Iwan Kurniawan
Thu, 03 May 2007 02:54:46 -0700
Saya coba menceritakan dua orang sahabat yang menekuni fisika nuklir eksperimen, mereka sebagai lulusan ilmu kering untuk ukuran di Indonesia. Orang pertama selesai S1 Fisika dan S2 Fisika nuklir eksperimen, bekerja di bursa Saham Tokyo waktu itu ditugaskan untuk menganalisa fluktuasi harga saham Tokyo Dome, pekerjaannya tidak berkaitan dengan fisika nuklir. Orang kedua selesai S1 Fisika, S2 dan S3 Fisika Nuklir, setelah tamat S3 bekerja dalam riset TV plasma yang sudah banyak beredar di Indonesia. Ilmunya masih bisa diterapkan pada riset TV plasma. Dari dua orang di atas satu orang bekerja sesuai dengan pendidikannya dan seorang lainnya tidak sesuai dengan bidang ilmunya. Jadi Di Negara maju saja tidak semua orang bisa bekerja sesuai dengan bidang ilmunya. Mereka yang S3 fisika teori bisa bekerja untuk membuat program aplikasi computer bidang teknologi. Beberapa orang pakar ekonomi dan manajemen tingkat dunia memiliki pendidikan fiisika nuklir. Bagaimana dengan lulusan fisika atau fisika nuklir di Indonesia. Banyak pekerjaan untuk mereka, misalnya dalam bidang pertambangan : perminyakan, batu bara, tembaga dll. Bahkan mereka juga ada yang bekerja dalam bidang bisnis seperti di perbankan. Jika seorang lulus fisika nuklir harus bekerja di bidang yang sama memang peluangnya sangat terbatas, tetapi dengan kemampuan dan kualitas anlisisnya dan belajar keras selama pendidikan. Pada prinsipnya sarjana nuklir bisa menekuni pekerjaan dalam bidang yang berkaitan dengan tehnik di industri manufacturing. Peluang kerja di PLTN juga jumlahnya sangat terbatas. karena di PLTN tidak hanya dibutuhkan sarjana nuklir, ada bidang lain yang bisa bekerja di PLTN. Salam, Iwan Kurniawan -----Original Message----- From: kancono_w [EMAIL PROTECTED] Sent: 02 Mei 2007 18:45 To: Forum-Pembaca-Kompas@yahoogroups.com Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: ikutan komentar: Sarjana Nuklir Berjualan Es Krim Pak Paulus Tanuri, Memang, jika kita kalkulasi jumlah "out-put" para ahli dan teknisi bidang IT dengan daya serap pasaran kerja naga-naganya akan menuju pada kondisi jenuh, atau malah "booming". Tapi untungnya, bidang IT (komputer) cepat sekali berkembang bahkan terbuka segmen-segmen pasar dan membuka lapangan kerja baru (e-biznis, e-learning, internet banking, penciptaan program2 baru yang spesifik, dan studi anti virus serta hacker-nya), yang jika kreatif dan inovatif mampu menghasilkan karya-2 mahal tanpa harus menjadi pekerja gajian. (Saya ucapkan selamat-lah pada Pak Paulus Tanuri yang telah mempunyai kemampuan khusus dalam bidang IT ini...) Lain dengan teknisi dan ahli dalam bidang nuklir, boleh dibilang kompetisinya tidaklah se-tinggi di banding para ahli atau teknisi bidang IT di negeri kita. Daya serap terhadap out-put pendidikan tentang nuklir juga terbatas, lebih besar diserap di instansi riset pemerintah (LIPI, BATAN dan Depdikbud) ketimbang di industri sektor swasta. Formasi pekerjaan bagi para ahli yang punya keahlian spesifik tentang nuklir (radiasi) tidak banyak. Institusi untuk menghasilkan lulusan yang mempunyai kepakaran nuklir (Radiokimia dan Fisika Nuklir serta teknologi aplikasinya)tidak-lah seramai institusi pendidikan komputer/IT yang banyak menjamur. Oleh karenanya, seseorang yang telah mempunyai pengalaman dan kemampuan serta kewenangan dalam bidang nuklir, dari basic sains maupun aplikasi teknologi-nya sesungguhnya aset yang berharga untuk riset dan pendukung kearah pemikiran pengembangan tenaga alternatif seperti PLTN, dll-nya. Di milist ini banyak rekan-rekan ahli dalam kepakaran ini, selain Pak Kusmayanto Kadiman di RISTEK juga ada pakar nuklir kita, salah satunya Bung Iwan Kurniawan, mungkin beliau bisa memberikan gambaran tentang peluang-peluang kerja bidang ini dan kesempatan bergabung dalam mega proyek Muria..... Salam, kcn,-