi sinar
 Matahari oleh sebaran debu-debu di atmosfer, yang kemudian disusul dengan 
pemanasan global selama ribuan tahun kemudian dimana suhu rata-rata Bumi 
meningkat hingga 10 derajat Celcius dari nilainya semula. Aherns & O' Keefe 
(1990) dari NASA menunjukkan bahwa konsentrasi CO2 di atmosfer pada saat 
peristiwa itu mencapai 1,5 % alias 15.000 ppm atau 44 kali lipat di atas nilai 
sekarang (340 ppm, rata-rata). 

Dalam hal pemanasan global untuk konteks kekinian di Bumi, kita bisa juga 
berkaca pada apa yang terjadi di planet kembaran kita : Venus. Ada cukup banyak 
CO2 di atmosfer planet ini, yang mencapai konsentrasi > 80 %. Akibatnya ya bisa 
kita lihat, planet ini mempunyai suhu permukaan rata-rata yang luar biasa 
besarnya, hingga mencapai ratusan derajat Celcius. 

Salam,


Ma'rufin



________________________________
 From: Zaki <z...@navigat. net>
To: indoene...@yahoogro ups.com
Sent: Monday, January 5, 2009 6:31:10 AM
Subject: Re: [IndoEnergy] Re: Global Warming


Tentu saja tidak ada yg salah dg adanya CO2 di atmosfer. Yg salah adalah 
jumlahnya yg semakin meningkat karena sifat CO2 ini memerangkap panas sehingga 
peningkatan jumlah CO2 di atmosfer akan menaikkan temperatur rata2 udara di 
bumi.
 
Ada 2 penyebab utama kenaikan jumlah CO2 di atmosfer bumi: yg pertama kenaikan 
produksi CO2 akibat aktifitas seperti pembakaran bahan bakar di pabrik dan 
kendaraan, yg kedua karena siklus karbon yg terganggu (jumlah tanaman utk 
menyerap CO2 dari atmosfer semakin berkurang akibat penggundulan hutan dan 
konservasi lahan utk pemukiman).
 
Jadi kenaikan jumlah CO2 di atmosfer bukan karena penyebab alami, paling tidak 
terlihat bahwa kenaikan ini terlihat secara signifikan sejak adanya revolusi 
industri di abad ke-18. Apakah alam akan menyeimbangkan dirinya? Saya rasa bisa 
saja, tapi prosesnya akan menyengsarakan umat manusia. Salah satu kemungkinan 
caranya seperti ini:
- temperatur udara yg meningkat mencairkan es kutub dan menaikkan permukaan 
laut dan menyebabkan luas daratan berkurang
- terjadi pergeseran iklim, daerah di sekitar katulistiwa semakin panas 
sehingga berkurang kesuburannya, daerah sub tropis akan memiliki iklim seperti 
tropis yg skrg, dan seterusnya, akibatnya spesies flora dan fauna akan berubah. 
(mungkin di Indonesia tambah banyak nyamuk karena tambah panas?). daerah 
subtropis yg skrg nantinya akan menjadi tempat yg cocok bagi flora dan fauna 
tropis. 
- selain flora dan fauna yg berubah, jangan lupa pula yg ukurannya kecil 
seperti bakteri dan virus. penyakit yg biasa ada di Indonesia mungkin bergeser 
dikit lah ke daerah Cina. penyakit yg muncul di Indonesia entah seperti apa 
nanti yg muncul.
- udara yg panas memungkinkan siklus air terjadi lebih cepat (penguapan, 
pembentukan awan, hujan, penyerapan air ke tanah), akibatnya hujan lebih sering 
tetapi tanah berkurang kesuburannya (karena airnya lebih cepat menguap). 
akibatnya daerah subur semakin sedikit dan produksi pangan akan berkurang
- dari hal2 tsb di atas terlihat bahwa hasil akhirnya populasi manusia akan 
berkurang karena krisis: penyakit, kurangnya ketahanan tubuh thd udara yg lebih 
panas, kurangnya lahan, kurangnya pangan (biasanya kalo krisis begini orang 
lebih mudah gelap mata, jadi mungkin juga akan ada perang perebutan sumber 
daya).
- populasi manusia, hewan dan tanaman yg berkurang lalu memungkinkan atmosfer 
bumi menjadi kembali ke level seperti sebelumnya (karena lebih sedikit CO2 yg 
dilepas ke atmosfer sehingga jumlah tanaman dapat seimbang dg jumlah CO2 yg 
dilepas ke atmosfer).
 
Nah, alam bisa menyeimbangkan dirinya kan?
 
 
 
----- Original Message ----- 
From: soedardjo 
To: indoene...@yahoogro ups.com 
Sent: Monday, January 05, 2009 10:41 AM
Subject: [IndoEnergy] Re: Global Warming

Maaf benar-benar saya tidak paham, apa itu Global Warming?
Saya bukan peneliti Global Warming.
Apa karena akselerasi SOx, NOx, CO, CO2 di dunia ini meningkat? Saya setuju 
masalah tersebut juga merupakan keseimbangan alami, untuk photosintesis 
tumbuh-tumbuhan, masih memerlukan CO2 (CO) mohon dikoreksi, sesuai ilmu yang 
saya terima di SMA jadul.
Kemarin saja di Televisi, ada produsen jadul, minuman bersoda, masih 
membutuhkan buih pada minuman menggunakan botol isi CO2, agar minumannya fresh. 
Lalu apa salahnya ada CO2 di dunia ini?

Wassalam soedardjo


On Rab, Desember 31, 2008 21:54, andryansyah rivai wrote: 

 
Saya jadi teringat pernah mendengar/membaca berita bahwa ada orang yang ahli di 
bidangnya bicara bahwa pemanasan global itu hanya suatu siklus. Artinya kita 
akan kembali lagi ke siklus dingin. Dan saya percaya dengan ilmuwan ini karena 
adanya kesetimbangan. Jadi omongan pak Wisnu dan kelompok yang mengatakan 
pemanasan global akan terus berlanjut dan mengakibatkan bumi semakin panas 
adalah omongan yang belum terbukti kebenarnnya.
 
Logika saya yang percaya pada ilmuwan yang bilang ini hanya suatu siklus adalah 
sbb:
Minyak, gas, batubara (MGB) yang dibakar menghasilkan banyak CO2. Ini 
menguntungkan tumbuhan untuk berkembang karena fotosintesis banyak sumbernya. 
Jadi kalau MGB habis kita tidak kekurangan energi karena BBN (nabati) disamping 
banyaknya tumbuhan akan mendinginkan dunia.....
 
Jadi buat saya..tidak ada itu pemanasan global yang ada hanya sebuah siklus 
yang kebetulan kita merasakan yang panasnya.... ..Bukankah ada yang pernah 
membuktikan bahwa es di kutub itu pernah cair sebagian dan sekarang terbentuk 
es lagi. Yang punya kitab suci silahkan disimak ulang, adakah dikatakan kiamat 
(habisnya manusia) itu karena bumi yang semakin panas?




________________________________
 From: Chairul Hudaya gmail.com>
To: indoene...@yahoogro ups.com
Sent: Wednesday, December 31, 2008 7:40:29 PM
Subject: [IndoEnergy] Global Warming Re: Anti PLTN & PLTU Batubar


Hehe.. jawabannya kok jadi begini toh pak lik.. Orang kita ngomongin
global warming kok..
Pak Darjo sepertinya tidak peduli dengan global warming yang sudah
mengancam kehidupan manusia dewasa ini, dengan alasan bapak belum
menelitinya, atau merasakannya. Itulah yang menjadi concern Pak Wisnu
yang seharusnya dijawab pak.

On 12/31/08, soedardjo soedar...@batan. go.id> wrote:

> Maaf Bapak ibu sekalian, karena ranah diskusi sudah sensitif
menjurus sara, ijinkanlah saya menjawab pertanyaan pak Wisnu.
>
> Yth. pak Wisnu, apakah Bapak percaya ada utara, ada selatan dan
sebagainya? Apakah Bapak melihat, mana utara dan mana selatan secara
persis?. Apa Bapak dapat memegang Utara dan Selatan?. Jika Bapak belum
dapat melihat Utara dan selatan serta belum dapat memegang Utara dan
Selatan, mengapa Bapak percaya ada Utara dan Selatan? Itu hanya opini
Bapak bukan? Padahal adanya Tuhan atau istilah saya Alloh, itu adalah
suatu keyakinan.
>
> Apa Bapak yakin bahwa 1 adalah angka satu, dan 2 adalah angka dua?.
Itu hanyalah suatu konvensi internasional, dan Bapak boleh SEPAKAT
untuk TIDAK SEPAKAT.
>
> Suatu saat, ada murid menanya ke guru agamanya.
>
> M: "Guru, mana buktinya ada Alloh?"
> G: Gurunya lalu menampar pipi muridnya
> M: "ADUH, SAKIT GURU, mengapa GURU MENAMPAR PIPI SAYA"
> G:" Mana buktinya sakit? Apa engkau dapat melihat SAKIT tersebut?"
> M:" Tidak guru, saya atidak melihat sakit tersebut"
> G:" Lalu mengapa anda percaya dengan SAKIT?. Toh sakit tidak dapat
engkau lihat, namun dapat engkau rasakan, dapat engkau percayai jika
saya tampar pipimu pasti sakit"
> " Apa engkau tahu jika engkau akan saya tampar?"
>
> M: "Tidak guru"
> G: "Allohlah yang menentukan nasib manusia, sehingga engkau tidak
tahu sebelumnya jika nasibmu saya temapar pipimu karena ingin
membuktikan Alloh itu ada"
>
> Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka
sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta
kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata :
"Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata". Maka mereka disambar
petir karena kezalimannya, dan mereka menyembah anak sapi , sesudah
datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami ma'afkan dari
yang demikian. Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang
nyata.
> QS: An Nisaa (4) ayat 153
>
> Maaf pak Wisnu, jika Indoenergi ini menjadi polemik beda keyakinan.
>
> Wassalam soedardjo
>
>


 
________________________________
 
Internal Virus Database is out of date.
Checked by AVG - http://www.avg. com 
Version: 8.0.176 / Virus Database: 270.9.18/1850 - Release Date: 12/15/2008 
5:04 PM

 

________________________________
 Buat sendiri desain eksklusif Messenger Pingbox Anda sekarang! 
Membuat tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah    


      
  • [FISIKA] Re: Global Warming......di Papua udara masih segar..... Ma'rufin Sudibyo