forum-pembaca-kompas  

[Forum Pembaca KOMPAS] Besar Badan, Besar Hati

Agus Hamonangan
Sat, 10 Nov 2007 16:10:09 -0800

Oleh DAHONO FITRIANTO
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/11/kehidupan/3984252.htm
====================

Anda masih berpikir gemuk itu buruk rupa, tidak sehat, dan lebih sulit
meraih kebahagiaan dibanding mereka yang langsing? Berpikirlah lagi,
karena bisa jadi, para pemilik tubuh berukuran ekstra itu jauh lebih
bahagia daripada rata-rata pemilik tubuh "ideal".

Citra negatif orang gemuk sudah lama berakar di masyarakat. Kesan itu
diperburuk dengan "monopoli citra" yang dipropagandakan industri
kosmetik dan kecantikan di dunia konsumsi. Orang-orang gemuk, terutama
perempuan, menjadi korbannya.

Perhatikan iklan-iklan produk kecantikan dan perawatan tubuh di layar
televisi, dan kita akan menemui penyempitan makna cantik dan sehat.
Seolah-olah kecantikan dan kesehatan itu hanya bisa mewujud dan
dimiliki sosok wanita yang tinggi, berkulit putih (kadang juga harus
berwajah kebule-bulean), muda, dan langsing.

Untuk melawan pencitraan serba negatif secara sepihak itulah
sekelompok perempuan berukuran "lebih" membentuk komunitas khusus
orang-orang yang berukuran XL (extra large). Komunitas bernama Xtra-L
Big Community itu berkomunikasi dalam milis beralamat
[EMAIL PROTECTED] "Semua yang merasa
bertubuh besar boleh gabung," ungkap Ririe Bogar (33), yang mendirikan
komunitas itu bersama Lulu Lustanti (29).

Ubah citra

Awal mula dibentuknya komunitas ini adalah saat Ririe dan Lulu bertemu
sebagai sesama finalis kontes Miss Impian, sebuah ajang pencarian
bakat khusus wanita gemuk yang digelar stasiun TV Indosiar, 2005 lalu.
Mereka berdua merasa perlu membuat komunitas khusus orang gemuk karena
prihatin dengan kondisi di masyarakat yang memarjinalkan kaum gemuk
sehingga mereka kurang percaya diri. "Dalam masyarakat, gendut masih
diasosiasikan dengan ketidakmampuan, penyakitan, jelek, dan lamban.
Image itu yang ingin kita ubah," ujar Lulu, pemilik berat badan 115 kg.

Ririe menambahkan, citra yang sudah telanjur melekat di masyarakat itu
diperparah dengan propaganda industri kecantikan. "Setiap bikin iklan,
mereka selalu memakai model yang tinggi, cantik, dan langsing. Tetapi
giliran sudah jualan di pasar, maunya semua orang harus ikut beli,"
katanya.

Didirikan sejak Februari 2007 dengan mengajak teman mereka, Ita
Sugito, sebagai pembuat milis, komunitas tersebut saat ini telah
beranggotakan 183 orang dan terus bertambah tiap hari. "Kami secara
aktif mempromosikan komunitas ini lewat e-mail, SMS, bahkan bagi-bagi
flyer setiap ketemu cowok atau cewek berbadan besar," kata Ririe yang
beratnya 111 kilogram itu.

Komunitas tersebut bersifat terbuka dan para anggotanya berasal dari
berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa, profesional, hingga ibu
rumah tangga. Meski sebagian besar beranggotakan perempuan, tetapi
lelaki pun dipersilakan bergabung.

Hanya ada dua batasan dalam milis itu, yakni harus gemuk (minimal
berat badan 70 kg) dan berusia minimal 20 tahun. Ada batasan usia,
karena orang di bawah 20 tahun dianggap belum percaya diri untuk
saling terbuka dan bentuk tubuhnya masih sangat mungkin berubah.
"Tetapi pada dasarnya kami terbuka bagi siapa pun yang merasa gemuk.
Kita lintas usia, jender, ras, agama, profesi, dan lain-lain, tetapi
tidak lintas ukuran tubuh," imbuh Ita, moderator milis Xtra-L
Community yang memiliki moto "Berbeda-beda tetapi Tetap Gemuk" itu.

Saling mendukung

Komunitas dan milis itu kemudian menjadi ruang untuk berbagi rasa dan
informasi tentang pengalaman menjadi gemuk dan bagaimana memperbaiki
kualitas hidup sehingga para pemilik tubuh besar ini tetap menikmati
hidup dan percaya diri. "Kami menjadi semacam supporting group untuk
mendobrak konsep kecantikan yang dipercaya selama ini. Di forum ini,
Anda akan menemukan bahwa punya ukuran besar tidak berarti tak bisa
jadi cakep, cakap, menarik, elegan, sexy, dan tentunya sehat!" tandas
Ririe.

Salah satu topik diskusi paling sering dibahas di milis itu adalah
tentang pasangan atau jodoh. Salah satu ketakutan terbesar para
pemilik badan XL ini adalah sulitnya mencari jodoh. Namun, apa benar
begitu kenyataannya? "Jangan salah, chubbylovers (penggemar orang
gemukâ€"Red) itu banyak lho," tukas Paula Josepha Ratnaningtyas (36),
salah satu anggota komunitas Xtra-L berbobot 94 kg.

Mitos orang gendut sulit cari jodoh itu juga disangkal Audie T
Simanjuntak (30), suami Ririe Bogar. Audie, yang berpostur tubuh
normal, mengaku bukan seorang chubbylover. Namun, akhirnya ia
menemukan apa yang dicari pada sosok Ririe yang gemuk. "Sebagai
laki-laki normal, saya dulu selalu cari pasangan yang bertubuh ideal
dan langsing. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, cewek-cewek
langsing itu ternyata gak asyik. Dengan Ririe, saya menemukan suasana
yang lebih hangat, riang, terbuka, easy going, akrab, dan berani
maju," paparnya.

Dalam usahanya mendobrak definisi kecantikan yang sudah telanjur
mengakar di pikiran orang, komunitas ini juga menggelar kontes ratu
kecantikan sendiri. Jika kontes Puteri Indonesia menggunakan standar 3
B (brain, beauty, behaviour), kontes Miss Big Indonesia yang digelar
September lalu menambah satu huruf B lagi pada standar itu, yakni big.

Akan tetapi, citra orang gemuk yang telanjur melekat di masyarakat
membuat kontes tersebut hampir gagal. Beberapa produsen kosmetik lokal
dan impor (termasuk produsen kosmetik yang sering mengampanyekan
keberagaman bentuk tubuh dan warna kulit) menolak menjadi sponsor
dengan alasan brand image alias citra merek mereka akan terancam.
"Akhirnya ada produk kosmetik dari Jepang yang mau, bahkan antusias,
jadi sponsor, dan semua berjalan lancar. Cita-citanya suatu saat nanti
kami akan membuat Miss Big Asia. Kami ingin buktikan, kami tak cuma
bertubuh besar saja, tetapi juga berhati besar," tutur Ririe.



  • [Forum Pembaca KOMPAS] Besar Badan, Besar Hati Agus Hamonangan