forum-pembaca-kompas  

Re: [Forum Pembaca KOMPAS] Untuk Apa Obama Menang? A new meaning of B2B !

Kusmayanto Kadiman
Wed, 23 Apr 2008 02:43:29 -0700

Kawan-kawan,

Seru ya mengikuti proses pemilu di AS.

Jika tidak salah menilai, ini adalah pemilu AS yang paling heboh.
Bendera start berkampanye belum lagi dikibarkan. Namun hebohnya sudah
bukan main. Kehadiran dua tokoh yang popularitasnya meroket: Hillary
Clinton dan Barrack Obama yang bikin suasana semakin marak. Keduanya
sama-sama hebat.

the little voice dalam hati saya mengatakan "berat betul ujian yang
dihadapi Hillary ini ya? B2B yang populer di dunia bisnis yaitu
business-to-business ternyata juga merupakan gambaran dinamika
perjalanann hidup Hillary: from Bill (Clinton) to Barrack (Obama)".

Hillary ataupun barrack yang terpilih akan menjadi tonggak sejarah baru
bagi USA. Presiden pertama perempuan atau Presiden pertama yang bukan
bule.

Mari kita pantau secara agresif dan sama-sama petik pelajaran,
KK


On Tue, 2008-04-22 at 02:18 +0000, Agus Hamonangan wrote:
> Oleh Budiarto Shambazy
> http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.04.22.01285290&channel=2&mn=154&idx=154
> 
> Tiap ada kesempatan ngomong tentang Indonesia di berbagai kalangan di
> Amerika Serikat, kami mahasiswa membandingkan peta kedua negara.
> Panjang Pantai Barat-Timur di AS dan Sabang-Merauke nyaris sama.
> 
> Kedua bangsa memiliki persamaan, baik lambang, kebhinnekaan,
> perjuangan, dan seterusnya. Kini pun kondisinya sama, yakni terjangkit
> ”Obamamania”.
> 
> ”Persaudaraan” itu diikat sejak 1920-an dan terekam lewat laporan
> diplomat AS di Hindia Belanda. Reaksi elite dalam negeri di AS
> terhadap perjuangan kita amat positif.
> 
> Menurut buku Frances Gouda, American Visions of Indonesia (2002),
> benih nasionalisme di sini lahir terlalu awal. Organisasi pergolakan
> di Filipina, yang kala itu jajahan AS, tertinggal 40 tahun.
> 
> Tiga highlights 1920-an yang diulas Gouda, pemberontakan di Silungkang
> serta revolusi Bung Karno (BK) di Bandung dan Bung Hatta (BH) dari
> Rotterdam. Washington memperkirakan, Belanda tak mampu membendung
> perlawanan kita.
> 
> Menurut sensus, hanya 6 persen dari 70 juta penduduk yang mengenyam
> pendidikan. ”Elite nasionalis bukan cuma terdidik, tetapi juga
> gigih,”
> kata laporan diplomat AS.
> 
> AS tak kuat menahan beban menjajah Filipina yang dilepas karena
> Depresi Besar. Kemenangan komunis di Uni Soviet dan ancaman fasisme
> menuntut perhatian yang lebih besar.
> 
> Presiden AS Herbert Hoover dan Franklin Roosevelt mulai buka kontak
> dengan republik, prakarsa yang dilanjutkan Presiden Harry Truman dan
> Dwight Eisenhower. Itu sebabnya AS berpihak kepada republik.
> 
> Hasil akhir Konferensi Meja Bundar amat dipengaruhi Washington. Jasa
> baik AS terasa tatkala Presiden John Kennedy aktif menengahi
> konfrontasi maupun membela RI merebut kembali Irian Barat.
> 
> Tokoh yang pandai memanfaatkan kesamaan sejarah RI-AS Pak Soedarpo
> Sastrosatomo. Pidatonya, Maret 1949 di Markas Besar PBB, berjudul
> ”It’s 1776 in Indonesia” (AS merdeka dari Inggris tahun 
> 1776).
> 
> Pak Soedarpo berupaya mengalahkan opini pers Belanda yang menuduh
> Proklamasi ”lelucon tak lucu”. Sementara ratusan orang demo
> mendukung
> Proklamasi di San Francisco, Los Angeles, dan New York.
> 
> RI langsung jadi sekutu AS, membuat Uni Soviet menuduh BK-BH ”gagal
> mengorganisasi gerilyawan bersenjata palu dan arit”. Meski membantu
> Ho
> Chi Minh memerdekakan bangsanya, BS (Bung Sjahrir) tegas menyatakan,
> ”nasionalisme RI bukan komunisme Vietnam”.
> 
> Kedekatan historis kemerdekaan ”1776 dan 1945” tercermin pula dari
> persamaan ”Kuartet AS” dengan ”Kuartet Indonesia”. BK
> disamakan dengan
> George Washington karena berkelas ”pejuang revolusi”.
> 
> BH disebut ”Abraham Lincoln versi Indonesia”. Mereka menjalankan
> kepemimpinan tanpa kompromi.
> 
> BS adalah Thomas Jefferson. Kedua tokoh mempunyai kecanggihan politik
> dan keyakinan moral yang teguh.
> 
> Tokoh terakhir kuartet itu Haji Agus Salim yang disamakan dengan
> Benjamin Franklin. Mereka berbakat diplomat yang nyelenéh dan tanpa
> pamrih.
> 
> Menurut Gouda, keterpesonaan AS terhadap keindonesiaan tercermin pula
> dari kerja keras ilmuwan George McTurnan Kahin. Penerima Bintang
> Mahaputera ini mendarat di Yogyakarta tahun 1948 sebagai relawan.
> 
> Petualangan Kahin itulah yang melahirkan mahakarya buku Nationalism
> and Revolution in Indonesia (1952). Buku klasik ini merupakan
> disertasi doktor Kahin di The Johns Hopkins University, Washington.
> 
> Buku Joseph Nye, The Powers to Lead, menyebut karisma ”bakat alam”
> yang dimiliki BK, Mahatma Gandhi, Winston Churchill, Fidel Castro,
> atau Nelson Mandela. Gouda mengutip cerita wartawan AS, Martha
> Gellhorn, yang meliput Proklamasi, yang terpesona BK.
> 
> ”Kalbu bergetar hanya dengan mengikuti gerak tangan, mendengar
> suara,
> dan melihat mata serta wajahnya,” kata Gellhorn yang enggak ngerti
> bahasa Indonesia. Namun, HDS Greenway di International Herald Tribune
> menulis, karisma tak berlaku universal.
> 
> ”Orang Italia belum tentu suka Hitler. Dan gaya Mussolini mungkin
> lucu
> bagi orang Inggris. Obama mungkin membosankan untuk orang Myanmar,
> sementara Clinton bisa menyedot perhatian di China,” tulis Greenway.
> 
> Tak ada lagi pemimpin karismatis pasca-”Kuartet Indonesia”. Namun,
> mengapa tiba-tiba Barack Hussein Obama memesona kita?
> 
> Pertama, karisma Obama berlaku universal karena dipuja-puja di mana
> pun tanpa kecualiâ€"termasuk di sini. Kedua, ia pernah tinggal di sini
> dan punya adik perempuan separuh Indonesia.
> 
> Ketiga, Obama berpeluang terpilih sebagai Presiden AS ke-44 pada
> pilpres 10 November. Menurut berbagai jajak pendapat di AS, ia mampu
> mengalahkan Capres Demokrat, Hillary Clinton dan setelah itu Capres
> Republik, John McCain.
> 
> Keempat, dan ini yang paling penting, Obama simbol keberagaman AS. Ia
> menyedot suara semua warna kulit dan minoritas.
> 
> Karisma Obama yang lintas agama menyetop radikalisme yang picik. Ia
> menjadikan keamerikaan cita-cita yang diperbarui kembali.
> 
> Semua ingin ia menang. Namun, di The Audacity of Hope ia bilang,
> ”Indonesia terasa jauh dibandingkan yang dulu. Saya takut ia berubah
> jadi tanah yang asing.”
> 
> Untuk Anda yang makin tak toleran, untuk apa berharap Obama menang?
> Untuk kekuasaan yang membiarkan anti-keberagaman merajalela, untuk apa
> berharap Obama menang?
> 
> 
> 
> 
>